
Pagi hari di Italia.
(Btw selisih waktu antara Jakarta dan Italia selisih 6 jam lebih dulu Jakarta.)
Eunggh..
Meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal. Vano menatap sekitar dengan memicingkan matanya mengingat kembali kenapa dia bisa tidur dengan posisi kaki yang menggelantung ke lantai.
"Hilang ingatan." kalimat pertama yang keluar dari mulut Vano setelah sadar dari pingsannya.
"Gw harus cari tahu ini secepatnya." gumam Vano dan bangun dari ranjang dengan muka bantal dan rambut yang berantakan.
Kretek kretek
(anggap aja itu suara persendian ya gaes😂)
"Gilak sih kalau pingsan gak bilang bilang, kalau tau mau pingsan kan gw bisa menempatkan diri supaya nyaman gitu waktu bangun." keluh Vano saat merasakan pegal pegal di tubuhnya.
"Ini juga, apa gak ada yang masuk kamar gw apa, kok gw pingsan sampai bangun sendiri gak ada yang bangunin."
"Oh iya gw lupa, kan pintunya gw kunci ya." lanjut Vano lagi sambil terkekeh kecil.
Vano pun bangun dan segera membersihkan tubuhnya setelah selesai dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya dan satu handuk lagi yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas.
"Gw harus cepat cepat selesaikan latihan ini supaya bisa cepat pulang dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya." ucap Vano pada bayangannya yang ada di dalam cermin meja rias.
Vano memakai pakaiannya yang dia ambil dari gantungan yang ada di walk in closed.
"Perfek." memuji penampilannya sendiri, dengan outfit serba hitam.
...(Anggap aja gak pakai masker sama topi ya😁)...
Setelah di rasa penampilannya sudah sempurna, Vano keluar dari kamar untuk sarapan pagi karena perutnya sudah keroncongan minta di isi.
"Pagi brother, pagi Om." sapa Vano kepada Lucas dan Om Leo yang sepertinya tengah menunggu dirinya untuk sarapan.
"Pagi juga bro/Van." sapa balik Lucas dan Om Leo barengan.
"Berhubung Vano udah ada di sini yuk kita mulai sarapannya, cacing di perut Om sudah meronta ronta minta di kasih makan." lanjut Om Leo.
"Ciah elah gayanya papa ngasih makan cacing, orang di perut papa adanya bukan cacing." Lucas menimpali ucapan Om Leo.
"Trus apaan?" tanya Vano kepo.
"Anaconda beserta ikan piranha." jawab Lucas ngasal.
"Wah habis dong usus papa di makan mereka." balas Om Leo mendramatisir.
"Iya biar mati sekalian." ucap Lucas judes.
__ADS_1
"Semprul nih anak, doain papanya tuh yang bagus bagus bukannya doain papanya mati." Om Leo melempar Lucas dengan sebutir anggur yang ada di meja makan tapi Lucas berhasil menghindar.
"Biarin, biar Lucas bisa cepat jadi CRAZY RICH." menekankan kata crazy rich sambil menampilkan wajah sok kerennya dengan tangan yang menyisir rambut pirangnya ke belakang.
"Cih, gw aja yang udah jadi crazy rich biasa aja tuh gak sombong." ucap Vano sambil tetap memakan makanannya tanpa menatap ke arah Lucas.
"Apa lo bilang, gak sombong? Gak salah tuh." ucap Lucas membenarkan perkataan Vano yang menurutnya berbanding terbalik dengan kenyataan.
"Apa?" sambil menatap Lucas dengan tajam.
"Ppfftt.. udah deh Van, lo itu jangan natap gw kayak gitu. Gw bukannya ketakutan tapi gw malah mau ngakak tauk." berusaha menahan tawanya saat melihat tatapan tajam Vano yang menurutnya sangat lucu. (Lucas aneh ya).
"Udah udah kalian lanjutkan makannya setelah itu terserah kalian mau ngapain sebelum jam 8 nanti, entah kalian mau ghibah, entah mau ngejulit itu terserah kalian. Asal jangan di meja makan. Dan kamu Lucas, papa batalin ahli waris papa yang buat kamu."
"Yah kok papa gitu sih. Emang kalau bukan buat Lucas mau papa kasih ke siapa lagi harta papa, kan anak papa cuma Lucas."
"Ya terserah papa lah, harta harta papa kenapa kamu yang ikut campur."
"Papa...."
