
"Berarti kemungkinan setelah ini, wilayah ku lah yang akan jadi sasaran selanjutnya" ujar Nordan. Pria Narva berwajah bulat berpostur tambun, yang adalah seoarang Dux penguasa Estat Lighthill, Estat yang berada disisi timur Estat Iguns.
"Ini semua karena Tyrion si pengecut itu!" Ujar seorang pria Narva berkumis panjang melintang. Dia adalah Rolando, Dux penguasa Estat Margrace.
Mereka, kedua belas dari enam belas Dux penguasa sedang duduk didepan sebuah meja besar memanjang. Membicarakan rencana yang akan kerajaan Urbar ambil setelah dua hari yang lalu pihak Pharos melakukan penyerangan dan berhasil menduduki wilayah Estat Ceodore.
Tampak juga diantara mereka, sang raja dan penasehatnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Ethan, Dux dari Estat Solidor. Seorang pria Narva berperawaan tinggi dengan wajah tampan dan menarik.
"Aku tahu mereka pasti tidak akan percaya bahwa Tyrion telah melarikan diri dari kerajaan ini. Kalau sudah begini, mau tak mau kita harus menawarkan pada mereka sesuatu yang lebih berharga lagi. Kalau tidak, mereka tak akan menghentikan penyerangan ini" saut seorang pria Narva tengah baya yang memakai pakaian dengan warna merah yang sangat mencolok. Dia adalah Bormier, Dux penguasa Estat Cirrus.
"Dan apa yang dimaksud dengan hal yang lebih berharga itu?" Ethan bertanya. "Mereka tidak membutuhkan barang dan uang. Mereka juga tidak menerima budak" tambahnya kemudian.
"Kalau memang begitu, berarti sudah jelaskan? Apa lagi kalau bukan memberinya peringkat dan pangkat" Bormier menjawab cepat dengan penuh percaya diri.
"Maksudmu peringkat? Apa kau ingin memberi gelar kepada pemimpin tanah mati itu? Peringkat itu hanya berlaku untuk orang-orang kerajaan saja" saut Ethan terlihat tidak terima.
"Bukankah sekarang wilayah itu adalah sebuah kota. Dan bukan kerajaan. Kita bisa menganugrahinya peringkat sebagai penguasa. Dan menjadikannya sekutu kita" Bormier mencoba menjelaskan inti dari gagasannya itu.
"Benar. Aku juga setuju dengan tuan Bormier. Kita bisa memberinya posisi dikerajaan ini. Dengan begitu kerajaan kita akan menjadi semakin kuat" kali ini seorang pria Narva berambut sedikit acak-acakan dengan pandangan sedikit sayu, berucap menyetujui gagasan Bormier. Dia adalah Dux penguasa Estat Nalbina, Orinus.
"Kalian semua memang pengecut. Menjual harga diri kerajaan kita dengan memberi peringkat kepada musuh?" Saut seorang pria Narva dengan wajah penuh berewok yang terlihat tegas. Dia adalah Arias, Dux penguasa dari Estat Cleyra di barat kota Xin.
"Jangan asal bicara kau, Arias!" Terdengar Bormier tidak terima dengan perkataan Arias.
"Lalu apa yang kau usulkan? Menghadapi mereka dengan kekuatan prajurit sudah tidak mungkin lagi. Mencari keberadaan Tyrion juga hal yang sia-sia" Orinus bertanya. "Bila kita tidak segera bergerak, maka satu persatu wilayah kita akan diambil alih oleh mereka" tambahnya kemudian.
__ADS_1
"Apa kalian tidak berpikir? Mungkin memang itulah tujuan mereka selama ini. Menjadi salah satu penguasa kerajaan ini. Dan kemudian mulai mengambil alih kerajaan ini dari dalam. Apa kau sadar itu?" Jawab Arias berusaha menjelaskan.
"Itu tidak mungkin. Yang ada malah mereka yang akan menarik wilayah-wilayah kita untuk bergabung dengan wilayahnya" sela Julius, Dux penguasa Estat Nabradia. "Mereka tidak memiliki ikatan apapun pada siapapun. Juga tidak bergantung pada apapun atau siapapun. Itu menjadikan mereka tidak sesuatu untuk diancam. Dan terlebih lagi, mereka memiliki kekuatan yang dapat menaklukan tiga ribu lebih pasukan kita dengan para pengguna senjata mistik" jelas pria Narva berambut sepanjang pundak yang ditata rapi kebelakang itu, panjang lebar.
"Mereka adalah wilayah yang tidak perlu menggunakan cara seperti itu untuk menguasai kerajaan ini" tambah Julius kemudian.
"Aku setuju. Mereka bisa menyerang siapa saja dan menguasai apa saja bila mereka mau" Ethan tampak setuju dengan ucapan Julius tersebut.
"Itu dia intinya. Mereka memang berniat untuk menguasai wilayah kita pada awalnya. Dan menggunakan segala cara untuk mencari alasan dan pembenaran" Arias menjawab dengan cepat.
