
Sementara Aksa, Rafa, dan Luque berkeliling mengunjungi seluruh tempat diwilayah Pharos. Mulai dari menjelajahi kota Tengah, sampai berkunjung ke desa para Yllgarian di hutan Sekai.
Berkenalan dengan para penduduk desa Timur dan para penambang di sisi timur gunung Sekai, sampai mengunjungi pemukiman suku Tempest dan suku-suku kecil lainnya di wilayah selatan.
Dan terakhir, mereka menuju ke desa waduk untuk melihat danau dan air terjun buatan tersebut.
Lalu malamnya, Aksa, Nata, Lily, Val, Rafa, Couran, Haldin, Matyas, Go, Marco, dan Luque berkumpul di di sekitaran api unggun yang di buat di depan tenda Aksa dan Nata tak jauh dari mulut gua Ceruk Bintang.
Tampak ikut bergabung, Shuri dan Shyam dari kelompok Bintang Api, bersama dua Yllgarian banteng dan kelelawar yang kebetulan sedang ditugaskan untuk melakukan penjagaan di wilayah tersebut.
"Tempat ini sungguh sangat berbeda dengan yang pernah ku ingat dulu" Luque berucap seraya duduk meluruskan kakinya. Di antara Rafa dan Lily.
"Sesudah tempat ini menjadi tanah mati, atau sebelumnya?" Tanya Nata dengan nada bercanda.
"Jauh sebelum itu. Aku ingat betul saat tempat yang berada di dalam gua itu muncul untuk pertama kalinya. Mungkin aku juga berada di posisi ini, saat itu" Luque menjawab seraya menunjuk ke arah mulut gua.
"Anda tahu apa yang ada di dalam gua itu?" Nata terdengar terkejut. Dan kemudian wajahnya mulai terlihat bersemangat.
Semua orang yang berada di sekeliling api unggun itu juga terlihat bersemangat. Karena mereka juga merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya berada di balik tembok di ujung gua tersebut.
Seperti Couran, Rafa, Haldin, dan juga Go. Mereka bahkan nyaris beranjang maju mendekat kearah Luque.
Sedang tampaknya Luque sadar, bahwa ucapannya memicu rasa penasaran semua orang. Lalu tampak ia menegakan posisi duduknya.
"Aku ada saat tempat itu muncul, dan aku juga hadir saat tempat itu disegel. Oleh Janice, pemimpin marga Shuuran kala itu. Setelah kehancuran besar yang menimpa tanah ini" ucap Luque kemudian. Yang membuat wajah-wajah yang ada disekitarnya terlihat semakin bersemangat.
"Dan apa isinya?" Aksa segera menyahut. "Pasti alat Pemecah Partikel, kan?"
"Apakah anda mengetahui alasan kehancuran peradaban Pharos, Primaval?" Kali ini Couran yang bertanya.
__ADS_1
"Apa kalian ingin mendengar cerita tentang wilayah ini sebelumnya?" Terdengar Luque bertanya, dengan nada menggoda orang-orang yang terlihat penasaran itu.
"Iya, tolong ceritakan pada kami, Primaval" Couran yang pertama menjawab. Yang kemudian di susul jawaban serupa oleh yang lainnya.
"Baiklah, aku akan menceritakan sebuah tragedi dari masa lalu" Luque menyilangkan kakinya dan mengangkat bahunya. Ia siap untuk bercerita.
Semua orang juga melakukan hal yang serupa. Mereka memposisikan tubuh mereka agar bisa mendengar cerita Luque dengan seksama.
"Dulu di saat kaum Leafcla membangun peradaban di selatan, jauh sebelum Narva dianggap sebagai seorang bangsawan, bahkan jauh sebelum pertikaian antar marga Elf terjadi, tempat ini di kenal dengan sebutan Tanah Rhapsodia. Nama yang diambil dari gita puja syukur untuk para dewa" Luque berucap seperti sedang mendongeng.
"Hidup tiga suku ditempat ini. Suku ku bernama Hagia tinggal di sebelah selatan kaki gunung Sekai.
"Kemudian ada suku Pharos yang membangun kota kecil di pesisir pantai di sisi barat.
"Dan suku Ninue yang mendirikan desa di wilayah tengah.
"Tempat ini dulunya subur. Di penuhi dengan hutan dan sabana. Sama seperti wilayah di sekitar kaki gunung Sekai" Luque menjedah ucapannya untuk menyeruput teh hangat dalam gelasnya.
