Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
15.5. Antology Story : Kawan Lama


__ADS_3

"Bagaimana kalian bertiga bisa sampai ditempat ini?" Tanya Fla yang masih terlihat tak percaya melihat tiga penyelamat nyawanya ada di hadapannya sekarang. Bahkan ia tidak bisa menahan air matanya.


"Kau sendiri bagaimana bisa ada ditempat terpencil seperti ini?" Deuxter balik bertanya pada Fla.


"Oh, itu karena desa saya memang ada di sisi timur dinding Pharos sana" ucap Fla seraya menunjuk ke cakrawala gelap di barat. "Tadinya saya berencana kembali sebelum gelap, saat kemudian saya mendengar suara-suara. Dan kemudian terlihat sebuah nyala api unggun di bukit ini. Tak banyak orang di wilayah ini. Jadi akan langsung ketahuan bila ada orang baru" lanjutnya kemudian.


Bila diperhatikan, sifat dan kepribadian Fla sekarang sudah berubah jauh dari saat pertama trio pemburu itu bertemu denganya. Sekarang pembawaannya selalu terlihat bahagia dan tampak tegar. Ucapannya pun terdengar percaya diri dan penuh semangat.


"Oh, apa sekarang kau adalah seorang penjaga desa?" Tanya Loujze kemudian.


"Ya, itu karena desa kami kekurang tenaga saja. Bukan berarti saya sudah berani melawan hewan buas atau bandit" jawab Fla sambil tertawa. Yang kemudian diikuti oleh trio pemburu.


"Lalu apa yang sedang anda bertiga lakukan ditempat ini?" Fla bertanya lagi setelah berhenti tertawa. "Apa kalian bersama tuan Val dan nona Lily? Atau jangan-jangan tuan Nata, tuan Aksa, nona Lucia, dan nona Jean juga ikut" ucap Fla seraya melihat berkeliling sekitar.


"Mereka tidak ada di sini. Kami hanya bertiga saja melewati gua itu yang terhubung ke sisi pantai pesisir timur" jawab Huebert seraya menunjukan mulut gua tak jauh dari tempat mereka membuat api unggun.


"Tapi mereka ada di tanah mati dibalik dinding Sekai itu" kali ini Loujze yang berucap.


"Benarkah? Mengapa mereka berada disana? Apakah mereka hendak menuju ke selatan?" Tanya Fla kemudian.


"Hahaha, kau pasti tidak akan percaya kalau kuceritakan apa yang akan kami lakukan, dan sedang apa kami disini" Loujze tampak tidak dapat menahan tawa ketika membayangkan bagaimana reaksi Fla setelah mendengar penjelasannya nanti.


.


"Apa?! Kalian akan membuat kota ditanah mati itu?" Reaksi tak percaya Fla setelah mendengar cerita dari trio pemburu tentang rencana mereka membangun sebuah kota di atas tanah mati.


"Hahaha, aku sudah menduga reaksimu setelah mendengar rencana gila mereka bertiga" ttrlihat Loujze puas bisa melihat rajah tak percaya dari Fla.


"Tapi dengan kecerdasan tuan Aksa dan tuan Nata, hal itu bukanlah hal yang mustahil, menurutku" ucap Fla kemudian.


"Benar. Dua orang itu memang luar biasa. Kau tak akan percaya, mereka membuat kereta dari besi tapi dapat berjalan tanpa ditarik kuda, atau keledai" Loujze mengetujui ucapan Fla.

__ADS_1


"Aku jadi ingin melihat kota yang akan mereka buat" ucap Fla kemudian dengan pandangan nanar menatap api anggun. Senyumnya mengembang membayangkan kota tersebut.


"Aku juga ingin" sela Loujze kemudian.


"Aku juga ingin" Huebert menimpali.


"Anda bertiga belum melihatnya?" Kali ini Fla yang bertanya tidak percaya.


"Kami ditugaskan untuk menjelajahi wilayah ini, juga melakukan penambangan di lereng timur guning Sekai. Sudah lima bulan kami disana" jawab Deuxter menjelaskan.


