
Tampak Lucia dan para perempuan sedang asik menikmati hidangan mereka di toko roti Edward. Tepat saat jam di menara stasiun menunjukan pukul 12 lebih.
Ada Margaret, Ende, Shuri, Livia, Rafa, dan Yvvone. Mereka duduk di meja panjang bersama-sama tujuh orang.
Mereka berkumpul bukan karena disengaja. Itu karena mereka sedang istirahat makan siang.
Dan karena Margaret, Shuri, dan Ende memiliki markas tepat disebelah toko roti tersebut. Jadi sudah hampir setiap siang mereka selalu mampir ke tempat Edward tersebut. Namun kali ini mereka bertiga mendapati Lucia sudah berada di dalam toko, saat mereka tiba.
Sementara Livia dan Rafa sedang bekerja ditempat percetakan yang hanya berjarak satu area dari toko roti tersebut. Mereka berdua memang sudah berencana akan makan ditempat Edward sejak dari pagi tadi. Mereka berdua menemukan Lucia, Margaret, Shuri, dan Ende sedang duduk makan sambil berbincang asik. Dan mereka berdua memutuskan untuk bergabung.
Sedang Gvvone datang menghampiri karena tertarik melihat para gadis yang sedang asik berbincang dari bar Luna diseberang jalan. Dan jadilah mereka bertujuh di toko roti tersebut.
Sudah hampir sebulan setelah kedatangan Lugwin. Dan kini kota Tengah tampak semakin ramai. Para pedagang luar kota tampak mulai menyewa tempat dan membuka kedai juga toko di sekitaran stasiun tersebut.
Tampak empat kereta uap dengan dua jalur yang berbeda, datang dan pergi setiap 4 jam sekali. Dengan pulit dari tungku lokomotif yang kini sudah jadi hal wajar terdengar.
Wilayah itu kemudian diberi nama daerah Stasiun Kota. Para pelancong, pedagang, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, tampak berbaur di tempat tersebut. Dan membuat daerah itu menjadi seperti pusat bagi kota Tengah. Meski nyatanya, kota itu memiliki alun-alun kota di sebelah barat wilayah tersebut.
-
"Bagaimana jalannya pencarian anggota baru anda, nona Margaret?" Tanya Lucia saat melihat Margaret tampak lesu, tidak seperti biasanya.
"Kurang berjalan dengan baik, tuan putri" jawab Margaret masih terlihat lesu.
"Itu karena syarat dari ketua terlalu tinggi. Aku yakin itu pasti ide dari Axel dan Sigurd. Mereka memang keterlaluan bila mematok kemampuan bertarung" kali ini Shuri yang duduk disebelah Margaret berucap dengan jengkel.
"Tapi memang harus seperti itukan, Shuri?" Duduk disebelahnya lagi Ende berucap.
"Iya, tapi yang kesusahan adalah kami berdua yang bertugas mencari orang" jawab Margaret yang masih terlihat murung, seraya menyendokan Ice Yogurt dihadapannya dengan lemah.
__ADS_1
"Benar. Dikira orang seperti yang dicarinya itu bisa dengan gampang jatuh dari langit, seperti tuan Aksa dan tuan Nata?" Saut Shuri masih terdengar sedikit uring-uringan.
"Jangan. Orang-orang seperti tuan Aksa dan tuan Nata, tidak bisa diatur" saut Ende yang membuat semua orang tertawa. Membuat suasana hati Margaret sediikit lebih cerah.
"Lalu yang rencana untuk membuat sekolahan di wilayah lain itu bagaimana, nona Livia?" Lucia melanjutkan bertanya pada Livia yang duduk di sebelahnya.
"Sekarang kita sedang mendidik beberapa orang, dan bila berjalan sesuati rencan tiga bulan kemudian kita sudah memiliki pengajar untuk disebar ke empat wilayah, tuan putri" jawab Livia yang terlihat sedikit canggung berbicara santai dengan Lucia.
"Syukurlah, bila memang begitu. Karena aku ingin orang-orang disini memiliki pendidikan yang layak, terutama anak-anak" ujar Lucia kemudian.
"Rencana bulan depan gedung sekolah untuk para pengajar itu akan selesai dibagun di wilayah selatan kota ini, tuan putri" Rafa menambahkan informasi.
