
"Jadi apa yang harus kulakukan, Nat?" Aksa terlihat kebingungan saat malamnya ia dan Nata sedang berbincang di tenda mereka.
"La, bukannya kamu tinggal bilang iya atau nggak gitu kan gampang" Nata menjawab seraya menulis sesuatu di dalam buku diatas tumbukan kotak yang sudah di alih fungsikan menjadi meja.
"Bagian mananya yang gampang? Ini menyangkut kesembuhan tangan Rafa dan kehidupan ku nantinya" terlihat Aksa berucap dengan wajah panik yang dilebih-lebihkan.
"Ya udah tinggal bilang iya, alay amat sih?" Nata terlihat terganggu.
"Tapikan aku belum siap lahir batin, Nat. Pacar aja ga pernah punya" Ucap Aksa lagi.
"Syukur dong malah. Akhirnya laku juga. Langsung nikah lagi" Nata terlihat asal menjawab.
"Kamu jangan seenaknya kalau bicara. Aku serius ini" Aksa terlihat tidak terima.
"Aku dua-rius" kali ini Nata menghentikan kegiatannya menulis. Terlihat wajahnya serius.
"Lagian kalau nanti kita berhasil balik ke bumi lagi, bagaimana?" Aksa berucap lagi seraya mendekatkan kursi tempatnya duduk lebih dekat kearah Nata.
"Ya terserah. Kamu mau bawa ke bumi, atau mau kamu tinggal disini" kembali Nata menjawab dengan acuh tak acuh.
"Kamu akhir-akhir ini kalau ngomong banyak asal aja, ya? Masa iya, aku baru mau dua puluh sudah jadi duda?"
"Ya kalau begitu bawa ke bumi" Nata menyahut sambil kembali melanjutkan kegiatannya menulis.
"Terus gimana jelasin ke orang-orang tentang dia? Mana ga bisa tua lagi"
"Mungkin di bumi tidak ada aliran Jiwa. Jadi bisa saja disana dia tidak bisa sihir. Jadi bisa tua"
"Iya kalau tanpa sihir dia cuma jadi ga awet muda. Gimana kalau dia malah langsung jadi nenek-nenek berusia lima ratus tahun? Bisa langsung mati dong" Aksa menutup ocehannya dengan wajah sedih.
"Oh, bener juga. Hal itu mungkin saja terjadi" Nata kembali berhenti dari kegiatannya menulis, dan mulai terlihat seperti berpikir.
"Lalu bagaimana?" Aksa kembali berucap setengah merengek meminta bantuan sahabatnya.
"Coba saja kau ceritakan bahwa kau tidak bisa menikahinya karena bukan dari dunia ini. Kau bisa pergi sewaktu-waktu" Nata akhirnya memberikan masukan.
"Oh, benar juga" Aksa terlihat setuju dengan masukan dari Nata. "Berarti besok kita akan menemuinya, Nat" tambahnya kemudian.
"Kenapa aku meski ikut? Males banget jadi obat nyamuk" saut Nata menolak.
"Kan kamu yang menyarankan ide ini. Lagian untuk memberi tahukan hal ini, akan lebih sopan bila kita berdua yang kelakikannya. Kan bukan cuma aku yang bukan dari dunia ini"
"Bilang saja kau cari teman. Alasan aja" saut Nata yang terdengar enggan.
-
"Saya tidak setuju, tuan Aksa. Saya tidak perlu dua tangan. Saya masih bisa bertahan degan satu lengan ini" Rafa berucap saat ia sudah berada di dalam tenda untuk menemui Aksa, beberapa saat setelah Nata pergi untuk menemui beberapa pendeta di dalam kota.
"Aku akan carikan caranya, Raf. Jangan kuatir" Aksa menjawab dengan tenang.
