Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
02. Gua Ceruk Bintang


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Nata dan Aksa terlihat berbincang di tenda di depan mulut gua Ceruk Bintang yang sudah ramai oleh para pekerja tambang. Tampak pula dalam tenda tersebut ada Lily, Rafa, Couran dan Yvvone.


Mereka sudah memasang penyangga dan sebuah rel disepanjang gua tersebut. Setelah mereka berhasil mengambil semua batu magnet yang berada di sepanjangan dindingnya.


Kini batuan magnet itu sudah mulai digunakan oleh Aksa dan Nata sebagai bahan untuk membuat beberapa benda. Salah satunya adalah pembangkit listrik. Meski masih dalam sekala kecil.


"Semua tulisan yang kita temukan tidak merujuk pada bukit Jasvar atau tentang Musvar. Bahkan menyinggung sang Oracle pun tidak sama sekali" Aksa menyandarkan tubuhnya kebelakang. Yang menyebabkan kursi kayu tempatnya duduk tersebut terdengar berderak-derak kasar.


Pemuda itu menatap layar Laptop nya yang kini sudah memiliki tenaga untuk digunakan. Sebuah tungku uap dengan besi gardan yang menyambung pada sebuah benda yang disebut Aksa sebagai Generator Listrik, berada tak jauh dari tempatnya duduk. Dari alat tersebutlah, Laptop Aksa mendapatkan tenaga.


"Lalu apa bunyi tulisan-tulisan itu?" tanya Nata yang menggeser tempatnya duduk mendekati Aksa agar dapat melihat kearah layar laptopnya.


Tampak dalam layar laptop tersebut gambaran dari dinding-dinging batu gua yang dipenuhi oleh lambang, yang diambil menggunakan Smartphone milik Nata.


Terlihat Lily sangat tertarik, setelah sekian lama akhirnya ia bisa melihat benda tersebut bekerja. Begitu juga Val, saat ia melihat alat tersebut menyala untuk pertama kalinya seminggu yang lalu.


Sedang Couran dan Rafa kini tampak sudah tidak terkejut lagi melihat alat-alat tersebut. Meski mereka masih penasaran dan belum terbiasa. Sementara Yvvone terlihat sangat tertarik. Gadis Elf itu tampak seperti Lily saat melihat benda-benda itu untuk pertama kali.


Hanya orang-orang yang bekerja di dasar Ceruk Bintang lah yang mengetahui keberadaan alat tersebut. Akas dan Nata tidak berusaha untuk menyembunyikannya lagi sekarang. Tapi mereka berdua juga tidak berniat untuk memamerkannya.


Kemudian Aksa menunjuk salah satu dari empat potongan gambar di layar laptop tersebut. "Yang tepat di dinding batu ujung gua itu, hanya berisi sebuah puisi yang bermaksud seperti monumental atau peringatan" ucapnya kemudian.


"Di sisi sebelah kiri menceritakan tentang keturunan-keturunan besar raja Pharos. Sedang yang di sebelah kanan menceritakan tentang kerajaan Pharos tersebut," lanjut Aksa yang kini bukan hanya Nata saja yang sedang melihat layar laptopnya. Terllihat Yvvone dan Lily berdiri tepat disamping Aksa, serta Couran dan Rafa yang berdiri di belakangnya.


"Sama sekali tidak ada hal yang mengungkit 'Tiga Bulan Di Atas Bukit Jasvar', itu?" tanya Nata yang kali ini sudah kembali menarik kursinya ke posisinya semula.


"None. Zero" jawab Aksa menggeleng.


"Jadi memang benar berarti bahwa lambang itu bukan sebuah kata, tapi penggambaran sebuah benda?" Nata kembali ke hadapan bukunya.


"Seperti kecurigaan kita sebelumnya. Itu bisa jadi alat Pemecah Partikel. Dan menurut perkiraan ku, pasti keterangan lebih lanjutnya ada dibalik dinding tersebut" ujar Aksa yang kali ini berdiri dari kursinya untuk memberikan Lily dan Ivvone posisi yang lebih nyaman melihat layar laptop tersebut.


