
Dua hari kemudian. Dari pagi orang-orang mulai tampak berbondong-bondong dipindahkan ke balik tebing. Disana sudah ada beberapa orang yang siap memberikan tenda dan hal yang mereka butuhkan.
Siang harinya, Anna tampak sudah bersiap di dalam ruang kabin kapalnya yang tersender pada karang perairan dangkal itu. Terlihat pedang diatas meja. Ia menanti prajurit keamanan datang untuk menangkapnya.
Dari jendela ruangannya yang menghadap dermaga karang itu tampak dua kapal mulai berlabuh. Turun 12 orang dengan pakaian yang seragam. Membawa tombak, menenteng pedang di pinggang, mengenakan pelindung dari plat besi di dada dan punda. Mereka yang dimaksud dengan prajurit penjaga itu.
"Hei, dua belas orang bukannya sudah keterlaluan? Aku hanya sendirian disini" ucap Anna yang mulai bangkit berdiri, meraih pedang di atas mejanya, dan kemudian berjalan turun kebawah.
Setelah sampai dibawah, para prajurit itu sudah berjajar menutup jalan seraya menghunuskan tombak mereka kearah Anna.
Tampak pemimpin prajurit tersebut, yang menggunakan jubah pendek berwarna coklat, maju kedepan.
"Saudari, Anna. Anda ditangkap karena telah melakukan tidak kriminal. Melakukan perampokan kapal, merusak dan merugikan orang lain. Sekarang ikut kami dengan baik-baik, atau kami akan membawa anda dengan paksa" ujar pemimpin prajurit tersebut.
"Berhentilah berbasa-basi. Ayo segera kita selesaikan saja" ucap Anna yang menarik pedang dari sarungnya.
"Tangkap dia" perintah sang pemimpin memicu kesebelas rekannya untuk mulai maju menyerang Anna dengan bersamaan.
Jelas 12 orang terlalu banyak buat Anna tangani seorang diri. Ia tampak kualahan dan mulai terdesak.
Anna terdorong mundur dan jatuh terjerembam. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh para prajurit itu untuk mencoba menangkap Anna. Namun tepat disaat yang genting tersebut, Nikolai muncul untuk membantu Anna.
Ia menyabetkan harpunnya untuk menjaga jarak para prajurit itu dengan Anna.
"Sudah ku perintahkan kau untuk pergi bersama orang-orang dari tempat ini, kenapa kau kembali?" Tanya Anna dari posisinya terduduk menyandar tebing karang.
"Kau memerintahkan ku untuk memimpin orang-orang itu. Bukan untuk pergi meninggalkanmu" jawab Nikolai mengulurkan tangannya kepada Anna.
"Kau licik juga ternyata" Anna tersenyum seraya meraih tangan Nikolai dan berdiri.
Dan kemudian mereka berdua mulai menghadapi 12 orang prajurit itu lagi. Pertempuran berjalan sengit dan sedikit berat sebelah.
"Kurasa, aku sudah sampai pada batasku" ujar Nikolai kemudian. Nafasnya terengah-engah. Tampak luka sabet dan tusukan terlihat diseluruh tubuhnya.
"Jangan manja. Baru segini saja kau sudah berkata seolah mau menyerah?" Ujar Anna menimpali.
"Kau ini memang orang terburuk yang pernah ku temui" ucap Nikolai kemudian. "Jadi jangan mati dulu sampai setidaknya kau, sekali saja berkelakuan baik padaku" tambahnya yang kemudian kembali maju menerjang lawannya. Tak ubahnya Anna.
__ADS_1
Dan dikarenakan kalah oleh ketahanan stamina dan semangat, satu persatu prajurit itu dipukul mundur oleh mereka berdua.
Dan dengan terdesak para prajurit itu berusaha menuju ke kapal mereka, bersiap untuk kabur.
Anna sadar bahwa bila mereka berhasil lari, mereka akan kembali dengan lebih banyak orang lagi. Dan itu tidak bisa di biarkan.
"An, jangan lakukan itu. Biarkan mereka pergi. Mereka bukan musuh kita yang sebenarnya" ucap Nikolai yang melihat gelagat Anna yang sepertinya tidak akan melepaskan para prajurit itu begitu saja.
Tapi sepertinya Anna sudah tidak mau mendengarkan orang lain.
Kapal itu sudah mulai tampak menjauh. Saat kemudian Anna mengarahkan pedangnya dari dermaga karang. Terlihat ia sedang merapal sesuatu. Dan kemudian dua permata digagang pedangnya bersinar biru terang.
Pedang Anna tersebut adalah senjata mistik. Tak akan ada yang menyangkanya. Karena disamping bentuknya yang biasa saja, dengan gagang yang terbuat dari campuran besi dan perunggu yang dililit kulit hewan, permata itu juga tak ubahnya seperti hiasan saja saat tidak sedang menyala. Terpasang di bagian gagang pedang yang bersinggungan dengan bilah pisaunya. Tertatah di kedua belah sisinya.
Dan kemudian tampak Anna menggerakan pedangnya. Dan tiba-tiba sebuah gelombang muncul begitu saja di lautan, dari arah ujung pedang tersebut tertuju. Dan begitu Anna menyabetkan pedangnya dengan cepat. Gelombang di laut itu dengan ganas menghempas kapal para prajurit tadi.
