
Dua hari setelah dibagi kelompok, rombongan Aksa dan 50 pekerja mulai meninggalkan perkemahan utara menuju ke wilayah gunung Sekai melewati laut timur. Menyeberang dari pesisir pantai di selatan Baltra yang dikenal dengan nama pantai Mado.
Mereka bertolak menggunakan 4 kereta besi yang menarik masing-masing 4 gerbong kereta yang berisi penuh dengan alat dan material. Sedang Aksa, Couran, dan Lily menaiki kereta kuda. Kereta yang baru yang Aksa sebut dengan 'Epoc Mk 4.0 Extended Version'. Sementara trio pemburu dan bibinya menunggangi kuda masing-masing.
"Kenapa kita banyak sekali membawa kereta besi? Bukankah satu atau dua saja sudah cukup, toh kita punya banyak gerbong untuk membawa peralatan yang kita butuhkan" tanya Go sesaat sebelum mereka melewati jembatan lembah utara.
"Itu karena kita membawa lebih banyak peralatan dari yang seharusnya" jawab Aksa.
"Benar, kita membawa batu, pasir, dan kayu" tambah Couran.
"Dan juga kapal!" Saut Aksa kemudian.
"Mengapa kita perlu membawa banyak material seperti itu?"
"Karena kita akan banyak membangun disepanjang jalan" Couran menjawab.
"Membangun? Disepanjang jalan?" Terlihat Go tidak mengerti maksud dari ucapan Couran itu.
"Benar, karena kita akan sekaligus membuat fasilitas jalan yang memadahi untuk jalur pengiriman bahan tambang tersebut kedepannya" Couran menjelaskan.
"Oh, dan juga kita akan menggunakan dua dari kereta besi sebagai alat untuk membantu kita saat tiba di sana" tambah Aksa kemudian.
"Maksudnya?"
"Kita akan membongkar lokomotif dari dua kereta besi tersebut untuk membuat peralatan baru yang akan membantu saat kita berada disana" jawab Aksa menjelaskan. "Ini seperti Lego tapi nyata" tambahnya kemudian dengan antisiasme yang tidak dapat dipahami oleh orang lain.
"Jadi anda selalu memikiran hal kedepannya" ucap Go yang terlihat mengamati Aksa dengan sangat serius.
"Karena saya adalah utusan dewa" jawab Aksa kemudian.
Mendyngar perkataan tersebut, Go hanya mengalihkan pandangannya dari Aksa tanpa bereaksi. Tampaknya ia sudah mulai terbiasa dengan ucapan Aksa yang seperti itu.
"Dan karena hal tersebut perjalanan kita akan lebih lama dari yang seharusnya" ucap Couran kemudian.
"Berapa lama untuk kita tiba di pantai tersebut dengan menggunakan kerta besi ini tuan Couran?" Go bertanya.
__ADS_1
"Harusnya perjalanan menuju ke pantai Mado hanya memakan waktu satu hari saja. Kami sudah pernah mencobanya" jawab Couran.
-
Mereka memakan waktu tiga hari untuk sampai dipantai Mado. Jalan dengan tumpukan batu dan tanah yang dipadatkan yang mereka buat itu, membentang sepanjang gerbang utara Pharos hingga ke pesisir pantai tersebut. Dari jalan itu juga dibuat cabang menuju ke desa Baltra. Agar mempermudahkan bagi warga desa untuk menuju ke pantai tersebut.
Rombongan mereka sampai ketika senja tiba. Pemandangan pantai berpasir putih dengan beberapa pohon kelapa berlatar laut dan langit jingga itu membuat Aksa bersemangat.
"Wah, pantai. Aku rindu suara ombak" ujar Aksa dengan mata berbinar-binar menatap kilauan cahaya sore terpantul pada lautan.
"Bukanya kau sudah pernah melihat laut saat dikota dermaga kemarin?" Ucap Couran disebelahnya.
"Itu dermaga, bukan pantai tuan Couran. Itu dua hal yang berbeda. Ngomong-ngomong pakah pantai ini aman untuk sekedar dibuat bermain air?" Ucap Aksa dilanjut dengan pertanyaan.
"Kau ingin bermain air?" Tanya Coran yang dijawab anggukan cepat oleh Aksa. "Ya, pantai ini aman. Bahkan dibuat untuk berenang sekalipun" lanjut Couran dengan wajah pasrah.
"Asik!" Teriak Aksa seraya berlari menuju bibir pantainya.
"Apa yang anda lihat, bi?" Tanya Deuxter saat ia melewati bibinya sambil membawa tumpukan kayu.
"Pemuda itu sama sekali tidak seperti orang penting yang harus dilindungi oleh penjaga kiriman Oracle" Go menjawab pertanyaan Duexter sambil tetap menatap Aksa yang sedang bermain air di pinggir pantai.
