
Vano diam beberapa saat untuk berfikir apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Kalau menurut gw sih gini, kita harus buat rencana buat habisin si Damar karena kan kuncinya ada di dia. Kalau Damar sudah ada di tangan kita maka otomatis anak buahnya juga akan tunduk ke kita. gimana menurut kalian." ide Vano.
"Ide yang bagus tuh. Berarti nanti kita harus lebih fokus ke damar, gitukan maksud lo." balas Galang.
"Nah iya gitu."
"Ya udah ayo tunggu apa lagi kita hajar sekarang." Rangga berdiri dari tempat duduknya.
"Jangan sekarang ini." larang Vano.
"Trus mau kapan Van, nunggu ada korban lagi gitu maksud lo."
"Ya bukan begitu Ngga. Maksud gw tuh jangan sekarang beraksi nya, tunggu nanti dulu agar anak X-Lion pikir kita gak bakal balas dendam. kalau kita serang sekarang mereka sudah pasti udah menyiapkan pertahanan." terang Vano pada Rangga sekaligus anak black Crow lainnya.
"Tapi Van, kalau kita gak bergerak mereka mengira kita takut dan itu akan membuat mereka merasa menang." balas Rangga.
"Nah itu yang kita butuhkan. Mereka merasa menang dan di situlah nanti kita akan masuk untuk menghancurkan kesenangan mereka." jelas Vano.
BRAK.
Suara gebrakan meja.
"Itu ide yang sangat sangat berlian." ucap Galang setelah mengebrak meja.
"Betul gak?" tambah Galang.
"Betul betul betul." serempak anak black Crow menjawab.
"Udah Ngga lo jangan banyak mikir serahkan aja semuanya pada Vano. Ya gak Lang?" ucap Ical sambil menepuk pundak Rangga.
"Yoi." jawab Galang.
"Udah jangan di pikir kita biarkan saja mereka bersenang-senang kali ini tapi tidak untuk nanti. Oh iya nanti di kediaman Yoyon ngadain acara tahlil kan?" tanya Vano.
"Kemaren yang aku dengar sih kata pak RT bakalan ngadain tapi gak tau lagi sih." jawab Hito salah satu anggota anak Black Crow.
"Ya udah nanti kita ke sana setelah magrib."
"Ogheey." jawab mereka semua.
Mereka melanjutkan kegiatan mereka masing-masing ada yang sibuk makan, ngegame, ada juga yang tengah mengghibah.
-
Vanya pulang cepat cepat ke apartemen karena ingin melihat keadaan Vano. Tapi saat sampai di apartemen ternyata orang yang dia khawatirkan sudah tak ada di tempatnya.
"Lah, aku kita lagi sakit mangkanya tadi gak bangun bangun. Ehh sekarang malah udah ngilang." ucap Vanya saat berada dalam kamar Vano.
__ADS_1
Vanya pun keluar dari kamar Vano menuju kamarnya untuk ganti baju dan setelah itu dia akan memasak.
"Mau masak apa ya hari ini?" pikir Vanya bingung.
Vanya melihat bahan masakan yang ada di dalam kulkas.
"Masak ini aja deh." putus Vanya.
Vanya memutuskan untuk memasak tumis kangkung sama membuat jamur krispi dan membuat sambal Matta.
Klik
Suara pintu apartemen ke buka.
Vano masuk ke dalam apartemennya dengan tenang setelah dari basecamp tadi.
"Kamu dari mana Van?" sambut Vanya saat melihat kedatangan Vano.
"Apa urusannya sama lo gw dari mana juga." jawab Vano judes.
"Yee di tanya baik baik juga."
"Yang lebih baik itu lo gak usah tanya tanya."
"Hufft." Vanya menghentikan kegiatan memasaknya dan berdiri menghadap Vano sambil menatapnya dengan intens.
