Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
--. Misi Pencarian Gelang Scion : Riam part 1


__ADS_3

Hujan yang mengguyur deras dari sepagian tadi tidak juga kunjung reda. Tampak seorang pria berjalan dengan basah kuyup menembusnya. Memasuki hutan yang terletak paling barat dataran ini. Hutan Kematian. Hutan yang mendapatkan namanya dari orang-orang yang pernah kehilangan saudara dan sahabat mereka di tempat itu.


Pria itu terus berjalan tanpa peduli dengan dinginnya hujan dan ketidak nyamanan pakaiannya yang basah saat bergerak. Rambutnya yang panjang lepek oleh air. Sebenarnya ia bisa membuat dirinya tidak tersentuh air hujan bila mau.


Sesosok itu menggunakan pakaian seperti para petarung bayaran. Baju kainnya di rangkap dengan baju kulit dan beberapa plat besi yang terpasang di sisi dada dan kedua pundaknya. Tampak usang dan penuh goresan.


Di kedua tangannya terpasang pelindung dari tulang binatang keras yang memanjang dari pergelangan tangan sampai sikunya.


Menggunakan sepatu dengan plat besi yang membuatnya terasa sangat berat saat digunakan untuk berjalan ditanah becek seperti sekarang. Kecipak air terdengar lantang saat ia berjalan.


Semakin pria itu berjalan masuk ke dalam, hutan pun semakin gelap. Sinar redup matahari yang terhalang mendung, kini mulai terhalang rimbun dedaunan dari pohon-pohon hutan yang membentuk kanopi alami.


Udara pun bertambah dingin dan lembab. Kabut mulai tampak dilantai hutan, menggantung semata kaki.


Pria itu kemudian berhenti ditengah belantaranya hutan tersebut. Tampak memperhatikan tanah seolah sedang mencari jejak atau petunjuk diantara selimut kabut.


Kemudian ia mengangkat tangannya ke depan. Seolah sebuah permukaan air, udara yang ada di depan pria tadi tiba-tiba berbelombang seperti sebuh riak air yang berpusat dari tempat dimana tangannya berada. Dan tanpa terlihat ragu, pria itupun melangkah maju.


Pria itu lenyap begitu melewati sesuatu yang terlihat seperti permukaan air tersebut. Dan saat riak nya menghilang, sudah tidak ada lagi tanda-tanda bahwa pria tadi pernah ada disitu. Hujan menghanyutkan semua jejak kaki ditanah.


-


Diujung lainnya, pria tersebut muncul kembali dari dinding riak udara tersebut. Ia masih di dalam hutan. Masih hutan yang sama. Hanya saja di hutan ini hujan tidak mengguyur.


Pria tersebut jadi terlihat ganjil, karena basah kuyup di tempat yang kering.

__ADS_1


Ia mengeluarkan sebuah batu kristal berwarna ungu berkilau cantik. Tak lebih besar dari telapak tangan.


Kemudian meletakannya ditanah tepat dihadapannya. Lalu menginjaknya dengan keras.


Terdengar suara batu kristal itu pecah. Dan dari sisa pecahan kristal tadi warna ungu didalamnya merembes keluar seperti sebuah cairan. Yang makin lama semakin melebar. Pria itu menjauh dari seperti kubangan berwarna ungu dilantai hutan itu.


Dan setelah areanya sudah cukup besar, sesuatu melompat keluar dari kubangan tersebut. Namun tidak menimbulkan riak atau cipratan.


Tiga sosok keluar dari kolam berwarna ungu tersebut. Mereka berdiri berjajar disekitarnya. Tak lama kubangan ungu itu lenyap seolah terserap kedalam tanah.


"Ah, malas sekali harus berada di hutan seperti ini" terdengar suara seorang gadis dengan nada sedikit jengkel.


"Ini pekerjaan penting. Jangan mengeluh" balas suara seorang laki-laki yang terdengar masih berusia muda.


"Bagaimana situasinya, saudaraku?" Tanya seorang pria yang berjalan paling depan.


Seorang pria Getzja bertampang sangar. Rambut abunya dibelah tengah menutupi sisi telinga. Tampak serasi dengan kumis dan jenggotnya yang tidak terlalu panjang. Rahangnya tegas, mata kirinya menggunakan penutup mata. Banyak bekas luka diwajahnya, yang menambah rasa angker pada sosok pria yang memiliki tubuh gempal itu.


Mengenakan baju khas ksatria dengan beberapa plat pelindung terpasang ditubuhnya. Pelindung pundak berwarna biru gelapnya terlihat kuat dan berat. Dan yang paling menarik perhatian adalah tameng besar yang ada di belakang punggungnya, yang besarnya nyaris seukuran tubuh. Tampak seperti sebuah tempurung.


"Noel, ini dimana?" Tanya seorang gadis Getzja dibelakang pria bertameng tadi.


Tampak gadis Getjza ini mengenakan pakaian seorang pemburu. Bajunya terlihat berlapis rompi kulit berwarna gelap. Memakai pelindung dari kulit tebal di pergelangan tangan dan pundaknya. Terdapat plat logam dibagian lutut dicelana panjangnya.


Mengenakan syal dilehernya yang digulung berlebih hingga menutupi bukan hanya leher, tapi sampai dengan mulutnya. Berwarna merah tua, ekor syal tersebut melambai ditiup angin. Bergerak seirama dengan rambutnya yang ia kuncir kuda.

__ADS_1


Tampak dua buah kapak dengan gagang pendek menggantung di sisi kiri dan kanan pinggangnya. Kapak yang biasa digunakan untuk memotong kayu, bukan untuk menebang pohon.


Sedang disebelah gadis itu seorang pemuda Morra berjalan dengan susah payah karena mengenakan jubah bertudung yang panjangnya hingga menyapu tanah.


Dibalik jubah berwarna merah tua tersebut tampak zirah pelindung terpasang hampir diseluruh tubuhnya. Zirah itu berwarna besi kusam yang berderak-derak saat berjalan.


Dibalik tudung yang masih terpasang itu terlihat wajah pemuda tampan yang juga tampak sedikit jengkel karena berada di tempat tersebut.


"Kita sudah berada dibalik pembatas" ucap pria pemburu yang dipanggil Noel itu menjawab.


"Wah, benarkah? Akhirnya aku bisa melihat desa kaum Elf" gadis itu terlihat tertarik.


"Ingat Nikea, ini tugas penting" ucap pemuda bertudung itu.


"Cih, kau memang tidak bisa menikmati hidup, Fig" jawab gadis itu memasang wajah jengkel.


"Bocah itu hanya bisa menikmati satu hal. Sebuah pertarungan" ucap pria bertameng menyela.


"Dasar maniak pertarungan" timpal Nikea.


"Jangan terlalu ribut kalian. Ayo kita berangkat" Noel memotong.


"Ngomong-ngomong kenapa kau basah kuyup seperti itu?" Nikea bertanya saat mendapati seluruh tubuh Noel yang basah.


-

__ADS_1


__ADS_2