
"Pemberontakan semakin merajalela di wilayah selatan ini. Bahkan setelah acara mengangkatan secara resmi, Yang Mulia Ratu dan kerajaan Rhapsodia ini," ucap seorang pemuda Narva dengan potongan rambut yang disisir rapi kebelakang, yang tampak berpakaian mewah ala bangsawan. Duduk di salah satu sofa panjang di dalam ruang kerja di gedung pemerintahan Provinsi Timur, di kota Varun.
"Sebenarnya aku juga sangat kuatir dengan situasi yang sedang kita hadapi sekarang ini, Carl," sahut seorang gadis Narva yang duduk dihadapan pemuda tadi. Berparas menawan dengan potongan rambut pendek yang memperlihatkan bentuk leher jenjangnya. Pakaian yang dikenakan adalah pakaian bangsawan yang biasa di digunakan oleh laki-laki.
"Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengumumkan kerajaan baru. Di tengah gejolak para bangsawan yang sedang sibuk mencoba mengambil tanah mereka kembali, dan juga beberapa keluarga bangsawan yang sedang menggunakan kesempatan untuk mendapatkan posisi dalam pemerintahan wilayah ini." Pemuda yang dipanggil Carl tadi berucap menambahi.
"Ya, aku memang merasa kuatir. Tapi menurutku malah sebaliknya, di saat-saat seperti inilah seharus kita mengumumkan kedaulatan kita kepada dunia. Karena bila kita bersatu, maka kita akan menjadi lebih kuat menghadapi masalah yang sedang terjadi. Lagi pula kita didukung oleh Gadis Suci, dan juga mendapat pengakuan dari leluhur Elbrasta," ujar gadis itu menjawab panjang lebar.
"Tapi tetap saja, Maeve. Sekarang saja kita hampir kualahan mengurusi wilayah baru di selatan ini. Dan masih mempekerjakan orang-orang yang mungkin akan merugikan dan balik menyerang kita di kemudian hari," balas Carl kemudian.
"Aku juga merasa pesimis tentang hal tersebut. Tapi kurasa Putri Lucia... eh, maksudku Yang Mulia Ratu, tidak mungkin hanya asal mengambil keputusan seperti itu. Pasti ada pertimbangan yang matang di balik keputusan tersebut," jawab gadis bernama Maeve itu.
"Apa yang sedang kalian bicarakan di tempat ini?" Tiba-tiba terdengar ucapan dari arah pintu masuk.
"Tuan Mateus." Carl dan Maeve dengan segera berdiri dari tempat duduk mereka dan kemudian membungkuk kecil memberi hormat kepada Mateus yang mulai berjajan mendekat.
"Jam istirahat makan siang sudah selesai dari tadi. Ayo cepat kembali bekerja. Banyak pekerjaan yang tidak bisa selesai dengan sendirinya," ucap Mateus memerintah seraya berjalan melewati Carl dan Maeve menuju ke arah meja kerjanya di ujung ruangan.
"Kami sengaja menunggu Anda, Tuan Mateus," ucap Maeve kemudian.
"Benar, ada laporan yang harus kami sampaikan pada Anda." Carl menambahi.
"Oh, dan apa itu?" tanya Mateus seraya duduk di kursi di balik meja kerjanya.
"Ini tentang pembangunan wilayah di Provinsi Barat, Tuan," jawab Carl segera. "Sekarang ini pekerjaan pembangunan jalan dan menara jaga terhambat karena gangguan dari para pemberontak yang menyerang para pekerja dan menghancurkan fasilitas yang sedang dalam pengerjaan," jelasnya kemudian.
"Apa kita tidak memiliki cukup prajurit untuk melakukan penjagaan?" tanya Mateus menanggapi.
"Benar, Tuan. Kita tidak memiliki cukup prajurit untuk selalu berjaga dua puluh empat jam. Sementara masih banyak wilayah yang juga harus dijaga. Seperti wilayah perbatasan dengan kerajaan lain," jawab Carl kemudian.
"Apa kau sudah menghubungi Tuan Nadir atau Tuan Cedrik untuk masalah ini? Mungkin anak kelompok Bintang Api bisa membantu, atau mungkin kita bisa menggunakan jasa dari Serikat Petarung yang lain?" Mateus bertanya lagi untuk memastikan dan kemudian memberi masukan.
"Sudah, Tuan. Saya sudah membicarakannya dengan Tuan Cedrik. Dan menurut beliau, anak kelompok Bintang Api sedang membantu mengamankan sisi utara Distrik Delapan," jawab Carl menjelaskan. "Sedang menurut Tuan Nadir, kita tidak boleh terlalu mengandalkan jasa dari Serikat Petarung lain untuk melakukan pengamanan wilayah. Karena sebagian dari Serikat Petarung itu belum terlalu lama berdiri dan belum terlalu lama juga bekerja untuk wilayah kita. Besar kemungkinan untuk mereka disusupi dan dimanfaatkan oleh para pemberontak tersebut," tambahnya kemudian.
"Memang Provinsi Barat sekarang ini sedang mengalami keadaan yang cukup sulit," ujar Mateus setelah terdiam beberapa saat. "Baiklah, aku akan bawa masalah ini ke pertemuan Kabinet. Semoga kita segera menemukan solusi dari masalah ini. Dari yang kudengar, sepertinya Tuan Haldin sudah menyelesaikan rancangan baru dari Tuan Aksa. Kuharap itu adalah hal untuk menyelesaikan masalah di wilayah Provinsi Barat," ucapnya kemudian yang lebih untuk menenangkan diri sendiri.