"Tidak, tuan Aksa. Anda yang tidak perlu kuatir. Sudah. Anda tidak perlu melakukan apa pun untuk berusaha menyembuhkan tangan saya" Rafa mencoba menjelaskan keinginannya yang dari kemarin tidak juga di dengar oleh Aksa.
"Tapi sudah di depan mata. Sayangkan, kalau dihentikan? Pokoknya kamu tenang saja. Aku pasti akan menemukan caranya" Aksa juga mencoba untuk menjelaskan maksud dari tindakannya tersebut.
"Berhentilah melakukan hal yang tidak saya inginkan, tuan Aksa! Saya tidak perlu bantuan atau belas kasih anda" Rafa berucap dengan nada tinggi. Gadis itu sudah tidak bisa menahan emosinya.
Aksa yang terkejut, hanya bisa diam saat kemudian Rafa berjalan pergi meninggalkan tenda.
-
"Nat, apa memang salah kalau aku melakukan semua ini?" Aksa bertanya dengan nada tidak bersemangat, saat mereka baru saja selesai makan malam dan sudah kembali ke tenda mereka.
__ADS_1
"Maksudmu apa? Menikah?" Nata bertanya dari seberang tenda diatas ranjang kayunya.
"Rafa merasa kalau yang ku lakukan selama ini adalah karena aku kasihan padanya. Karena aku sedang menebus kesalahan" Aksa menjawab dari atas tempat tidur gantungnya di sisi lain tenda tersebut.
"Menurut mu, apa memang seperti itu?" alih-alih menjawab, Nata malah menambah pertanyaan.
"Aku hanya ingin membantunya sebagai rekan kerja, juga sebagai asistenku yang selalu membantuku. Apa usahaku ini terlalu berlebihan?" Aksa terlihat mengayunkan diri pelan diatas ranjang gantungnya tersebut.
"Apa kau merasa berlebihan?" Nata kembali dengan pertanyaan.
"Karena kesempatan untuk bisa menyembuhkan tangan Rafa sudah ada di depan mata, tinggal meyakinkan nona Luque saja. Sayang kan bila dilepas begitu saja?" Aksa menjawab. "Padahal aku juga tidak asal mau mengorbankan hal yang aku rasa penting untuk ku"
"Mungkin bagi Rafa, yang kau lakukan untuknya itu lebih dari yang seharusnya" Kali ini Nata sudah beriap untuk tidur. "Lagian kenapa kau bertanya hal seperti ini, sih? Padahal aku yakin kau juga tidak akan merubah keputusan awalmu" tambahnya yang sudah mulai berebah.
"Kan aku juga remaja pada umumnya, Nat. Yang juga butuh curhat galau melau, gitu" Aksa menjawab.
"Kau membuang waktu saja" Nata memindah posisi tidurnya membelakangi Aksa.
"Eh, tapi tetep besok jadi ke tempat nona Luque, loh"
"Iya, iya. Sudah tidur" Nata mengibaskan tangannya keatas.
-
Esok harinya, Aksa dan Nata datang menemui Luque di ruangan bundar dengan tempat duduk marmer sebelumnya.
"Oh, kalian datang berdua? Apa kau mau membuat alasan lagi, tuan Aksa?" Luque bertanya saat melihat Aksa dan Nata memasuki ruangan.
"Ya, kurang lebih begitu. nona Luque. Karena pada dasarnya aku ingin menyembuhkan tangan Rafa" Aksa menjawab dengan senyum konyol.
"Jadi kau setuju untuk menjadi suami ku?" Tanya Luque tanpa basa-basi. "Tenang saja, kau bukan budak, dan tidak terpasung untuk melakukan sesuatu menurut kehendakmu. Kau cukup menemani ku seumur hidupmu" lanjutnya kemudian. Yang membuat bulu kudu Nata merinding mendengarnya.
"Iya, perkara itu" Aksa mulai berucap. "Sebenarnys kami kemari ingin menceritakan tentang siapa kami sebenarnya" lanjutnya.
