Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
12. Menuju Tanah Suci II


__ADS_3

Setelah melakukan pengarahan dan penjelasan singkat tentang rencana baru mereka, pasukan mulai dibagi menjadi dua kelompok dan mulai berbaris menuju kearah yang berlawanan.


Pasukan yang dipimpin Caspian menuju ke tenggara sedang pasukan yang dipimpin Nata menuju ke barat.


Tak berapa lama kemudian, pasukan yang dipimpin oleh Nata bertemu dengan pasukan kerajaan Joren.


Tampak dari jauh puluhan prajurit dengan baju besi berwarna cokelat karat berbaris memanjang hampir disepanjang garis cakrawala.


Panji-panji berwarna kuning dengan gambar lingkaran hitam tampak berdiri diantara pasukan itu. Berkibaran ditiup angin.


"Jadi apa yang kau rencanakan kali ini, Nat?" Aksa bertanya dari dalam salah satu kereta tempur. Menatap kearah seribu prajurit kerajaan Joren yang berdiri berjajar memanjang.


Kereta tempur itu diisi oleh Aksa, Nata, Lily, Val, dan 15 prajurit lain.


"Akan lebih baik mengalahkan pasukan lawan terlebih dahulu, sebelum melakukan penyerangan ke pelindung sihir kota Nezarad itu" Nata menjawab seraya melongokan kepalanya ke celah bagian depan pelindung besi kereta tempur tersebut.


"Ya, aku juga sependapat dengan mu. Dan aku yakin kau tidak akan menurunkan prajurit untuk melawan pasukan Joren itu, kan?" Aksa mencoba menebak rencana Nata.


"Iya, kau benar sekali. Kita tidak akan menang bila melakukan peperangan lima puluh lawan seribu" Nata membenarkan tebakan Aksa.


"Tapi bila kita menghabiskan amunisi kita untuk melawan prajurit ini, kita tidak akan memiliki kekuatan untuk menjatuhkan pelindung sihir itu" Aksa berucap lagi. Memberikan pertimbangan lain kepada Nata.


"Tenang saja. Aku punya cara untuk itu" Nata menjawab dengan cepat. Tampak ia sangat percaya diri dengan rencananya.


"Baiklah kalau kau sudah berkata begitu" Aksa berucap dengan tenang setelah melihat keyakinan Nata.


"Prajurit, kirimkan pesan kepada pemimpin pasukan lawan untuk segera mundur, kalau tidak kita tidak akan memberi ampun" perintah Nata kemudian kepada salah satu prajurit yang ada dalam kereta tempur tersebut.


"Baik, tuan" ucap prajurit itu seraya beranjak keluar dari kereta tempur.


.


Kurang dari setengah jam menurut arloji yang dikenakan Aksa, prajurit tadi kembali.


"Lapor. Pasukan Joren tidak mau mundur, tuan Nata" prajurit tadi memberi laporan setibanya ia di dalam kereta tempur.

__ADS_1


"Ya itu sudah jelas" Aksa menyeletuk.


"Baiklah kalau begitu, perintahkan dua kereta penghancur untuk melakukan serangan kearah pasukan Joren" perintah Nata sekali lagi "Tembak terus sampai mereka mundur" ucapnya menambahi.


"Siap, tuan" prajurit itu kembali keluar untuk menyampaikan perintah Nata kepada petugas kereta penghancur.


"Padahal tinggal serang aja dari tadi" celetuk Aksa.


"Kan kita harus tetap punya sopan santun, Aks. Kita peringatkan dulu sebelum menyerang" jawab Nata mencoba mengelak.


"Kasian prajurit itu bolak-balik ga jelas" saut Aksa lagi.


"Ngomong-ngomong berapa peluru yang dimiliki tiap AMPV kita saat ini, Aks?" Nata bertanya tanpa memperdulikan ucapan Aksa sebelumnya.


"Sekitar empat atau lima per unitnya" Aksa menjawab cepat


"Ya, kurasa cukuplah" ujap Nata kemudian sambil mengangguk-angguk sendiri.


Tak lama kemudian dua kereta penghancur mulai bergerak maju. Dan setelah itu, tampak laras senjata kereta tersebut bergerak pelan naik dan turun. Mengukur posisi dan arah tembakan.


Dan begitu peluru dari kereta penghancur itu menghantam tanah diantara pasukan kerajaan Joren, ledakan besar segera terjadi. Yang mengejutkan dan dengan segera merusak formasi pasukan mereka.


