
Tepat di sebelah dermaga dilepas perairan dangkal laut barat, tampak sebuah kapal sedang berlabuh.
Kapal itu terbuat seluruhnya dari besi. Bentuknya seperti kapal laut pada umumnya, hanya saja tidak memiliki layar. Ditempat yang biasanya berdiri sebuah tiang layar, kini digantikan dengan sebuah cerobong asap dan beberapa senjata yang mirip seperti yang dipasang diatas dinding tebing gerbang selatan.
Ujung depan bagian bawah kapal tersebut terpasang plat besi bergerigi. Yang bila dilihat dari kejauhan, tampak seperti sebuah rahang ikan hiu. Bahkan dengan menggunakan sistem mekanik, plat besi itu dapat bergerak naik turun seperti sebuah mulut.
Di masing-masing sisi samping kapal tersebut, terdapat 8 buah jendela seukuran kepala orang dewasa yang dapat dibuka dan ditutup. Dan dari dalam jendela tadi terdapat meriam yang moncongnya dapat ditarik keluar ataupun ditarik masuk. Juga terdapat seperti pintu yang dapat dibuka keatas seukuran kereta besi, tepat dibawah 8 jendela meriam tadi.
Dibagian belakang bawah kapal tersebut terdapat sebuah baling-baling yang terendam di dalam air. Dan pada saat belum sepenuhnya masuk kedalam air, badan bagian bawah dari kapal tersebut tampak seperti tabung oval dengan dua lubang tepat dibagian depannya.
Namun saat kapal itu sudah berada di dalam air, bagian yang berbentuk tabung oval tadi sepenuhnya berada di dalam air. Tidak nampak dari permukaan.
Secara keseluruhan kapal tersebut memiliki enam tingkatan dek. Yang paling bawah berisi mesin lokomotif uap dan peralatan penggerak kapal dan persenjataan. Aksa menyebutnya ruang B3.
Satu tingkat diatasnya B2, adalah tempat untuk menyimpan segala macam barang dan bahan makan. Juga terdapat beberapa perahu kecil disimpan ditempat tersebut.
Satu tingkat lagi diatasnya yaitu lantai B1. Dibagian tengahnya adalah kamar tempat awak kapal beristirahat. Sementara dibagian pinggirnya adalah tempat untuk meletakan 18 meriam. Yang mana 8 meriam disetiap sisinya, dan 2 meriam di bagian depan kapal.
Lalu dek diatasnya, yang disebut Aksa dengan F1 itu adalah dek terbuka yang berisi bebedapa senjata meriam pelempar harpun.
Kemudian dilantai keduanya, F2 yang ukurannya hanya setengah dari ukuran keseluruhan kapal itu, terdapat sebuah anjungan dan ruang untuk kapten.
Sedang diatasnya lagi adalah tempat kosong yang hanya terdapat sebuah meriam yang memiliki dua buah tabung besi berjajar.
Lalu sama dengan kereta uap, kapal itu juga mengeluarkan bunyi seperti peluit dari cerobong asapnya.
Kapal itu adalah kapal yang akan digunakan oleh Aksa untuk menghadang kapal-kapal dari kerajaan Urbar di laut barat.
Sementara itu Aksa sudah berada di atas kapal bersama Rafa, Val, Marco, Anna, Nikolai, dan beberapa awak kapal. Tampak sibuk mempersiapkan segala hal sebelum bersiap untuk berlayar.
Val mengikuti Aksa kali ini karena ia bertanggung jawab untuk melindungi Aksa selama Lily melindungi Nata. Dan tampaknya Marco hanya ingin mengikuti kemanapun Val pergi. Maka dari itu, Marco akan membantu awak kapal untuk menjalankan kapal tersebut.
Seragam yang dikenakan awak kapal dan juga Aksa, Rafa, Anna, dan Nikolai adalah baju pelindung berwarna hitam kusam seperti yang digunakan Lucia dan para prajurit. Hanya saja untuk Anna, ia masih merangkapnya dengan jaket panjang kapten yang biasa ia kenakan.
Lalu tambahan untuk orang-orang yang ada di kapal tersebut adalah, mereka semua dilengkapi dengan pelampung. Per masing-masing orang satu. Yang disimpan ditempat khusus.
.
__ADS_1
"Apa jumlah kayu yang hanya sebanyak itu akan cukup, tuan Aksa?" Nikolai berada di dek tempat mesin penggerak kapal tersebut berada. Dek paling bawah.
"Jangan kuatir, tuan Nikolai. Kapal ini menggunakan sistem penggerak hybird antara tungku uap dan baterai listrik. Kurasa, bila untuk bergerak tanpa henti selama dua belas jam sih, masih kuat" jawab Aksa yang tampak sibuk memeriksa beberapa benda yang berbentuk seperti tungku dan tabung besi, dengan banyak sekali roda gerigi, rantai besi, dan galah besi.
"Saya tidak begitu mengerti dengan apa yang anda bicarakan. Tapi bila anda berkata demikian, maka saya akan mengikutinya" Nikolai menjawab.
"Oke. Sekarang coba nyalakan pembakarannya, tuan Nikolai. Kita akan mulai berangkat" ujar Aksa kemudian.
Tungku lokomotif yang ada di dalam kapal tersebut sudah menyala, saat Aksa dan Nikolai sudah kembali berada di anjungan. Tempat dimana roda kemudi kapal tersebut berada.
