Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
15. Serangan Balasan


__ADS_3

Sementara Joan yang mengikuti pasukan Bedivere kembali, sudah sampai di perkemahan.


Api yang membakar perkemahan tersebut sudah mulai padam. Namun tampak sebagian besar dari perkemahan tersebut hangus, yang hanya tinggal menyisakan puing-puingnya saja.


Tampak tiga ksatria menghampiri Bedivere dan Joan, saat mereka melihat dua orang itu datang.


"Apa yang sedang terjadi, tuan Bedivere?" Tanya seorang pria Narva berpakaian ksatria bangsawan bertanya karena melihat pasukan Bedivere kembali ke perkemahan.


"Kami kembali untuk memastikan keadaan perkemahan, begitu terdengar suara ledakan dan melihat ada api membumbung dari arah tempat ini. Bagaimana keadaannya sekarang, tuan Urgu?" Jawab Bedivere yang disambung dengan pertanyaan karena merasa kuatir.


"Hampir tiga perempat perkemahan habis terbakar. Persediaan makan kita, juga beberapa peralatan perang dan senjata juga hangus terbakar" jawab pria bernama Urgu tersebut. "Untung Zygos segera mengeluarkan sihir pelindungnya. Sehingga sebagian dari prajurit kita masih bisa selamat. Mungkin sekitar dua sampai tiga puluh prajurit yang jadi korban" tambah Pria tersebut.


"Benar-benar sihir yang dasyat" ujar Bedivere lagi seraya menatap sekeliling perkemahan tersebut.


"Jelas itu bukan sebuah sihir. Senjata mistik saya dapat merasakan adanya pergerakan aliran Jiwa. Dan saat api ini mendekat, senjata mistik saya tidak merasakan apapun" ujar seorang perempuan dengan sebuah tongkat sihir kayu yang memiliki bentuk seperti bulan sabit di bagian ujung atasnya.


"Apa mungkin itu adalah sihir yang lebih tinggi tingkatannya? Hingga senjatamu tidak bisa merasakannya?" Tanya seorang pria Narva yang sedikit lebih muda, yang berdiri disamping perempuan bertongkat sihir tadi.


"Benarkah ada sihir yang lebih tinggi dari senjata mistik?" Saut perempuan itu dengan wajah tidak percaya.


"Bila memang mereka memiliki sihir yang seperti itu, berarti kita tidak boleh membuang waktu dan meremehkan mereka" pria Narva tadi berucap.


"Benar. Kalau begitu kita harus segera bergerak" ucap Urgu. "Pollux, kumpulkan yang lainnya" tambahnya dengan memerintah pria Narva yang lebih muda tadi.


"Baik" jawab Pollux seraya meninggalkan tempat tersebut.


-


Tampak Bedivere, Joan, dan tiga ksatria tadi bersama tiga ksatria lainnya lagi sedang mengadakan pertemuan di sebuah tenda darurat tak jauh dari sisa perkemahan mereka yang hangus terbakar.


Keenam ksatria tersebut adalah enam Juara dari dua belas Juara kerajaan Urbar yang diberi emban untuk membawa dua belas senjata mistik.


Mereka sedang membicarakan tentang bagaimana cara menangani serangan sihir dari pihak lawan, saat kemudian tampak puluhan prajurit dan ksatria tiba di perkemahan tersebut dengan kondisi yang tidak baik. Tampak pula diantara mereka Tristan yang sedang terluka parah bersama Gawain.


"Apa yang terjadi, tuan Gawain?" Tanya Urgu kemudian saat Gawain sudah berada di dalam tenda pertemuan dan Tristan sudah mendapat perawatan.


"Pasukan kita dihancurkan" jawab Gawain dengan wajah ditekuk kebawah. Tampak sangat terpukul. "Lima ratus lebih prajurit hanya tinggal beberapa puluh saja" ucapnya kemudian.


"Bagamana bisa, tuan Gawain?" Urgu bertanya mewakili yang lain.


"Mereka menggunakan sihir ledakan secara terus menerus hingga para penyihir kita kualahan" jawab Gawain. "Dan setelah ledakan itu berhenti, puluhan tonggak besi datang menghujam. Menghancurakan seluruh alat pelontar batu kita" lanjutnya bercerita.