"Yang sampai saat ini tidak bisa kita bongkar, itu?" Saut Nata memastikan.


"Entah terbuat dari apa, tapi dinding itu sangat keras. Mata bor kita tidak bisa menembusnya. Bahkan kristal Cyla tidak meninggalkan bekas sama sekali pada dinding tersebut" kini Aksa duduk di kursi diseberang meja Nata.


"Bukannya sudah ku bilang. Itu adalah kotak penyimpanan buatan marga Shuuran. Kalian tidak percaya, sih" saut Yvvone tiba-tiba. Masih berdiri di sebelah Lily di depan laptop Aksa.


"Bukannya kami tidak percaya. Kami hanya mencoba yang kami bisa terlebih dahulu." Nata menjawab.


"Lalu bagaimana cara untuk menghilangkannya?" Kali ini Aksa yang bertanya.


"Harus oleh marga Shuuran juga." Yvvone menjawab singkat.

__ADS_1


"Sebentar, aku tidak mengerti maksudnya? Bukankah sihir sama saja?" Aksa bertanya lagi.


"Tidak sama. Sihir punya beberapa jenis. Ada sihir penguat, penyembuh, elemen, dan penggunaan aliran Jiwa dengan cara yang lain, seperti Penjinak dan Druid"Jelas Yvvone yang di setujui oleh Lily dan Rafa dengan anggukan kecil.


"Aku pernah mendengarnya dari nona Ende." Nata menyahut.


"Begitu pula dengan sihir marga Shuuran. Mereka adalah pengguna aliran Jiwa sejenis dengan Penjinak dan Druid." Yvvone lanjut menjelaskan.


"Tapi, bukankah itu sama saja? Mereka juga menggunakan aliran Jiwa, kan?" Aksa terlihat tidak terima.


"Metode penggunaan aliran Jiwa itulah yang yang kita tidak tahu. Marga Shuuran mengembangkan cara unik untuk menggunakan aliran Jiwa. Lebih rumit dan detail. Maka dari itu, hanya merekalah yang mungkin bisa membukanya." Yvvone mencoba lebih menjelaskan maksudnya kepada Aksa.


"Tapi bukannya sama seperti security code, pasti ada semacam back door atau fail-safe nya, kan?" Tanya Aksa lagi.


"Kau bicara apa? Aku tidak mengerti maksudmu" saut Yvvone langsung mengacuhkan ucapan Aksa.


"Mungkin bila dianalogikan sebagai software, setidaknya kita harus mencari orang yang mengerti tentang bahasa pemrograman yang digunakan, untuk coba membongkarnya" Nata tampak memberi penjelasan pada Aksa.


"Kalau dianalogikan seperti itu, harusnya ada penyihir hacker, kan?" balas Aksa.


"Lalu apa kau punya seseorang yang bisa membantu kami untuk membukanya, nona Yvvone?" Nata menyambung pertanyaan Aksa.


"Ada. Tapi ia tinggal ditempat yang sangat jauh. Aku bisa saja menggunakan Arcane Ruang Waktu. Hanya saja, jenis Arcane itu adalah sekali pakai. Dan yang ku punya hanya tinggal dua sekarang" Yvvone kini kembali duduk ditempatnya di antara kursi Aksa dan Nata.


"Apa itu sihir untuk berpindah tempat?" Tanya Nata memastikan hal yang pernah ia dengar. Dan Yvvone hanya mengangguk pendek.


"Lalu dimana kita bisa mendapatkan Arcane yang seperti itu?" Nata lanjut bertanya.


"Aku membuatnya sendiri. Tapi untuk membuatnya memerlukan waktu sekitar dua atau tiga tahun. Karena itu, kenapa jenis Arcane tersebut sangat jarang ditemui." Yvvone terlihat menjelaskan dengan bangga.


"Oh, kau bisa membuat batu Arcane sendiri? Hebat sekali. Apa kau tidak ingin membuatkan satu untuk ku?" Ujar Aksa kemudian.


