
Joan kembali duduk di kursi mewah di ruangan Xiggaz dua minggu kemudian. Setelah ia kembali dari kota diwilayah tanah mati.
"Jadi apa yang kau temukan ditempat tersebut, Jo? Kau sampai butuh waktu dua minggu untuk kembali kemari melapor" Xiggaz bertanya, membuka perbincangan.
"Ya, benar katamu. Kota itu memang bukan kota biasa. Kau tidak akan percaya dengan apa yang ku temukan ditempat itu" tampak Joan masih tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat. Meski ia sudah berada di kota tersebut selama dua minggu.
"Mulailah bercerita" ujar Xiggaz seraya menyilangkan lengan dan menyandar kebelakang.
Joan tampak membenahi posisi duduknya sebelum mulai bercerita. "Aku memasuki kota tersebut sebagai seorang pedagang. Dan setelah menginap selama seminggu di penginapan di kota yang bernama kota Tengah, aku mulai sadar bahwa butuh waktu lebih lama untuk mencari tau tentang wilayah tersebut" ujarnya kemudian.
"Apakah kota itu memiliki penjagaan yang sangat ketat?" Xiggaz memotong.
"Kota itu nyaris tidak memiliki prajurit untuk berjaga. Dan tampaknya mereka mengandalkan serikat petarung untuk melakukan pengamanan wilayah dalam" Joan menjawab.
"Lalu, mengapa kau membutuhkan waktu lama untuk mencari tahu hal tersebut?"
"Oh, kau tak akan bisa membayangkan bila kau tidak melihatnya secara langsung. Kota itu memiliki puluhan benda yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Dan puluhan hal yang ada di kota tersebut, yang tampak sangat aneh untuk bisa diterapkan" Joan terlihat bersungguh-sungguh dalam bercerita.
"Meskipun untuk mu, yang sering berpergian kebanyak tempat sekalipun?" Xiggaz uerdengar tidak percaya.
"Iya. Aku benar-benar dikejutkan oleh kota tersebut"
"Baiklah, lanjutkan ceritamu" Xiggaz kembali menyilangkan tangannya dan menyandar kebelakang.
"Jadi untuk bisa terus berada ditempat tersebut dan menyelidiki lebih dalam lagi tanpa dicurigai, aku kemudian menyewa tempat untuk mendirikan sebuah toko. Toko barang pecah belah. Aku tak akan bercerita detail tentang toko tersebut. Tapi mengejutkannya, pengurusan tempat tersebut begitu mudah dan tidak bertele-tele. Aku bahkan tidak perlu menemui kepala bangsawan yang bertanggung jawab mengurusi masalah tersebut. Semua diselesaikan oleh para pekerja" Joan kembali bercerita.
"Jadi kau tidak sempat berbicara dengan para bangsawan di kota tersebut?" Xiggaz tampak kembali memotong.
"Mereka sangat sulit dicari. Bahkan orang-orang yang bertempat tinggal diwilayah itu, tidak bisa menjawab saat ku tanya siapa bangsawan-bangsawan yang berkuasa atau setidaknya terpandang diwilayah tersebut"
"Itu sangat aneh" Xiggaz tampak menyipitkan matanya dan menyentuhkan tangannya ke dagu.
"Jelas sangat aneh. Dan bukan itu saja" tampak Joan menjedah untuk membasahi tenggorokannya. Kemudian mulai kembali bercerita. "Jadi, toko ku berada di wilayah yang disebut Stasiun Kota. Itu adalah tempat dimana tanah mati itu, bisa bertahan dan bahkan mengambil setengah lebih para pengguna jasa penyeberangan kapal laut kota Xin.
"Mereka memiliki sebuah jalur khusus yang membentang dari wilayah barat, memutar hingga wilayah selatan, untuk sebuah kereta besi dengan setidaknya sepuluh gerbong terpasang mengular dibelakangnya. Yang berjalan tanpa ada yang menarik ataupun mendorong.
"Sebentar... apa maksudmu kereta itu berjalan dengan sendirinya?" Xiggaz tidak tahan untuk memotong Joan dengan pertanyaan.
"Iya seperti itu" jawab Joan singkat.
__ADS_1
"Apakah itu sihir?" Xiggaz tampak memastikan.
"Aku juga tidak terlalu paham bagaimana cara kerjanya. Namun kereta itu berjalan tanpa henti. Dan kebanyakan hanya Morra yang menjalankannya. Aku tidak begitu paham juga dengan aliran Jiwa. Tapi apa hal tersebut mungkin, bila dilakukan oleh para Morra? Bahkan Narva sekalipun?" Joan tampak meragukan bila kereta tersebut dijalankan dengan sihir.
"Jadi itu, rahasia mereka yang susah kau cari tahu?"
"Oh, buka hanya itu. Ini catatan daftar hal yang harus ku cari tahu. Daftar tentang hal yang menunjang bagaimana kota itu bisa bertahan dan potensinya sebagai ancama kerajaan kita" Joan memberikan lebar kertas berisi catatan tangannya kepada Xiggaz.
"Segala hal yang ada ditempat itu punya kualitas yang sangat luar biasa. Mereka memiliki cara dan batas ukuran yang sangat tinggi. Seperti kertas itu contohnya. Bandingkan warna, bahan, ketebalan, dan kekuatannya dengan kertas yang kita punya" ujar Joan yang sudah kembali lagi ketempat duduknya.
Xiggaz tampak mengamati dan meraba kertas yang berisi catatan Joan tersebut. Membandingkannya dengan gulungan kertas yang berwarna lebih kuning diatas mejanya.
"Benar. Kertas ini lebih tipis dan lebih lentur. Seratnya lebih terlihat dan warnanya lebih terang" Xiggaz menyebutkan pengamatannya. Dan kemudian mulai membaca isi catatan Joan.
