
Desa Fla terletak disebuah lembah yang subur. Dikelilingi petakan sawah dengan bentuk berundak diatas lahan miring. Juga karena letaknya tersebut, membuat desa itu tak tampak dari kejauhan.
Terlihat sekitar 30 rumah berdiri berkelompok-kelompok di lembah tersebut. Yang disambung dengan sebuah jalan setapak. Tapi karena senja sudah benar-benar berlalu, ditambah dengan kurangnya penerangan, membuat keadaan sekitar tidak terlalu telihat.
Tampak beberapa orang berdiri menunggu di luar rumah yang sekarang sedang dituju oleh mereka berlima.
Itu adalah rumah keluarga Fla. Rumah itu terlihat paling besar dan luas dibanding rumah-rumah yang lain. Dan orang-orang yang berada diluar menunggu itu adalah sanak keluarga dan teman-teman Fla.
"Apa yang sudah kau umumkan pada keluarga dan teman-temanmu, Fla?" Tanya Deuxter saat melihat hal tersebut.
Fla hanya menjawab dengan tawa.
"Ayah perkenalkan mereka adalah tuan Loijze, tuan Deuxter, dan tuan Huebert" Fla kemudian memperkenalkan mereka bertiga dengan keluarganya.
"Ini ayah saya. Khan. Beliau kepala desa ini" Fla mengenalkan seorang pria Morra dengan perawakan gagah, berambut cepak, namun memiliki brewaok yang lebat. Dan belum ada yang beruban.
"Ini paman saya, Dimitri. Dan bibi saya, Arian" Fla melanjutkan dengan mengenalkan sepasang Morra yang tampak sudah berumur.
"Dan juga paman saya, Fang" kali ini Fla memperkenalkan Yllgarian bersosok singa berwajah garang, dengan surai yang dikepang kebelakang. Ada bekas luka memanjang dari dahi kebawah melewati mata kirinya.
"Senang berkenalan dengan anda tuan Khan" Saat Loujze menjulurkan tangan kepada ayah Fla untuk bersalaman, pria berbadan kekar dengan berewok lebat itu tiba-tiba membungkuk dalam.
"Saya sungguh berterima kasih kepada kalian bertiga, karena sudah menyelamatkan putra saya. Saya berhutang nyawa pada kalian bertiga" ucap ayah Fla kemudian, yang membuat trio pemburu merasa canggung. Bingung harus berkata apa.
"Tidak perlu sungkan, tuan Khan. Kami hanya berniat membantu" ucap Loujze dengan nada ragu, karena tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Baiklah kalau begitu, ayo masuk-masuk. Angin malam dimusim-musim seperti ini, sangat dingin" ucap perempuan tua, bibi Fla, mempersilahkan trio pemburu masuk kedalam.
Dan kemudian mereka pun dijamu dengan makanan seperti sedang berpesta. Banyak dan beragam. Sedang malam harinya mereka bertiga tidur di dalam salah satu dari banyak kamar yang ada dalam rumah tersebut.
__ADS_1
-
Pagi harinya lebih banyak orang mendatangi rumah Fla untuk bertemu dan mengucapkan terima kasih kepada trio pemburu. Mereka adalah beberapa budak yang selamat dari kota Hish, dan akhirnya ikut bersama Fla dan akhirnya tinggal ditempat itu.
Ada seorang pria Morra bernama James yang datang dengan seluruh keluarganya. Istri dan dua anaknya, juga Yllgarian dari klan Lycan yang tidak memiliki kaki kiri dan kaki kanan, bernama Luke. Dan masih ada sepuluh orang lainnya.
Melihat mereka berterima kasih dan besyukur membuat hati ketiga pemburu Tirgis itu menjadi terharu dan juga lega.
Dan siangnya mereka dijamu lagi dengan hidangan pesta. Namun kali ini terlihat seperti benar-benar sebuah pesta. Karena hampir separuh penduduk desa datang menghadirinya. Mereka makan diruangnterbuka dibelakang rumah Fla.
"Jadi semua itu benar? Anda dan teman-teman anda sedang membangun sebuah kota dibalik dinding Sekai itu?" Tanya seorang pria Morra setengah tua saat mereka sedang berbincang setelah selesai makan.
