Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
31. Asisten Baru


__ADS_3

"Oh, jadi begitu? Sekarang jadi masuk akal. Barang-barang kita terlempar di waktu yang berbeda, tapi masih di koordinat yang sama" ujar Nata saat Aksa selesai menceritakan tentang apa yang ia temui di dalam gua Ceruk Bintang.


Mereka berada di dalam tenda mereka yang di dasar Ceruk Bintang. Tepat setelah Aksa dan rombongannya kembali dari penjelajahan mereka.


"Ya. Maka dari itu, ada kemungkinan besar alat Pemecah Partikel ada disekitaran tempat ini" ucap Aksa yang tampak serius.


"Itu juga bila tidak hancur bersama hancurnya peradaban Pharos" saut Nata yang terdengar pesimis.


"Iya, itu juga memungkinkan. Tapi, tetap kita harus mencoba membongkar gua tersebut" Aksa terlihat masih optimis.


"Jadi kita benar-benar memerlukan alat tambang dari mineral anti logam?"


"Apa kau sudah ada ide buat itu, Nat?"


"Tenang saja. Besok aku akan bicarakan dengan Val. Terlebih besok sepertinya kita akan kedatangan tamu negara untuk pertama kalinya" ujar Nata menambahi.


"Siapa?"


"Lugwin. Dia akan datang berkunjung" jawab Nata.


"Wah, benarkah? Aku kangen dengan putri cantik yang satu itu" terlihat Aksa merubah wajah seriusnya dengan senyum mengembang.


"Oh, dan satu lagi yang pasti akan membuatmu lebih senang" tampak Nata seperti sedang menunggu reaksi dari Aksa.


"Apa lagi?" Aksa tampak bersemangat.


"Loli Elf mu sudah kembali" jawab Nata singkat.


"Benarkah?" Wajah Aksa semakin tampak bahagia. "Kali ini kau sudah charge HP mu, kan?" Tanya Aksa, yang dijawab Nata dengan anggukan.


"Yes! Berarti besok, aku akan minta Elf itu buat selfie bareng. Oh, Lugwin juga sekalian" Aksa tampak sumringah, saat kemudian terdengar suara.


"Permisi, tuan Aksa" Seseorang memasuki tenda. Itu adalah Rafa.


Gadis itu mengenakan pakaian yang lebih menyerupai gaya berpakaian Aksa, sekarang.


Mengenakan jaket bertudung kepala berwana cokelat. Di dalamnya tampak baju terusan dari benang kapas berwarna gading yang panjangnya hingga menyentuh mata kaki. Menutupi sebagian sepatu bot yang ukurannya hingga tulang kering.


Menggunakan ikat pinggang dengan sebuah tas kecil bermotif terpasang dibagian belakangnya.


"Oh, anda sudah datang, nona Rafa?" ucap Aksa kemudian.

__ADS_1


Tampak Nata bangkit dari kursinya kemudian menyapa Rafa. "Nona Rafa"


"Tuan Nata" Rafa mengangguk kecil. Tampak anggun dan feminim.


"Silahkan duduk" ujar Nata mempersilahkan Rafa duduk di kursi disebelahnya. "Kau ada perlu apa dengan nona Rafa, Aks?" Tanyanya kali ini kepada Aksa.


"Mulai hari ini, aku mau mengangkat nona Rafa menjadi asistent pribadiku" jawab Aksa ringan.


"Menjadi apa?" Terdengar Nata sedikit terkejut mendengar ide konyol sahabatnya kali ini.


"Maaf, apa itu asisten?" Rafa tampak belum paham dengan apa yang sedang Aksa dan Nata bicarakan.


"Sama seperti Marco yang selalu membantu Val dalam bekerja. Jadi, aku ingin meminta anda membantuku dalam bekerja" ujar Aksa menjelaskan maksudnya pada Rafa.


"Maaf, saya?! Menjadi pembantu anda?" Terlihat Rafa terkejut mendengar Aksa baru saja.


"Apakah kau tidak mau? Aku akan menggajimu dengan gajiku, bagaimana?"


"Jangan bicara ngawur. Kau tidak ada yang menggaji"


"Anda salah paham, tuan Aksa. Saya mau sekali" potong Rafa cepat. Tampak gadis berambut pendek itu tersenyum gembira.


"Syukurlah kalau begitu. Rencana aku akan menawarkan rumah, bila anda masih tidak mau"


"Coba nona Rafa, sekarang aku ingin bertanya. Apa yang anda tahu tentang Energi Kinetis?" Tanya Aksa tiba-tiba.


"Sebuah daya yang digunakan untuk menggerakan sebuah benda hingga dalam kecepatan tertentu?" Jawab Rafa cepat namun tampak sedikit ragu.


