
Paginya karena rasa penasaran dan kebetulan searah jalan menuju Baltra. Rombongan Nata dan Aksa akhirnya ikut bersama kelompok Bintang Api menuju kota Albas.
Selama perjalanan menuju ke kota tersebut, tampak penyihir anggota Bintang Api, seorang gadis mungil dengan tongkat sihir yang panjangnya melebihi tubuhnya itu, berada diatas kereta kuda rombongan Nata dan Aksa, terus mendera Lily dengan berbagai macam pertanyaan.
"Apa sihir yang kemarin itu Saphed Kiran?" Tanya gadis yang mengenakan jubah panjang dengan motif berwarna merah tua itu duduk disebelah Lily.
"Benar, itu Saphed Kiran" jawab Lily dengan sabar.
"Sudah ku duga! Dan apakah anda menggunakan aliran jiwa secara langsung saat itu juga atau anda sudah menyiapkan terlebih dahulu dan baru melepaskannya setelah itu?" Rentetan pertanyaan dari gadis itu tidak berhenti.
"Ende, hentikan itu. Kau mengganggu nona Lily" ucap Margaret melarang dari atas kudanya disamping kereta.
"Tapi, tapi, aku ingin tahu bagaimana nona Lily bisa melakukan tehnik penggunaan aliran jiwa yang rumit seperti itu tapi dalam waktu yang sesingkat itu" terlihat rengekan gadis bernama Ende itu kemudian.
"Ende tidak mengganggu kok" jawab kelinci kecil itu dengan senyum.
"Maafkan atas kelakuannya nona Lily" Margaret tampak meminta maaf atas kelakuan salah satu anggotanya. Dan kemudian Ende kembali menghujani Lily dengan pertanyaan.
-
__ADS_1
Dan tak lebih dari tengah hari, rombongan merekapun tiba di kota Albas. Kota ini seperti kebanyakan kota kecil yang sering dilewati Aksa dan Nata saat mereka ada di daerah Estrinx. Tak banyak hal baru yang bisa ditemui Aksa dan Nata di kota ini.
Kecuali ada dua hal yang belum pernah Aksa dan Nata lihat di kota atau desa sebelumnya.
Itu adalah gedung Balai Pertemuan dan gedung Atelir.
"Mengapa Balai Pertemuan dan Atelir tidak ada waktu kita berada di Garya? Apakah kota besar itu tidak jaminan memiliki fasilitas yang lengkap?" Tanya Nata saat mereka sudah berada ditengah kota.
"Entah lah, yang ku tahu memang dua tempat itu biasanya ada di kota di pinggiran hutan seperti ini. Kota yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil" jawab Duexter yang juga tidak yakin.
"Kalau Balai Pertemuan aku sudah tahu apa itu, tapi kalau Atelir? Apakah itu semacam tempat pengerajin?" Nata bertanya lagi.
"Wah, kebetulan sekali ada pandai besi disini. Apakah orang-orang hanya bisa membeli barang buatan mereka yang sudah jadi? Atau bisa memesan untuk dibuatkan barang secara khusus di tempat Atelir itu?" Nata kembali bertanya.
"Bisa, mereka melayani pembelian barang dan pengerjaan permintaan barang" jawab Cedrik.
"Baiklah kurasa kita perlu mampir kesana" ucap Nata mengajak.
"Kalau begitu kami akan menuju pasar terlebih dahulu untuk menjual barang buruan kami" ujar Huebert pamit.
__ADS_1
"Memang kalian akan menjual barang buruan apa?" Tanya Aksa penasaran karena trio pemburu itu tak terlihat sedang membawa apapun.
Loujze tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tas pinggangnya, "seperti ini" ujarnya kemudian menunjukan potongan-potongan tanduk, kuku, taring, dan gulungan kulit kepada Aksa.
"Oh, benda seperti itu laku dijual?"
"Benda ini biasa digunakan sebagai bahan dasar sebuah ramuan atau sebagai sebuah hiasan. Apa lagi bila itu potongan hewan mistik" jelas Deuxter.
"Sama seperti tanduk obsidian milik Mistik Hyena kemarin. Tanduk itu masih memiliki kekuatan sihir yang biasa digunakan oleh seniman Kristal untuk membuat Tottem" tambah Cedrik.
"Oh, semacam Drop Item ternyata" gumam Aksa.
"Baiklah, kami akan menuju ke Atelir sekarang" saut Nata langsung menimpali ucapan Aksa yang tidak jelas sebelum menjadi pertanyaan Cedrik.
"Apa kau mau membeli senjata dan zirah, untuk kita gunaan saat mendaftar sebagai Petualang, Nat?" Tanya Aksa kemudian yang mulai terlihat girang.
"Tutup mulutmu!"
Akhirnya Nata, Aksa, Lily, dan Val berpisah dengan Cedrik setelah ia mengantar mereka ke gedung Atelir. Karena Cedrik harus kembali ke gedung Balai Pertemuan untuk melaporkan hasil dari tugas pembersihan wilayah kemarin.
__ADS_1
-