
Aksa, Nata, dan yang lain diantar oleh pria baya berbaju putih yang ternyata adalah para pendeta Tanah Suci itu, memasuki sebuah ruangan kosong berbentuk lingkaran. Hanya ada sebuah tempat duduk besar yang terbuat dari batu marmer terlihat di ujung ruangan tersebut.
"Mohon anda sekalian tunggu sebentar. Primaval sedang menuju kemari" ucap seorang pria berkepala botak dengan sopan.
"Baik" yang lain menjawab nyaris bersamaan.
Mereka semua berdiri menunggu di depan tempat duduk yang terbuat dari marmer itu. Tapi tidak terlalu dekat. Mereka bertiga belas berdiri berjajar. Ada Aksa, Nata, Lily, Val, Rafa, Caspian, Loujze, Huebert, Deuxter, Axel, Sigurd, Maserati, dan Corvette.
Disisi kiri mereka ada sepuluh pendeta yang juga berdiri menunggu,
Tak lama kemudian, dari pintu dibelakang tempat duduk marmer tadi keluar seorang gadis muda dengan paras yang cantik, berambut sepinggang berwarna kuning berkilau. Tampak seumuran dengan Aksa dan Nata. Mengenakan gaun putih yang tampak melambai saat sedang berjajan mendekat.
Gadis itu tampak menatap semua orang satu persatu, begitu ia tiba di depan rombongan Aksa dan Nata. Lalu wajahnya berubah saat menemukan ada orang yang ia kenal.
"Oh, lama tidak bertemu nona Lilian, tuan Val" sapa gadis itu kemudian.
Para pendeta terlihat mulai kasak kusuk karena tidak menyangka ada orang yang dikenal oleh gadis itu. Karena sebelum ini tidak pernah ada.
"Lama tidak bertemu, Primaval" Lily memjawab seraya membungkuk hormat.
"Lama tidak bertemu" Val juga menjawab seraya membungkuk hormat.
"Tak kusangka akan bertemu dengan dua legenda perang sekaligus. Dan bila boleh ku tahu, kenapa anda berdua ada di tengah peradaban manusia? Apa lagi sampai ikut membantu. Apakah anda berdua telah menemukan seorang pemimpin yang akan kalian ikuti, sama seperti sebelumnya?" Gadis itu bertanya lagi.
Para pendeta terlihat makin terkejut setelah mendengar bahwa Realn dan Lagoom itu adalah dua legenda perang.
"Sebenarnya kami telah melakukan sumpah setia" Lily menjawab.
"Oh, benarkah? Kepada siapa? Apakah orang itu ada bersama kita disini?" Gadis itu menatap cepat ke semua orang yang ada dihadapannya dengan wajah sedikit bersemangat.
"Mereka adalah dua pemuda ini" Lily menunjuk kearah Aksa dan Nata yang berdiri di sebelah Lily.
Tampak gadis itu terkejut saat melihat Aksa dan Nata yang ditunjuk oleh Lily. Meski ia mencoba untuk menekannya. Gadis itu tidak menyangka bahwa dua orang pemuda yang dipilih dua legenda perang untuk dijadikan tuan mereka.
"Perkenalkan saya Nata dan ini Aksa" Nata memperkenalkan diri.
"Halo, aku Aksa" Aksa melambai kecil. Semua orang mulai waspada akan sikap Aksa. Terutama trio pemburu dan Rafa.
Beberapa pendeta juga terdengar berkasak-kusuk mendapati tingkah Aksa yang dinilai tidak sopan.
"Dan bagaimana seharusnya kami memanggil anda?" Kemudian Nata bertanya dengan sopan.
"Oh, maafkan atas ketidak sopanan ku, tidak memperkenalkan diri pada kalian. Karena baru kali ini, setelah sekian lama, tidak ada orang yang menanyakan hal tersebut" gadis itu terlihat terkejut atas pertanyaan Nata dan kemudian meminta maaf.
"Karena meski kami sudah pernah mendengar tentang anda, atau mendengar bagaimana orang lain memanggil anda, tapi tetap tidak sopan bila kita tidak menanyakan nama pada seorang gadis yang baru pertama kita temui" celetuk Aksa kemudian. Loujze dengan segera menendang kecil kaki Aksa dari belakang. Untuk mengingatkanya tentang sopan santun.
Terlihat gadis itu terkejut mendengar ucapan Aksa. Kemudian tersenyum kecil seraya berjalan menuju tempat duduk marmer dibelakangnya.
