Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
21. Marga Shuuran


__ADS_3

Dua hari kemudian. Sebelum diadakannya pertemuan untuk memutuskan nama baru wilayah, mereka tiba-tiba mendapat kabar buruk yang mengejutkan. Terutama untuk Lucia.


Kabar bahwa pemberontak berhasil menembus dan menduduki istana kerajaan Elbrasta. Dan sang raja terbunuh dalam prosesnya.


Hal tersebut cukup mengguncang Lucia. Hingga ia membatalkan pertemuan.


-


"Kita sudah mendapat kepastian dari prajurit pengintai ditambah jaringan informasi nona Luna. Bahwa sang raja telah gugur saat mencoba mempertahankan istana" Cornelius berucap saat, ia, Orland, dan Nata sedang berada di kediaman Lucia.


Mereka sedang berada di ruang tamu, menikmati teh hangat yang dihidangkan oleh pelayan, setelah mereka berhasil menenangkan Lucia. Dan sekarang meninggalkan gadis itu beristirahat di kamarnya, ditemani Amithy.


"Dan sekarang pasukan gabungan Roxon dan Voryn yang dipimpin oleh Draenor menduduki istana" Orland menambahi.


"Kurasa dampaknya akan segera sampai kemari" Nats berucap seraya terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Apa kau mengira masalah di kotaraja akan berdampak kemari?" Cornelius terlihat kuatir dengan ucapan Nata, yang ia anggap hampir selalu menjadi kenyataan.


"Jelas, tuan Cornelius. Putri Lucia adalah garis keturunan dari tahta Elbrasta yang sah. Entah nantinya penguasa baru kerajaan tersebut akan melakukan serangan ke tempat ini, sebagai bentuk dari pengamanan posisi tahta mereka. Atau pendukung dari raja sebelumnya yang akan datang kemari, untuk meminta putri Lucia untuk melakukan penyerangan dan mengambil alih tahta dari orang yang tidak berhak" Nata menjelaskan dugaannya. "Meski apapun itu, tetap akan merepotkan kita" tambahnya kemudian.


"Tapi bila menurut aturan kerajaan, mereka tidak akan menganggap keturunan perempuan berhak untuk naik tahta dan menjadi raja. Atau menjadi ratu tanpa raja" Cornelius berucap lagi.


"Apa lagi seperti itu. Akan terjadi hal yang lebih menjengkelkan lagi bila kondisinya seperti itu" Nata terlihat sedikit cemas setelah mendengar penjelasan Cornelius tadi.


"Maksud mu?" Orland dan Cornelius bertanya nyaris secara bersamaan.


"Putri Lucia akan kembali dilihat sebagai sebuah kunci untuk meraih kekuasaan. Sama seperti sebelumnya" Nata kembali mencoba untuk menjelaskan.


"Semua pihak akan berlomba-lomba mendekati putri, untuk mendapatkan tahta Elbrasta. Dan enis orang-orang seperti itu akan jauh lebih merepotkan" lanjut Nata kemudian.


"Benar juga. Padahal Lucia kemari untuk menghindari hal tersebut" Cornelius terlihat mulai paham dengan maksud Nata.


"Tapi bagaimana dengan kabar Grevier? Apakah dia juga ikut gugur bersama sang raja?" Orland terdengar curiga dalam pertanyaannya teesebut.


"Tidak ada kabar mengenai hal itu. Tapi ada kabar bahwa keluarga istana telah ditawan. Entah itu termasuk kak Grevier atau bukan" Cornelius menjawab.

__ADS_1


"Yang jelas sekarang kita harus lebih memperketat lagi pertahanan sisi utara. Dan tetap mengirim para pengintai untuk terus memantau kabar yang tengah terjadi di wilayah Elbrasta" Nata memberi perintah kepada Cornelius, untuk berhati-hati. Karena pemuda tambun itu memang memiliki tanggung jawab menjaga gerbang utara.


"Ya, aku mengerti" Cornelius menjawab tegas.


-


Empat hari setelahnya tampak Yvvone dan Seigfried kembali ke kota Tengah. Dan kali ini seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, ia membawa serta temannya. Seorang pria Elf.


Tinggi, sedikit kurus, dengan warna kulit pucat nyaris seperti sosok Val namun sedikit lebih pendek. Hanya saja hal yang membedakannya dengan perawakan Elf marga Realn adalah warna rambutnya yang putih seperti uban. Sementara rambut marga Realn berwarna hitam.


Pakaian yang dikenakan Elf tersebut, nyaris semeriah pakaian Yvvone. Dengan baju anyam lengan panjang yang berwarna coklat terang, di rangkap dengan rompi kain yang memiliki warna biru langit. Dan celana panjang yang berlapis kulit hewan bermotif loreng kuning hitam di sisi paha kiri dan kanan nya.


Rambut putihnya yang panjang, ia ikat seperti bentuk dari anyaman tambang kapal, dan kemudian melingkarkannya mengelilingi leher.


