Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
06. Jawaban Kebenaran


__ADS_3

Seminggu kemudian mereka sampai di bibir hutan sisi timur desa Baltra, desa tempat tinggal Couran. Hanya perlu sehari perjalanan lagi mengelilingi bibir hutan untuk sampai ke desa tersebut.


Dan juga sudah seminggu lebih, Aksa dan Nata mengenakan baju Couran yang tampak kekecilan. Namun mereka terlihat sudah terbiasa dengan hal tersebut. Kini Nata sudah mulai lancar berbahasa, mengejar Aksa yang sudah mulai fasih dari lima hari sebelumnya.


.


"Jadi dari mana kalian berasal? Dan apa hubungan kalian dengan awan aneh di langit pada waktu itu?" Lucia akhirnya mengajukan pertanyaan yang telah menjadi misteri terbesarnya selama sepuluh hari belakangan.


Mereka sedang beristirahat di pingiran hutan, siang itu. Dan menurut Lucia, sekarang adalah saat yang tepat untuk menayakan hal tersebut. Di samping mereka yang sudah mulai akrab dan sudah mulai fasih berbahasa, juga karena sehari lagi mereka mungkin akan berpisah.


"Awan aneh?" Aksa terlihat tak mengerti.


"Mungkin yang dimaksud adalah Portal Dimensi itu," ucap Nata mencoba menjelaskan.


"Oh itu. Benar, kami sebenarnya adalah utusan para dewa untuk menegakkan kebajikan di dunia ini," jawab Aksa kemudian.


"Benarkah?!" Lucia, Jean, dan juga Couran nyaris berteriak secara bersamaan.


"Hentikan, Aks. Bukan. Kami bukan utusan dewa. Jangan percaya omong kosong bocah ini," sela Nata yang membuat wajah Lucia, Jean, dan Couran terlihat lega, kecewa dan juga jengkel di saat yang bersamaan.


"Jadi sekarang bawa aku ke Relik Legendaris yang harus kucabut," ucap Aksa yang sekarang mulai diacuhkan oleh yang lain.


Nata menggeleng pasrah menatap kelakuan Aksa, namun setelah itu wajahnya berubah menjadi lebih serius. Seolah sedang meminta persetujuan Aksa dengan tatapannya. Aksa pun kemudian mengangguk kecil seolah memberi ijin.


"Jadi sebenarnya, kami berdua berasal dari planet lain. Singkatnya kami secara tidak sengaja terlempar kemari dengan alat percobaan kami sendiri," ucap Nata mencoba menjelaskan.


"Salahkan siapa?" sela Aksa yang direspon tatapan sinis oleh Nata.


"Planet?" Lucia terlihat tak mengerti maksud dari kata tersebut.


"Maksud saya adalah dunia lain," ucap Nata memberi penjelasan.


"Dunia lain?! Jadi benar perkiraan, Tuan Couran," ujar Lucia yang tampak tak percaya dua pemuda itu dari dunia lain. Karena sebelumnya ia menyangka bahwa Aksa dan Nata hanya salah menggunakan sihir pemindah dan berakhir sial di tanah Pharos.


"Jadi kalian kemari menggunakan semacam sihir pemindah? Atau sihir pemanggil?" Kali ini Couran yang terlihat sangat penasaran, karena dugaannya selama ini ternyata benar.


"Bukan, kami tidak bisa menggunakan sihir. Kami menggunakan ilmu pengetahuan," jelas Nata lagi.


"Tidak bisa sihir? Mana ada orang yang tidak bisa sihir di dunia ini? Bahkan Getzja pun masih bisa melakukannya untuk memulihkan diri. Dan ilmu pengetahuan mana yang bisa memindahkan manusia dari dunia lain?" Kali ini Jean yang tampak tidak percaya. Seolah Nata sedang mempermainkannya.


"Yah, suatu saat peradaban kalian juga akan sampai di masa di mana ilmu pengetahuan adalah bentuk baru dari sebuah sihir," jawab Nata dengan ringan.


"Peradaban kami saat ini? Jadi apakah kalian memiliki peradaban yang lebih maju dari pada peradaban kami sekarang?" Tampak Couran bertanya dengan antusias baru lagi.

__ADS_1


"Ya, karena kami belum secara penuh mengerti dan mengenal tentang peradaban dunia ini, jadi mungkin saja seperti itu," jawab Nata masih dengan ringan, yang membuat Couran mulai dipenuhi dengan dugaan liarnya sendiri.


"Jadi kalian boleh percaya boleh tidak, tapi itulah kebenarannya," tambah Nata kemudian.


"Dan kemudian, apa yang akan kalian lakukan setelah ini?" Lucia bertanya meski terlihat masih penuh dengan keraguan.


"Entahlah, mungkin kami akan mencari cara untuk kembali ke dunia kami," jawab Nata kemudian. "Jadi setelah kalian tahu yang sebenarnya, maka sudah tidak aneh lagi kan, kalau aku ingin bertanya tentang hal-hal umum dunia ini?"


"Jadi pertama-tama, dimana kalian sembunyikan Relik Legendaris, itu?" sahut Aksa sebelum Nata sempat meneruskan ucapannya.


