
"Jadi bagaimana rencanamu, Aks?" Tanya Nata saat mereka hanya berdua di dalam tenda di dasar Ceruk Bintang.
Mereka sedang membicarakan tentang gua yang tiga hari lalu ditemukan oleh para pekerja saat mereka mulai membangun Atelir di wilayah tersebut.
"Kurasa satu-satunya cara adalah dengan melakukan penjelajahan dengan berjalan kaki" ujar Aksa yang berada di depan meja Nata.
"Apakah separah itu?"
"Iya, gua itu dikelilingi oleh bebatuan Magnetite dengan medan magnet yang sangat konyol. Truk uap kita hanya berjalan di tempat saat memasuki mulut gua. Dan harus ditarik kebelakang dengan truk yang lain agar bisa bergerak lagi" ujar Aksa menjelaskan.
"Apa itu karena Neodymium? Bisa jadi aset yang sangat berharga buat kita. Kita bisa membangun generator listrik dengan magnet-magnet tersebut" Nata terlihat mulai tertarik.
"Syukur-syukur kalau itu memang karena Neodymium. Orang-orang percaya bahwa itu adalah sihir penghalang. Semacam Barrier. Tapi bila memang benar itu super magnet Nd, berarti jelas bahwa itu bukan hal yang alami" ujar Aksa kemudian. Tampak serius kali ini.
"Apa kau pikir gua itu buatan? Semacam peninggalan peradaban kuno?" Nata menebak prediksi Aksa.
"Kemungkinan. Karena saat kuperhatikan, meski gua tersebut terlihat tidak beraturan, tapi aku rasa itu tidak terbentuk secara alami" jawab Aksa mengungkap pandangannya.
"Apa kita perlu alat tambang yang terbuat dari mineral lain untuk mengakalinya?"
"Kita lihat nanti saja"
"Lalu kapan kau berencana akan memasuki gua tersebut? Itu berarti kau harus membawa bekal yang cukup karena mungkin gua itu akan dalam dan kita tidak bisa memasang jalur troli untuk mengirim makanan"
"Iya, aku tahu. Mungkin dua tiga hari lagi. Dan aku akan membawa serta beberapa orang"
"Baiklah kalau begitu"
-
Dua hari kemudian Aksa, Couran, trio pemburu, Go, dan Rafa mulai memasuki gua tersebut. Mereka membawa masing-masing tas besar di gendongan mereka.
Dengan menggunakan jamur yang dapat bersinar di kegelapan, yang belakangan ditemukan oleh para Yllgarian di hutan Sekai, sebagai pengganti obor untuk penerangan. Agar menghemat minyak yang mereka bawa.
__ADS_1
Mereka membawa bekal hanya untuk satu minggu perjalanan. Jadi bila sudah tiga hari berlalu, mereka akan kembali ke pintu masuk gua. Entah mereka menemukan ujungnya atau tidak.
"Jadi kenapa kau tertarik ikut penjelajahan ini, Aks?" Tanya Couran saat mereka sedang beristirahat setelah cukup dalam memasuki gua. Kurang lebih setelah 7 jam berjalan.
Beberapa minggu sebelumnya, Aksa meminta Val dan Marco untuk membuatkan sebuah jam tangan bertenaga pegas. Meski yang lain belum mengenal konsep 'jam' dalam waktu, tapi Aksa perlu setidaknya untuk dirinya sendiri. Dan yang terpenting adalah untuk menandai waktu saat mereka berada di dalam gua tersebut.
Sedang Nata baru akan memulai membangun menara-menara jam di berbagai tempat di kota dan desa, untuk memperkenalkan konsep 'jam' tadi ke para penduduk.
"Karena tempat ini sangat tidak alami menurutku" ujar Aksa menjawab pertanyaan Couran sebelumnya.
"Tidak alami?" Terdengar Couran penasaran.
"Benar. Pertama, medan magnet di pintu gua. Yang menyebabkan truk kita berhenti bergerak, itu terlalu aneh untuk hal yang terjadi secara alami" jelas Aksa kemudian.
"Memang seperti apa seharusnya?"
"Bila memang itu batuan magnet alami seperti Lodestone, kekuatanya tidak akan sampai sebesar itu. Dan bila itu memang super magnet Neodymium, maka jelas itu bukan buatan alam. Boron tidak menyatu begitu saja dengan besi dan Neodymium dalam bentuk mentah di bebatuan" Aksa melanjutkan penjelasannya.
"Lalu yang berikutnya, nona Elaine? Bagaimana menurut anda gua ini?" Aksa melanjutkan dengan sebuah pertanyaan kepada Go.
