
Setelah tinggal sehari semalam di kediaman keluarga Ellworth, dan mebicarakan segala hal yang akan Lugwin lakukan dan hal apa yang bisa dibantu oleh Dux Aldrico, akhirnya Lugwin melanjutkan perjalanannya lagi ke kota Yabes. Tempat kediaman Dux Owen. Dua hari dari kota Khelo.
Sama seperti saat berada di kediaman keluarga Ellwotrh, sesampainya Lugwin di kediaman keluarga Barnum ini segera ia disambut oleh penjaga dan pelayan yang tampak telah mengenalnya.
"Bagaimana kabarmu Lug?" Sapa seorang pemuda Narva yang tinggi tegap mengenakan pakaian berpelindung logam mengkilap seperti layaknya para ksatria bangsawan, saat Lugwin berada di ruang tunggu.
"Hans? Aku baik-baik saja, bagaimana kabarmu?" Jawab Lugwin sedikit terkejut mendapati seorang ksatria muda itu.
Hans adaah teman sejak kecilnya bersama Piere. Namun mereka sudah tida pernah bertemu sejak pemuda itu memasuki pelatihan ksatria kerajaan lima tahun yang lalu. Meski Lugwin tahu itu adalah rumah kediaman keuarga Hans namun ia tidak menyangka akan bertemuu dengan pemuda itu disini.
"Aku juga baik-baik saja. Kudengar kemarin kau berada di kotaraja saat Dux Laurant menutup gerbang? Bagaimana kau bisa keluar?"
"Ceritanya panjang. Apakah aku bisa bertemu dengan paman Owen?"
"Ayahanda sedang melakukan pemeriksaan wilayah. Mungkin sebentar lagi beliau kembali"
"Baiklah kalau begitu aku akan menunggunya"
"Ada keperluan apa kau ingin bertemu ayahanda? Sepertinya mendesak sekali"
"Akan ku beri tahu bgitu paman Owen pulang"
"Baiklah, seraya menunggu lebih baik kita makan siang terlebih dahulu" ucap Hans mengajak Lugwin masuk.
-
Tampak pria baya dengan berewok tebal menutupi rahang itu menyandarkan tubuhnya ke belakang seraya meletakkan tangannya keatas pegangan tongkat berbentuk kepala harimau yang ada disebelah kursinya, setelah selesai mendengakan Lugwin bercerita.
__ADS_1
Pria Narva itu adalah Dux Owen. Ayah dari Hans.
Tampak Hans sendiri terlihat terkejut dengan seluruh cerita Lugwin serta tujuannya datang kekediamannya.
"Mungkin paman akan menganggap saya gila"
"Benar sekali"
"Ayah?!"
"Jelas untuk seorang gadis 18 tahun mengajukan permohonan pembentukan sebuah aliansi untuk menghentikan perang adalah hal gila" ucap Owen yang kemudian ia jeda sebentar sebelum kembali berucap, "Terlebih membawa nama sang Oracle yang sudah tiada. Yang sudah tidak bisa memberikan kesaksian apakah yang kau katakan itu benar atau tidak"
Belum juga Lugwin menjawab Owen kembali berucap "Kau bahkan belum tahu cara melakukan negosiasi, membuat hubungan, melihat kepentingan dibalik kepentingan" jedanya sebentar, "Dan bila kau sudah berhasil membuat aliansi itu, apa yang akan kau lakukan untuk menjaga kekuatan itu? Apa yang akan kau lakukan bila ada orang-orang di dekatmu yang menggunakan kekuatan itu tanpa sepengetahuanmu? Atau mencurinya secara langsung darimu? Apa kau sudah mempersiapakan semuanya?"
Lugwin terdiam. Ia masih ingat garis besar dari panduan yang telah ditulis oleh Nata kemarin. Yang perlu ia lakukan hanyalah tenang tidak panik dan mencoba mengingat kembali apa saja panduan itu.
"Bila itu saya sendiri mungkin saya tidak akan bisa menjawabnya paman Owen. Namun sebelum ini sang Oracle sudah memberi tahukan semua hal yang harus saya lakukan" ucap Lugwin menjeda, ia menegakan tubuhnya dan kembali berkata dengan penuh percaya diri, "Meskipun saya memerlukan dukungan dari para keluarga bangsawan lainnya, namun aliansi ini memiliki syarat mutlak yang tidak boleh dilanggar.
"Kedua, tujuan utama saya adalah untuk menghentikan peperangan ini. Bila nanti ditengah jalan ada anggota dari aliansi ini yang berbeda pandangan dan tujuan, maka saya tidak akan segan untuk memintanya keluar dari aliansi ini.
"Dan juga untuk pengaturan strategi, saya sendiri yang akan melakukannya. Karena itu adalah ucapan sang Oracle kepada saya. Jadi saya tidak membutuhkan ahli strategi. Bila mereka tidak mempercayainya, mereka boleh meminta saya untuk membuktikannya" Lugwin menutup penjelasan panjangnya dengan percaya diri.
Terlihat wajah Owen dan Hans terkesan dengan jawaban Lugwin barusan.
"Sebelum ini saya juga sudah mendatangi paman Eldmo, tuan Aldrico, dan tiga hari lagi saya akan mengumpulkan para kepala keluarga cabang dari keluarga kerajaan untuk membicarakan hal ini" tambah Lugwin kemudian.
"Mengagumkan Lug. Rencanamu, tekatmu, kepercayaan dirimu, kau tidak seperti gadis yang selama ini kukenal. Apa yang membuatmu dewasa dengan cepat seperti ini" ujar Owen yang terlihat sangat puas dengan jawaban Lugwin, "Lagipula kau memang seorang Arcdux. Keluarga Barnum akan selalu ada dibelakang mu" tambahnya kemudian.
__ADS_1
Hans pun tampak puas sekaligus kagum melihat ketegasan dan rasa percaya diri Lugwin. Sementara itu Lugwin hanya dapat tersenyum lega.
-
Lima hari kemudian pertemuan antara kepala keluarga cabang dari keluarga kerajaan yang telah diatur oleh Eldmo, di adakan di desa Dyms.
Hadir lima dari delapan keluarga yang diundang untuk datang. Namun pertemuan itu tidak berjalan dengan lancar. Pertemuan itu berakhir dengan perdebatan antar kepala keluarga yang hadir.
-
"Hari yang berat putri" ujar Matiu menatap Lugwin yang tampak lelah duduk dihadapannya setelah akhirnya pertemuan yang tidak menghasilkan apa-apa itu dibubarkan.
"Benar paman. Apakah mereka akan percaya dan meminjamkan kekuatan mereka?"
"Kita tidak bisa menyalahkan mereka juga, dalam hal seperti ini di situasi seperti ini memang akan sulit untuk membuat mereka percaya"
"Bila mereka tidak mau membantu, masih ada keluarga Ellworth yang akan selalu mendukungmu apapun yang terjadi"
"Juga keluarga Barnum"
"Oh, Piere, Hans, kalian datang?" Lugwin terkejut mendapati dua teman kecilnya itu muncul di penginapannya.
"Bagaimana perjalanan anda tuan Piere? Tuan Hans?"
"Baik tuan Matiu" jawab kedua pemuda itu nyaris bersamaan.
"Apa yang sedang terjadi?" Hans bertanya kemudian.
__ADS_1
"Biarkan aku beristirahat terlebih dahulu" ujar Lugwin yang tampak malas harus mengingat dan menceritakan lagi hal yang terjadi dipertemuan tadi.
-