"Muncul begitu saja ditempat itu bersama gelegar petir, empat ratusan tahun yang lalu. Dan sejak saat itu, keberadaannya mulai merubah segalanya.
"Suku Ninue yang pertama kali berhasil menggunakan kekuatan yang dibawa oleh tempat itu. Peradaban Ninue menjadi berkembang dengan sangat pesat.
"Kemudian suku Pharos mulai belajar dan menyerap peradaban suku Ninue. Dan kemudian, karena pemimpin suku Pharos yang jauh lebih bijak dari pemimpin suku Ninue, membuat Pharos menjadi sebuah kerajaan yang besar dan sangat makmur. Mengalahkan peradaban suku Ninue.
"Wilayahnya mencangkup daratan selatan dan daratan utara. Mungkin kalian sadar kenapa wilayah kerajaan Urbar di sebut sebagai region tengah padahal berada diujung utara daratan Selatan. Itu karena tempat itu adalah pusat wilayah kerajaan Pharos, dulunya.
"Sementara itu, seiring dengan berjalannya waktu suku kami mulai tergeser ke selatan. Di tempat yang sekarang kalian sebut dengan Tanah Suci. Hingga akhirnya suku Hagia habis. Menyisakan hanya aku sendirian" Ucapan Luque terhenti sebentar. Kemudian tampak gadis itu menghela nafas panjang.
"Sedang orang-orang dari suku Ninue, tersingkir ke utara. Mereka yang dipenuhi oleh kemarahan kepada suku Pharos, karena merasa dikhianati, mulai merencanakan untuk membalas dendam.
__ADS_1
"Sebelumnya, kerajaan Pharos telah membuat sebuah kota disekitaran Mahan Staan. Kota itu disebut Jasvar. Yang berarti Kemuliaan.
"Kota dengan tembok benteng yang kokoh dan menjulang tinggi. Yang karena tingginya, tembok itu sering disebut juga dengan bukit Jasvar.
"Orang-orang dari suku Ninue kemudian melakukan penyerbuan ke kota tersebut, untuk mengambil alih Mahan Staan. Karena mereka menginginkan kekuatan tempat itu untuk menghancurkan kerajaan Pharos.
"Dan pada akhirnya orang-orang dari suku Ninue itu berhasil melakukannya.
"Seluruh wilayah kerajaan Pharos hancur. Tanpa menyisakan apapun. Yang kemudian menjadi wilayah yang kalian sebut dengan tanah Mati ini" Luque menjedah lagi ucapannya. Untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Semua orang terlihat menyimak cerita Luque dengan seksama. Tak ada satu pun yang mencoba untuk menyela atau memotong.
"Mungkin kalian pernah mendengar ajaran aliran Musvar, landasan dari ajaran Istar yang banyak berada di utara.
"Awalnya aliran itu di bentuk untuk menghormati para pahlawan Ninue yang mengorbankan nyawa di pertempuran gerbang kota Jasvar" Luque meneguk sekali lagi teh dalam gelasnya.
"Sedang Mahan Staan yang konon kabarnya dilindungi oleh formasi sihir, berhasil selamat dari kehancuran tersebut. Tertimbun jauh di dalam tebing.
"Butuh waktu tiga puluh tahun untuk kemudian Mahan Staan ditemukan kembali. Dan karena kekuatannya yang bisa membawa kehancuran sebesar itu, maka beberapa tokoh penting tiap kaum di kala itu setuju untuk menyegel tempat tersebut.
"Dan dari mulai saat tempat itu disegel sampai sekarang, tidak ada yang tahu bagaimana cara suku Ninue dan dengan apa mereka meghancurkan seluruh Tanah Rhapsodia ini.
"Semua catatan tentang hal tersebut hilang bersama hancurnya peradaban Pharos. Yang tersisa dari peninggalan peradaban Ninue hanya catatan ajaran Musvar. Yang juga sengaja tidak menyebutkan nama suku Ninue sama sekali di dalam catatan-catatan tersebut.
"Itu disebabkan karena rasa bersalah dan kekecewaan orang-orang dari suku tersebut yang telah menyebabkan kehancuran atas tanah leluhur mereka.
"Jadi begitulah ceritanya" tutup Luque kemudian. Yang tak lama setelah itu, beberapa orang segera mengajukan pertanyaan kepada gadis tersebut, nyaris secara bersamaan.
"Wow, deep lore" celetuk Aksa.
__ADS_1
-