"Setelah bertemu dengan beberapa Elf, aku jadi penasaran. Sebenarnya, seperti apa lingkungan hidup mereka? Hal apa yang mereka lihat di dalam hutan, sampai bisa mempengaruhi gaya berpakaian yang super norak seperti itu" Aksa berucap begitu melihat teman Elf yang Yvvone bawa.


"Aku tidak mau tahu. Bahkan membayangkannya pun tidak" Nata menyahut.


Terlihat Yvvone melambai saat melihat rombongan Aksa dan Nata diatara orang di stasiun Kota Tengah. Ada Aksa, Nata, Rafa, Luque, Lucia, dan Orland.


Lucia dan Orland datang menjemput Yvvone karena mereka mendapat kiriman surat dari Seigfried dua hari sebelumnya, yang berisi bahwa ia dan Yvvone punya kabar mengenai kerajaan Elbrasta.


"Ya, aku bisa melihatnya" Aksa menjawab.


"Perkenalkan, namanya Talos" dengan segera Yvvone pengenalkan pria Elf tadi kesemuanya.


"Aku Talos, senang berkenalan dengan kalian. Mana benda itu? Ku dengar dari Yvvone, kalian menemukan benda yang tersegel oleh sihir Shuuran di tanah Pharos" Talos langsung bertanya tanpa basa-basi. "Kalau memang benar, itu pasti peninggalan nona Janice" tambahnya lagi.


"Benar, nona Janice lah yang menyegelnya" Luque yang kemudian berucap.


Talos terlihat sedikit terkejut mendengar icapan Luque. "Wah, dari mana ada bisa yakin?" Tanyanya kemudian.


"Aku melihatnya sendiri, saat nona Janice melakukan penyegelan tersebut" Luque berkata dengan santai.


"Maaf, apa anda sedang bercanda?" Talos merasa sedang dipermainkan oleh Luque.

__ADS_1


Bila orang yang mengatakan hal itu tadi adalah Elf atau Yllgarian, mungkin Talos akan sedikit percaya. Namun ini seorang gadis Narva yang berkata seperti itu. Jelas tidak ada orang yang akan mempercayainya.


"Siapa gadis ini, Nat?" Yvvone yang merasakan hal yang sama, segera bertanya untuk memastikan.


"Beliau adalah Gadis Suci" Nata menjawab cepat.


Tampak Yvvone, Seigfried, dan Talos terkejut mendengar nama Gadis Suci disebut.


"Yang benar? Jangan bercanda kau, Nat" kali ini Yvvone merasa sedang dipermainkan Nata.


"Buat apa aku bercanda dengan kalian. Beliau memang Gadis Suci. Beliau ikut kemari setelah kita berhasil menduduki Tanah Suci" Nata mencoba untuk menjelaskan. "Dan, beliau berumur nyaris lima ratus tahun" imhuhnya.


Dengan mengamati wajah Lucia dan Orland yang berdiri dibelakang Nata, Siegfried sudah bisa menyimpulkan bahwa Nata tidak sedang bergurau.


Dan dengan cepat ia melangkah maju kedepan dan menunduk supan kearah Luque.


"Perkenalkan saya Seigfried. Maafkan atas kitidak tahuan kami, Primaval" ucap Siegfried kemudian. Yang membuat Yvvone dan bahkan yang lain terkejut.


Karena Seigfried yang mereka tahu itu, orang yang tidak akan mau menyapa orang. Ia hanya akan mengangguk cepat bila bertemu atau di panggil seseorang saat sedang bekerja di bar. Bahkan kepada Lucia sekali pun.


"Tidak usah dipikirkan" Luque berucap cepat menjawab Seigfried. "Kenalkan, aku Luque" lanjutnya memperkenalkan diri.


"Tak ku sangka akan ada tokoh penting di wilayah ini. Salam Primaval, saya Yvvone" Yvvone mrngenalkan diri dengan membungkuk kecil dengan kedua tangannya memegang dan mengangkat kecil ujung roknya.


"Senang bisa bertemu orang baru lagi" Luque menjawab. "Aku juga tidak menyangka Nata dan Aksa punya teman Elf lebih dari satu" lsnjutnya kemudian.


"Kenapa cara bicara anda terdengar seperti sedang meremehkan kami, Luq?" Aksa segera berucap setelah merasa.


Seigfried segera menatap sinis kearah Aksa begitu mendengar dia memanggil Gadis Suci dengan sebutan Luq. Kemudian terlihat mulai mengomel tanpa suara.


"Bagaimana kabar kalian?" Lucia kemudian mulai ganti menyapa.


"Jadi dimana tempatnya?" Talos bertanya lagi, mengembalikan topik pembicaraan nya semula.


"Apa anda ingin melihat tempatnya sekarang?" Nata bertanya kemudian.

__ADS_1


"Iya, antarkan aku kesana" Talos menjawab dengan wajah bersemangat.


-


__ADS_2