
Rombongan Aksa dan Nata melanjutkan perjalan menuju ke desa Baltra yang hanya tinggal dua hari lagi. Yang kali ini mereka mendapat tambahan tiga orang anggota Bintang Api. Margaret, Axel, dan Ende. Mereka bertiga menunggani dua kuda. Ende dan Margaret memakai satu kuda.
Akhirnya dua hari kemudian mereka sampai di desa Baltra. Dari jauh desa itu kini memang terlihat menarik perhatian. Diantara petakan sawah dan bebatuan besar yang memagari jalan utama menuju kedalam desa, sekarang terdapat setidaknya tiga menara yang memiliki kipas besar yang berputar karena angin. Dan sebuah roda air besar di salah satu sungai di dekat pintu gerbang desa.
Belum lagi di sisi selatannya terdapat sebuah tembok buatan manusia yang terpasang di lereng sebuah tebing.
Ketika kereta rombongan mereka memasuki gerbang desa, terlihat warga desa yang mengenal rombongan Aksa dan Nata segera datang hanya untuk sekedar menyapa mereka. Tiga anggota kelompok Bintang Api tampak terkejut bagaimana warga desa menyambut Nata dan Aksa.
Sesaat kemudian tampak sosok Couran yang datang menghampiri mereka dengan senyum yang mengembang.
"Sudah hampir setahun akhirnya kita bertemu lagi tuan Couran" ucap Nata menyambut Couran yang mendekat.
"Bagaimana menurut kalian desa ini sekarang?"
"Aku melihat di beberapa tempat di tepian pintu air tampak rumah-rumah dengan kincir air. Apakah itu tempat untuk menggiling gandum menggunakan tenaga air?"
"Wah, bahkan hanya sekali lihat kau sudah bisa menebak fungsinya. Dengan begitu, produksi tepung gandum bisa meningkat karena tidak memerlukan tenaga manusia atau angin yang kadang bertiup kadang tidak"
"Wah, kehidupan di desa ini memang sudah benar-benar meningkat ternyata"
"Tuan Nata, tuan Aksa" sambut kepala desa begitu mereka tiba di depan pekarangan rumahnya.
Mereka dijamu di rumah kepala desa dengan makanan seperti sedang berpesta. Baik Aksa, Nata, maupun trio pemburu sangat senang bisa kembali lagi ketempat ini.
-
"Ini adalah temanku Ellian. Dia adalah seorang Druid. Tapi wanita ini terobsesi dengan botani" Couran mengenalkan seorang perempuan Morra begitu mereka tiba dirumahnya selesai dari jamuan di rumah kepala desa.
"Perkenalkan saya Ellian" perempuan yang berperawakan pendek dengan badan gendut berisi itu memperkenalkan diri. Baju yang dikenakannya tampak sangat esentrik. Gaun terusan berwarna kuning terang dengan renda bunga yang mencolok dibagian pinggang dan pundaknya.
__ADS_1
Dilihat dari penampilannya, Nata bisa menebak Ellian ini seumuran dengan Couran. Namun begitu wajahnya masih terlihat menarik. Tidak memiliki banyak uban dan kerutan.
"Aku Nata dan ini Aksa. Sedang ini Lily dan Val. Lalu ada lagi teman kami, tiga pemburu dari Triggis, dan anggota serikat petarung Bintang Api. Namun sekarang mereka sedang berkelilinga desa ini" ucap Nata panjang lebar.
"Senang berkenalan dengan kalian" jawab Ellian.
"Apa itu Druid, Aks?" Bisik Nata kepada Aksa agar tidak membuat Ellian curiga.
"Druid itu penyihir alam. Mirip Selene yang dapat berhubungan dengan hewan, para Druid dapat berhubungan dengan tumbuhan" jelas Aksa yang ditanggapi Nata dengan anggukan paham.
"Setelah ku kirim catatan tentang cara bercocok tanam yang kalian tulis untuk desa ini, langsung dia bergegas datang kemari untuk melihat. Dan dia ingin sekali bertemu dengan kalian, jadi saat sebulan yang lalu kalian mengirim kabar akan kemari, aku mengundang nya untuk datang kemari juga" ucap Couran menjelaskan alasan mengapa ada Ellian di desa ini.
