My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 124


__ADS_3

"Aduh gimana ini." panik Vino melihat ke segala untuk mencari tempat persembunyian.


Ceklek.


Vanya memasuki walk in closed untuk menyiapkan baju ganti untuk Vano.


"Kira kira yang di bilang Vino tadi benar gak ya?" Gumam Vanya yang dapat di dengar oleh Vino yang tengah bersembunyi di dalam lemari pakaian.


"Hihihi rasain, emang enak Vino kerjain. Salah sendiri tadi gak mau bantuin Vino." Ucap Vino cekikikan tapi dengan suara yang sangat lirih agar tidak di dengar oleh Vanya.


"Harus aku cari tahu nanti kebenaran yang di katakan Vino tadi, kalau sampai beneran terjadi, awas saja Vano bakal aku suruh tidur di luar malam ini." Ucap Vanya sambil memilih kaos buat Vano.


"Celana udah, kaos udah, tinggal jaketnya." Vanya berjalan menuju lemari tempat jaket bergantungan, dan lemari itulah yang di gunakan Vino buat sembunyi.


"M*mpus." Umpat Vino.


Vino menelungkupkan badannya menjadi agak mengecil dan bergerak ke pojok lemari agar tidak ketahuan.


"Ya Allah bantuin Vino ya Allah." Vino memejamkan matanya kala pintu lemari di buka.


Srek.


"Yang mana ya??" Bingung Vanya menatap beberapa deret jaket Vano tanpa menatap ke arah bawah.


Jantung Vino sudah dak dik duk ser kala Vanya malah mengamati jejeran jaket satu persatu.


'Ayo dong kak Vanya, cepat pilihnya gak tahu apa nih jantung Vino udah mau copot.' Batin Vino.


"SAYANG." Teriak Vano dari arah luar yang berhasil mengalihkan perhatian Vanya.


"Iya bentar." Vanya pun segera mengambil jaket warna hitam yang ada di depannya dan segera menutup pintu lemari kembali.


"Hufft selamat." Lega Vino.


"Mana baju aku?" Tanya Vano menghampiri Vanya ke walk in closed.


"Ini baru aku ambilin." Menyerahkan pakaian untuk Vano.


"Ya udah kamu ganti baju dulu, aku mau ke kamar mandi udah kebelet soalnya." Ujar Vanya.


"Ehh mau ke mana, pakein dong." Manja Vano yang membuat Vino yang mendengar pembicaraan mereka pun hampir muntah karena saking jijiknya.


"Udah besar kok masih minta di pakaian, Vino aja pakai sendiri." Ngedumel Vino di dalam lemari.


"Sayang, pakein dong." Manja Vano lagi soalnya tadi belum di jawab oleh Vanya.


"Kamu pakai sendiri aja ya, aku udah kebelet banget ini." Tolak Vanya, karena dia ingin buru buru mengecek apa yang Vino katakan tadi.

__ADS_1


"Yah... Kamu kok gitu sih." Cemberut Vano dan segera melepaskan handuk yang tadi menutupi bagian pinggang sampai lututnya, sehingga sekarang terpampang lah itu Vano yang membuat Vanya melotot.


"VANO." Teriak Vanya.


"Apa sih yank, jangan teriak teriak nanti di kira aku ngapain ngapain kamu."


"Lagian kamu itu kalau buka handuk tuh liat situasi dulu napa."


"Emang kenapa sih, orang cuma ada kamu aja. Kamu kan udah sering liat ini." Memegang itu nya yang membuat Vanya semakin melotot kan matanya.


"Aduh mataku ternodai." Ucap Vino yang habis mengintip situasi yang ada, ehh tau taunya malah melihat pusaka milik kakaknya kan jadi nyesel Vino.


"Mama mata anakmu ternodai oleh kelakuan kak Vano dan kakak ipar." Mendramatisir Vino dan kembali menutup pintu lemari.


"Yank pakein." Pinta Vano lagi.


"Udah ahh kamu pakai aja sendiri, aku udah gak tahan." Vanya pun segera berlari keluar dari walk in closed sebelum Vano makin berulah.


"Hufft nasib." Vano pun memakai pakaian sendiri dengan perasaan jengkel, yang tanpa dia ketahui sehabis ini akan ada masalah yang di ciptakan oleh adik laknat tapi sayangnya.