"Sebenarnya, kami bukan berasal dari dunia ini. Kami datang dari dunia lain" Aksa mengatakannya langsung tanpa basa-basi.
Luque hanya terdiam mendengar ucapan Aksa. Ia tidak terlihat terkejut. "Aku sudah tahu" ucapnya kemudian. Yang malah membuat Aksa dan Nata ganti terkejut.
"Anda sudah tahu? Apa yang lain sudah memberi tahukan pada anda?" Nata yang kali ini bertanya.
Luque diam sebentar. Seoalah sedang memilih apakah harus menjawab atau tidak. "Tiga ratus tahun yang lalu, Oracle menemuiku dan berkata bahwa kelak akan ada orang dari dunia lain yang akan datang menemui ku" ucapnya kemudian setelah cukup lama terdiam.
"Benarkah? Oracle itu mentang-mentang bisa liat masa depan, main spoiler aja sih" Aksa meracau.
"Lalu apa yang dikatakan sang Oracle tentang kami?" Kali ini Nata yang bertanya. Seolah baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama ia cari-cari.
"Beliau tidak berkata apapun tentang kalian" Luque menjawab setelah sama seperti sebelumnya, ia selalu menjedah waktu cukup panjang untuk berpikir sebelum berkata-kata. Seolah ia sedang bimbang haruskan menceritakan yang ia tahu, atau tidak.
"Bahkan selama ini kukira hanya akan ada satu orang dan bukan dua" tambah Gadis itu kemudian. "Karena itulah kenapa aku terkejut saat nona Lilian menunjuk dua orang" tambahnya.
"Lalu bila anda sudah tahu tentang itu, kenapa anda masih meminta ku untuk menjadi suami anda? Padahal anda tahu, ada kemungkinan kami bisa kembali ke dunia kami kapan saja" Aksa meminta penjelasan, saat kemudian ia dikejutkan dengan ucapannya sendiri.
"Apa jangan-jangan sang Oracle memberi tahu anda tentang sesuatu?" Aksa menebak dengan wajah yang berubah menjadi serius. "Apa jangan-jangan kami tidak akan pernah bisa kembali ke dunia kami? Atau jangan-jangan kami mati muda di dunia ini?" Tebakannya terus berlanjut.
"Hus. Diam kamu, Aks. Omongan itu doa" celetuk Nata cepat,
"Kaya yang percaya aja kamu, Nat. Kalau ngomong" balas Aksa kemudian.
"Balik lagi ke topik pembicaraan kita sebelumnya. Jadi kau mau atau tidak, jadi suamiku?" Tiba-tiba Luque berucap mengembalikan topik awal pembicaraan untuk menghindari jawaban atas pertanyaan Aksa sebelumnya.
Aksa kembali lemas saat mendengar pertanyaan tersebutndari Luque. "Kita bahkan belum saling mengenal. Aku itu punya banyak kekurangan dan memiliki kelakuan yang aneh" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Tidak bisa tidak setuju dengan hal tersebut" celetuk Nata yang langsung dilirik sinis oleh Aksa.
"Bagaimana kalau begini, anda menyembuhkan lengan Rafa. Lalu kita saling mengenal dulu dalam beberapa waktu ke depan. Kalau setelah itu anda masih mau menikahi ku, maka kita akan menikah. Bagaimana?" Aksa mencoba memberikan penawaran lain.
"Tidak mau" Luque menjawab cepat.
"Anda ini kenapa langsung jawab gitu? Kita ini sedang mengadakan negosiasi. Setidaknya tawar lah dulu" Aksa terlihat jengkel menghadapi kekeras kepalaan Luque.
"Kalau kau tidak mau menikahiku, kau tinggal bilang tidak. Dan berhentilah berharap untuk bisa menyembuhkan lengan teman mu itu" Luque berucap dengan tenang.
