Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
08.5 Intermezzo part 2


__ADS_3

"Jadi anda adalah seorang putri bangsawan?" tanya Nata ke Lucia saat ia sedang membantu gadis itu membereskan tenda di pagi buta.


"Benar. Tumben kau sudah bangun pagi begini?" ujar Lucia seraya menatap Aksa yang masih meringkuk dalam kantung tidurnya di antara roda kereta.


"Kurasa karena kemarin aku tidur lebih cepat," ujar Nata menjawab. "Kalau boleh ku tahu putri, apakah para bangsawan itu punya tingkatan dikalangan mereka?" tanyanya kemudian.


"Ada," jawab Lucia seraya duduk di atas kereta menghadap ke arah Nata. "Di kerajaan Elbrasta ada tiga tingkatan.


"Yang pertama adalah Baron. Mereka adalah orang-orang yang berjasa pada kerajaan. Seperti tuan tanah, pedagang kaya, politisi yang mendapat gelar dari kerajaan sebagai hadiah atau penghargaan. Mereka yang paling rendah peringkatnya dari semua bangsawan. Mereka bisa dari kaum apa saja. Bahkan dari ras selain manusia.


"Kemudian ada Jarl mereka adalah kaum Narva keturunan asli bangsawa yang telah lama mengabdi kepada kerajaan. Mereka diberi kewenangan untuk menjaga dan mengatur sebuah wilayah atas nama kerajaan.


"Dan kemudian yang terakhir adalah Dux. Mereka keluarga bangsawan yang masih berkerabat langsung dengan kerajaan. Mereka memiliki wilayah dan punya hak penuh dalam mengatur seluruh wilayah tersebut atas nama mereka sendiri," jelas Lucia panjang lebar. "Di kerajaan-kerajaan lain bahkan memiliki lebih dari tiga tingkatan. Ada seperti Arcdux atau Viscomt," susulnya.


Nata mengangguk-angguk kecil. "Dan status kebangsawanan Anda?" tanyanya kemudian.


"Aku memiliki hubungan kekerabatan dengan sang raja sebelumnya," jawab Lucia seraya mengambil beberapa kantong tidur dari dalam kereta di belakang tempatnya duduk lalu mulai melipatnya.


"Wah, berarti tingkatan Anda tinggi juga. Dux Lucia."


Lucia hanya diam masih tetap melipat.

__ADS_1


"Untuk ukuran seorang putri bangsawan berstatus tinggi, kelakuan Anda menunjukan hal sebaliknya," ucap Nata kemudian.


"Maksudnya?" tanya Lucia yang mulai mengeryitkan dahi.


"Anda terlihat mandiri, sopan, rendah hati, serta punya hobi masuk dalam masalah orang lain."


Mendengar ucapan terakhir Nata membuat Lucia menatap tajam.


"Hei, saya sedang memuji Anda."


"Memang harusnya seperti apa seorang putri bangsawan itu?"


"Ya, seperti orang-orang yang selalu dilayani, dipuji, hidup dalam kemewahan, dan segala keinginannya selalu terpenuhi."


"Tapi untuk ukuran seorang putri keluarga Dux, harusnya Anda punya kehidupan yang seperti itu."


Kemudian Lucia terdiam seolah berfikir, "Benar juga. Kehidupan yang ku jalani harusnya memang seperti itu, ya?" ucapnya kemudian menyetujui perkataan Nata sambil mengangguk kecil.


"Apa sistem kebangsawanan itu patrilineal?"


"Benar."

__ADS_1


"Jadi apakah karena itu Anda melakukan perjalanan bersama Jean sekarang ini, dan tidak sedang menikmati menjadi seorang putri bangsawan?"


"Maksud mu?"


"Maksud saya, apakah secara kebetulan Anda sedang melarikan diri dari keluarga Anda, Putri?" tanya Nata menebak.


Mendengar hal tersebut membuat Lucia tertawa kecil. Seolah kata-kata Nata itu menggelikan.


"Wah!" Tiba-tiba terdengar suara Aksa di sebelah Nata yang membuat Lucia dan Nata terkejut.


Tampak Aksa yang masih terlihat mengantuk berjalan menuju ke arah kereta tempat Lucia duduk.


"Kenapa?" Tanya Lucia kemudian.


"Kau manis sekali saat tertawa seperti itu," ujar Aksa yang membuat Lucia diam ditempat karena terkejut.


"Cuci muka dulu sana," sela Nata memerintah.


Tampak Aksa berjalan setengah sempoyongan ke arah Nata. "Nat? Apa kau menyukai sang putri?" Tanyanya kemudian dengan bahasa dunia mereka yang tidak dipahami oleh Lucia.


"Kau mengigau, ya? Sudah sana cuci muka."

__ADS_1


-


__ADS_2