"Bukankah penasehat Chris sudah menjelaskan pada kita bahwa mereka tidak menginginkan peperangan" Bormier menyahut.
"Untuk saat ini. Tapi memiliki kekuatan yang besar membuat orang lupa dan serakah" Arias segera mengeluarkan jawaban.
"Lalu apa yang kau sarankan, Arias?" Mendengar argumen Arias sedari tadi membuat Bormier penasaran, apa yang akan ia usulkan.
"Bukan hanya kita saja yang menguatirkan kekuatan yang mereka punya. Kerajaan lain di region tengah ini juga menguatirkannya" Arias menjawab. "Jadi kita bisa menghimpun kekuatan kerajaan lain atas nama tanah Suci untuk menyerukan perlawanan terhadap tanah mati itu" lanjutnya.
"Kita tidak akan tahu sebelum kita mencobanya" Arias menjawab dengan tatapan tajam kearah Chris.
"Itu juga yang dipikirkan oleh Tyrion. Dan itu juga yang akan membawa kerajaan ini pada kehancuran" jawab Chris seraya menegakan posisi duduknya.
Mendengar ucapan tersebut, para penguasa lain segera menanggapinya dengan kata sanggahan dan kata sepakat. Pendapat dalam pertemuan itu kini terbagi menjadi dua kubu.
Sedang Arias hanya terdiam dengan masih menatap tajam ke arah sang penasehat.
"Tenang semua" sang raja menenangkan suasana yang yang mulai bertambah gaduh itu. "Lanjutkan kata-katamu, Chris" perintahnya kemudian. Yang hanya dijawab Chris dengan membungkuk pendek.
__ADS_1
"Itu karena kita tidak tahu sama sekali tentang tanah mati itu. Tentang kekuatan pasukan dan senjata yang mereka punya. Tentang bagaimana aturan pemerintahan mereka berjalan. Kita tidak tahu itu. Dan karena itulah kenapa Tyrion bisa kehilangan sembilan senjata mistik yang kita punya" jelas Chris kemudian. Para penguasa yang lain hanya terdiam mendengarkan. Tanpa ada yang berani menyela atau menyanggahnya.
"Jadi maksud mu, kita memerlukan waktu sebelum kita siap melawan balik mereka?" Sang raja bertanya.
"Bisa dikatakan seperti itu, paduka" Chris menjawab dengan sopan. "Yang harus kita lakukan sekarang adalah mencari informasi lebih lagi tentang tanah mati itu" imbuhnya kemudian.
"Lalu apa rencana mu untuk membuat mereka berhenti menyerang kita selama kita mencari tahu tentang mereka?" Sang raja kembali bertanya.
Semua orang tampak dengan seksama menantikan jawaban dari Chris.
"Memang tidak salah, wilayah tanah mati itu adalah lawan yang berbahaya untuk daratan selatan. Dan ancaman bagi tanah Suci secara khusunya. Saya juga setuju bila kita harus menghancurkan mereka sebelum mereka bertambah besar" Chris menjedah ucapannya. "Namun untuk sementara ini, kita yang tidak tahu apapun tentang tanah itu harus mengalah terlebih dahulu. Kita akan mulai mencari tahu tentang wilayah mereka, juga sekaligus menghimpun kekuatan dari seluruh kerajaan-kerajaan di region tengah ini untuk melakukan perlawanan ke tanah mati itu saat tiba waktunya" jelasnya panjang lebar.
"Dan apa yang kau maksud dengan mengalah itu tadi?" Sang raja bertanya lagi. "Apa yang akan kau tawarkan kepada mereka agar mereka berhenti melakukan penyerangan ke wilayah kita?"
"Maka dari itu, kita akan melakukan negosiasi secara langsung dengan mereka. Kita akan berikan apa yang mereka minta yang sekiranya mampu kita penuhi" Chris menjawab.
"Jadi kau ingin mengadakan pertemuan dengan pihak mereka?"
"Benar, paduka. Disamping kita bisa membaca gelagat dan melihat apa yang sebenarnya mereka inginkan, juga akan jauh lebih baik dari pada mereka melakukan penyerangan ke wilayah kita setiap kali mereka tidak setuju dengan tawaran yang kita berikan" Chris mencoba untuk menjelaskan.
"Apa itu berarti aku juga harus ikut hadir?"
"Mohon maaf, paduka. Tapi saya tidak setuju bila paduka ikut menghadiri pertemuan tersebut. Pemimpin mereka bahkan bukan seorang ratu. Mereka tidak pantas menerima kehadiran paduka" terdengar Arias keberatan dengan ide bahwa sang raja akan ikut hadir dalam pertemuan itu.
"Saya juga tidak menyarankan paduka untuk datang. Serahkan semuanya kepada saya, paduka" Chris tampak sepaham dengan Arias tentang hal tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Ku serahkan semuanya kepada mu, Chris" sang raja menjawab. "Jangan mengecewakanku"
__ADS_1
"Sesuai kehendak, paduka" jawab Chirs seraya menunduk kepada sang raja.
-