
Beberapa orang, serta kelompok Bintang Api mulai mendekat kearah Axel dan Rafa. Begitu latih tanding tersebut selesai.
Rafa menjulurkan tangan kirinya untuk membantu Axel bangkit berdiri. Sihir tanahnya sudah hilang.
"Anda bertarung dengan baik, nona Rafa" Axel berucap seraya meraih tangan Rafa dan bangkit berdiri.
"Anda yang tidak bersungguh-sungguh, tuan Axel" jawab Rafa kemudian.
"Anda juga tidak bersungguh-sungguh. Anda masih belum mengeluarkan senjata dan kemampuan anda yang lain, kan?" Axel menebak.
"Anda memang benar-benar seorang pemburu, tuan Axel" Rafa menjawab.
"Bagaimana kau bisa kalah dari nona Rafa, Ax?" Sigurd bertanya dengan nada mencemooh.
"Diam kau, Sig" saut Axel sedikit kesal.
"Tidak kusangka anda masih membawa tongkat sihir" kali ini Ende yang berucap seraya menyentuh tongkat sihir Rafa yang terpasang pada sebuah pipa besi kecil diujung lengan logamnya. "Bagaimana tongkat ini bisa keluar, sebelumnya aku tidak melihat anda membawanya?" Tanyanya kemudian.
"Itu karena tadi tongkat ini berada di belakang lengan seperti ini" Rafa menarik tongkat sihirnya kebelakang dengan tangan kirinya. Dan beberapa pipa besi yang ada di ujung lengan logamnya itu mulai menekuk dan terlipat masuk kedalam. "Ada mekanis sederhana dalam alat ini. Yang membuatnya bisa keluar dengan sendirinya" tambanya menjelaskan.
Ende terlihat sangat tertarik dengan alat yang dapat menyembunyikan tongkat sihir tersebut. "Kurasa aku juga ingin satu yang seperti ini" ucapnya sendiri.
"Benar-benar luar biasa, nona Rafa. Saya baru pertama melihat cara bertarung seperti itu. Terus maju kedepan" Shuri terlihat kagum melihat Rafa. "Biasanya senjata jarak jauh digunakan dengan cara menjaga jarak" imbuhnya lagi.
"Itu karena saya belum benar-benar mahir menggunakan tangan kiri, jadi saya perlu mendekat agar tembakan saya tidak meleset" Rafa menjawab.
"Untuk seorang yang baru belajar menggunakan tangan kirinya sebulan yang lalu, yang anda lakukan benar-benar luar biasa, nona Rafa" ucap Cedrik.
Tampak Aksa, Nata, Lucia, dan yang lain datang menghampiri Rafa.
"Pertarungan yang bagus" ucap Lucia begitu ia sudah berada di dekat Rafa dan Axel.
"Jadi, apa itu yang disebut Gun-Fu, tuan Aksa?" Axel bertanya sebegitu Aksa mendekat. Ia sangat penasaran dengan cara bertarung yang belum pernah ia lihat sebelumnya itu.
"Benar. Tapi itu tadi sudah bukan Gun-fu yang ku ajarkan sebelumnya. Gaya bertarung tadi adalah hasil ciptaan Rafa sendiri" Aksa menjawab. "Tapi sebenarnya inti dari gaya bertarung itu adalah; seni beladiri menggunakan senjata jarak pendek seperti pisau dan sejenisnya. Namun mengganti bagian pisaunya dengan pistol" jelasnya kemudian.
Axel terlihat mengangguk kecil. Ia paham dengan penjelasan Aksa.
__ADS_1
"Tapi aku sangat bangga. Dia bisa menggabungkan Gun-fu dengan Battlemage. Oya! Dia juga bisa Enhancement Magic" Aksa terlihat benar-benar sangat bangga. Seolah ia ingin memamerkan Rafa kesemua orang.
"Ens- apa?" Tanya Lucia.
"Rafa, coba tunjukan skill enchantment yang kemarin kau tunjukan padaku" Aksa meminta pada Rafa. "Anda harus melihatnya sendiri, putri" ucapnya kali ini kepada Lucia.
"Tapi bidikan saya masih belum bagus" saut Rafa.
"Aku bantu membidik, jangan kuatir" Aksa menjawab dengan wajah berbinar, seolah tidak sabar untuk memamerkan mainan barunya.
Mereka meletakkan lempengan logam Dracz di ujung lapangan tembak tersebut.
Kemudian Rafa dan Aksa bersiap-siap pada posisi menembak. Yang lain mulai berdiri berjajar dibelakang mereka berdua. Siap untuk menyaksikan hal apa lagi yang akan ditunjukan oleh Aksa dan Rafa.
Aksa berdiri di sebelah Rafa dan membantu mengarahkan tangan gadis itu membidik ke sasaran yang tepat. Kemudian Rafa mulai merapal sesuatu. Dan tampak pistol dalam genggamannya mulai diselimuti cahaya berwarna unggu cerah.
