Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
05. Bertandang


__ADS_3

Seminggu kemudian Lucia mendapat surat dari Mateus yang berisi undangan perayaan ulang tahun anak perempuannya, Eureka.


Dan kebetulan, Lucia, Orland, dan Amithy, memang berencana akan mengunjungi Mateus, dalam minggu-minggu ini. Jadi, Lucia akan memajukan rencana mereka sekaligus ke besok lusa. Tepat pada saat perayaan ulang tahun sepupu jauhnya itu.


Terlihat Lucia bersemangat untuk segera bersiap-siap menuju kota Varun serta mencari hadiah untuk sepupu jauhnya tersebut. Ia sangat merindukan gadis kecil yang sudah ia anggap sebagai adik kandung itu.


Lucia belum pernah menemui paman jauhnya itu lagi, selepas ia dan Jean meninggalakan kota Varun sekitar dua tahun yang lalu.


Itu dikarenakan banyak hal yang harus ia lakukan sebelumnya. Dan baru akhir-akhir ini, Lucia mendapat waktu luang. Itu karena dengan seiring bertambahnya penduduk, hampir semua pekerjaan Lucia sebelumnya sudah diambil alih oleh orang lain.


"Apa anda yakin akan berkunjung ke kota Varun, disaat-saat seperti ini? Apakah tidak berbahaya?" Tanya Jean kepada Lucia saat mereka sedang makan malam di kediaman Lucia.


"Kita akan berjalan diam-diam saja seperti saat kita memasuki dan meninggalkan Varun, dulu" jawab Lucia. "Lagi pula mereka belum pernah melihat ku atau bertemu dengan pemimpin wilayah tanah mati. Berarti aman, kan?" Tambah Lucia.


"Lagi pula aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan Eureka. Aku sangat merindukannya. Kira-kira hadiah apa ya yang harus kuberikan padanya?" Ujar Lucia yang tampak sedang mengingat dan memilah.


"Tapi tetap kita harus berhati-hati" ujar Jean yang sudah tidak di dengar oleh Lucia.


-


Dua hari kemudian mereka pergi menuju kota Varun dengan rombongan kecil. Hanya ada Lucia, Amithy, Jean, Parpera, dan Vossler. Juga 2 ksatria bawahan Vossler. Orland dan Cornelius yang rencananya akan ikut, jadi batal karena Lucia merubah jadwalnya secara mendadak. Mereka memiliki janji yang tidak dapat di pindah hari.


Rombongan tersebut berjalan hanya dengan 1 kereta kuda. Itu pun juga bukan kereta kuda bangsawan. Serta 4 penunggang kuda, yang adalah Jean, Vossler, dan 2 ksatria yang tidak mengenakan seragam. Di dalam kereta juga hanya ada Lucia, Amithy, dan Parpera. Disamping seorang kusir.


Jalanan menuju kota Varun ini sudah cukup ramai. Setidaknya rombongan Lucia berpapasan dengan 3 kereta kuda pedangang dan 2 orang yang berjalan kaki menuju kearah tanah Pharos.


Dan setibanya di kota Varun mereka segera menuju ke kediaman Mateus. Langit sudah tampak gelap saat Lucia melewati jalan yang sudah lama tidak ia lihat. Ia merasa sedang bernostalgia saat ia melewati jalan menuju ke kediaman Matues di kota tersebut.


"Sudah dua tahun lebih semenjak aku meninggalkan tempat ini. Aku rindu" ujar Lucia menatap keluar melalui jendela dari dalam kereta kudanya.


"Dua tahun? Tidak terasa ya?" Ujar Amithy menimpali.


Dan kemudian kereta kuda mereka keluar dari jalan menuju ke kediaman Mateus.


"Lucia!" Teriak seorang gadis mungil sambil berlari menyambut, saat Lucia baru saja turun dari kereta kudanya. Gadis tersebut terlihat sangat gembira.


"Eureka!" Lucia segera memeluk gadis tersebut. "Kau sudah makin besar sekarang"

__ADS_1


"Itu karena aku memakan semua sayuran, seperti yang kau katakan sebelumnya" jawab gadis mungil itu kemudian.


"Pantas saja" ucap Lucia seraya menggendong gadis itu dalam dekapannya, kemudian berjalan memasuki rumah.


Saat Lucia dipindahkan dari istana kotaraja ke kota Varun, dirumah Mateus lah ia tinggal. Lucia tinggal bersama keluarga Mateus selama 3 tahun. Saat Eureka masih berusia 1 tahun. Itulah mengapa Eureka begitu dekat dengan Lucia.


"Berarti sudah berapa tahun umur mu sekarang?"


