Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
24.5 Antology Story : Meminta Bantuan


__ADS_3

Nampak Loujze, Huebert, dan Deuxter memasuki pegar pembatas halaman sebuah rumah artistik yang terbuat dari kayu di tengah hutan di utara desa Tirgis. Rumah itu hanya sendirian di hutan tersebut. Tidak nampak tetangga atau rumah lain sejauh mata memandang.


Seorang wanita Morra setengah baya dengan hidung dan pipi berwarna merah dan rambut di sanggul seadanya tampak sedang mengangkat tumpukan kayu bakar di samping rumah. Pakaiannya terbuat dari bulu tebal berwarna coklat dan abu-abu. Yang orang sekitar mengenalinya sebagai kulit beruang hutan yang ganas.


"Pagi, bibi Go" sapa Loujze yang pertama kali memasuki pekarangan.


Wanita itu menoleh kearah trio pemburu dan terkejut "Huey! Luey! Dewey! Kalian?! Bagaimana kabar kalian?" Ucap wanita yang dipanggil Go itu seraya menjatuhkan kayu yang ia panggul dan menyambut trio pemburu, "Kalian sudah jadi pemuda-pemuda gagah sekarang"


"Kami sehat-sehat saja bibi, bibi sendiri?" Ujar Deuxter kali ini.


"Mana mungkin aku tidak sehat disini" ujar Go seraya tertawa, "ayo masuk-masuk kalian" ajaknya kemudian.


-


"Wah, kalian menemukan orang yang sangat menarik sepertinya" ujar Go beberapa waktu kemudian setelah mereka berbincang dan bercerita melepas rasa rindu.


Wanita yang di panggil bibi oleh trio pemburu ini adalah figur pembimbing dan pengasuh bagi mereka bertiga dari saat mereka masih kecil hingga remaja.


"Benar, mereka sangat menarik bibi. Oh, dan coba lihat ini" ujar Deuxter sambil menunjukan busur silang yang ia bawa kepada Go.


"Apa ini? Kenapa alat ini punya anak panah? Apakah ini semacam busur panah?"


"Benar sekali dugaan bibi, alat ini disebut busur silang" jawab Deuxter.


"Oh, apakah alat ini bisa digunakan untuk berburu? Seberapa kekuatannya menembakan anak panah bila rentang talinya hanya sependek itu?"


"Bibi akan terkejut melihat kekuatannya"

__ADS_1


"Benarkah? Bagaimana kalau kita coba" ujar Go dengan senyum yang seperti sedang menantang.


"Baiklah" jawab Duexter yang diikuti senyuman juga oleh yang lain.


-


Tampak meskipun seorang wanita, Go memiliki bentuk fisik yang kekar. Terlihat saat ia mulai mengangkat busur panah yang nyaris setinggi tubuhnya itu, dan mulai menarik talinya kebelakang.


Seluruh otot yang ada di kedua lengannya tampak mengencang, bersamaan dengan bunyi seperti derak saat sebuah papan kayu di lengkungkan.


Dan setelah merasa bidikannya tepat, wanita itu melepaskan tarikannya. Anak panah meluncur tepat menuju sebuah sasaran dari kayu diseberang halaman. Dan menancap dalam pada kayu sasaran tersebut. Tiga pemuda yang menyaksikan hal tersebut bertepuk tangan.


Kemudian sekarang giliran Deuxter. Ia menggunakan busur silang yang sudah mengalami penyempurnaan oleh Aksa dari bentuk sebelumnya.


Busur itu kini lebih panjang dari yang bentuk pertama yang sekarang dipakai oleh Loujze. Busur itu setinggi pinggang orang dewasa saat di berdirikan. Gagang belakangnya dibuat lebih lebar dan pipih agar nyaman menyentuh bahu saat digunakan untuk membidik.


Dan yang paling membedakan dari bentuk sebelumnya adalah kali ini busurnya terbuat dari lempengan besi tipis yang akan melengkung saat ditarik. Bukan dari kayu seperti busur-busur pada umumnya.


Kemudian setelah Deuxter selesai membidik, ia segera menarik pelatuk dan melepaskan penahan talinya. Anak panah meluncur dengan cepat menuju kearah papan sasaran.


Dan tidak hanya menancap, anak panah itu menembus papan sasaran dan menancap ke sebuah pohon sejauh dua kerta kuda dari pagar halaman rumah Go.


"Apa-apaan itu?" Reaksi tak percaya Go melihat hal tersebut.


-


"Jadi sebenarnya kedatangan kami kemari adalah ingin meminta bantuan bibi" ucap Huebert beberapa saat setelah mereka sudah kembali berada di dalam rumah Go untuk makan siang.

__ADS_1


"Dan apa yang kalian butuhkan dari ku?"


"Kami membutuhkan keahlian menambang bibi"


"Menambang? Aku sudah berpuluh tahun tidak melakukannya lagi. Semenjak pertambangan Dracz mulai tutup"


"Tapi kami yakin bibi masih ahli dibidang tersebut" Loujze mencoba meyakinkan Go.


"Apa kalian butuh lebih banyak logam Dracz? Kalau memang karena hal tersebut, aku tak akan bisa membantu kalian. Hal seperti itu hanya bisa diselesaikan dengan jumlah para penambang, keahlian menambang tidak akan berpengaruh pada banyak sedikitnya hasil tambang"


"Bukan. Kalau untuk logam Dracz kami sudah menyerahkan semuanya kepada yang mulia ratu Lugwin" jelas Deuxter.


"Menyerahkan kepada sang ratu?" Tampak Go memastikan bahwa ia tidak salah dengar.


"Benar, teman-trman kami adalah teman dari sang ratu"


"Benarkah?" Kali ini Go memastikan bahwa ucapan Deuxter serius.


"Ceritanya panjang dan akan membuat bibi semakin pusing mendengarnya, tapi terlebih itu kami membutuhkan keahlian tambang bibi untuk menambang di timur gunung Sekai"


"Menambang di wilayah timur Sekai? Kenapa harus disana? Apa jangan-jangan kalian mengincar.."


"Benar, kami akan menambang kristal Cyla"


"Apa yang sedang kalian lakukan? Sebelumnya Dracz sekarang Cyla?" Terdengar Go tampak tidak mengerti maksud ketiga pemuda itu mencari mineral-mineral keras di dunia ini.


"Apakah bibi bersedia membantu kami?" Tanya Deuxter kemudian dengan senyum mengembang.

__ADS_1


-


__ADS_2