"Maaf nih Van, bukannya aku sok atau gimana. Bisakah kita berteman dengan baik gitu, ya meskipun kita gak pernah akur." ucap Vanya sambil masih dengan menatap Vano.
Vano diam mencerna apa yang Vanya katakan. Boleh juga sih berteman dari pada serumah tapi ribut mulu. pikir Vano.
"Hmm ok kita berteman, tapi..." ucap Vano menggantung.
"Tapi apa Van?"
"Lo harus masakin gw tiap hari." ucapan Vano yang tidak akan pernah Vanya duga.
Vanya diam memikirkan apa yang Vano ucapkan. Apakah Vano salah bicara, atau telinganya yang bermasalah. Dia tidak salah dengar kan?
"Oke dell. Sekarang kita berteman." jawab Vanya setelah menguasai dirinya kembali sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Vano.
Vano melihat tangan Vanya bingung, Vanya yang melihat itu pun memberikan kode dengan menggerakkan tangannya.
"Dell." balas Vano saat mengerti apa yang Vanya maksud sambil menerima uluran tangan Vanya.
Vanya tersenyum senyum sendiri, kenapa hal ini tidak dia lakuin dari dulu aja. Kenapa baru sekarang. pikir Vanya.
Sedangkan Vano hanya tersenyum kikuk, dia bingung harus berekspresi seperti apa yang pasti ada rasa dalam hati yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
"Lo masak apa sekarang?" tanya Vano untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi.
__ADS_1
"Ini aku masak tumis kangkung sama goreng jamur krispi dan buat sambal Matta. Kamu mau makan sama apa mungkin ada yang kamu inginkan biar aku masakin."
"Emmm gak usah itu aja udah cukup. Apapun yang lo masak bakal gw makan kok." tanpa Vano sadari dia telah memuji masakan Vanya enak, tapi emang gak salah sih.
Vanya tersenyum senang dalam hati mendengar ucapan Vano, setelah ini Vanya akan semakin semangat untuk memasak bahkan dia harus belajar membuat masakan lainnya yang belum dia bisa.
"Ada yang bisa aku bantu gak?" tanya Vano.
"Gak usah ini tinggal dikit kok, mendingan kamu mandi bersihin diri kamu." suruh Vanya sambil tersenyum manis kepada Vano.
"Emmm ya udah aku ke kamar dulu." pamit Vano dan segera berlari meninggalkan Vanya.
"Aduh lama kelamaan gw bisa kena serangan jantung nih." ucap Vano saat sampai di kamarnya sambil memegangi dadanya yang deg degan.
Sedangkan Vanya yang berada di dapur sepeninggal Vano dia berjingkrak jingkrak senang.
"Aaaaaa senangnya hatiku bisa deketan dengan Vano, walaupun hanya sebagai teman tapi gapapa lah kan biasanya teman lama lama demen." ucap Vanya senang.
Setelah selesai masak Vanya pergi ke kamar untuk mandi karena badannya sudah lengket semua.
-
Tok tok tok.
"Van ayo makanan sudah siap ayo makan." ucap Vanya di depan pintu kamar Vano.
"Iya bentar, lo turun duluan aja bentar lagi gw nyusul." jawab Vano dari dalam.
"Ya udah aku duluan ya." ucap Vanya.
Vanya turun dan menghampiri meja makan setelah beberapa saat Vano juga turun dan duduk di kursi yang berada di depan Vanya.
"Mau lauk apa?" tanya Vanya.
"Semuanya." jawab Vano dengan sumringah saat melihat hidangan makanan yang ada di depannya.
Vanya dengan senang hati mengambilkan makanan untuk Vano.
"Emm Van aku dengar dari anak yang lainnya katanya teman kamu ada yang meninggal." tanya Vanya di sela sela acara makannya.
"Iya, kenapa emang?" tanya balik Vano.
"Ya gapapa sih cuma tanya aja."
"Oh."
Setelah itu hening menyelimuti ruang makan tersebut.
...***...
__ADS_1