Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
25. Menyerang Balik


__ADS_3

"Berapa kerusakan yang kita terima?" Nata bertanya saat esok paginya ia, Aksa, Lucia, para bangsawan, dan para ksatria, mengadakan pertemuan di kediaman Lucia.


"Beberapa prajurit luka-luka, dan empat puluh meninggal. Sedang disisi timur, tampaknya banyak juga prajurit Yllgarian yang terluka dan juga gugur dimedan perang. Juga beberapa hewan-hewan liar" Caspian melapor.


"Sedang kerusakan paling parah dialami oleh gerbang selatan. Untuk hutan Sekai, hanya hancur dibagian pinggirnya saja. Tidak sampai menyentuh desa mereka. Tapi wilayah desa Sekai dan pemukiman para penambang rusak parah. Sepertinya akan butuh waktu yang cukup lama untuk membenahinya. Sementara sisi barat tidak mengalami kerusakan sama sekali" lanjutnya kemudian.


"Untung kita sempat memindahkan pemukiman suku tempest ke sisi utara" ucap Amithy yang terdengar lega.


"Lalu untuk senjata mistik yang kita sita?" Nata melanjutkan pertanyaannya.


"Sekarang kita memiliki sembilan senjata mistik. Sekarang sedang berada di Atelir persenjataan" Caspian menjawab lagi. "Parpera dan yang lain sedang mencari tahu kekuatan masing-masing senjata tersebut" lanjutnya lagi.


"Mendadak sangar, nih kita" celetuk Aksa.


"Dan juga kita menawan sembilan pemilik senjata mistik tersebut. Kita mengurung mereka di Ceruk Bintang tak jauh dari Atelir" Caspian menambahi.


"Apa tidak berbahaya mengurung mereka dekat dengan gudang persenjataan kita?" Lucia terlihat sedikit kuatir.


"Tidak apa, tuan putri. Kurungan mereka terbuat dari logam Dracz" Nata menjawab.


"Lagian kalau pun mereka berhasil melarikan diri, apa mereka bisa menggunakan senjata-senjata yang baru pertama kali mereka lihat?" Aksa menyahut.


"Benar juga. Lalu apa yang akan kita lakukan terhadap mereka?" Lucia kembali bertanya.


"Untuk sementara biarkan mereka berada ditempat itu terlebih dahulu. Kita akan lihat perkembangannya setelah ini" Nata menjawab.


"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah in, Nati?" Lucia bertanya lagi. "Aku ingin segera menghentikan perang ini" imbuhnya kemudian.


"Kita akan menindak lanjuti surat tuntutan kita sebelumnya. Kita akan menyerang mereka balik" Nata menjawab.


"Apa kau masih ingin meneruskan perang ini, Nat?" Lucia segera terdengar sedikit meninggikan suaranya.


"Tidak. Kita perlu menunjukan kekuatan untuk menghentikan peperangan. Karena kita harus membuat lawan ketakutan, dan tidak berani melakukan perlawanan" Nata menjawab.


"Kita harus bisa mengendalikan keadaan. Dan setelah itu, bila kita tidak ingin melanjutkan peperangan ini, maka peperangan ini akan berhenti dengan begitu saja. Tanpa adanya perlawanan" lanjutnya kemudian.


"Saya juga setuju dengan tuan Nata. Lagi pula kita harus bersikap tegas agar tidak ada orang-orang seperti Tyrion yang berani mengusik kita kedepannya" Caspian menyetujui rencana Nata.


"Kita bisa menyerang bebedapa wilayah saja, lalu memberikan surat peringatan lagi kepada mereka untuk menyudahi peperangan ini" Nata melanjutkan penjelasan rencananya.


"Lalu wilayah mana yang akan kita serang?" Lucia bertanya meski masih belum terlihat setuju dengan rencana Nata.

__ADS_1


"Bukankah kerajaan Urbar terdiri dari penguasa-penguasa wilayah atau semacamnya itu kan?" Nata bertanya.


