
Guncangan yang terjadi ditempatnya terduduk itu kini sudah tidak terasa lagi. Sepertinya kereta yang membawanya kini sudah berhenti berjalan.
Yvvone meringkuk dalam sebuah tong kayu di sebuah kereta kuda dengan tangan dan kaki terikat. Tubuhnya terasa lemas. Aliran Jiwa nya kacau. Itu akibat pengaruh ramuan yang dikenali Yvvone dengan sebutan Racun Pelemah Sihir.
Yvvone tahu segala hal tentang ramuan ini. Karena pembimbingnya dulu yang menciptakan ramuan tersebut. Hanya saja baru kali ini ia terkena dampak dari ramuan tersebut.
Tak berapa lama muncul beberapa pria Morra dengan wajah tidak ramah yang kemudian salah satu yang bertubuh kekar mengangkat tubuh mungilnya dalam panggulan pundak. Dipanggul seperti sebuah karung beras. Itu karena tubuh Efl yang masih berusia dibawah 100 tahun akan berperawakan seperti anak berusia 15 tahun.
Kemudian Yvvone dibawa keluar dari kereta menuju sebuah rumah dengan halaman yang sangat luas. Langit masih belum terlalu terang. Tampak semburat tipis berwarna merah di langit sebelah timur.
Yvvone hanya bisa meronta kecil dalam bopongan tersebut. Tangan dan kakinya terikat. Mulutnya pun ditutup dengan bandana agar tidak berteriak.
Kemudian tubuh mungilnya itu dilempar kedalam ruangan yang gelap. Tak terlihat apapun dalam ruangan itu, kecuali garis-garis sinar dari ruangan sebelah yang menembus sela-sela bingkai pintu.
Terasa kali ini ia berada di tempat yang lebih hangat dan nyaman dibanding tempat sebelumnya. Mungkin ia berada diatas kasur atau tumpukan jerami dilapisi kain. Ia tak dapat memastikan dengan benar. Disamping ruangan itu gelap juga karena seluruh indranya sedang kacau sekarang.
Tali yang mengikat kakinya terlepas dengan sendirinya. Mungkin karena gesekan saat ia meronta tadi. Kini dengan kaki yang sudah bisa digerakan Yvvone mencoba mengangkat tubuhnya dan menyandarkannya ke dinding kayu. Meski semua indranya sedang kacau, namun ia masih bisa mendengar sayup beberapa orang sedang berbincang diruangan lain.
"Para bangsawan oposisi sudah mulai bergerak ketua" terdengar suara seorang pria.
"Benar, kita akan gunakan kesempatan ini" saut suara pria yang lain.
"Bagaimana dengan tuan Grevier?"
"Tutup mulutmu! Kau mau mati!"
"Oh, maafkan aku"
"Hati-hati dengan ucapanmu, kalau kau ingin hidup lama"
"Sudah hentikan. Jadi informasi apa yang kau dapat?" Kali ini suara lain yang bertanya. Suranya lebih berat dari yang dua sebelumnya.
"Disamping sang Kilat Putih, sang putri bersama dengan orang-orang aneh. Dua pria Morra kurasa" suara pria menjelaskan.
"Jangan kuatirkan mereka, yang perlu kita kuatirkan adalah sang Kilat Putih saja" pria lain menambahkan.
"Tenanglah, bila hanya Yllgarian tua itu saja tidak perlu kuatir. Kita punya sesuatu untuk membuatnya sibuk" kali ini pria dengan suara berat menanggapi.
"Mereka akan menuju ke kota dermaga di pesisir barat. Kita bisa menghadangnya di jalur tebing selatan bukit Karas"
__ADS_1
"Kalau begitu segera kabari para Yllgarian tak berguna itu untuk segera bersiap-siap"
"Sedang untuk si Tangan Terkutuk itu?"
"Kabari dia juga untuk bersiap-siap. Katakan padanya ia harus berhasil, bila tidak seluruh keluarganya akan mati"
Yvvone mengernyitkan dahinya mendengar perkataan tersebut. Ia tahu pasti orang-orang diluar itu menggunakan batu Arcane miliknya untuk melukai orang lain. Yvvone merasa bersalah karenanya.
"Lalu bagaimana dengan gadis Aeron itu?" Percakapan itu berlanjut.
"Untuk sementara biarkan dia disini dulu. Kita tunggu keputusan dari pimpinan besar"
"Kenapa kita tidak bunuh saja dia, membiarkan dia hidup berarti memberi lawan sebuah kesempatan untuk menang"
"Kurasa pemimpin punya rencana lain untuknya. Untuk sementara jaga supaya dia terus dalam kondisi seperti itu. Jangan lupa tambahkan dosisnya secara berkala" terdengar pria bersuara berat itu memberi perintah.
"Aku benci Elf" saut pria yang menerima perintah tersebut.
-
Beberapa waktu sudah berlalu. Di luar sudah tidak lagi terdengar orang berbincang. Mungkin mereka sedang beristirahat setelah melakukan perjalanan semalaman.
Yvvone kini sudah merasakan kekuatannya mulai kembali. Pengaruh ramuan itu sudah mulai berkurang. Yang harus ia lakukan sekarang adalah melakukan meditasi untuk mengembalikan aliran Jiwa nya yang kacau. Juga mencari sebanyak mungkin cahaya matahari. Karena salah satu penawar ramuan ini adalah terpapar langsung oleh sinar matahari.