"Apa mereka menggunakan senjata mistik? Atau mereka memiliki penyihir-penyihir kelas atas?" Tanya seorang pria Narva yang berperawakan tinggi atletis terlihat penasaran.

__ADS_1


"Entahlah? Saya tidak tahu" jawab Gawain menggeleng seraya menutup matanya. Seolah ia sudah menyerah untuk mengingat-ingat.


"Anda tidak melihat mereka? Apa mereka menggunakannya di balik dinding gerbang?" Kali ini seorang ksatria Narva dengan wajah tegas bertanya.


"Bukan, saya tidak melihatnya karenan kami masih belum berhasil mendekati gerbang tersebut. Bahkan kami belum sampai pada jarak jangkau pelontar batu" jawab Gawain yang mengejutkan enam Juara tersebut.


"Apa? Sejauh itu?" Terdengar gadis dengan pakaian seorang bangsawan tidak percaya dengan ucapan Gawain.


"Tapi mereka memang memiliki alat yang aneh dan diluar akal" saut Joan mendukung ucapan Gawain.


"Pertama kukira lelucon tuan Tyrion mengerahkan kita semua untuk menyerang sebuah wilayah kecil yang bahkan bukan sebuah kerajaan" ujar Urgu.


"Benar. Ditanah mati pula" tambah Pollux.


"Tapi setelah mendengar cerita dari nona Joan, dan melihat kejadian yang telah terjadi, sepertinya yang dikuatirkan tuan Tyrion beralasan. Kota itu memiliki kekuatan besar yang suatu saat akan berbahaya untuk kerajaan kita" Urgu menambahi.


"Lalu apa yang akan kalian lakukan setelah ini?" Gawain balik bertanya kepada Urgu dan para Juara yang lain.


"Sudah jelas bukan. Kita berenam yang akan menyerang gerbang tersebut" jawab Urgu seraya berdiri dari tempat duduknya. "Ayo, semua bersiap-siap" tambahnya memerintah yang lain.


"Kalian akan berangkat sekarang? Para prajurit masih belum bisa kita siapkan sampai dua atau tiga hari kedepan" ujar Bedivere kemudian.


"Tidak perlu, tuan Bedivere. Kami sendiri yang akan menyerang gerbang tersebut" jawab Urgu saat para Juara yang lain juga sudah berdiri dari tempat duduk mereka. "Kita akan tunjukan kekuatan dari kerajaan Urbar yang sesungguhnya" tambahnya kemudian seraya berjalan meninggalkan tenda diikuti oleh yang lain.


\=\=\=\=


"Benar. Pasti setelah ini para Juara pemegang senjata mistik akan datang menyerang" ujar Jean memberikan tebakannya.


"Lalu apa rencana anda setelah ini, tuan Nata?" Caspian bertanya saat mendapati wajah Nata terlihat lebih serius sekarang.


"Mau tidak mau kalian harus menghadapi mereka" jawab Nata yang membuat para pemimpin yang ada ditempat itu merasa tegang. "Bila memungkinkan kita akan bawa mereka ke tempat yang menguntungkan buat kita" imbuhnya kemudian.


"Tuan! Ada enam orang menunggangi tiga kuda keluar dari perkemahan menuju ketempat ini" tampak seorang prajurit datang melapor.


"Wow, cepat sekali. Apa mereka tidak memikirkan sebuah rencana terlebih dahulu untuk melawan kita?" Ujar Nata yang juga terlihat sama terkejutnya dengan yang lain setelah mendengar laporan tersebut. "Atau mereka sangat percaya diri bahwa kekuatan mereka mampu mengalah kita?"


"Saya akan segera siapkan orang untuk mulai menyerang mereka" ujar Vossler yang segera berdiri dari tempat duduknya.


"Senjata yang kita pakai itu tidak cocok untuk melawan musuh dalam jumlah kecil dari kejauhan. Apa lagi yang lincah" saut Nata mencegah Vossler.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Vossler kemudian.


"Kita akan tunggu mereka sampai cukup dekat" jawab Nata.

__ADS_1


-


Tiga kuda dengan enam orang penunggang tampak terburu menuju kearah gerbang Pharos.


Lucia mengamati mereka dari balik teropongnya. "Sepertinya mereka hendak melakukan sesuatu" ujarnya kemudian.