"Enam tahun" jawab Eureka tampak ceria. "Apa kau membawakan ku hadiah, Luc?" Tanya gadis itu kemudian.


"Sudah pasti. Aku membawa tiga buah hadiah untuk mu"


"Mengapa tidak enam? Umurku kan enam tahun"


"Oh, benar juga. Baiklah, berarti hadiahnya ada enam"


Kemudian, Lucia dan Eureka hilang dibalik pintu.


-


"Barang-barang dari tempatmu itu sangat laku dan dicari orang. Apa lagi sabun dan wewangian itu. Para wanita bangsawan menggilainya" ujar Mateus yang tampak kagum dengan hasil pencapaian Lucia.


"Kami bawakan jenis terbaru lagi dari sabun dan wewangian itu, untuk paman dan bibi coba terlebih dahulu" ucap Lucia kemudian.


"Benarkah? Wah, Zanda pasti akan sangat senang mendengarnya"


"Tapi saya ikut senang, sekarang kota ini jauh lebih ramai dibanding dulu" Lucia berucap.


"Kota ini mulai ramai baru beberapa bulan belakangan. Semenjak kalian membuka penyeberangan tanah Pharos itu" jelas Mateus.


"Benarkah? Dan apa wilayah paman akan baik-baik saja, nantinya?" Lucia bertanya tampak kuatir.


"Maksudmu?"


"Dengan pindahnya jalur perdagangan dari kota Xin, ke kota ini. Apa pemerintahan pusat akan diam saja?"


"Oh, itu? Sepertinya mereka masih belum akan mengawatirkan hal-hal seperti ini" Mateus menjawab.

__ADS_1


"Tapi yang saya dengar, bukankah kerajaan Urbar sudah tidak berperang lagi sekarang?" Lucia terdengar memastikan.


"Memang. Perang memperebutkan Tanah Suci itu memang sudah berakhir. Sekarang kerajaan jadi lebih tenang, dan wilayah daerah tidak lagi diminta untuk mengirimkan prajurit dalam jumlah besar" Mateus menjawab.


"Tapi sepertinya, dengan kekuatan baru mereka, dan juga sekarang posisi penasehat Chris digantikan oleh Tyrion, tampak perang tidak akan berhenti dalam waktu dekat ini" Mateus menambahi.


"Apa aku tidak salah dengar? Tyrion mengantikan posisi tuan Chris? Bagaimana bisa?" Kali ini Amithy yang terlihat terkejut.


"Sepertinya karena paduka raja melihat dan mengakui kemampuannya. Kemenangan kerajaan ini atas perang yang sudah terjadi selama delapan tahun tersebut, adalah karena rencana Tyrion. Dan jelas-jelas berhasil" Mateus mencoba menjawab pertanyaan Amithy dari kabar yang ia tahu.


"Apa kekuatan baru yang dimiliki kerajaan Urbar sekarang ini sangat sangat hebat, paman?" Tanya Lucia kemudian.


"Entahlah, tapi kerajaan Augra yang tadinya tidak mau mengakui kerajaan ini sebagai kerajaan Suci, menjadi tunduk hanya dalam waktu seminggu terakhir ini" jawab Mateus dengan memberikan sebuah contoh.


"Kerajaan ini sudah menjadi api ditengah padang ilalang" saut Amithy kemudian. "Akan terus menyambar dan membakar ke segala arah" tambahnya kemudian.


"Benar. Yang ku kuatirkan adalah, suatu saat perang itu akan mengarah ke tempat mu juga, Luc" ujar Mateus yang terlihat kuatir. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kami juga akan bersiap untuk menghadapi hal tersebut, paman. Terima kasih atas perhatiannya" ujar Lucia kemudian.


-


Dan dua hari kemudian rombongan Lucia bertolak dari kota Varun kembali ke tanah Pharos.


Sehari sebelumnya, Lucia menyarankan pada Mateus untuk Eureka bersekolah di tanah Pharos. Karena disamping memiliki kualitas pendidikan yang bagus, juga ada banyak teman sebayanya di kota tersebut.


Namun menurut Mateus, ia akan bertandang ke tanah Pharos terlebih dahulu, sebelum memutuskannya.


.


Dan kemudian siang harinya, tampak masalah datang. Perjalanan rombongan Lucia tersebut dihadang oleh 25 ksatria berkuda.


"Berhenti!" Teriak pemimpin para ksatria tersebut dari atas kudanya.


Amithy dan Vossler mengenali bentuk zirah dan helm besi yang dikenakan pemimpin tersebut. Pemimpin ksatria itu adalah Percival.


-

__ADS_1


__ADS_2