"Acuhkan dia," timpal Nata dengan cepat. "Jadi apa benar daratan yang disebut dengan Elder ini punya sebuah kerajaan?" tanyanya kemudian.


"Benar sekali," jawab Couran dengan cepat.


"Wilayah daratan utara ini terbagi menjadi tiga kerajaan. Kerajaan Estrinx di timur, Kerajaan Cilum dibarat, dan kerajaan terbesarnya ialah Elbrasta, yang terletak ditengah-tengah dataran ini. Sedang wilayah selatannya terdapat lebih banyak lagi kerajaan-kerajaan kecil," jelas Lucia kemudian.


"Berarti ada kalangan bangsawan dan rakyat biasa?" Nata melanjutkan pertanyaannya.


"Benar," jawab Lucia lagi.


"Dan kerajaan menarik pajak dari daerah melewati para bangsawan ini?"


"Iya."


"Memang kenapa kau tanyakan hal tersebut?" Lucia terlihat penasaran.


"Kami hanya memastikan sebelum kami menuju kota besar suatu saat nanti," jawab Nata kemudian. "Oh iya, kami ingin memastikan satu hal lagi. Ini tentang sihir. Bagaimana sebenarnya cara kerja penggunaan sihir itu?"


"Apa kau bercanda? Kau tidak tahu cara sihir bekerja?" Jean masih belum percaya, bahwa Aksa dan Nata berasal dari dunia lain.


"Kami tidak bercanda. Ingat, kami bukan dari dunia ini," jawab Nata kemudian.


"Jadi untuk mengeluarkan sihir, kita harus berkonsentrasi untuk menggunakan... " belum juga Lucia selesai berucap,


"Mana!" Aksa sudah menyahut.


"Apa itu Mana?" tanya Lucia yang baru pertama kali mendengar kata tersebut.


"Sudah jangan dihiraukan, lanjutkan saja penjelasan Anda, nona Lucia," saut Nata kemudian.


"Kita perlu menggunakan aliran...."


"Cakra? Chi? Aura? Ki? Force?" Aksa kembali menyela dengan rentetan tebakan.

__ADS_1


"Bukan, tapi menggunakan aliran Jiwa," ujar Lucia yang terdengar mulai jengkel dengan Aksa.


"Yah, namanya ga keren," celetuk Aksa kemudian.


"Maksudnya?" Kali ini Nata yang bertanya.


"Setiap manusia hidup selalu memiliki aliran Jiwa dalam tubuh mereka. Aliran ini adalah energi yang dapat beresonansi dengan energi alam." Ganti Couran yang menjelaskan lebih rinci.


"Oh, jadi kita hanya perlu menggerakan energi ini untuk mempengaruhi energi alam di luar tubuh?" Nata mencoba memastikan.


"Benar, begitulah cara sihir digunakan." Couran menjawab dengan cepat.


"Wow, remote control energi," celetuk Aksa lagi.


"Apa itu remot kontrol?" tanya Jean yang belum pernah mendengar kata itu sebelumnya. Tapi tidak dihiraukan oleh Nata dan Aksa.


"Berarti penggunaan sihir itu tergantung dari seberapa ahlinya kita untuk menggunakan energi tersebut? Aliran Jiwa itu?" Sekali lagi Nata mencoba memastikan.


Couran dan Lucia mengangguk nyaris bersamaan.


"Sepertinya kami akan tetap mengunakan Ilmu pengetahuan saja," ucap Nata kemudian.


"Iya. Jauh lebih mudah," sahut Aksa yang direspon senyuman tak nyaman dari Lucia dan Couran.


"Jadi Jean, apa sihir yang bisa kau keluarkan?" Giliran Aksa yang sekarang mengajukan pertanyaan. Yang kali ini ditujukan secara pribadi untuk Jean.


"Sihir penguat," jawab Jean tanpa jedah berpikir.


"Apa kau bisa tunjukan padaku seperti apa sihir penguat itu?" pinta Aksa kemudian.


Jean menjawab permintaan Aksa dengan terlihat berkonsentrasi, kemudian mengarahkan tangan kanannya ke arah dada, dan kemudian permukaan plat logam pelindung tubuhnya mulai menyala biru redup. Jean tampak puas mendapati Aksa dan Nata terperangah melihat pertunjukan kecil dari sihir yang dia buatnya itu.


"Wow! Kupikir, seperti apa bentuk dari sihir itu? Ternyata untuk membuat plat besi jadi menyala biru seperti itu. Apa sihir itu bermaksud untuk membuat lawan mu terpesona, Jean?" tanya Aksa kemudian.


"Ucapkan hal itu sekali lagi dan akan kubuat kau merasakan dinginnya logam pedang ku, Bocah!" Jean terlihat sudah tidak dapan menahan emosinya.


"Jean!" Lucia segera menghardik Jean akan kata-katanya yang tidak sopan.


"Hei, aku hanya bertanya," ucap Aksa menimpali.


"Semenjak kau lancar berbicara, kau jadi semakin menjengkelkan, Bocah. Lebih baik kau tetap diam dan tak tau apa-apa seperti sepuluh hari yang lalu," geram Jean kemudian.


-

__ADS_1


__ADS_2