"Ya, saya merasakan aliran Jiwa bergerak dengan cepat" ujar Parpera yang di dukung dengan anggukan oleh Lily.


Tampak salah seorang yang duduk dibelakang salah satu kuda tersebut mengangkat tongkatnya keatas. Dan tiba-tiba sebagian permukaan jalan di depan gerbang naik keatas hingga setinggi dinding tebing gerbang selatan. Membuat sebuah jalan landai menanjak.


"Ini baru curang" ujar Nata yang menatap ke arah depan gerbang selatan yang sekarang tampak sebuah jalan menanjak langsung menuju kearah dinding tebing. "Mereka harusnya melakukan hal ini sejak tadi" saut Nata lagi seraya menggelengkan kepalanya seraya mengambil sesuatu dari kota kayu yang lain.


Sementara para prajurit Pharos segera melancarkan tembakan tonggak besi kearah para pengendara kuda yang sudah terlihat mulai menanjak naik.


Namun sebuah pelindung sihir berwarna kuning terang menutupi mereka serupa mangkok. Dan puluhan tonggak besi yang menghantam pelindung tersebut terpental atau bahkan patah dan hancur.


Disaat yang bersamaan pula, tampak beberapa pilar es yang runcing dan besar terbentuk diluar pelindung sihir. Dan begitu bentuknya sudah terlihat sempurna, pilar es tersebut meluncur kearah tembok tebing dengan cepat dan bertubi-tubi.


"Berlindung!" Seru Caspian saat melihat puluhan pilar es meluncur kearah dinding tebing tempat senjata pelempar tonggak besi itu berada.


Dan puluhan pilar es menghantap dinding tebing secara acak dan terus menerus. Para prajurit dan penyihir yang ada ditempat tersebut bersembunyi seperti sedang berlindung dari amukan badai es.


Sementara Parpera terlihat sudah menciptakan sihir pelindung untuk melundungi dirinya, Lucia, dan Nata. Lily juga berada di dalam pelindung sihir tersebut. Terlihat Lily bersikap waspada. Namun ia tidak akan melakukan apapun bila tidak ada hal yang mengancam nyawa Nata atau dirinya sendiri.


"Kan, ini baru yang namanya pertempuran" ujar Nata yang kali ini tampak sudah menenteng sebuah tabung besi panjang yang dibagian ujungnya tampak seperti tabung oval meruncing. Terlihat seperti sebuah tombak, namun berukuran serba tebal.


Lalu kemudian terlihat Nata berlutut dengan satu kakinya, kemudian mengangkat tabung besi tadi ke atas pundak kanannya. Dengan ujung yang runcing menghadap kedepan.


"Jangan berada dibelakang ku" ucap Nata seraya membidik bukan kearah para penunggang kuda itu, melainkan kearah tanah yang mencuat setinggi dinding tebing di depan gerbang.


Dan setelah dirasa para penunggang kuda itu hendak melompat ke atas dinding tebing, Nata segera menarik pelatuk senjata di atas pundaknya itu.


Dan setelah sebuah ledakan terdengar, ujung senjata yang berbentuk seperti tabung oval meruncing itu meluncur kearah tanah yang dibidik Nata sebelumnya.


Ledakan terjadi tepat di depan para penunggang kuda tadi. Yang menyebabkan tanah yang mereka pijak berjatuhan kebawah dengan cepat. Kuda-kuda mereka terjun dari ketinggian. Namun tidak dengan enam penunggungnya.


Mereka berhasil melompat dari kuda mereka menuju ke atas dinding tebing gerbang.


"Tembak!" Teriak Nata memberi aba-aba kepada beberapa prajurit yang telah menunggu di balik dinding, bersiap dengan senjata yang serupa dengan miliknya.


Dan begitu terlihat beberapa orang berada diudara diatas dinding tebing tersebut, segera prajurit-prajurit tadi menembakan sebuah peluru yang kemudian mengembang menjadi seperti jaring kearah orang-orang tadi.


Dua diantara mereka berhasil terjerat dan kemudian jatuh tak berkutik. Karena jaring tersebut dialiri listrik pelumpuh.

__ADS_1


Namun empat orang berhasil lolos dan mendarat di balik gerbang.


-


__ADS_2