Tampak wajah Go sedikit jengkel saat Aksa memanggil nama depannya di depan banyak orang. "Entah mungkin hanya saya saja, tapi gua ini seperti gua bekas galian tambang. Pola dinding, lantai gua, seolah sudah pernah ada orang yang menambang di gua ini sebelumnya. Tapi itu hanya menurut yang saya rasa dan saya lihat saja. Saya tidak cukup banyak melihat gua, selama hidup" jelas Go kemudian.
"Aku juga merasa begitu, nona Elaine. Coba perhatikan. Selama di perjalanan kita, apakah kalian menemukan adanya stalaktit dan stalakmit?" Ujar Aksa lagi yang dilanjut dengan pertanyaan untuk yang lain.
"Iya, saya sudah menyadarinya dari beberapa saat setelah kita memasuki gua ini. Saya pikir memang aneh, tapi mungkin memang ada gua yang seperti" kali ini Huebert yang berucap.
"Mungkin ada gua yang seperti itu tapi hanya dibagian-bagian tertentu saja. Tapi dari tadi aku tidak melihatnya sama sekali. Seperti lorong ini memang sengaja di gali" ujar Aksa lagi.
"Apa kau pikir gua ini buatan?" Couran tampak penasaran dan juga terlihat antusias.
"Tapi memang ada kemungkinan. Karena dahulu tanah ini adalah tempat peradaban Pharos" kali ini Rafa yang memotong.
"Jadi apa kita sekarang sedang menemukan peninggalan bangsa Pharos?" Couran terlihat semakin bersemangat mendengar bahwa kemungkinan mereka sedang menemukan sebuah bukti dari peninggalan peradaban kuno.
__ADS_1
"Bisa jadi. Kita tidak tahu seberapa majunya peradaban Pharos tersebut. Jadi mungkin saja dahulu mereka sudah memiliki teknologi untuk membuat gua seperti ini" ujar Aksa kali ini.
Dan pembicaraan merekapun berlanjut sampai kemudian mereka memutuskan untuk berjalan kembali.
-
Kemudian tepat di hari ketiga mereka menemukan ujung dari lorong tersebut. Tampak sebuah dinding batu yang bentuk dan posisinya, jelas bukan buatan alam. Ditambah dengan banyak tulisan terpahat diatasnya.
"Demi Lurac! Ini benar-benar gua buatan" reaksi Loujze saat mendapati dinding batu tersebut.
"Wah, kita benar-benar menemukan sesuatu ditempat ini?" Ujar Go kali ini.
"Apa ini peninggalan bangsa Pharos? Aku tidak pernah melihat lambang dan tulisan seperti ini" Couran tampak menyalakan obor kali ini. Agar ia dapat lebih jelas melihat gambar-gambar yang terpahat di dinding batu tersebut.
"Sepertinya saya pernah sekali melihat lambang-lambang ini di perpustakaan istana. Tapi saya tidak ingat, lambang apa itu" ujar Rafa yang terlihat bersusah payah untuk mengingat.
"Benar sekali, nona Rafa. Buku tentang lambang-lambang itu, memang ada di perpustkaan istana. Itu adalah tulisan yang digunakan dalam kitab ajaran Musvar. Di buku tersebut menuliskan, bahwa itu adalah bahasa Hirgin. Bahasa kedua yang digunakan pada era, dimana kaum Leafcla masih berjaya" jelas Aksa kemudian dengan wajah yang penuh kebanggaan.
"Benarkah? Dan apa kau bisa membacanya, Aks?" Couran tidak peduli dengan informasi lainnya dari Aksa.
"Akan ku coba" ucap Aksa yang kemudian tampak sedikit menjauh agar ia bisa membaca semua tulisan diatas dinding batu tersebut.
"Disini tersimpan pengetahuan dari semesta dewa. Mereka yang bijak akan beranjak. Mereka yang rakus akan terhapus. Dan bagi yang mengenali, kalian sedang dinanti" Dan kemudian Aksa berhenti. Ia dikejutkan dengan gambar tiga bulan di atas bukit Jasvar. Sama seperti lambang kotak sang Oracle yang diberikan padanya saat di desa Dyms.
"Kenapa, Aks?" Tampak Couran penasaran mendapati Aksa yang tiba-tiba berhenti dan kemudian terkejut.
"Apakah bukit Jasvar itu adalah Ceruk Bintang ini? Masuk akal sekali. Secara kami berdua tiba pertama kali juga di sekitaran Ceruk Bintang ini" Aksa mulai berbicara sendiri.
"Ada apa, tuan Aksa? Anda menemukan sesuatu di tulisan itu? Atau ada hal lain?" Rafa juga sama penasarannya dengan Couran.
"Iya, kurasa aku baru saja menemukan petunjuk untuk bisa kembali ke dunia ku"
-
__ADS_1