"Wah, baguslah kalau memang begitu. Lalu ngomong-ngomong bagaimana kabar pengerjaan gua di Ceruk Bintang, nona Rafa?"
"Kami sudah membongkar pintu gua tersebut dengan alat yang kali ini terbuat dari kristal Cyla. Dan dilakukan oleh banyak orang sekaligus, agar cepat selesai. Tujuan utamanya adalah menyingkirkan bebatuan magnet itu, agar peralatan besi kita bisa masuk" jelas Rafa panjang lebar.
"Sudah, tuan putri. Sekarang kereta besi kita sudah bisa lewat. Nona Elaine dan tuan Couran juga sudah mulai melakukan persiapan untuk membongkaran dinding ujung gua" jawab Rafa lagi.
"Sudah ku hilang itu adalah dinding buatan marga Shuuran" saut Yvvone yang duduk diantara Rafa dan Ende.
"Apa berarti dinding itu dibalut dengan sihir, nona Yvvone?" Terlihat Ende yang kali ini menyahut.
"Benar, kalian tidak akan dapat menghancurkannya kecuali dengan kunci yang juga dibuat oleh Shuuran" jawab Yvvone yang tidak berhenti menyuapkan sendokan Parfait ke mulutnya.
"Apakah anda tahu bagaimana kita bisa mendapatkan kunci tersebut, nona Yvvone?" Lucia bertanya, terlihat ia berharap Ivvone tahu.
"Ku rasa aku memiliki teman yang mampu membukannya, tapi sepertinya akan sulit" ujar Yvvone yang kali ini tampak seperti sedang mengingat sesuatu.
"Apakah anda bisa memintanya untuk mencoba membuka dinding tersebut, nona Yvvone?" Tanya Lucia lagi.
__ADS_1
"Butuh berbulan-bulan untuk menuju ketempatnya. Itu juga belum tentu ia mau untuk melakukannya" jawab Yvvone kemudian.
"Sejauh itukah?" Terlihat Lucia seperti sedang membayangkan sesuatu.
"Marga Shuuran adalah Elf yang tinggal di perbukitan. Mereka sangat jarang berada di tengah pemukiman manusia" saut Shuri yang berucap memberi informasi yang ia tahu.
"Benar. Sekarang ia ada di daratan diseberang laut barat. Mungkin nanti akan kucoba untuk menggunakan batu Ruang dan Waktu" ujar Yvvone yang sudah kembali ke Parfait dalam gelas kacanya.
"Terima kasih sudah mau membantu kami, nona Yvvone" ujar Lucia kemudian.
"Kira-kira apa yang ada di balik tembok tersebut? Sampai harus di lindungi seperti itu" Margaret yang berucap seraya menyuapkan Ice Yogurt terakhirnya.
"Menurut tuan Aksa, bisa jadi itu adalah mesin Pemecah Partikel mereka yang ikut terlempar kemari. Namun mungkin karena adanya pergeseran relativitas gravitasi dalam ruang, hingga membuat mesin tersebut menembus batasan waktu. Dan jatuh dimasa lalu" ujar Rafa mencoba menjawab.
"Sekarang bicara mu jadi seperti tuan Aksa, nona Rafa" saut Ende yang disetujui oleh yang lain dengan anggukan kepala.
"Benarkah?" Terlihat Rafa tersipu malu.
"Bila dilihat dari tulisan yang menggunakan bahasa kaum Leafcla, mungkin dibalik tembok itu ada petunjuk yang berhubungan dengan sang Oracle. Mengapa sang Oracle memilih mereka berdua, dan apa peran yang harus mereka lakukan dalam dunia ini" ucar Lucia yang kemudian menjelaskan apa yang ia tahu.
"Jadi memang benar, mereka berdua ditunjuk oleh sang Oracle" kali ini Livia yang terlihat mulai meyakini hal tersebut.
"Iya. Mereka berdua memang tampak tidak meyakinkan" saut Ende cepat dan jujur.
"Dan masih dapat membuat sebuah kota seperti ini diatas tanah mati" tambah Margaret.
"Aku jadi penasaran, apa sebenarnya yang dilihat sang Oracle dari mereka berdua dimasa depan?" Ucap Yvvone menambahi.
-
__ADS_1