Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
09. Pesan Perang


__ADS_3

"Tampaknya si Tyrion itu benar-benar punya ide kreatif untuk cari gara-gara" celetuk Aksa saat ia berada di kediaman Lucia untuk mencoba kolam renang yang baru saja selesai dibuat. Satu setengah bulan setelah kerajaan Urbar menutup jalur ke selatan.


Ia datang bersama Nata, Lily, dan Rafa. juga untuk sekaligus membicarakan tentang surat yang kerajaan Urbar kirim sehari yang lalu. Yang kali ini isinya meminta tanah Pharos untuk mengikuti kepercayaan Tanah Suci.


"Benar. Tak kusangka ia akan menggunakan nama sebuah kepercayaan untuk melakukan seruan perang" terlihat Nata juga cukup kagum dengan ide yang digunakan Tyrion kali ini sebagai alasan untuk menyerang tanah Pharos.


"Bagaimana kalau kita jawab iya, begitu saja. Kan beres. Mau kepercayaannya dijalani atau tidak kan, yang penting iya dulu" saut Aksa yang duduk ditepian kolam renang dengan separuh kaki terendam di dalam air.


Mereka berada di halaman belakang kediaman Lucia, di sekitaran kolam renang. Di tempat itu hanya ada Aksa, Nata, Lucia, Lily, Jean, dan Rafa.


"Masalahnya mereka akan mengirim klerus dan mendirikan kuil di wilayah ini, bila kita menyetujuinya" jawab Nata menjelaskan dari tempatnya duduk bersama yang lain. Yang berada sedikit lebih jauh dari kolam renang tersebut.


"Wow, smart move. Asli" Aksa mengeleng kagum.


"Tapi bila kita tidak menjawab iya, maka tak lama lagi mereka akan menyerukan perang atas nama kepercayaan Tanah Suci kepada kita" Nata menambahi.


"Benar. Lalu bagaimana?" Aksa bertanya.


"Lalu bagaimana, tuan putri?" Nata melempar pertanyaan tersebut kepada Lucia.


Lucia terlihat tidak siap akan pertanyaan Nata. Tampak ia sedikit terperanjat. Lalu dengan segera memasang wajah tenangnya.


"Aku tidak tahu bagaimana cara menangani sebuah peperangan. Tapi aku siap untuk menolak surat permintaan dari kerajaan Urbar tersebut" jawab Lucia dengan tegas.


"Tapi dibelakangnya akan ada perang yang menanti" Aksa menyahut dari ujung kolam.


"Aku juga sudah siap untuk itu" jawab Lucia masih dengan tegas.


"Baiklah kalau begitu. Setelah ini kita akan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin prajurit untuk membicarakan tentang kemungkinan yang akan pihak Urbar lakukan" ujar Nata kemudian.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan memanggil mereka kemari" Lucia tampak bangkit berdiri kemudian berjalan memasuki rumah.


-


Siangnya masih di kediaman Lucia, sebuah pertemuan diadakan lagi. Kali ini hanya dihadiri oleh Caspian, Helen, Vossler, Jean, Luna, serta anggota Bintang Api. Disamping Aksa, Nata, dan Lucia.

__ADS_1


"Pertemuan kali ini, kita akan membicarakan kemungkinan terburuk yang akan pihak Urbar lakukan bila kita menolak permintaan mereka untuk mengikuti kepercayaan Tanah Suci" ucap Nata membuka pertemuan tersebut.


Semua orang yang hadir hanya mengangguk kecil. Tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan mulai menjelaskan. Anda sekalian bisa memotongnya bila merasa tidak mengerti dengan apa yang sedang saya bicarakan" tampak Nata memberikan arahan.


"Yang pertama yang harus kita perhatikan adalah ke empat gerbang kita. Baik yang selatan dan utara, maulun yang Barat dan timur" Nata memulai penjelasan rencananya.


"Memang sangat kecil kemungkinan untuk mereka menyerang sisi barat karena adanya perairan dangkal yang menyebabkan kapal besar tidak akan bisa menepi, dan juga sisi utara yang berbatasan dengan wilayah Elbrasta secara langsung. Namun kita harus tetap mewaspadai akan kemungkinan tersebut.


"Sedang untuk gerbang selatan dan pesisir timur. Karena kedua tempat tersebut tidak memiliki rintangan yang terlalu berarti, maka besar kemungkinan mereka akan menyerang kedua tempat tersebut.


"Untuk gerbang selatan, yang perlu kita lakukan adalah siap bertahan dibalik dinding tebing. Dan untuk pesisir timur, kita akan ungsikan para penambang dan orang-orang yang berada di desa Sekai, ke desa Timur disisi dalam. Lalu kemudian kita akan bertahan di bibir hutan Sekai.


"Sebisa mungkin kita harus menghindari pertempuran secara langsung antara prajurit dengan prajurit. Karena sudah jelas, kita tidak memiliki banyak prajurit.