"Memang kebanyakan orang selalu berasumsi sudah mengenal ku, atau mungkin mereka merasa tidak sopan bertanya kepada orang yang sudah cukup banyak dikenal orang. Maka dari itu mereka tidak pernah menanyakan pertanyaan tersebut" gadis itu kemudian duduk dengan anggun diatas kursi marmer tersebut. "Namaku Luqué Nueva. Kalian bisa memanggilku Luque" ucapnya kemudian memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Senang berkenalan dengan anda, nona Luque" Aksa menjawab perkenalan gadis bernama Luque itu.
"Tuan Aksa!" Rafa segera meyergah.
Bukan hanya Loujze saja yang kini menendang kaki Aksa. Tapi Huebert dan Deuxter juga ikut menendang kaki Aksa dari belakang
"Hei, kenapa? Kan nona Luque sendiri yang memperbolehkan ku memanggil namanya. Meski namanya lumayan susah juga disebut. Luque atau Luqee?" ujar Aksa yang tidak terima trio pemburu menendang kakinya dari belakang.
Terdengar juga suara para pendeta yang tidak nyaman dan tidak terima atas tingkah laku Aksa itu.
"Hahaha... tuan kalian ini unik sekali" Luque tertawa melihat tingkah laku Aksa dari atas tempat duduknya.
"Memang benar, Primaval. Jadi mohon maaf atas segala kelakukan nya yang tidak mengenal sopan santun itu" Lily berucap dengan mengangguk sopan.
"Mungkin karena kami memang sedikit beda dan tidak paham akan hal-hal umum. Maka dari itu, bila kedepannya kami bertanya hal yang sepele dan mungkin berlaku tidak sopan. Kami minta maaf sebelumnya" kali ini Nata yang meminta maaf atas kelakukan Aksa.
"Sebentar, sebentar, lalu kenapa yang lain memanggil anda dengan Primaval?" Aksa bertanya lagi karena merasa penasaran.
"Itu adalah sebuat status tertinggi dalam hirarki Tanah Suci" Luque menjawab.
"Oh, jadi seperti yang mulia, padukal atau baginda gitu ya? Ya, ya. Aku paham sekarang. Kenapa tidak ada buku yang menulis tentang hal ini sih?" Aksa terlihat mulai ngoceh sendiri.
"Jadi bila dilihat dari kelakuan yang lainnya terhadap kalian, sepertinya kalian adalah pemimpin mereka?" Luque menduga.
"Bukan. Kami hanya pemimpin pasukan ini saja. Mereka memiliki pemimpin diwilayah mereka sendiri" Nata menjawab.
"Kami kemari tidak berencana untuk menyerang atau menguasai wilayah ini. Disamping untuk mengejar raja Urbar, kami kemari sebenarnya ingin menawarkan sebuah kesepakatan" Nata berucap.
"Kesepakatan?" Luque terlihat tertarik.
"Benar. Kami berniat untuk mengajak wilayah ini bergabung dengan wilayah kami" Nata melanjutkan ucapannya.
"Hm, dan tadi kau berkata tidak berencana untuk menguasai wilayah ini" Luque memotong dengan nada mencibir.
"Memang tidak. Kami tidak akan menguasai Tanah Suci atau pun kota Nezarad. Kami juga tidak akan mengurusi tata cara dan aturan dari wilayah kalian. Terlebih, kami tidak akan menggunakan segala pengaruh yang wilayah ini atau yang anda punya untuk kepentingan kami" Nata mulai mengeluarkan kemampuannya berbicara dan berunding.
"Tapi kalian akan tetap mengakui bahwa wilayah ini dibawah kekuasaan wilayah kalian, kan?" Luque terlihat sedikit tidak terima.
"Apa anda ingin kami melepas wilayah ini dan menjadikan Tanah Suci kembali menjadi wilayah yang merdeka?" Nata bertanya balik.
"Bukankah menjadi merdeka adalah harapan semua orang" Luque menjawab cepat.
"Maaf bila mungkin perkataan saya setelah ini akan menyinggung anda dan orang-orang yang ada ditempat ini" Nata berucap. "Tapi menjadi merdeka atau bebas bagi mereka yang memiliki kekuatan dan pengaruh itu tidak akan bertahan lama. Bila anda memang sangat ingin membuat wilayah ini merdeka, maka anda harus pergi dari wilayah ini" jelasnya kemudian.