"Benar, mereka menyebutnya dengan Estat" kali ini Amithy yang menjawab.


"Dan ada berapa banyak Estat dari kerajaan Urbar ini, nyonya Amithy?" Tanya Nata berlanjut.


"Yang ku tahu, ada enam belas Estat" Amithy menjawab cepat.


"Itu termasuk dengan wilayah tuan Mateus ya?"


"Benar" Amithy mengangguk.


"Mungkin paling gampangnya adalah menguasai wilayah tuan Mateus" Nata berucap.


"Kau berniat menyerang wilayah paman Mateus?" Terdengar Lucia menyahut terdengar tidak terima.


"Bukan menyerang. Tapi bila kita bisa membuat tuan Mateus mau bekerjasama dengan kita untuk 'seolah-olah' berhasil kita kuasai, maka akan menguntungan untuk kedua belah pihak" Nata menjawab. "Disamping mereka tidak akan dicurigai memihak kepada kita, juga kita bisa melindungi kota Varun dan jalur kita ke wilayah selatan" tambahnya kemudian.


"Hm, kurasa memang akan menguntungkan mereka juga. Biar aku yang akan berbicara dengan Mateus" Amithy yang kali ini berucap.


"Baiklah kalau begitu, saya serahkan pada anda, nyonya Amithy" Nata terlihat lega Amithy menyetujui dan bahkan mau membantu.


"Wilayah kekuasaan Estat Raygod ada di tengah wilayah kerajaan Urbar" Amithy menjawab. "Dari mulai kota Xin terus ke tenggara hingga ke kota Guam. Kota pemerintahan kerajaan Urbar" lanjutnya menjelaskan.


"Wah, kebetulan sekali. Kalau begitu kita akan menyerang wilayah Tyrion. Kota Xin. Disamping kita juga bisa memberi dampak yang cukup besar untuk kerajaan Urbar, dengan menutup jalur perdagangan mereka ke utara" ucap Nata kemudian.


"Anda berniat menyerang kota Xin, tuan Nata? Biarkan saya ikut serta" tiba-tiba Anna menyela dengan wajah yang terlihat berapi-api.


"Kita memang memerlukan pengetahuan anda tentang kota tersebut, nona Anna" jawab Nata yang membuat Anna tersenyum lebar.


"Baiklah kalau begitu, kita akan melakukan serangan ke kota Xin besok pagi. Jadi segera bersiap-siaplah tuan-tuan dan nona-nona sekalian" Nata tampak hendak menutup pertemuan tersebut.


"Kau akan menyerang mereka besok, Nat? Bukankah kita baru saja mengalami serangan kemarin?" Lucia tiba-tiba menyela.


"Kita harus harus segera melakukan serangan disaat mereka belum mulai bersiap membuat rencana atau mengumpulkan kekuatan lagi. Sekaligus memberitahukan bahwa serangan mereka kemarin tidak berdampak apapun pada kita" Nata menjelaskan maksud dari rencananya kepada Lucia. "Lagi pula kita tidak perlu membawa banyak prajurit untuk menyerang kota-kota tersebut. Kita sudah memiliki senjata mistik sekarang" imbuhnya dengan wajah yang terlihat sombong.


Lucia hanya mengangguk kecil menanggapi penjelasan Nata dengan wajah yang masih terlihat resah.


"Setelah ini kita akan mengadakan pertemuan dengan para kabibet dan seluruh anggota parlenem" imbuh Nata memberi tahu Lucia.


-

__ADS_1


Mereka mengadakan pertemuan dengan anggota parlemen dan kabinet untuk membahas tentang dampak dari penyerangan kerajaan Urbar kemarin. Juga rencana pembersihan serta pembangunan ulang wilayah yang rusak.


Mereka juga membahas rencana untuk melakukan serangan balik. Melakukan persiapan-persiapan sebelumnya dan mengatur rencana yang akan dilakukan setelahnya.


