
Siang esok harinya Caspian yang tampaknya tidak kembali kepenginapan semalaman, tiba-tiba muncul di depan pintu kamar Nata dan Aksa untuk mengantar mereka bertemu dengan Luna lagi. Sementara Lucia dan Jean sedang mengunjungi bar milik Pietro disisi lain kota tersebut.
-
"Apa kalian mencuri gulungan ini dari kuil bintang?" Pertanyaan pertama yang Luna keluarkan saat melihat Nata dan Aksa untuk kedua kalinya.
"Apa sudah anda pastikan ke para ahli perbintangan itu?" Tanya Nata dengan tenang. Sementara terlihat Aksa menghambur ke salah satu meja dimana ada beberapa orang sedang bermain kartu.
"Sudah, dan memang peta ini benar adanya. Bagaimana kau bisa mengetahui informasi yang hanya diketahui oleh para pendeta ahli perbintangan kuil?"
"Dan aku berani mengatakan bahwa peta yang kupunya lebih lengkap dan akurat dibanding milik mereka"
"Lalu dari mana kau dapatkan semua hal itu tadi?" Luna tampak mengulang pertanyaannya lagi. Karena informasi itu lebih penting dari keakuratan peta bintang tersebut.
"Pemuda itu yang menggambarnya" jawab Nata seraya memanggil Aksa.
"Dia menggambarnya sendiri?"
"Benar, karena pemuda ini adalah utusan dewa" jawab Aksa seraya menyentuhkan tangannya ke depan dada, begitu ia mendekat ke meja bar.
"Yang benar saja, kau menggambar peta ini?" Luna memiringkan wajahnya menatap Aksa dengan tatapan meremehkan.
"Benar, bahkan yang dimaksud Nata tiga perempat sisanya, masih ada didalam sini belum ku gambar" jawab Aksa seraya menunjuk pelipisnya sendiri.
"Jangan bercanda kau"
"Bila anda belum percaya bahwa saya adalah utusan dewa maka akan saya buktikan. Anda liat orang-orang yang sedang bermain kartu itu" ucap Aksa seraya menunjuk kearah meja yang tak jauh dari meja bar tersebut.
"Iya, kenapa?"
"Aku akan menyebutkan kartu apa yang akan keluar" ucap Aksa yang ditanggapi Luna dengan mengeryitkan dahi karena tidak paham dengan apa yang dimaksud Aksa.
Terlihat Nata yang tau apa yang akan di lakukan oleh Aksa tampak tersenyum dan melipat tangannya didepan dada. Seolah sedang bersiap-siap menyaksikan sebuah pertunjukan sulap.
"Kartu yang akan diambil oleh orang itu adalah 2 wajik. Dan karena kartu yang dia punya adalah sekop maka ia akan membuangnya. Setelah itu orang disebelahnya akan mengambil kartu Raja hati. Orang disebelahnya lagi akan mengambil kartu 2 wajik yang dibuang orang pertama tadi, karena kartu yang dia punya adalah 8 wajik kebawah. Kecuali nomer 5. Kartu nomer 5 harusnya berada di tumpukan ke 13 dari bawah. Tapi sayangnya setelah dua putaran pengambilan kartu, permainan akan selesai" Aksa mulai berucap seolah sedang menjelaskan sebuah sekenario cerita.
__ADS_1
"Karena dua putaran lagi pria kedua itu sudah lengkap mengumpulkan 8 sampai 10 kartu hati ditambah kartu panglima, ratu, dan raja. Maka pria itulah pemenangnya" Aksa menutup penjelesan panjangnya yang diikuti oleh Luna dengan tatapan tidak percayanya, memperhatikan permainan yang sedang berjalan dari posisi mereka.
Dan secara bertahap apa yang disebutkan oleh Aksa tadi menjadi kenyataan. Dan ditutup dengan kemenangan pria ke dua dengan kartu yang sama persis seperti yang sudah Aksa ucapkan sebelumnya.
"Bagaimana bisa?" Luna tampak sangat terkejut. Tak ubahnya Caspian. Ia tak menyangka akan dibuat terkejut lagi oleh kedua orang ini.
"Itu karena aku utusan dewa" jawab Aksa dengan senyum angkuhnya.