"Wah, padahal kalau dilihat dari jarak, tempat itu begitu dekat. Namun untuk kesana kita harus menempuh jarak yang memakan waktu berhari-hari" timpal seorang pria lain yang mengenakan ikatan bandana dikepalanya.
"Benar. Sangat disayangkan"
"Oh, anda ingin menjelajahi wilayah ini?" Pria berbandana tadi terlihat tertarik.
"Tak banyak tempat yang belum kami singgahi di wilayah ini. Anda bisa bertanya langsung kepada kami bila memerlukannya" pria tua yang duduk disebelah ayah Fla itu menawarkan bantuan.
"Oh, syukurlah kalau memang begitu. Terima kasih banyak tuan" jawab Loujze yang terdengar lega. Karena tugas nya kini mrnjadi lebih ringan.
"Berarti kami bisa langsung mulai menjelajahi hutan Sekai di sisi selatan" kali ini Huebert yang berucap.
"Anda juga berniat untuk menjelajahi hutan itu? Coba panggil Lorde. Dia sudah sedikit banyak mengenal seluk beluk hutan tersebut. Biarkan dia memandu anda-anda sekalian" pria tua tadi menawarkan bantuannya sekali lagi.
"Wah, terima kasih banyak. Kami sangat terbantu" jawab Loujze lagi.
"Jangan sungkan, tuan-tuan"
__ADS_1
"Bila anda sekalian akan menuju hutan Sekai, ijinkan saya juga ikut menemani. Karena hutan itu memiliki beberapa hewan buas yang mungkin sedikit berat untuk dihadapi hanya dengan bertiga saja" kali ini Fang si singa yang menawarkan diri.
"Oh, terima kasih banyak tuan Fang. Kami benar-benar terbantu bila anda mau ikut bersama kami" ucap Deuxuer yang benar-benar terlihat lega dengan tawaran dari Fang tersebut.
"Tidak perlu dirisaukan, tuan Deuxter"
"Memang untuk apa anda sekalian ingin menjelajahi wilayah di sekitaran gunung Sekai ini?" Pria tua tadi bertanya.
"Hanya untuk memastikan hal apa saja yang ada diwilayah ini. Itu adalah permintaan dari teman kami yang akan membuat kota di tanah mati itu. Karena menurutnya, kami harus tahu apa saja yang ada di wilayah, akan akan kami bangun" jawab Deuxter menjelaskan.
"Oh, berarti bila teman anda sudah memiliki hak kepemilikan atas tanah Pharos, maka desa kami ini masuk dalam wilayah kepemilikannya juga? Apa kami harus mulai membayar pajak atau semacamnya setelah ini?" Tampak seorang pria yang lain yang ada diujung ruangan berucap dengan nada kuatir.
"Tenang saja tuan Kris, yang kutahu mereka itu orang-orang baik, mereka tidak akan melakukan hal tersebut" kali ini Fla yang menjawab.
"Benar. Tidak perlu kuatir, tuan. Mereka bukan orang yang akan melakukan apa yang orang normal lakukan" jawab Deuxter menambahi.
"Memang, teman kami itu orang-orang yang aneh" timpal Loujze yang membuat semua orang ditempat itu tertawa mendengarnya.
-
Hari berikutnya trio pemburu bersama tiga orang warga desa, termasuk Fang, berangkat menuju hutan Sekai diselatan. Mereka mulai mepakukan penjelajahan wilayah tersebut.
Membutuhkan waktu selama seminggu penuh untuk mereka, menyelesaikan penjelajahan hutan tersebut. Lengkap dengan gambaran peta dan penjelasan tentang hewan, medan, mineral, dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan.
Dan tampaknya jalan satu-satunya menuju ke desa Fla, ke sisi barat kaki gunung Sekai ini, adalah memutari gunung tersebut.
Juga sudah dijelaskan oleh Fla dan warga desa itu sendiri, bahwa untuk pergi ke desa tersebut, mereka harus melewati pantai disisi timur, kemudian ke selatan ke hutan Sekai, baru setelah itu ke utara ke wilayah barat ini. Begitupun sebaliknya.
-
__ADS_1