Semenit dua menit masih aman, tapi lima menit kemudian.


"VANO." Teriak Vanya dari kamar mandi yang membuat Vano yang sedang memakai kaosnya pun berlari menghampiri istrinya karena takut terjadi apa-apa.


"Hahaha... Yes berhasil, Vino menang." Sorak senang Vino setelah kepergian kakaknya.


"Vino harus cepat cepat keluar dari sini nih mumpung mereka lagi perang di kamar mandi." Lanjut Vino, dengan kecepatan kilat Vino keluar dari kamar Vano sambil membawa lipstik juga parfum yang dia gunakan untuk melancarkan aksinya tadi.


Vino lupa tidak mengembalikan lipstik milik Vanya ke tempat asalnya.


-


"Kenapa sayang?" Panik Vano saat memasuki kamar mandi dan melihat Vanya tengah memegang kaos yang dia pakai tadi.


Vanya tak menjawab tapi langsung melemparkan koas Vano dengan kasar ke wajah Vano.


"Apa itu Hah." Marah Vanya.


Vano bingung, emang ada apa dengan kaosnya perasaan gak ada apa-apa.


"Emang ada apa sih, kenapa kamu marah marah gitu?" Tanya Vano melihat lihat kosnya.


Vanya menatap Vano dengan tajam yang membuat Vano ngeri melihatnya.


"Ada apa sih, orang gak ada apa apa kok." Ucap Vano setelah melihat keadaan kaosnya yang tidak ada yang aneh.


Vanya mengambil kaos yang ada di tangan Vano dengan kasar.

__ADS_1


"Ini apa Hah." Menunjuk bekas lipstik seseorang yang menempel di kaos Vano.


"Lah kok bisa." Heran Vano yang membuat Vanya semakin yakin jika yang di bilang Vino itu benar.


"Kok bisa? Jadi kamu beneran tadi di taman pelukan sama cewek, kamu selingkuh dari aku." Marah Vanya.


"Ehh kok gitu, aku gak ada selingkuh, aku juga gak tahu itu bekas lipstik milik siapa." Sangah Vano.


"Halah gak usah banyak alasan kamu, nih coba kamu cium." Menyodorkan kaos itu pada hidung Vano agar mencium baunya.


"Itu parfum siapa Hah, parfum selingkuhan kamu kan?"


"Enggak sayang, aku gak tahu itu bekas lipstik sama bau parfum siapa. Beneran aku gak tahu, aku gak selingkuh dari kamu."


"Gak selingkuh gimana, orang udah jelas jelas itu bau parfum cewek kok." Tuduh Vanya lagi.


"Parfum kamu mungkin, aku beneran loh gak ada pelukan sama cewek tadi, jangankan pelukan, ketemu cewek aja gak ada." Vano berusaha meyakinkan Vanya.


"Mana ada, aku gak punya parfum yang baunya kek gitu. Lagian mana ada sih maling ngaku." Tetap ngotot menuduh Vano selingkuh.


"Sayang aku gak selingkuh, aku tuh cintanya cuma sama kamu."


"Halah udah deh, tinggal bilang aja apa susahnya sih." Melemparkan koas itu lagi pada Vano dan segera pergi dari kamar mandi.


"Sayang, sayang aku bisa jelasin, aku gak selingkuh dari kamu." Mengejar Vanya yang keluar dari kamar mandi.


-


Ceklek.


Vino membuka pintu kamar Vano dengan hati hati agar mereka yang sedang perang di kamar mandi tidak kedengaran.


"Hufft aman." Lega Vino.


"Aman apanya Vin?" Ucap seseorang yang berhasil membuat Vino kaget.


"Hah, apa?" Cengoh Vino menatap Farrel yang ada di depannya.


Vino pun menyembunyikan barang yang ada di tangannya ke dalam kantong celananya agar tidak ketahuan Farrel.


"Itu apa Vin?" Tanya Farrel yang melihat Vino memasukkan sesuatu ke kantong celananya."


"Hah, itu...anu, apa itu..anu.." bingung Vino memutar otaknya agar mengeluarkan ide yang berlian.


...***...


Kalau kalian punya adik kayak Vino enaknya di apain ya??

__ADS_1


__ADS_2