Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
14. Pertempuran Gerbang Selatan


__ADS_3

Tampak tiga formasi pasukan kerajaan Urbar dengan masing-masing terdiri dari 200 prajurit, dan 50 penyihir, bersama 6 alat pelontar batu, berarak-arak maju menuju kearah gerbang selatan dari perkemahan mereka.


Cahaya berwarna biru langit terlihat membentang dihadapan tiga formasi pasukan tersebut. Itu adalah pelindung sihir untuk menahan serangan dari arah gerbang selatan.


"Sepertinya saya melihat ada beberapa penyihir tambahan dibelakan para penyihir yang sedang mengeluarkan sihir pelindung tersebut" ucap Parpera setelah mengamati arak-arakan lawan dengan teropong. "Mungkin ada penyihir angin diantara mereka, untuk mengantisipasi bila kita menggunakan serangan bom asap lagi" tambahnya.


"Mereka cepat belajar" ujar Nata menanggapi.


"Lalu bagaimana kita akan menyerang mereka kali ini?" Tanya Lucia yang masih sesekali mengintip teropongnya kearah arak-arakan pasukan kerajaan Urbar, karena merasa cemas.


"Kurasa mungkin mereka juga sudah menyiapkan perlindungan bila ada serangan datang dari atas" Parpera tampak menambahi dengan tebakan.


"Itulah kenapa kemarin kita menunjukan kekuatan senjata kita pada mereka" ujar Nata menanggapi pertanyaan Lucia. "Agar mereka terpaku untuk mencari cara bagaimana menghadapi serangan kita sebelumnya. Dan tidak memikirkan kemungkinan yang lain, yang bisa kita lakukan" tambahnya kemudian sembari berjalan menuju ketempat dimana Aksa telah memasang senjata yang lain di dinding tebing gerbang selatan itu.


Senjata itu berbentuk seperti tabung bambu dari besi yang berdiri menghadap keatas. Sangat sederhana dengan kaki-kaki penyangga yang menopang salah satu sisinya, yang menyebabkan tabung itu tidak benar-benar lurus berdiri. Melainkan sedikit mencondong.


Baik Aksa ataupun Nata, menyebut senjata itu dengan Mortar.


Disebelah kiri senjata tersebut terdapat sebuah kotak kayu. Di dalamnya, diantara jerami kering sebagai pelapis, terdapat 20 peluru yang berbentuk seperti tabung besi oval dengan bagian kepala berbentuk kerucut, dan bagian ekor terdapat sirip dan baling-baling. Tampak pula dibagian badannya terdapat penanda berwarna merah.


Semua orang yang ada ditempat itu tampak serius memperhatikan saat Nata melakukan pengukuran sudut dan lain sebagainya dari senjata tersebut.


Lalu setelah Nata memasukan peluru kedalam tabung besi tersebut, segera ia menarik tali yang menjadi pelatuk untuk senjata tersebut.


Suara ledakan terdengar menggaung mengejutkan semua orang yang ada di gerbang selatan tersebut. Dan dengan segera, peluru tadi meluncur cepat ke angkasa dengan susra desing angin yang terdengar kencang.


Dan begitu isi dalam tabung besi itu kosong, Nata segera memasukan peluru lagi. Kemudian suara ledakan terdengar lagi, bersamaan dengan satu peluru meluncur lagi ke angkasa.


\=\=\=


Semua orang dalam arak-arakan pasukan, tampak waspada mengantisipasi bunyi ledakan dan dua benda yang meluncur ke angkasa dari dinding gerbang Pharos.


Beberapa penyihir sudah bersiap merapal sesuatu untuk melindungi bagian atas pasukan tersebut.


Namun tampaknya dua benda yang meluncur dari arah gerbang Pharos itu terlalu melebar, sehingga melewati arak-arakan tiga pasukan tersebut.

__ADS_1


"Apa mereka salah perhitungan?" Ujar Tristan yang berada di tengah barisan saat melihat benda yang meluncur tadi lewat diatasnya.


"Apa yang mereka gunakan hingga dapat melempar benda sampai sejauh itu? Bahkan pelontar batu saja tidak akan dapat melakukannya" Tampak Joan yang berada bersama dengan salah satu pasukan itu mengamati kemana kira-kira arah jatuh benda tersebut.


Dan kemudian wajah Joan mulai tampak pucat. "Jangan-jangan, mereka menyasar perkemahan?!" Ucapnya kemudian saat tak lama berselang, suara dua ledakan terdengar dari arah perkemahaan mereka. Dengan api yang tampak membumbung tinggi keatas.


"Apa yang terjadi?" Tampak Bedivere yang berada di formasi pasukan sebelah kanan terkejut mendengar suara ledakan tersebut.


"Sial, mereka mengincar perkemahan kita" terdengar Tristan yang berada di formasi pasukan sebelah kiri itu, tidak percaya.


"Jangan panik! Jangan sampai lengah. Kita masih berada dalam jangkauan serang senjata lawan. Tetap pertahankan pelindung sihir" terdengar Gawain berteriak dari formasi pasukan bagian tengah.


"Pasukan ku akan mundur untuk mengurus perkemahan, kalian berdua terus maju" ujar Bedivere kemudian. Yang segera memerintah pasukannya untuk berputar kembali menuju perkemahan.


Tampak Joan mengikuti pasukan Bedivere kembali ke perkemahaan.