Beberapa orang terlihat menarik nafas dalam mendengar ucapan Nata tersebut.
"Karena mau di yakini atau tidak, sebenarnya anda lah yang telah membuat wilayah ini tidak akan pernah merdeka" Nata masih melanjutkan ucapannya.
Yang kali ini membuat teman-temannya dan para pendeta menahan nafas mendengarnya.
__ADS_1
"Mengapa kau bisa bicara seperti itu? Aku bukan pemimpin pemerintahan di wilayah ini. Aku juga tidak melakukan paksaan atau tekanan pada penduduk" Luque bertanya masih dengan tenang. Gadis itu tidak merasa marah atau tersinggung.
"Tapi status khusus anda yang menyebabkan semua itu. Mau anda setuju atau tidak, semua kerajaan menginginkan status dan pengaruh anda untuk membantu kerajaan mereka menjadi kuat di daratan ini" Nata menjawab pertanyaan Luque tadi.
"Maka dari itu perang akan terus berkecambuk di daratan ini bila masih ada orang yang menganggap Tanah Suci ini sebagai sebuah piala atau senjata dan ingin memilikinya" Nata menambahi. "Atau sampai ada wilayah kuat yang memiliki Tanah Suci tersebut" tutupnya kemudian.
"Dan itu adalah kalian?" Luque bertanya lagi masih dengan tenang.
"Benar. Kami akan mengakui wilayah ini adalah wilayah kami, agar tidak ada lagi orang-orang bodoh yang membuang nyawa orang-orang untuk memperebutkan hal bodoh" Nata menjawab dengan tegas.
"Tet-tot! Mengulang kata; orang-orang bodoh" celetuk Aksa tiba-tiba.
"Maaf" Nata menjawab cepat.
"Dan kau yakin, mereka akan berhenti berperang setelah wilayah ini kalian kuasai?" Luque kembali bertanya tanpa memperdulikan ucapan Nata tadi menyingung atau tidak.
"Saya yakin. Itu karena kami kuat. Dan saat pihak yang kuat sudah menentukan, yang lemah akan menuruti" Nata menjawab dengan percaya diri.
"Jadi kalian akan memerintah dengan kekerasan dan ketakutan?" Tampaknya Luque tidak akan berhenti bertanya dalam waktu dekat ini.
"Tidak. Kuat bukan hanya diidentikkan dengan kekuatan dan penindasan, nona Luque" Nata menjawab lagi.
"Memiliki kemampuan untuk berdiri tanpa bantuan orang lain itu juga termasuk kuat. Memiliki rakyat yang makmur hingga setia pada wilayahnya, juga termasuk kuat" Nata melanjutkan penjelasannya. "Tapi saya tidak akan munafik. Kami akan tetap menggunakan kekerasan dan ketakutan untuk menghadapi mereka yang merasa kuat dan berani menentang kami" tutup nya kemudian.
Luque hanya diam mengamati Nata dengan senyum mengembang.
"Berapa usia mu, tuan Nata?" Gadis itu bertanya.
"Delapan belas tahun, nona Luque" Nata menjawab.
"Kau ini sepertinya lebih tua seratus tahun dari ku" Luque berucap.
Yang langsung dibalas dengan tawa oleh Aksa. "Hahaha, dasar relik" ucapnya kemudian.
"Baiklah kalau begitu. Kami akan setuju dengan kesepakatan ini asal dengan satu syarat" Luque mengembalikan topik pembicaraan.
"Dan apa itu, nona Luque?" Nata bertanya.
"Aku ingin kalian juga mengamhil alih pemerintahan dan aturan di wilayah ini" ucap Luque kemudian.
Terdengar para pendeta mulai berisik kasak-kusuk mendengar ucapan Luque tersebut.
"Memang benar apa yang tadi kau katakan. Aku lah penyebab tanah ini tidak bisa bebas. Jadi aku ingin kalian mengambil tanah ini dan buatlah lepas dari pengaruh ku" Luque melanjutkan ucapannya. Yang kali ini tidak hanya mengejutkan para pendeta, tapi juga rombongan Aksa dan Nata.
"Apa kita sepakat?" Luque bertanya lagi, yang mengejutkan Nata yang tampak sedang berpikir.
"Baik nona Luque, kita sepakat" jawab Nata kemudian dengan senyum mengembang.
-
__ADS_1