"Tapi bila mata-mata yang kemarin mengetahui hal tersebut memberitahukannya kepada pihak Urbar, maka yang paling logis untuk kerajaan itu lakukan ada pertarungan secara langsung. Prajurit melawan prajurit" ujar Nata masih menjelaskan.


"Jadi besar kemungkinan pesisir timur yang akan mereka serang?" Tanya Caspian yang tiba-tiba menyela.


"Dan karena itu juga, kita tetap harus membagi prajurit kita menjadi empat kelompok yang akan berjaga di empat tempat. Yang berarti bila prajurit kita saat ini adalah kurang lebih dua ratus prajurit maka kita harus membaginya menjadi lima puluh prajurit perwilayah" Nata melanjutkan penjelasan rencananya.


"Lalu bagaimana kita menghadapinya saat mereka benar-benar menyerang pantai timur?" Caspian bertanya lagi.


"Kita akan membangun banyak jebakan di dalam hutan. Atau melakukan strategi menyerang diam-diam saat pasukan lawan berada di dalam hutan. Yang perlu diingat kita jangan sampai melakukan pertempuran secara terbuka dengan mereka nantinya" jawab Nata. "Kita juga tidak bisa berharap pada para Yllgarian. Kalau nantinya mereka mau membantu, berarti itu nilai tambah untuk kita" tambahnya kemudian.


"Baik. Kurasa kami mengerti maksud anda, tuan Nata" Caspian mengangguk paham.


"Oh, dan juga tentang senjata. Tuan Haldin dan tuan Matyas berhasil menyelesaikan senjata untuk beberapa prajurit yang dilengkapi dengan listrik pelumpuh seperti yang sudah dipakai oleh para ksatria bangsawan" Aksa menambahi.


"Bagaimana dengan senjata kami, tuan Nata?" Kali ini Cedrik yang bertanya.


"Tenang saja, senjata pesanan kalian juga sudah selesai dibuat. Nanti sore akan saya tunjukan" jawab Aksa yang membuat senyum bermunculan dari wajah para anggota Bintang Api.


"Oya, untuk kelompok Bintang Api. Kalian akan menjadi kekuatan tambahan dan juga penjaga kota Tengah. Kita tidak tahu juga pasukan seperti apa yang akan mereka kirimkan untuk menyerang kemari" ujar Nata yang tampak dijawab dengan anggukan oleh beberapa anggota serikat petarung tersebut.

__ADS_1


"Tapi aku sangsi mereka akan langsung mengirim pasukan terbaik mereka. Karena mereka pasti memandang remeh kita" saut Aksa menimpali.


"Semoga memang seperti itu" jawab Nata yang tampak benar-benar berharap. "Sedang untuk pembagian pasukan dan posisi wilayah penjagaan, bisa kalian tentukan sendiri. Kemudian untuk masalah strategi, kita akan bicarakan lebih lanjut saat pembagian dan posisi sudah ditentukan" tambahnya panjang lebar.


"Dan bila sudah tidak ada pertanyaan diluar itu semua, kita akan tutup pertemuan ini. Karena saya harus segera menemui tuan Selene" ucap Nata kemudian.


"Tuan Selene?" Caspian mencoba memastikan.


"Benar. Kita memerlukan bantuan darinya" jawab Nata cepat.


-


Keesokan harinya Lucia mengirimkan utusan untuk mengantar surat balasan kepada pasukan yang berjaga menghadang jalan di jalur selatan. Dan setelah itu Aksa dan Nata mulai sibuk merencanakan hal dan mulai menemui beberapa orang untuk membantu persiapan mereka bertahan.


Warga di desa pesisir pantai Sekai dan para penambang sudah diberi kabar untuk bersiap-siap. Besok mereka akan diungsikan sementara ke desa Timur.


Sementara itu, trio pemburu dibantu beberapa Yllgarian tampak sedang mengurusi pengiriman alat-alat jebakan dari Haldin. Untuk kemudian mereka pasang setelah para penduduk desa Sekai dan para penambang diungsikan.


-


Malam harinya tampak Rafa dan Couran menerobos masuk begitu saja ke dalam tenda Aksa dan Nata di dasar Ceruk Bintang. Kemudian mereka berteriak-teriak mencoba untuk membangunkan dua pemuda yang sudah terlihat pulas itu.


"Nat, bangun!" teriak Couran seraya mengguncang-guncang tubuh Nata.


"Tuan Aksa, bangun!" Sedang Rafa berteriak dan mengguncan tubuh Aksa untuk membangunkannya.


Nata yang terkejut segera bangkit terduduk. Terlihat ia masih linglung memandang sekelilingnya.


Sementara Aksa dalam kondisi masih tertidur, secara tidak sadar malah menarik tubuh Rafa dalam dekapannya.


Rafa berusaha untuk melepaskan diri, saat Nata bertanya kepada Couran. "Ada masalah apa, tuan Couran?"


"Pesisir timur diserang, dan desa Sekai dibakar" jawab Couran yang membuat Nata langsung terjaga.


-

__ADS_1


__ADS_2