\=\=\=


Semua orang yang ada di gerbang selatan tampak tidak percaya bahwa serangan mereka dapat menjangkau perkemahan lawan yang mungkin berjarak sepuluh kali jarak tembak busur panah. Dan bahkan berhasil menghancurkannya.


Tampak api yang membumbung dari perkemahan lawan membuat para prajurit bersorak sorai.


"Apa yang anda gunakan untuk bisa menghasilkan ledakan dan membakar perkemahan mereka itu, tuan Nata?" Caspian terlihat penasaran.


"Dengan menggunakan alkohol dan amonia, yang dipadu dengan bubuk mesiu. Campuran tiga hal itu akan menimbulkan dampak ledakan yang akan membakar segala hal dalam radius ledakannya" Nata menjelaskan.


"Dampaknya sama seperti sihir api dan sihir ledakan" ujar Parpera kemudian.


"Namun, kita bisa melemparkannya sampai sejauh itu. Dan tanpa menggunakan aliran Jiwa sama sekali" tambah Caspian yang terlihat kagum.


"Benar. Ini sama dengan kita memiliki penyihir sebanyak prajurit yang kita punya" Jean menambahi.


Sementara itu, tampak satu pasukan dari kerajaan Urbar tadi mundur kembali ke perkemahan mereka, sedang dua pasukan sisanya masih tetap maju menuju kearah gerbang.


"Padahal kuharap mereka membatalkan serangan ini" ujar Nata yang terlihat mulai muram. Seraya kembali menuju ketempat senjata bernama Mortar itu berada.

__ADS_1


Lucia juga tampak sepemikiran dengan Nata. Ia berharap pasukan lawan mundur dan menyudahi penyerangan konyol tersebut.


"Mereka kembali menyerang dengan menyatukan dua pasukan sebelumnya menjadi satu barisan besar" ujar Caspian setelah mengetahui pasukan lawan masih terus bergerak maju. Meski hanya dua formasi sekarang.


"Tapi bukankah selama para penyihir tersebut masih memasang pelindung sihir mereka, kita tidak akan bisa melukai mereka?" Jean memastikan seraya mengamati Nata yang mulai kembali mengukur kemiringan dari senjata Mortar tersebut.


"Benar. Tapi pelindung sihir itu punya kelemahan" jawab Nata yang terlihat masih melakukan pengukuran.


"Benarkah?"


"Karena sekarang mereka beriring-iringan panjang kebelakang, maka bagian atas dan sisi kiri juga kanan pasukan itu terlalu luas untuk dilindungi oleh para penyihir tersebut" jawab Nata. "Dan bila mereka membagi para penyihir secara rata ditiap bagian, maka kekuatan sihir mereka akan berkurang" tambahnya seraya membuka kotak kayu lain yang berisi 20 peluru baru yang serupa dengan peluru sebelumnya, hanya saja memiliki tanda berwarna hitam pada sisi badannya.


"Benar juga" Jean terlihat mengangguk.


"Tapi itu masuk akal, karena lawan mereka berada di depan" ucap Nata menambahi, seraya memasukan peluru dengan tanda berwarna hitam tadi kedalam tabung besi dihadapannya itu. "Sayangnya, lawan mereka yang tidak masuk akal" tambahnya lagi.


Dan kemudian peluru itu meluncur keatas dengan suara ledakan seperti sebelumnya, saat Nata menarik tali pelatuknya.


Tampak pasukan lawan mulai bersiap-siap terhadap benda yang baru saja diluncurkan dari arah gerbang selatan itu tadi. Para penyihir kembali menyiapkan rapalan untuk membuat pelindung sihir disisi bagian atas.


Namun kali ini arah jatuh peluru tersebut tepat di samping kiri barisan belakang pasukan kerajaan Urbar.


Dan begitu peluru tersebut menghantam tanah, ledakan besar terjadi. Meski para penyihir sudah siap menghadang dengan sihir pelindung mereka, namun tekanan udara dan kekuatan ledakan tersebut berhasil melempar bukan hanya para penyihir, tapi sebagian dari prajurit dan pasukan berkuda disisi kiri barisan belakang tersebut.


Para penyihir tampak tidak terluka serius karena pelindung sihir yang mereka pasang. Namun tetap berhasil merusak formasi yang mereka punya. Beberapa kuda pun terlihat terkejut dan mulai tampak panik tidak terkendali.


Dan belum mereka selesai menangani hal tersebut, puluhan peluru meluncur lagi menuju kearah dua pasukan yang sedang berbaris itu. Menyasar sisi kiri dan kanan disepanjang barisan. Yang menyebabkan kekacauan formasi secara mendadak.


Setelah berusaha untuk terus bertahan, tepat pada ledakan ke sepuluh, pelindung sihir pasukan kerajaan Urbar itu akhir terpecah juga.


Dan dampak ledakan dari peluru yang masih terus berjatuhan setelah itu, membuat puluhan prajurit dan penyihir terlempar ke angkasa bersama dengan debu dan tanah yang berhamburan.


Dari atas tebing gerbang selatan, tampak Lucia menatap miris pemandangan yang ada dihadapannya tersebut. Dibarengi dengan sorak sorai kegembiraan yang kontras dari para prajurit dan penyihir ditempat itu.


Nata melirik Parpera yang terdiam menyaksikan pemandangan tersebut dengan wajah terlihat tidak nyaman, disebelah Lucia.

__ADS_1


"Ini bukan sebuah pertempuran, kan?" Ucap Nata kemudian.


-


__ADS_2