My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 47


__ADS_3

"Kamu mau ke mana?" tanya Vanya saat melihat Vano menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapi.


"Gw mau keluar, nanti pintunya di kunci gw udah bawa kunci cadangan jadi gak usah buka pintu kalau ada yang ketok." perintah Vano.


Vanya memandangi punggung Vano yang lama kelamaan menghilang di telan pintu apartemen.


"Hufft gini amat punya suami, untung ganteng." Vanya menghela nafasnya.


-


Vano melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata dan pandangan yang tajam menatap jalanan.


Beberapa saat kemudian Vano memakirkan motornya di parkiran rumah sakit.


Tadi yang menelfon Vano adalah Rangga, dia mengabarkan bahwa Yoyon masuk rumah sakit akibat di serang oleh geng X-Lion saat pulang dari basecamp tadi.


Vano menyelusuri lorong lorong rumah sakit mencari tempat yang sudah di beritahukan oleh Rangga lewat pesan tadi. Dari kejauhan Vano melihat teman temannya sedang menangis ada yang berpelukan ada juga yang duduk merosot di lantai. Vano pun segera berlari menghampiri mereka.


"Kenapa ini bisa terjadi dan bagaimana keadaan Yoyon sekarang?" tanya Vano saat sudah sampai di hadapan teman-temannya.


Rangga dan Galang menatap Vano sambil menggelengkan kepalanya.


"Maksud kalian berdua apa HAH?" tanya Vano yang takut apabila apa yang ada di pikirannya sedari tadi terjadi.


"Hiks hiks Yoyon udah gak ada Van." ucap Galang sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Gak ada gimana, Yoyon ada di dalam kan?"


"Yoyon udah gak bisa di selamatkan Van, Yoyon udah meninggal. Dia udah meninggalkan kita semuanya di sini. Hiks hiks hiks." ucap Rangga yang sama menangisnya.


"Agrr." Teriak Vano sambil memukul tembok yang ada di hadapannya.


"Kenapa ini bisa terjadi Hah. kenapa."


"Kenapa gw gak ada di saat temen gw lagi perlu pertolongan KENAPA?" Teriak Vano frustasi sambil menjambaki rambutnya.


"Kita harus kasih pelajaran sama anak X-Lion, nyawa harus di bayar dengan nyawa." Ucap Galang.


"Harus, pokoknya kita harus habisin anak X-Lion sampai ke akar-akarnya meskipun nyawa taruhannya." timpal salah satu dari mereka.


"Udah kita jangan ngomongin yang itu dulu, sebaiknya kita urus dulu pemakaman Yoyon yang lainnya kita pikirkan nanti." ucap Rangga yang tumben bener.

__ADS_1


"Kalian urus semuanya soal biaya biar gw yang tanggung." ucap Vano.


Yoyon itu seorang yatim piyatu waktu dari kecil dia udah di tinggal mati oleh bapaknya dan setahun yang lalu ibunya juga pergi menyusul bapaknya meninggalkan Yoyon sendirian.


"Permisi mas jenazahnya sudah selesai di mandikan ini mau di bawa pulang ke rumahnya atau langsung di sholatin di masjid?" tanya seorang petugas rumah sakit.


"Bawa ke rumahnya saja dulu pak." jawab Vano.


"Sebagian ada yang pulang dulu ke rumah Yoyon dan kabarin tetangganya sekalian siapkan keperluan yang akan di gunakan di sana juga tempat pemakaman nya." suruh Vano.


"Ya udah gw sama Ical aja yang pulang ke rumah Yoyon duluan." ucap Galang.


"Ya udah kalian hati hati di jalan." jawab Vano.


"Kita pergi dulu." pamit Ical dan Galang.


"Van lo di tunggu buat bayar biaya administrasi Yoyon." ucap salah satu anak black Crow.


"Di mana tempatnya?" tanya Vano.


"Ayo gw anter." jawabnya.


Setelah melunasi biaya administrasi Vano dan temannya segera pergi menuju rumah duka.