"Lily, ayo kemari. Airnya segar" teriak Aksa mengajak Lily yang berdiri sedikit lebih jauh dari bibir pantai.
Deuxter hanya tersenyum tanpa menjawab, kemudian berjalan pergi, yang kemudian diikuti oleh Go membatu yang lain.
-
Pagi berikutnya mereka sudah mulai merakit bagian-bagian kapal yang mereka bawa dari perkemahan, atas petunjuk dari Aksa. Kapal itu dibawa secara terpisah delapan puluh bagian. Terbuat dari besi. Dan setelah utuh terpasang, besar kapal itu nyaris tiga kali besar kereta besi.
Memiliki cerobong asap dan tiga buah roda. Dua roda terletak sisi di kiri dan kanan badan kapal. Yang ukurannya sangat besar hingga melampaui badan kapal itu sendiri. Sedang yang satu lagi berada di ekor kapal, yang ukurannya jauh lebih kecil dari yang disisi kapal. Butuh waktu hingga setengah hari untuk merakitnya.
Setelah itu mereka mulai memasang dua batang kayu yang dijajar, memanjang hingga ke pantai. Lalu mereka menaikan kapal besi itu keatas dua kayu tersebut. Yang digunakan sebagai jalur untuk mempermudahkan mendorong kapal besi ke laut.
"Apa kau yakin kapal ini tidak akan tenggelam Aks? Semua badannya terbuat dari besi. Bahkan perlu kita semua untuk menggesernya saat menaikannya keatas kayu tadi" terlihat Couran mulai kuatir ketika melihat besar dan juga beratnya kapal tersebut.
__ADS_1
"Tidak akan, tuan Couran. Itu karena massa jenis air laut itu lebih berat dari massa jenis kapal tersebut. Saya sudah menghitungnya" jawab Aksa dengan santai.
"Kau menghitung apa? Dan apa itu masa jenis air laut?" Terlihat Couran mulai bingung dengan ucapan Aksa.
"Itu semacam berat dari karakteristik air laut" Aksa coba untuk menjelaskan.
"Berat dari karakteristik air laut? Sebentar-sebentar, apa kau tahu berapa berat air laut?" Couran semakin tak mengerti.
"Massa jenis air itu massa jenis relatif. Jadi mudah untuk diingat. Yaitu seribu kilo per meter kubik" jawab Aksa dengan membusungkan dadanya, seperti yang sering ia lakukan saat menyombongkan bahwa dirinya adalah utusan dewa.
"Sebentar apa itu relatif, kilo, dan meter kubik?"
"Itu adalah... nanti saja anda tanyakan kepada Nata, saya susah untuk menjelaskannya. Tapi dengan mengetahui hal tersebut, kita bahkan bisa membuat kapal yang bisa menyelam di dalam laut tanpa takut karam atau tidak bisa naik kepermukaan" ucap Aksa kemudian.
"Benarkah itu?" Couran mendengar hal tak masuk akal lagi dari Aksa.
"Suatu saat kita akan membuatnya. Sabar saja" jawab Aksa ringan seraya kembali menuju ke kapal besi tersebut.
Kemudian mereka mulai membongkar dua dari empat kereta besi yang mereka bawa dan mulai memasang salah satu lokomotifnya pada kapal besi tersebut.
Hari sudah kembali sore saat mereka siap untuk mendorong kapal besi yang sudah dipasang tungku lokomotif didalamnya itu ke laut. Tidak sedikit yang bertanya-tanya, apakah kapal itu akan tenggelam atau akan mengapung.
Lalu dengan bantuan salah satu dari kereta besi, kapal besi itu didorong masuk kedalam air. Dan alhasil kapal itu mengapung. Semua orang tampak bersorak-sorak mendapati kapal besi yang berat dan besar itu dapat mengapung diatas laut.
"Malam ini aku ingin bermalam diatas kapal, ah" ucap Aksa kemudian sambil menuju kearah tendanya.
-
Sedang di tanah Pharos, pengembangan tehnik dan metode juga terus berjalan seiring dengan ketersediaan material dan alat yang diperlukan.
Seperti para penenun yang mulai membuat benang dari kapas saat Luna berhasil mendatangkannya dari dataran selatan beserta bibitnya sebulan kemudian. Dan kemudian para penjahit mulai memproduksi banyak baju, setelah alat jahit mekanis telah selesai dibuat oleh Haldin dua hari setelahnya.
Kini mereka memiliki baju dari serat kapas yang murah dan nyaman. Dan bukan dari serat pohon atau kulit hewan yang murah tapi kurang nyaman dipakai. Atau sutra yang hanya kaum bangsawan dan pedagang kaya saja yang mampu membelinya.
-
__ADS_1