Ruang anjungan itu berada satu lantai diatas dek pertama, tepat didepan ruang kapten. Diruangan tersebut terdapat jendela berkaca bening yang sangat lebar. Tingginya nyaris setinggi ruangan tersebut, dan lebarnya juga nyaris selebar keliling ruangan tersebut. Tanpak kerangka besi terpasang ditiap sudut disetiap jarak dua langkah, sebagai penyangga kaca tersebut
Secara perlahan mereka mulai bergerak meninggalkan dermaga. Para pekerja yang berada di dermaga tampak melepas tali pengait dan melambaikan tangan kepada orang-orang yang ada di dalam kapal tersebut. Ada 60 awak kapal secara keseluruhan.
"Dikira kita mau pergi tamasya, apa? Pake di dadah-dadahin segala" celetuk Aksa melihat para pekerja yang berada di dermaga.
"Kapal ini benar-benar jauh lebih mengesankan dibanding kapal yang ada di pesisir timur" Anna berucap dari sebelah Aksa yang berdiri didepan jendela kaca anjungan.
"Jelas. Kapal dipesisir timur itu hanya difungsikan untuk penyeberangan. Yang hanya membutuhkan waktu tak lebih dari satu jam perjalanan, tanpa perlu manuver yang rumit" jawab Aksa menjelaskan.
"Benar. Seperti corong-corong besi untuk berbicara dengan semua orang di semua tingkat lantai ini. Benar-benar alat yang sangat membantu" Nikolai menunjuk beberapa buah tabung besi yang terpasang di pinggiran dinding anjungan tersebut. Yang memiliki ujung dengan ukuran melebar seperti sebuah terompet.
Tampak sebuah nama tertulis di sebelah tabung-tabung tersebut sebagai penanda.
"Juga dengan adanya meriam-meriam itu" Anna mengimbuhi ucapan Nikolai yang terlewat. Seraya menunjuk sebuah alat seperti pelontar harpun namun memiliki ukuran yang lebih besar empat kalinya. Yang berada di dek bawah, dibagian depan kapal tersebut.
"Ngomong-ngomong, nona Anna. Bagaimana selama ini perang-peprang yang terjadi diatas lautan?" Aksa bertanya kemudian.
"Biasanya kita mendekat ke kapal musuh, kemudian menurunkan pasukan kita ke kapal mereka" Anna menjawab.
"Jadi besar kemungkinan mereka akan melakukan hal tersebut kepada kita. Mereka akan mencoba mendekati kapal ini, dan menurunkan prajurit untuk menyerang?" Aksa terdengar sedang memastikan.
"Benar. Mereka pasti akan melakukannya" Anna menjawab dengan percaya diri.
"Lalu apakah mereka memilki senjata jarak jauh untuk menenggelamkan atau menghancurkan kapal lawan? Mereka jelas tidak akan menggunakan meriam, kan?" Pertanyaan Aksa bersambung.
"Benar. Kami tidak mengenal apa itu meriam. Tapi biasanya kami akan menggunakan penyihir untuk melakukan serangan jarak jauh ke kapal musuh" Anna menjelaskan.
__ADS_1
"Oh iya, benar juga. Itu yang terjadi kalau kalian bisa sihir" Aksa mengangguk seperti baru saja menyadari sesuatu.
"Lalu bagaimana peperangan ditempatmu yang tidak mengenal sihir, Aks?" Kali ini Val yang bertanya, dari belakang Aksa.
"Ya, kurang lebih sama. Mereka menggunakan bahan seperti mesiu dan bahan kimia lainnya. Tapi tidak seperti sihir atau senjata mistik yang penggunaannya terbatas untuk sebagian orang tertentu saja, bahan-bahan untuk senjata di dunia ku bisa didapat semua orang. Dan bisa digunakan oleh semua orang" Aksa menjelaskan dengan panjang lebar.
"Semua orang memiliki kekuatan yang seimbang, itu berarti tidak akan ada tiran yang berkuasa secara penuh di duniamu?" ujar Val kemudian.
"Kalau dilihat dari segi senjata memang seperti itu. Tapi tiran dimanapun tidak akan bertahan lama bila hanya mengandalkan kekuatan senjata saja, kan?" Aksa menanggapi ucapan Val.
Val terdiam, tampak sedang berpikir.
"Juga bila kita lihat dari sudut yang lain. Kemudahan semua orang memiliki senjata yang sama, bisa jadi sangat merusak" tambah Aksa kemudian.
"Mengapa bisa demikian?" Val bertanya heran.
"Sihir dasyat seperti Oboros yang kau buat hanya ada satu di dunia ini. Di duniaku senjata setara Oboros bisa dimiliki oleh lebih dari satu pihak. Dan apa yang akan terjadi bila piha-pihak tersebut saling berperang?"
Val terlihat mengangguk, "Aku paham" ujarnya kemudian.
"Maka dari itu aku dan Nata selalu berpikir beberapa kali untuk membawa pengetahuan tetang senjata dunia kami kemari" imbuh Aksa kemudian. Yang membawa kesunyian canggung di anjungan tersebut.
Orang-orang yang mendengar perkataan Aksa tersebut, tidak tahu harus bagaimana menanggapinya.
-
Dan setelah berjalan selama beberapa waktu, akhirnya tiang-tiang layar kapal kerajaan Urbar pun terlihat diujung cakrawala.
Aksa memantau keberadaan kapal lawan tersebut dengan teropongnya.
"Benar-benar tiga puluh kapal. Apa mereka tidak belajar bahwa kapal sebesar itu tidak bisa melewati perairan dangkal? Mereka tetap harus menggunakan kapal kecil untuk mendarat di pantainya" Aksa berucap sendiri.
"Lalu sekarang apa rencana yang akan kita lakukan untuk menghadang kapal-kapal itu, tuan Aksa?" Anna bertanya.
"Rencananya cuma satu. Tengelamkan!" Aksa berseru dengan mengangkat kepalan tangannya ke udara.
-
__ADS_1