-


Setelah di sholatkan jenazah di bawa ke tempat pemakaman umum daerah setempat untuk peristirahatan terakhir. Meskipun keadaan sudah larut malam tapi jenazah tetap di kebumikan, karena tidak bagus membiarkan jenazah lama lama berada di rumah.


"Yon gw sebagai perwakilan dari teman teman semua minta maaf karena gak ada di saat lo membutuhkan pertolongan, dan juga kita minta maaf apabila ada kata kata atau perlakuan kita yang membuat lo sakit hati." ucap Vano sambil mengelus batu nisan yang bertuliskan nama Yoyon Saputra.


"Gw minta maaf Yon karena udah sering ngebully lo, tungguin gw ya di sana nanti kita balapan di surga." ucap ngaco Rangga.


"Gw gak mau komen Ngga, lo kalau mau ngelawak liat kondisi napa?" ucap Galang menatap Rangga dengan jengah.


"Ya maap, aku kan ngomong kayak gitu biar gak kaku kaku banget keadaannya." jawab Rangga.


"Udah kita lagi berduka jangan ribut." lerai Vano.


"Yon kita pamit pulang dulu ya, lo yang tenang di sana nanti kapan-kapan kita main ke sini lagi " pamit Vano.


"Assalamualaikum Yon kita pulang dulu." pamit Galang.

__ADS_1


Mereka semua pun pulang menuju basecamp untuk membicarakan tentang masalah yang menimpa almarhum Yoyon.


-


"Pokoknya kita harus balas dendam, jangan kita diamin." ucap Rangga.


"Bener kalau mereka di diamin bakalan ngelunjak nanti." timpal Galang.


"Cerita dulu bagaimana bisa Yoyon di serang anak X-Lion sendirian tanpa ada yang menemani." ucap Vano yang sedari tadi sudah menunggu keterangan dari teman temannya.


"Jadi tadi tuh Yoyon pulang dari basecamp sama gw dan Ical tapi saat di pertigaan kita pisah karena kan rumah kita beda arah rumahnya. Mungkin saja kita udah di intai dari jauh karena ada kesempatan yaitu Yoyon yang pulang sendirian tanpa ada teman mereka memutuskan untuk mengikuti Yoyon dan saat berada di tempat sepi mereka menyerang Yoyon hingga Yoyon terluka parah. Dan setelah itu mereka meninggalkan Yoyon di sana, setelah beberapa saat ada seorang warga yang lewat situ dan berteriak memanggil warga yang lainnya dan salah satu dari warga hubungin gw pakai HP Yoyon." terang Galang panjang lebar.


"Cihh. Berani nya main keroyokan." ucap Vano selesai mendengarkan cerita Galang.


"Sekarang kalian semua pulang dulu hari sedah tengah malam besok selesai sekolah kita kumpul lagi di sini." ucap Vano.


"Tapi Van, kita harus balas dendam secepatnya." ucap Galang.


"Gw tau Lang tapi gak sekarang, ini kondisinya lagi gak baik buat balas dendam."


"Kita istirahat dulu tenangin pikiran kalian besok kita bicarakan ini lagi." terang Vano.


"Tapi Van..."


"Ini udah malam Lang, gw tau kalian semua pada capek. Dari pada terjadi apa apa lagi mending kita istirahat dulu buat balikin tenaga kita."


"Ya udah."


"Ingat sekarang suasananya lagi gak aman jadi kalian jangan ada yang keluar sendirian tanpa ada seorangpun yang menemani, apalagi kalau lewat jalanan yang sepi. Dan satu lagi handphone harus aktif terus biar mudah kalau di hubungi." terang Vano.


"Tapi Van..." ucap Rangga gantung.


"Apalagi sih Ngga, ini udah malam lo tau gak sih."


"Bukan itu." ucap Rangga.


"Trus apaan."


"Eemm gimana ya ngomongnya, gw tuh...."


...***...

__ADS_1


__ADS_2