"Percumah, kau juga tidak akan bisa menggunakannya."


"Kenapa? Aku kan, utusan dewa."


"Karena batuan Acane dibuat untuk dua jenis kegunaan. Pertama memberimu tambahan aliran Jiwa untuk digunakan. Kemudian yang kedua, memberimu bentuk sihir selain keahlian mu untuk dikendalikan."


"Jadi memang hanya untuk mereka yang bisa menggunakan aliran Jiwa" Aksa menjawab dengan lesu. "Ya sudah, aku akan membuat senjata sendiri saja. Yang tidak rasis seperti itu," tambahnya kemudian.


"Lalu, sekarang apa keinginanmu, nona Yvvone?" Tiba-tiba Nata bertanya kepada Yvvone.


"Keinginanku?" Terdengar Yvvone tidak mengerti dengan pertanyaan Nata.

__ADS_1


"Kau menceritakan semuanya itu, memberi sebuah harapan, lalu kemudian kau bilang 'tapi'. Jadi apa yang kau inginkan, nona Yvvone?" Nata menjelaskan maksud dari pertanyaannya.


Yvvone terlihat tersenyum kecil menatap Nata. "Ini salah satu yang kusuka dari kalian. Kalian begitu memahami hal-hal kecil seperti ini," ucapnya kemudian.


"Lalu apa yang kau minta?"


"Alat mistik yang kau punya" jawab Yvvone cepat.


"Alat mistik ku?" Nata tampak tidak paham dengan apa yang dimaksud Yvvone.


"Sejak kapan kau memiliki alat mistik, Nat? Kenapa kau sembunyikan dari ku? Kau curang sekali," terdengar Aksa langsung sewot mendengar hal tersebut.


"Itu kotak yang dapat bersinar. Yang bisa digunakan untuk menyalin sebuah gambar secara langsung" Yvvone menggambarkan apa yang ia inginkan.


"Maksud mu ini?" Nata meneluarkan smartphone nya dari saku.


"Benar. Aku mau itu sebagai penggantinya" jawab Yvvone sambil mengangguk cepat.


"Tak kusangka kau culas sekali," saut Nata cepat.


"Lagi pula alat ini harus terus mendapat tenaga. Dari generator itu" Aksa menunjuk kearah generator yang ada dalam tenda tersebut.


"Tidak apa. Aku bisa datang kemari bila aku perlu mengisi ulang tenaganya" jawab Yvvone dengan ringan.


"Kau pikir tempat ini Charging Box yang ada di stasiun-stasiun?" Aksa menyeletuk sewot.


"Sebenarnya mau kau gunakan untuk apa alat ini?" Tanya Nata lagi. Karena ia tidak menemukan keuntungan yang didapat dari Yvvone memiliki Smartphone itu.


"Aku ingin menyalin gambaran banyak hal" ucap Yvvone lagi.


"Lalu untuk apa? Disini bahkan tidak ada sosmed untuk memamerkan hasil poto-poto mu?" saut Aksa.


Terlihat Yvvone menatap Aksa dengan kesal, kemudian gadis Elf itu mulai terdengar berbicara dalam bahasa lain yang tidak dimengerti oleh yang lain. Menanggapi Aksa yang selalu berbicara dengan menggunakan istilah yang banyaknya tidak ia mengerti.


"Oh, jadi kau mau membalas ku dengan bahasa primitif mu, baik. Kau kira aku tidak bisa?" Saut Aksa yang terpancing oleh kelakuan gadis Elf tersebut.


Dan Aksa pun juga mulai berbicara dengan bahasa dari dunianya. Dan adu mulut antar dua bahasa asing pun terjadi.


"Apa delapan puluh tahun Elf itu tidak lebih dewasa dari delapan belas nya Aksa?" Keluh Nata yang mulai meninggalkan Yvvone dan Aksa yang mulai gaduh.


Sementara Lily dan Couran hanya melihat Rafa yang berusaha memisah mereka berdua.


-

__ADS_1


__ADS_2