"Benarkah? Sudah selama itu?" Fla tidak menduganya. "Wah, berarti pertemuan kedua kita ini adalah sebuah takdir. Jadi bagaimana kalau besok pagi kita pergi ke desa saya? Akan saya kenalkan anda semua kepada ayah dan teman-teman saya yang lain" Fla memberi tawaran dengan berapi-api.


"Sabar Fla. Tenang dulu. Kami harus kembali dulu ke tempat kami untuk memberi kabar. Setelah itu, baru kami akan kemari lagi. Paling lusa sore hari, kami sudah berada di tempat ini lagi" ucap Duexter kemudian.


"Baik, kalau begitu!" Jawab Fla cepat.


Dan malam itu dihabiskan mereka dengan bercerita hingga tak terasa malam pun berganti. Mereka masih sempat tidur beberapa waktu sebelum kemudian pergi ke tempat tujuan mereka masing-masing.


-


"Bagaimana hasilnya? Kenapa kalian baru kembali sekarang? Aku jadi kuatir saat sore tadi kalian masih belum muncul" ucap Go saat setelah mereka selesai dengan makan malam mereka.


"Maafkan kami, bi. Tapi ujung lorong kiri itu menembus ke sisi barat lereng gunung Sekai" Deuxter menjelaskan.


"Dan kami bertemu dengan kawan lama kami, yang ternyata selama ini hidup di desa di wilayah barat gunung Sekai itu" tambah Loujze.


"Juga karena kita akan sekalian melakukan penjelajahan di wilayah tersebut, maka kami ijin mulai besok kami akan tinggal sementara waktu di sisi barat" ucap Huebert meminta ijin pada Go.


"Baiklah kalau begitu. Kemarilah seminggu sekali untuk memberi laporan padaku" ujar Go kemudian.


"Baik, bi" tiga pemuda itu menjawab secara bersamaan.

__ADS_1


-


Sore hari berikutnya, begitu mereka bertiga keluar dari mulut gua disisi barat, tampak Fla dan seorang gadis sudah berada ditempat tersebut. Menunggu kedatangan mereka bertiga.


"Kenalkan, ia adalah Livia. Ia salah satu dari budak yang melarikan diri dari kota Halmd" Fla memperkenalkan seorang gadis manis berambut sebahu dengan senyum yang menawan, disebelahnya.


"Wah, akhirnya kita bertemu juga denga gadis yang menyebabkan Fla menerima rencana gila tuan Nata tanpa berpikir dua kali" ucap Deuxter menggoda.


"Oh! Jadi ini Livia itu" kali ini Huebert yang berucap.


"Sudah. Berhentilah menggoda saya, anda sekalian" ucap Fla yang terlihat salah tingkah. Sedangkan sang gadis hanya terdiam seraya menundukan kepala untuk menutupi wajahnya yang sedang tersipu malu.


"Saya yang merasa bersyukur akhirnya bisa bertemu dengan anda semua. Penyelamat kami" gadis itu kemudian membungkuk dalam kearah trio pemburu.


"Bukan kami yang menyelamatkan mu dari kota benteng itu. Fla lah yang melakukannya. Kami hanya mengerjakan sisanya saja" ucap Loujze seraya mengangkat tubuh Livia yang membungkuk tadi.


"Anda sekalian terlalu merendah" ucap Livia menanggapi perkataan Loujze tadi.


"Kenapa Fla?" Tanya Deuxter saat melihat Fla yang tampak mulai berkaca-kaca melihat Livia.


Itu karena Fla merasa bahagia melihat Livia dapat berteima kasih langsung kepada mereka bertiga.


"Oh, aku jadi tidak sabar ingin mengenalkan juga tuan Nata, tuan Aksa, nona Lucia, nona Lily, dan tuan Val, kepada Livia dan yang lainnya" Fla terdengar melantur karena sangat senang.


"Sudah, jangan kebanyakan melantur terus, ayo ajak tuan-tuan ini ke desa sebelum langit benar-benar gelap" Livia tampak mengingatkan.


"Oh, benar juga. Ayo kita segera menuju desa" ajak Fla yang kemudian mengawali berjalan menuju kearah desa.


Huebert, Deuxter, Loujze berjalan mengikuti Fla dari belakang. Mereka merasa bahagia melihat Fla yang terlihat bahagia seperti itu.


-

__ADS_1


__ADS_2