Aksa memegang kepala sambil menggeleng pelan. "Anda keras kepala sekali" ucapnya kemudian.
-
"Kau ingin ku beri sedikit Hints tetang masalah ini, Aks?" Nata berucap saat mereka berdua berjalan meninggalakan ruang bundar tadi.
"Apa?" Tanya Aksa yang terlihat penuh harapan.
"Pikirkan alasanmu kenapa kau mau membantu Rafa. Dan pikirkan alasan nona Luque kenapa ia mau membantu dengan imbalan" Nata menjawab cepat.
"Sudah, gitu aja?" Aksa terlihat sedikit tidak terima.
"Iyalah. Namanya juga Hints"
"Ayolah, tidak perlu pake Hints segala. Apa kau tidak ingin membantu Rafa mendapatkan lengannya kembali, Nat?"
"Cara kita membantu orang berbeda-beda, Aks. Aku tidak membantumu bukan berarti aku tidak ingin melihat Rafa bisa menggunakan kedua tangannya kembali" Nata menjawab dengan santai.
"Kau pasti sengaja melakukan ini padaku" terlihat Aksa menatap Nata dengan wajah jengkel.
-
Keesokan harinya, Aksa yang belum menyerah kembali menemui Luque lagi.
"Baiklah, nona Luque. Ini adalah ide paling brilant ku selama ini. Jauh lebih tinggi tingkatannya dibanding persamaan probabilitas fungsi gelombang pada kuantum mekanik" Aksa berucap tidak jelas ketika ia sudah bertemu dengan Luque. kali ini hanya ada mereka berdua saja di ruangan tersebut.
"Aku tidak mengerti ucapanmu" Luque berkata jujur.
"Jadi begini. Setelah memikirkannya selama semalaman, dan dibantu oleh Nata sedikit, aku menemukan win-win solusi untuk masalah ini" Aksa mencoba menjelaskan.
Sedang Luque tidak berkata apa-apa. Gadis itu hanya diam menanti kelanjutan penjelasan yang akan Aksa sampaikan.
"Besok kami akan kembali ke kota Tengah. Jadi bagaimana kalau dalam beberapa waktu ke depan, anda ikut bersama kami. Kita akan saling mengenal. Kita akan menjadi teman" Aksa mulai menjelaskan tawarannya. "Dan tenang saja, anda tidak perlu menyembuhkan tangan Rafa" tambahnya kemudian.
"Muslihat apa yang sedang anda rencanakan, tian Aksa?" Luque bertanya dengan tatapan mata penuh dengan kecurigaan.
"Tidak. Aku tidak sedang membuat muslihat atau tipuan. Aku tetap ingin anda menyembuhkan tangan Rafa. Tapi nanti setelah anda mengenal dan berteman dengan kami semua. Bagaimana?" Ucap Aksa kemudian mencoba meyakinkan Luque.
Luque tampak terdiam sebentar. "Baiklah. Tapi dengan syarat" ucapnya kemudian.
"Apa?"
"Aku harus terus berada di dekatmu. Kalau kau pergi ke suatu tempat tanpa mengajaku. Aku akan langsung kembali ke kota ini" Ucap Luque kemudian.
"Kenapa giliran membuat tawaran, anda harus meminta hal yang tidak masuk akal seperti itu, sih?" Aksa terlihat mulai uring-uringan.
"Jadi bagaimana? Kau setuju?"
"Bagaimana kalau hanya berada di wilayah yang sama saja. Jadi anda tidak harus mengikutiku saat aku sedang bekerja atau melakukan hal yang tidak berhubungan dengan anda. Bagaimana?" Aksa memberikan penawaran terakhirnya.
Luque kembali terlihat berpikir, sebelum kemudian berkata, "baiklah. Kalau memang begitu aku akan bersiap-siap terlebih dahulu, dan memberi tahukan kepada para klerus kalau aku akan meninggalkan kota ini"
__ADS_1
-