"Kalau Oksigen?"


"Unsur kimia yang ada hampir dalam berbagai hal. Misalnya, dalam aliran darah kita, dalam udara yang kita hirup saat ini, juga di dalam air?" Jawab Rafa lagi masih dengan ragu dan bingung kenapa Aksa tiba-tiba menanyakan hal acak seperti itu.


"Wah, mengesankan. Pantas Aksa mengakui anda, nona Rafa" Nata tampak benar-benar terkesan dengan pengetahuan Rafa.


"Anda mengakui saya, tuan Aksa?" Rafa tampak terkejut mendengar pernyataan dari Nata.


"Jelas. Dari semua orang yang ku temui selama ini, hanya anda yang paling cepat paham dan mudah mengerti. Disamping anda juga cantik" Aksa menjawab cepat.


"Kenapa kau jadi genit?"


"Siapa yang genit? Memang kau pikir dia tidak cantik?"

__ADS_1


"Anda memuji saya, tuan Aksa?" Rafa masih belum sepenuhnya mencerna ucapan-ucapan Aksa dan Nata.


"Tapi, nona Rafa. Anda harus tahu, bahwa tabiat Aksa itu tidak seperti orang pada umumnya" ujar Nata kemudian.


"Kalau tentang hal tersebut, saya sudah mengerti, tuan Nata. Saya sudah bekerja bersama tuan Aksa selama dua bulan" jawab Rafa tampak tegas.


"Baguslah kalau begitu. Anda bisa mengadu pada saya, bila Aksa bertindak aneh terhadap anda"


"Pengerajin kita sudah berhasil membuat cermin, kalau kau mau tahu, Nat?" Saut Aksa.


Dan kemudian mereka berdua mulai berdebat seperti biasa, sampai akhirnya di hentikan karena Rafa yang tiba-tiba menangis.


"Kenapa anda menangis? Apakah anda lapar?" Ucap Aksa kemudian, tampak mulai panik.


"Apa anda menyesal sudah berkata 'Ya', pada Aksa?" Tanya Nata yang juga terlihat sama paniknya dengan Aksa.


"Tidak, bukan begitu. Saya hanya merasa sangat bahagia" ujar Rafa yang buru-buru menyeka air matanya, meski ia belum juga berhenti menangis.


"Mungkin hal ini tidak akan anda berdua pahami, tapi garis keturunan saya tidaklah murni. Ibu saya adalah keturunan Narva dan Seithr, sedang ayah saya adalah murni Seithr. Hidup sebagai keturunan dari darah campur dalam kerajaan, sangatlah berat" Rafa bercerita dengan sedikit sesenggukan.


"Sekeras apa saya berusaha, setinggi apa posisi saya, tetap tidak ada yang mengakui atau memuji saya. Karena saya bukan darah murni" tambahnya lagi.


"Dan baru kali ini dalam hidup, saya dipuji dan diakui oleh orang selain orang tua saya. Saya sangat bahagia" Rafa tampak menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Suara tangisnya semakin kencang terdengar.


"Sudah, berhentilah menangis, nona Rafa. Mulai sekarang anda akan sering dipuji oleh orang. Jadi, jangan mudah menangis karena pujian sedikit" ujar Nata seraya menyentuh pundak Rafa.


"Terima kasih, tuan Nata. Mulai sekarang saya akan mempersiapkan diri untuk menerima banyak pujian" ujar Rafa kemudian dengan suara yang kembali bersemangat.


"Sekarang anda terlihat seperti asisten utusan dewa" saut Aksa kemudian.


-


Terlepas dari Aksa dan rombongannya yang baru saja kembali, Lucia dan yang lain tampak sibuk semingguan ini. Mereka mempersiapkan penyambutan untuk Lugwin, yang sekarang adalah seorang ratu kerajaan Estrinx.


Disamping Lucia ingin mengesankan Lugwin, juga sekaligus, ia ingin memperkenalkan potensi kotanya pada para bangsawan petinggi kerajaan Estrinx yang mungkin akan ikut datang bersama Lugwin nantinya.


-


Pagi berikutnya, Nata dan Aksa masih sempat untuk mengadakan pertemuan dengan Val, Haldin, Couran, Go, dan Rafa, sebelum kedatangan Lugwin. Mereka membahas tentang penambangan batu magnet dan pembongkaran gua tersebut untuk penyelidikan lebih lanjut.


Setelah itu mereka harus bersiap di Kota Utara untuk menyambut Lugwin. Hanya beberapa orang saja yang datang menyambut Lugwin. Para bangsawan dan orang-orang yang mengenal Lugwin.

__ADS_1


-


__ADS_2