Dan setelah Rafa selesai merapal, segera ia menarik pelatuk pistolnya. Suara ledakan senjata api itu sudah mulai menjadi hal biasa di wilayah ini sekarang.
Tampak tak ada yang berbeda dari tembakan Rafa. Hanya saja, suara saat peluru besi itu menghantam logam Dracz, terdengar sangat menghawatirkan. Seperti suara ledakan, namun tidak terlihat ada ledakan sama sekali. Yang ada hanya lempengan logam Dracz itu bergetar hebat saat terhantam peluru tersebut.
Rafa melakukan dua kali tembakan lagi. Dan kemudian lempengan logam paling keras sedunia itu dibawa mendekat.
"Bagaimana bisa?! Apa yang anda lakukan, nona Rafa?" Terlihat Caspian tidak bisa percaya dengan apa yang ia lihat. "Bagaimana anda bisa melubangi logam terkuat ini dengan tiga buah peluru sekecil itu?" Tanyanya lagi.
"Apa itu sebuah sihir khusus?" Kali ini Parpera yang bertanya.
"Apa itu semacam senjata mistik?" Ende terlihat sangat tertarik.
"Saya hanya melakukan sihir penguatan pada peluru pistol ini" Rafa menjawab.
"Saya juga pengguna sihir penguat, nona Rafa. Tapi pedang saya tidak bisa menembus logam Dracz dengan tiga kali tusuk. Padahal jaraknya lebih dekat dari posisi anda menembak tadi" Jean yang kali ini berucap. Yang tampak langsung disetujui oleh beberapa orang yang kemiliki kemampuan sihir penguat.
"Itu karena sihir penguatan pada benda bergerak mempengaruhi akselerasi dan massa dari benda tersebut. Dan dalam kasus peluru, sihir itu tidak hanya melipat gandakan ketahanannya saja tapi juga meningkatkan Muzzle Velocity. Yang berarti bila energi kinetik adalah berbanding lurus dengan massa benda, maka peluru tadi mungkin setara dengan sebuah kereta tempur" Rafa mencoba menjelaskan perbedaan penggunaan sihir penguat kepada yang lain.
"Memadukan science and magic. Fix. Sekarang kau sudah jadi seorang alchemist, Raf. Aku bangga sekali" terlihat mata Aksa berkaca-kaca. Tampak ia benar-benar terharu melihat Rafa.
Sedang yang lain memasang wajah bingung dengan pandangan kosong menatap Rafa.
__ADS_1
"Kau apakan nona Rafa hingga jadi rusak seperti ini, Aks?" Saut Jean seraya menatap kesal kearah Aksa.
"Nona Rafa sudah bukan bagian dari kita lagi sekarang" celetuk Ende kemudian.
"Benar. Dia adalah bagian dari mereka sekarang" Sigurd menambahi.
"Bukan seperti itu" buru-buru Rafa menyanggah omongan yang lain.
.
Sementara tampak Yvvone bersama Val sedang mengamati Rafa dan Aksa dari ujung Atelir persenjataan.
"Tak kusangka mereka berhasil menemukan cara untuk menggabungkan alat-alat aneh itu dengan sihir" ucap Yvvone kemudian.
Sedang Val hanya terdiam tidak menjawab.
"Aku yakin, sebentar lagi mereka akan membuat Senjata Mistik hanya sekedar jadi barang koleksi belaka." Yvvone berucap lagi seraya melirik ke arah Realn di sampingnya itu.
"Era sedang bergerak," jawab Val kemudian.
-
"Jadi seperti yang ku bilang sebelum ini, bahkan Rafa, seorang Seithr dengan satu tangan saja bisa bertarung seperti seorang petarung" Aksa berucap saat semua orang sudah kembali ke tempat latihan mereka.
"Dan itu berlaku untuk kalian semua. Tidak perlu kuatir dengan jumlah kita yang hanya sedikit. Karena kita lebih unggul di segala hal dari lawan kita" Nata mengambil alih. "Asal kita mau bersungguh-sungguh, meski hanya dalam waktu satu minggu ini, kalian pasti bisa menjadi lebih baik lagi. Sama seperi nona Rafa" imbuhnya kemudian.
Dan kemudian pelatihan prajurit dan penyihir pun dilanjutkan. Namun kali ini mereka terlihat lebih bersemangat dalam melakukan latihan.
.
"Dengan begini mereka akan memiliki rasa percaya diri, meski seminggu lagi harus melakukan penyerangan melawan pasukan dengan jumlah yang jauh lebih besar dari mereka" Nata berucap saat ia, Aksa, Lucia, dan Rafa berjalan meninggalkan tempat latihan tersebut.
"Jadi ini rencana mu yang sebenarnya, Nat?" Lucia bertanya.
"Benar. Disamping memang saya ingin menghilangkan paradigma tentang kaum, pekerjaan, dan jenis kelamin di wilayah ini" Nata menjawab dengan santai.
"Kita akan buang job class system, RPG Classic. Sekarang saatnya beralih ke skill trees system, FTP open world" celetuk Aksa kemudian.
__ADS_1
-