Dan ketika Yvvone sedang bermeditasi mengembalikan susunan aliran Jiwanya serta memikirkan cara untuk mendapatkan sinar matahari, tiba-tiba seorang pria datang memasuki ruangannya.
Tampaknya pria itu akan menambahkan dosis ramuan pelemah padanya. Jadi ia harus segera melakukan sesuatu.
Yvvone segera berkonsentrasi pada sedikit aliran Jiwanya yang sudah pulih.
Dan saat tubuhnya diberdirikan paksa oleh pria tersebut, tiba-tiba cahaya menyilaukan muncul diantara mereka yang langsung membutakan pandangan pria tersebut. Sedangkan Yvvone menutup matanya. Jadi dia tidak ikut terbutakan oleh cahaya tadi.
Dan tanpa menunggu berpikir terlebih dahulu, Yvvone langsung menghantamkan lututnya ke selakangan pria tersebut dengan sekuat yang ia bisa. Dan alhasil pria itu terjatuh berguling-guling menahan sakit.
Dengan cepat ia keluar dari ruangan tersebut, sementara tangannya masih terikat kebelakang. Diluar ruangan itu ternyata masih ada dua pria lagi yang terkejut saat melihat Yvvone keluar.
Namun dengan gesit gadis elf itu berlari meninggalkan ruangan tersebut kearah yang berlawanan dari posisi dua pria itu berdiri. Ia hanya perlu keluar dari rumah tersebut.
Melihat hal tersebut dua pria itu segera mengejar Yvvone.
__ADS_1
Meski masih sempoyongan namun kini kekuatan Yvvone sudah semakin pulih. Dan saat ia menemukan pintu keluar, segera ia menghantamkan seluruh tubuhnya kearah daun pintu tersebut hingga terlepas dari engselnya.
Yvvone tampak tersungkur berguling-guling ditanah didepan rumah tersebut.
Dua pria tadi muncul dari dalam rumah dengan cepat menangkap tubuh gadis elf itu sebelum sempat kembali berdiri dan berlari lagi.
Namun terlambat. Sekarang kekuatan Yvvone sudah pulih seutuhnya karena sinar matahari menghapus pengaruh ramuan Pelemah dari tubuhnya.
Tepat begitu pria itu hendak menyentuh tubuh Yvvone, tiba-tiba angin bertiup dengan kencang dan melemparkan dua pria tadi menjauh sekaligus.
Kini ikatan ditangan Yvvone pun sudah terlepas. Tubuhnya melayang, ia bergerak maju tanpa kaki menyentuh permukaan tanah. Rambut dan bajunya menari-nari tertiup angin yang hanya berputar disekelilingnya saja.
"Kalian terlalu cepat 100 tahun untuk menangkap seorang Aeron" ucap Yvvone kemudian yang tanpa menggerakan tubuhnya se-inci pun, pohon diantara dua pria yang perlempar tadi terbelah menjadi dua karena pisau angin yang tak nampak.
"Maafkan kami, tolong maafkan kami. Ampuni nyawa kami, tolong ampuni nyawa kami" kedua pria itu tampak bersujud-sujud memohon pada Yvvone.
"Dan untuk apa aku mengampuni kalian? Kalian tidak berharga untuk ku" ucap gadis elf itu mengintimidasi meski dengan nada suara yang terdengar imut.
"Aku, aku, akan beritahu segala yang ingin kau ketahui" pria yang terlihat lebih tua itu berucap.
"Memang apa yang ingin ku ketahui darimu?" Tanya Yvvone tanpa perubahan mimik wajah.
Pria itu tampak ketakutan terdiam dan mulai berpikir dengan panik, "Aku tahu dimana batu Arcane milikmu sekarang" ucapnya kemudian.
"Dan dari mana aku bisa tahu bahwa kau tidak sedang berbohong untuk menyelamatkan dirimu?" Tanya Yvvone seraya mengangkat tangannya kearah pria yang lebih muda.
Dan tiba-tiba pria yang lebih muda itu mulai panik seraya menyentuh mulut, leher, dan dadanya, sebelum kemudian jatuh tak bergerak.
Melihat hal tersebut membuat pria yang lebih tua tadi jadi semakin panik. "Percayalah aku berkata jujur. Batu itu ada bersama Ron seorang pencuri. Batu itu akan digunakan untuk menyerang pemukiman Mugger di bibir hutan utara Elbrasta. Dan yang satu lagi akan digunakan oleh seorang bandit untuk menghadang seseorang di perbukitan Karan" pria itu meracau panjang lebar karena ketakutannya.
Namun meski begitu Yvvone tetap mengarahkan tangannya ke pria tersebut dan kemudian angin meniup udara menjauh dari pria tersebut. Pria itu mulai merasa kesulitan bernafas. Dia memegang leher dan dadanya sampai kemudian lemas dan jatuh pingsan.
Yvvone memang hanya bertujuan membuat dua pria itu jatuh pingsan. Dan tidak berniat untuk membunuh mereka.
Meski Yvvone tidak benar-benar percaya dengan pria tadi, namun satu-satunya petunjuk yang ia punya adalah ucapan pria itu. Maka tujuannya setelah ini adalah ke perbukitan Karas. Entah seberapa jauh tempat itu dari tempatnya sekarang ini.
"Aku harus buru-buru, sebelum semuanya terlambat" ucap Yvvone yang kemudian melesat ke angkasa dengan cepat.
-
__ADS_1