Belum para prajurit kerajaan Joren itu mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, peluru kedua ditembakan lagi dari kereta penghancur yang lain.


Hal tersebut menyebabkan kepanikan mendadak dari pasukan lawan. Dan banyak dari prajurit mereka mulai berlari mencari perlindungan.


Dan begitu tembakan ke enam, pasukan Joren pun memilih untuk mundur. Meninggalkan sisa prajurit mereka yang tidak mampu lagi berjalan, karena terluka oleh ledakan tadi.


Nata keluar dari kereta tempurnya. Kemudian mengamati situasi dihadapannya dengan teropong.


"Kita akan bawa yang yang terluka" ucap Nata memerintah prajurit yang lain setelah ia menurunkan teropongnya.


Aksa dan Nata tampak saling berpandangan. Kemudian seperti sedang berbicara dengan gerak tubuh, merekapun akhirnya saling mengangguk. Seolah saling berkata 'lakukan apa yang harus dilakukan'.


Setelah itu pasukan Nata berhasil membawa 80 prajurit kerajaan Joren yang luka-luka. Dengan bantuan para penyihir, nyawa mereka sudah tidak lagi dalam bahaya.

__ADS_1


Nata memerintahkan untuk membawa prajurit lawan menuju ke kota Nezarad. Dengan mengisi penuh dua kereta tempur yang sebelumnya hanya diisi oleh 15 prajurit saja.


.


Hal serupa juga dilakukan oleh pasukan yang dipimpin oleh Caspian. Hanya saja Caspian tidak membawa serta prajurit lawan yang terluka. Karena tak banyak dari pasukan kerajaan Augra yang menjadi korban. Mereka segera menarik diri begitu sadar bahwa mereka tidak akan menang melawan tembakan jarak jauh dari kereta penghancur.


.


Sorenya, pasukan yang dipimpin Nata dan pasukan yang dipimpin Caspian membentuk barisan di depan gerbang kota Nezarad yang masih di lindungi oleh sihir.


"Lalu apa tadi rencana mu untuk pelindung sihir ini, Nat? Kita sudah tidak memiliki cukup amunisi untuk menghancurkan pelindung sihir ini" Aksa berucap saat mereka sedang berdiri di depan para pasukan. Mengamati gerbang kota Nezarad.


"Gampang saja. Kita akan kirimi mereka surat dan meminta mereka untuk menyerah tanpa syarat" Nata menjawab dengan santai.


"Apa itu akan berhasil?" Aksa terlihat meragukan.


"Kemungkinan besar sih akan berhasil" Nata menjawab lagi. "Karena pada dasarnya mereka tidak memiliki pasukan, dan kita sudah membuktikan bahwa kita mampu mengalahkan kekuatan dari dua kerajaan lain secara bersamaan. Jadi pilihan mereka hanya ada dua, antara menyerah, atau terus terkurung dalam penjara yang mereka buat sendiri" lanjutnya menjelaskan.


"Benar juga" Aksa mengangguk kecil.


Kemudian prajurit utusan mereka berjalan mendekat ke depan gerbang seraya membawa bendera putih.


Prajurit itu meletakan surat untuk diberikan kepada pemimpin kota Nezarad, di depan gerbang. Dan kemudian tampak seorang pria baya membuka sebagian dari pelindung sihir untuk mengambil surat tersebut, dan kemudian kembali masuk kedalam.


Isi surat itu adalah, pemberitahuan bahwa pasukan kerajaan Augra dan kerajaan Joren sudah berhasil dikalahkan. Dan karena tidak ingin merusak kota dengan senjata yang mereka punya, maka pihak Pharos meminta kota Nezarad untuk menyerah tanpa syarat dan menyerahkan raja kerajaan Urbar pada mereka untuk dimintai pertanggung jawaban.


-


Sehari kemudian tampaknya rencana Nata berhasil. Pihak kota Nezarad akhirnya menyerah tanpa syarat.


Setelah mereka mematikan sihir pelindung, dengan segera pasuka Pharos memasuki kota tersebut. Dilihat dari ukurannya kota Nezarad itu serupa dengan kota Albas. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai.


Kemudian tampak beberapa pria baya berpakaian serba putih datang menghampiri saat pasukan Pharos tiba di pusat kota.


-

__ADS_1


__ADS_2