Sedang dalam dua hari terakhir, kehidupan dalam wilayah Pharos tampak berjalan dengan normal. Hanya terasa sedikit ketegangan diantara warga yang kuatir kalau-kalau pihak kerajaan Urbar dapat menembus pertahanan mereka.


-


Esok harinya kapal berisi 95 prajurit yang dipimpin oleh Caspian, bersama Helen, Anna, dan Nikolai, bergerak menuju ke kota Xin di selatan.


Mereka datang dengan membawa senjata mistik sebagai kekuatan tambahan. Caspian membawa pedang bergagang emas, sementara Helen membawa dua pedang berbilah merah dan biru. Anna masih menggunakan pedangnya sendiri, dan Nikolai membawa tombak berujung kapak.


Mereka dicegat oleh 5 kapal kerajaan Urbar sebelum berlabuh di dermaga kota Xin. Yang hal tersebut bukanlah sebuah masalah bagi mereka.


Karena Nikolai kini sudah mendapatkan pandangan bagaimana kemampuan kapal besi tersebut dan penggunaannya secara penuh. Setelah ia melihat bagaimana Aksa menggunakannya sebagai senjata penghancur saat perang kemarin.


Dan tak membutuhkan banyak usaha, 5 kapal yang menghadang mereka itu tenggelam dengan mudah.


Setelah mendarat di kota Xin, mereka dihadang lagi oleh sekitar 80 prajurit angkatan laut kerajaan Urbar. Namun pasukan pimpinan Caspian tersebut dengan cepat memgalahkan prajurit-prajurit tersebut. Bahkan mereka tidak sampai perlu menggunakan senjata mistik mereka.


Seluruh prajurit Pharos, menggunakan baju pelindung dan tameng berwarna hitam sebelumnya. Yang memhuat mereka nyaris tidak bisa dilukai. Sementara sebagian prajurit menggunakan pedang untuk menyerang, sebagiannya lagi membawa senapan berpasak besi dengan tabung udara terlihat menggantung digendongan dibelakang punggung mereka.


Anna dan Nikolai hafal seluk beluk sisi kota tersebut. Yang menyebabkan penyerangan dan penaklukan kota berjalan dengan sangat efektif. Dan tak lebih dari satu hari, mereka sudah menguasai kota Xin. Yang kemudian mulai membuat penghalang di depan gerbang kota tersebut.


-


Sementara itu 120 prajurit berarak menuju ke kota Varun yang dipimpin oleh Vossler dan dua ksatria bawahannya Biggs dan Wedge. Bersama mereka juga ikut Amithy dan Parpera.


Rombongan Vossler juga dibekali senjata mistik sebagai kekuatan tambahan. Vossler membawa pedang berbilah pendek, sementara Biggs membawa tameng, dan Wedge membawa busur panah. Bahkan Amithy juga dipersenjatai dengan senjata sihir yang berbentuk pedang cambuk.


Tujuan Amithy ikut dalam barisan pasukan ke kota Varun itu adalah untuk bertemu dan mencoba mengajak Matues untuk bekerjasama dengan pihak Pharos.


Tak terlalu banyak penghalang untuk sampai ke kota Varun dan menguasainya. Karena moral pasukan lawan yang sudah jatuh.


Bahkan sisa pasukan yang sebelumnya menyerang gerbang selatan, sudah tidak tampak lagi disekitaran tempat tersebut.


Kini yang ada hanyalah kelompok prajurit penjaga kota. Yang hanya dengan menembakan panah angin dari busur mistik yang dibawa Wedge ke tempat perlindungan mereka, dan segera para prajurit itu kabur dengan panik.


Dan setelah hari tersebut berakhir, pihak Pharos sudah berhasil menduduki dua kota dan memutus hampir semua jalur dari kerajaan Urbar ke wilayah Utara.


-

__ADS_1


__ADS_2