"Apa." Menatap Lucas dengan tajam dan itu berhasil membuat Lucas diam seketika dan melanjutkan kegiatan makannya.
Sedangkan Vano hanya menatap Lucas dengan tersenyum mengejek dan di balas plototan mata oleh Lucas. Vano tahu, kelemahan Lucas itu berada pada Om Leo. Meskipun sikap Lucas yang seperti itu pada Om Leo tapi Lucas itu sangat menyayangi Om Leo karena hanya Om Leo keluarga Lucas yang masih ada setelah kepergian mamanya dulu.
Skip.
"Saya mau ke markas dulu, nanti kalau sudah jam 8 kalian susul saya ke sana." ucap Om Leo setelah menghabiskan makanannya.
Om Leo pun pergi meninggalkan mereka berdua yang masih asik duduk di meja makan.
"Van." pangil Lucas.
"Apa?" jawab santai Vano.
"Main yok." ajak Lucas.
"Main apaan? Kayak masih bocil aja ngajak main."
"loh jangan salah, kita ini meskipun udah dewasa juga butuh waktu untuk main biar otak ini tetap fresh."
"Iya dah seterah Lo." ucap Vano malas.
"Terserah Vano, terserah. Bukan seterah."
"Ya suka suka gw lah, mulut mulut gw napa lo yang sewot." jawab sewot Vano.
"Seterah lo lah Van."
"Terserah Lucas, terserah bukan seterah." Vano membenarkan ucapan Lucas yang salah.
"Lah suka suka gw lah, mulut mulut gw napa lo yang sewot." jawab Lucas membalik ucapan Vano tadi.
__ADS_1
"Lah itu kan..."
"Apa?" Lucas memotong perkataan Vano.
"Lo berani sama gw HAH?" sambil mengebrak meja.
"Dih, gak usah gitu mukanya saya gak takut pak." jawab Lucas santai.
"Yok gulut yok, dah gatel nih tangan gw pengen nonjok orang." ucap Vano sambil menggulung lengan pendek kaosnya.
"Yok." jawab Vano. Dan setelah itu...
"Hahahaha...." tawa keduanya pecah setelah menyelesaikan perdebatan yang mengalah ngalahin depat antar DPR.
"Lucu juga ya kita kalau berantem nanti kayak waktu bocil dulu." ucap Lucas setelah menyelesaikan tawanya.
"Hooh, apalagi kalau lo yang kalah pasti nanti nangis trus ngadu sama papa gw." jawab Vano mengingat masa kecil.
"Sekarang udah beda, gw gak bakal ngadu ke Om William kalau gw kalah. Tapi gw bakal ngadu ke Om William kalau lo ada ngerusakin barang yang gw punya biar bisa di ganti berkali-kali lipat."
"Yee itu mah mau Lo." menoyor muka Lucas.
"Emang." jawab santai Lucas.
"Ehh jadi main gak nih. Kan lo bentar lagi balik ke indo, kalau kita gak main gak ada kenangannya nanti." tambah Lucas.
"Emang mau main apaan?" tanya Vano.
"Eemmm... apa ya.... bagaimana kalau kita main basket aja. Nanti kalau lo yang kalah lo harus beliin gw mobil kayak punya lo yang warna item. Kalau lo yang menang lo harus kasih mobil lo yang item itu buat gw." peraturan yang Lucas buat yang sangat menguntungkan bagi Lucas.
"Itu mah enak di lo gak enak di gw."
"Udah pokoknya deal." menjabat tangan Vano.
"Serah lo dah."
Mereka pun berjalan ke arah samping mansion yang terdapat lapangan basket yang berhadapan dengan kolam renang.
Saat melewati ruangan yang terdapat pintu keluar untuk ke samping mansion di situ terdapat sebuah lukisan ular cobra yang sedang menggigit seorang prajurit kerajaan jaman dulu. Seketika ada bayangan samar samar yang terlintas di otak Vano.
"Ular." ucap Vano.
Vano tetap berjalan mencoba menghilangkan bayangan itu yang nanti akan membuat kepalanya sakit tapi bayangan itu tak bisa hilang dari otaknya hingga sampai dia di lapangan basket.
"Van tangkap." teriak Lucas melemparkan bola basket ke arah Vano.
Karena Vano yang tidak fokus akhirnya bola itu mengenai kepalanya yang tak terlindungi oleh apa pun.
Bruk.
"Vano..."
__ADS_1
...***...