Dua kali sabetan, dan kapal tersebut terbelah menjadi dua. Para prajurit itu melompat terjun ke laut. Mencoba mencari papan dan kayu untuk berpegangan. Agar mereka mengapung.
Tapi tampaknya Anna belum puas hanya dengan melihat kapal mereka tenggelam. Anna kembali menggangkat pedangnya ke angkasa. Tampak ia berniat untuk menenggelamkan semua prajurit itu tanpa sisa.
"Anda bukan pembunuh, nona Anna!" Tiba-tiba terdengar seorang gadis Narva berteriak padanya.
Anna terkejut mendengarnya. Ia membatalkan aksinya, dan kemudian menoleh. Tampak gadis Narva yang pernah ia temui. Pemimpin kota di balik tebing.
Gadis itu berdiri di depan beberapa ksatria dan prajuritnya. Di depan gerbang celah ditebing timur. Pintu masuk ke tanah mati.
"Kau tau apa tentang aku, gadis Narva?"
"Saya tahu kalau anda orang yang baik, nona Anna. Saya tahu, saya tidak memiliki posisi untuk berkata ini, karena saya tidak mengalami hal yang anda alami" ucap gadis itu sambil berjalan mendekati Anna secara perlahan.
"Apa Nikolai menceritakan semuanya padamu?"
"Benar, nona Anna. Saya tahu, saya tidak dapat melarang anda untuk mendendam. Tapi obsesi untuk membalas dendam itu merusak" gadis itu berjalan semakin mendekat pada Anna.
"Kau tau apa tentang dendam dan opsesi?"
"Saya memang tidak tahu. Yang saya tahu adalah, anda harus menjadi orang kuat untuk bisa membalas dendam anda" gadis itu menjedah.
__ADS_1
"Sama seperti saya. Untuk bisa menolong orang yang ada disekitar saya, maka saya harus menjadi kuat. Teman saya pernah berkata, bahwa mencari kekuatan memang membutuhkan pengorbanan. Tapi mungkin anda bisa menyebut saya orang yang naif. Tapi pengorbanan itu bukanlah kemanusiaan kita" gadis itu masih melanjutkan.
"Sama seperti gelombang dan badai ditengah laut. Tanah longsor dilereng bukit. Mereka memiliki kekuatan yang dasyat. Tapi tidak bisa mengendalikannya. Mereka tidak kenal lawan dan kawan. Mereka menghantam segala hal yang ada dihadapan mereka. Saya yakin anda tidak ingin menjadi seperti itu" tutup gadis itu kemudian.
Anna menatap tajam mata gadis Narva itu. Gadis itu berdiri tak jauh dari Anna dan Nikolai. Tapi jauh dari para penjaganya.
"Kau memang orang yang terlalu naif. Kau ada disini, didekatku, tanpa adanya perlindungan sama sekali. Percumah saja kau memiliki niat baik dan kekayaan untuk mewujudkannya, bila kau mati ditempat ini" ucap Anna yang tiba-tiba berlari cepat menuju kearah Lucia dengan pedang siap terhunus.
"Anna, jangan!" Teriak Nikolai yang ikut berlari mengejar Anna.
"Putri, awas!" Saut salah satu ksatria wanita yang juga berlari menuju gadis Narva tersebut.
Tampak gadis Narva itu tidak bergerak dari tempatnya. Anna tanpa ragu menusukan pedangnya kearah gadis tersebut.
Terlihat tatapan gadis itu tajam, tidak berkedip sama sekali. Seolah ia tidak takut akan kematian.
Bukan. Bukan tidak takut akan kematian. Ia tau kalau Anna tidak akan melukainya.
Dan tepat saat ujung pedangnya berada di depan leher gadis itu, gerakan Anna berhenti.
"Keyakinanmu terhadap seseorang, kenaifan mu itu, sayangnya ego ku tidak cukup besar untuk bisa menandinginya" ucap Anna kemudian. Ia tidak menghiraukan bahwa sekarang sudah ada 8 bilah pedang yang terhunus kearahnya, dari 8 sosok bertopeng yang entah sejak kapan dan dari mana munculnya.
Semua orang menahan nafas, terkejut melihat hal tersebut.
Anna menurunkan pedangnya. Menatap 8 wajah topeng yang sudah mengelilinginya itu.
"Sudah, kalian bisa pergi sekarang" ucap gadis Narva itu kemudian. Lalu tanpa meninggalkan suara apapun, tiba-tiba saja orang-orang itu melompat dan lenyap. Tidak bisa dijelaskan bagaimana mereka bisa lenyap seperti itu.
Semua orang berlari menghampiri Anna dan Lucia.
"Jatuhkan pedang mu" ujar seorang ksatria wanita, seraya menghunuskan pedangnya ke arah Anna.
Anna tiba-tiba melangkah mundur satu jangkah kebelakang. Kemudian berlutut dengan satu kaki dihadapan Lucia. Lalu mempersembahkan pedangnya ke gadis Narva itu dengan kedua tangannya.
"Saya, Anna de Impré. Menyerahkan seluruh hidup saya kepada anda. Anda bisa menggunakan saya sebagai pedang dan sebagai tameng. Atau anda bisa mengambil nyawa saya saat ini juga" ujarnya dengan menundukan kepala dan kedua tangan masih menopang pedang mistiknya kearah Lucia.
-
__ADS_1