"Apa kau memiliki mata kaum Leafcla?" Tanya Luna terheran-heran.
"Benar. Aku punya mata apa lah itu" Aksa menjawab dengan ringan.
"Bukan. Dia tidak memiliki mata lef apa lah itu. Itu hanya karena pemuda ini mengingat posisi kartu sebelum dibagikan, menghitung kemungkinan saat di kocok dan menerka pilihan masuk akal para pemain itu untuk menang" jelas Nata kemudian.
"Dia melakukan apa?" Tanya Caspian yang masih belum mengerti benar dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Nata.
"Mana ada orang yang mengingat posisi kartu dalam dek sebelum dan sesudah dikocok?" Terdengar Luna tidak percaya.
"Itu karena aku adalah utusan dewa. Maaf, apakah disini ada susu sapi? Aku tidak suka alkohol" ucap Aksa kemudian.
"Oh, iya. Aku akan membantu kalian tapi dengan satu syarat" ucap Luna kemudian setelah tersadar.
"Apa itu?"
"Kau harus melibatkan ku secara penuh dalam pembangunan gila kota Pharos itu"
"Bila anda ingin ikut terlibat dalam pembangunan kota ini, berarti anda harus memberikan penawaran yang lebih baik lagi dari yang sekarang. Karena disamping anda akan mendapat semua pengetahuan dan informasi yang belum pernah ada di dataran ini, juga mungkin anda akan memegang jalur perdagangan seluruh daratan ini"
"Kau ini tau cara tawar menawar juga ternyata. Baiklah, kita sepakat" ucap Luna dengan senyuman.
"Baiklah pertama-tama kita butuh mineral yang ada dalam daftar ini" Nata menyerahkan gulungan kertas kepada Luna.
"Tembaga, Sulfur, Garam batu kapur, lalu apa itu Zeng?"
-
__ADS_1
Setelah semua sudah ditetapkan dan segala urusan di kota itu sudah selesai, maka rombongan Nata dan Aksa bergegas meninggalkan kota tersebut. Luna akan menyusul mereka langsung ke kediaman keluarga Batrhtolomew setelah semua yang ia perlukan sudah siap. Pietro akan ikut bersama Luna.
Sementara Lucia perlu kembali ke kotaraja untuk melakukan persiapan terakhir sebelum ia benar-benar meninggalkan kotaraja.
Sedang rombongan Lumire tampak sengaja menunggu Lucia dan yang lainnya didepan kota.
"Putri Lucia, semalam saya telah mendiskusikan hal ini dengan keluarga. Dan kami sepakat akan ikut membantu anda membangun kota tersebut" ucap Lumire membuka percakapan.
"Benarkah? Saya sangat senang mendengarnya, tuan Lumire"
"Itu berarti saya sudah tidak perlu mendengar penjelasan dari tuan Selene lagi. Biar tuan Selene sendiri yang langsung menangani tugas ini" ucap Aksa dengan nada lega.
"Hei bocah pemalas, jaga bicaramu"
"Eh, apakah tidak apa-apa memberikan tugas itu kepada saya?" Tampak Selene terkejut.
"Ya, anda hanya tinggal memilih hewan yang mana di tempat yang seperti apa. Sisanya biar kami yang melakukan" tambah Nata.
"Baiklah bila anda berkata demikian. Terima kasih karena sudah mempercayakan tugas itu kepada saya"
"Jangan berterima kasih saat diberi kerjaan yang merepotkan tuan Selene" celetuk Aksa yang langsung menuai cacian dari Jean.
"Baiklah bila begitu. Kami akan melakukan persiapan dahulu ditempat ini sebelum menyusul anda semuanya"
"Anda bisa berangkat bersama dengan tuan Pietro. Beliau akan berangkat bersama dengan salah satu dari rekan kita bernama Luna, yang sedang menyiapkan beberapa barang"
"Baiklah kalau begitu. Saya akan mencari tuan Pietro setelah ini. Apakah anda akan kembali ke kotaraja?"
"Benar, saya juga harus menyiapakan barang-barang yang akan saya bawa menuju Pharos"
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan"
Dan kemudian romhongan Nata, Aksa, dan Lucia meninggalkan kota Zeraza.
-
__ADS_1