"Mereka membuat jembatan besi melintasi Jurang Besar, Ceruk Bintang, dan bahkan menembus bukit dan tebing" Xiggaz mengulang membaca isi catatan Joan dengan bersuara. Karena pemuda itu ingin memastikan bahwa Joan memang tidak salah menulis.
"Mereka juga memiliki jenis makanan aneh, tapi sangat lezat. Beberapa makanan memiliki cara memasak dan alat yang tak pernah ku temui sebelumnya" timpal Joan kemudian.
"Mereka memiliki kertas berkualitas. Minuman beralkohol yang tampak sangat beragam. Kualitas kain dan kulit untuk pakaian mereka diatas rata-rata yang ada di kerajaan. Bahan pembangun tembok dan jalan yang tampak kokoh dan berkualitas" Xiggaz meneruskan membaca isi catatan Joan.
"Sebentar, apa daftar ini tidak melebih-lebihkan? Apa ini masuk akal? Dari mana datangnya semua hal itu?" Xiggaz akhirnya berhenti karena tidak tahan. Ia berharap Joan akan memotongnya, dan berkata itu salah. Tapi tampaknya semua yang ia baca itu benar menurut Joan.
"Baik, ceritakan petualangan tidak masuk akalmu itu" saut Xiggaz meletakan kertas berisi catatan Joan keatas meja. Kemudian melipat tangan dan menyandarkan tubuhnya kebelakang.
"Jadi saat suatu hari aku mengambil jalur menuju kearah barat, aku melihat di bagian tebing sisi utaranya, mereka memiliki sebuah air terjun" tutur Joan dangan wajah yang terlihat dramatis.
"Air terjun? Diatas tebing?"
"Benar. Lengkap dengan sebuah kincir air di tempat air itu terjatuh. Sangat menarik perhatian meski kau melihatnya dari jauh" tambah Joan lagi.
"Dan dari mana air itu berasal?" Xiggaz semakin tidak mengerti dengan kota di tanah mati tersebut.
"Entahlah. Oh, dan juga sepertinya aku sempat melihat orang yang selama ini jadi buronan ada ditempat tersebut" tambah Joan.
"Siapa?"
"Si bajak laut wanita itu"
"Apa maksudmu Anna? Apa kau tidak salah lihat?" Tampak Xiggaz memastikan.
__ADS_1
"Tidak. Aku masih ingat pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya. Saat ia masih menjadi pengusaha kapal penyeberangan di kota Xin" Joan memastikan bahwa ia tidak salah lihat.
"Sedang apa ia disana?"
"Entahlah, tapi tampaknya ia sedang mengurus pembangunan di pantai sisi barat tersebut. Aku tidak bisa masuk ke tempat itu"
"Lalu, apa kau melihat ada senjata yang tampak aneh juga?" Xiggaz menanyakan topik yang baru.
"Tidak. Selama ini alat-alat aneh itu lebih untuk fasilitas dan keperluan sehari-hari. Tapi bisa jadi mereka menyembunyikan nya. Karena wilayah tanah mati sangat luas dan dipenuhi dengan lembah dan tebing, jadi cukup banyak tempat untuk bisa digunakan sebagai tempat persembunyian"
"Baiklah kalau memang begitu, lakukan yang menurutmu perlu. Namun bila memungkinkan jangan terlalu lama" ujar Xiggaz kemudian.
"Baik aku mengerti" Joan mengangguk paham.
"Oh, dan aku ada kabar baik untuk mu" ucap Xiggaz memnjedah untuk memberi kesan dramatis. "Sehari yang lalu, kita berhasil menduduki Tanah Suci" suasana hati Xiggaz tampak berubah cerah.
"Benarkah? Itu kabar paling baik yang pernah ku dengar selama hidupku. Lalu bagaimana ceritanya?" Suasana hati Xiggaz menular ke Joan.
"Penyerbuan langsung dua hari yang lalu berhasil menjatuhkan pertahanan Tanah Suci. Dan sehari kemudian, kita berhasil menguasai kota Nezarad. Pasukan Aurga dan Joren tidak menyangka bahwa kita akan memiliki kekuatan seperti sekarang ini" jelas Xiggaz antusias.
"Apa sebenarnya senjata rahasia yang kau dan tuan Tyrion siapkan?"
"Kita memiliki tiga belas senjata mistik untuk dua belas jendral, dan delapan batu Arcane untuk beberapa penyihir tempur kita" jelas Xiggaz krmudian.
"Wah, dan dari mana kalian bisa mendapatkan sebegitu banyak senjata mistik? Apa itu dari Delapan Penjaga?" Terlihat Joan kagum. Kini kerajaannya memiliki kekuatan tempur yang besar. Apa lagi setelah ditambah dengan dukungan dari Gadis Suci.
"Benar. Delapan Penjaga melakukan perjalanan selama enam bulan terakhir ini, keseluruh wilayah di dunia untuk mengumpulkan senjata-senjata mistik tersebut" Xiggaz kembali menjelaskan.
"Aku tidak menyangka mereka bisa mengumpulkan senjata mistik sebanyak itu dalam waktu enam bulan saja"
"Memang, kemampuan mereka memang kadang sulit untuk dipercaya"
"Lalu, apa yang akan dilakukan kerajaan setelah ini?" Tanya Joan kemudian.
"Sepertinya, sekarang mereka sedang melakukan pertemuan dengan para klerus Tanah Suci dan Gadis Suci itu sendiri" jawab Xiggaz singkat.
"Semoga keputusannya nanti tidak memicu peperangan baru" terlihat Joan benar-benar berharap.
"Mari kita berharap yang terbaik"
__ADS_1
-