"Benar cara kalian mengolah tanah dan pengairan untuk lahan itu efisien sekali untuk jenis tumbuhan yang ditanam. Terlebih penerapan rotasi tanaman itu luar biasa sekali. Bagaimana kalian bisa menemukan ide merotasi jenis tumbuhan untuk menjaga keseimbangan mineral dalam tanah? Apakah kalian tau cara menilai mineral apa saja yang dibutuhkan tiap tanaman tersebut?"
"Wow sabar Ellian, kau menakuti mereka" ucap Couran menahan temannya yang terlihat menggebu-gebu dalam berbicara tentang hal yang diminatinya itu.
"Maafkan saya, saya hanya pena.. Wah! Apakah itu Anggrek Bintang dari hutan tengah Elbrasta?! Wah! Itu jamur pohon Ektus?! Dan-dan, itu tumbuhan obat Bunga Suci?!" Kali ini perhatian Ellian tersita pada batang bambu yang digantung berjajar di atas jendela kereta kuda mereka berdua.
"Apakah itu masih hidup? Apakah batang bambu itu cara untuk mengembang-biakan diluar habitat aslinya?" Ellian terdiam mendadak. Seolah terkejut dengan ucapannya sendiri "Apa kalian menemukan cara mengembang-biakan tumbuhan-tumbuhan itu diluar habitatnya?! Astaga apa kalian utusan dewa Dryad?"
"Sudah-sudah Elian. Biarkan mereka beristirahat dulu"
"Maafkan saya"
"Tenang saja nona Ellian. Kami akan menjawab semua pertanyaan anda" jawab Nata kemudian.
"Sepertinya dia lebih tertarik dengan ilmu pengetahuan dari pada sihir" bisik Aksa kearah Nata setelah mengamati tingkah laku Ellian.
"Dan apa itu piring dengan dua jarum diantara angka-angka? Apa itu mekanik sederhana juga?" Kali ini Couran yang bertanya karena tampak sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya terpasang tepat diatas batang-batang bambu yang digantung tadi.
__ADS_1
"Oh, itu penanda waktu yang sudah kami sesuaikan dan pastikan dalam seminggu terakhir ini" jawab Aksa kali ini.
"Maksudnya?"
"Maksudnya setiap jarum panjang ini akan menandai waktu yang bergerak dalam 1 hari" kali ini Nata yang menjelaskan.
"Apa maksudnya, kalian memberi satuan hitung untuk waktu dalam sehari?" Tanya Couran yang tampak kuatir kalau-kalau jawaban atas pertanyaannya adalah 'iya'.
"Ya, kurang lebih seperti itu, sebenarnya hanya untuk mempermudahkan kami saja sih" jawaban Nata yang membuat sekujur tubuh Couran lemas. Ia tahu ia akan terus dikejutkan oleh dua pemuda itu ditiap kali ia bertemu.
"Dan apa dalam 1 hari tepat jumlah perhitungannya?" Tanya Couran lagi.
"Ya, harusnya sih tepat, meski mungkin selisih sepersekian. Tapi bukan masalah besarkan?"
"Dan bagaimana membuat agar alat itu selalu bergerak? Apakah dengan bantuan roda kereta? Tapi meskipun sekarang kereta sedang berhenti, jarum itu masih terus bergerak?"
"Oh, benar sekali. Anda bisa langsung memahami konsepnya. Tapi kami tidak menggunakan roda kereta untuk menggerakan nya secara langsung. Tapi kami menggunakan pegas.
"Pegas?"
"Jadi as roda kereta kami pasangi gerigi, tapi tidak langsung memasangkan dengan roda lain secara bersinggungan, kami memasang sabuk untuk kemudian memutar roda tempat pegas yang berada jauh diatas roda kereta.
"Oh, ini tali kekang kuda. Membuatnya berlubang-lubang agar dapat masuk dalam gerigi roda. Hal seperti ini bisa juga dilakukan ternyata"
"Benar, jadi nantinya energi kinetik dari pegas akan digunakan untuk menggerakan jarum-jarum benda tersebut. Jadi meskipun kereta berhenti alat itu tetap bergerak" tutup Nata.
"Benar, bertahan setidaknya 5 hari tanpa memutar roda sama sekali" tambah Aksa kali ini.
"Lalu apa energi kitik-kitik itu?"
__ADS_1
-