"Ngomong-ngomong sudah berapa lama Tuan Aksa dan Tuan Nata tidak kelihatan? Apa mereka benar-benar mengurung diri dalam gua di Ceruk Bintang, Tuan? Atau jangan-jangan mereka sudah tidak berada di wilayah ini lagi?" tanya Carl tiba-tiba. Karena teringat akan sesuatu setelah mendengar ucapan dari Mateus sebelumnya.
"Carl, jaga ucapanmu. Kau tidak boleh membuat membuat kabar yang tidak-tidak," potong Maeve yang meski tidak meninggikan nada bicaranya, namun masih terdengar jelas ia sedang menghardik.
"Kurasa pasti ada alasannya mengapa hampir tiga minggu ini, kedua pemuda itu tidak terlihat sama sekali. Bahkan di setiap pertemuan yang diadakan," ucap Mateus kemudian. "Tapi benar kata Maeve. Kita tidak boleh menambah keruh suasana yang sedang terjadi sekarang ini. Kau paham. Carl?" lanjutnya menambakan.
"Maafkan saya, Tuan Mateus. Saya paham," jawab Carl dengan segera, seraya menunduk kecil.
"Lalu apa yang akan kau laporkan, Maeve?" Mateus melanjutkan topik pembicaraan mereka.
"Pembangunan di Distrik Satu, Dua, dan Tiga, berjalan dengan lancar, Tuan. Jaringan kabel listrik tanam dan generatornya sudah selesai di bangun. Beberapa tanah sitaan dari keluarga bangsawan juga sudah mulai di bagikan kepada orang-orang yang mau mengerjakannya. Dan sejauh ini sepertiga dari keseluruhan tanah lahan di Provinsi Timur ini sudah mulai dikelola," ujar gadis berambut cepak itu memulai laporannya. "Sekolah pertama di luar Wilayah Pusat yang dibangun di kota ini juga sepertinya sudah mulai berjalan. Orang-orang mulai sadar pentingnya anak-anak mereka untuk mendapat pendidikan sejak dini," lanjutnya kemudian.
"Baguslah. Pembangunan wilayah memang harus berjalan bertahap seperti sekarang ini." Mateus menanggapi.
"Tapi dari semua itu, kita memiliki masalah baru di wilayah Povinsi Timur ini, Tuan Mateus," ujar Maeve kemudian.
"Apa yang kau maksud adalah pemberontakan di bekas wilayah Ceodore?" tanya Mateus memastikan.
"Benar, Tuan. Saat ini gerakan mereka sudah mulai meresahkan penduduk, dan juga mengganggu pembangunan. Kita harus segera bertindak untuk menekan mereka," jawab Maeve cepat. "Bila tidak segera ditindak, pembangunan yang selama ini sudah berjalan akan jadi sia-sia." ujarnya lagi menambahi.
"Ya, aku juga paham akan hal tersebut. Apa kau sudah mendiskusikan hal ini dengan Nona Margaret?" tanya Mateus kemudian.
"Belum, Tuan. Saya baru melaporkan hal ini kepada Anda saja," ujar Maeve menjawab. "Apakah saya harus mendiskusikan hal ini dengan Nona Margaret?" tambahnya dengan pertanyaan.
"Ya, diskusikan hal ini dengan Nona Margaret. Sementara aku juga tetap akan membawa permasalahan ini ke pertemuan Kabinet nanti. Kita memang sedang kekurangan orang saat ini. Semoga Kabinet memiliki jalan keluar untuk masalah ini secepatnya," jawab Mateus yang terlihat sedang berharap.
-
-
Suatu siang di kota Meso di Distrik Empat Provinsi Timur, bekas wilayah Estat Feymarch, seorang perempuan Narva berparas manis, berambut panjang yang diikat bentuk anyam kebelakang, tampak sedang merapikan beberapa bunga di pekarangan rumahnya.
Saat tiba-tiba seorang pemuda Narva berambut cepak, berbadan atletis menyapanya dari belakang. "Versica, bagaimana kabarmu?" Yang membuat perempuan tadi terkejut.
"Pollux?! Apa kabar mu?" sapa balik perempuan yang dipanggil Versica itu setelah mendapati sesosok yang ia kenal tengah berdiri di depan pagar pintu masuk halaman rumahnya. "Wah, tumben sekali kau kemari? Ada perlu apa?" tambahnya kemudian seraya membukakan pagar kayu setinggi pinggang itu.
__ADS_1
"Tiba-tiba aku merindukan mu," balas pemuda bernama Pollux itu dengan nada bercanda.
"Sudah hentikan rayuan gombal mu. Ayo masuk," sahut Versica mempersilahkan, serta menuntun tamunya untuk masuk ke dalam rumah.
"Wah, rumahmu cukup sederhana juga, ya? Mengingat kau dari keluarga bangsawan berpengaruh, dan juga mantan seorang Juara kerajaan," ujar Pollux setelah memasuki ruang tamu rumah Versica.
"Hentikan omong kosong itu. Aku hanya orang biasa sekarang," balas Versica seraya berjalan menuju ke dapur, yang dari ruang tamu tersebut hanya di batasi oleh sebuah meja panjang seperti yang biasa ada di bar-bar.
"Seorang Versica yang agung, sekarang hanya orang biasa? Sulit dipercaya," ucap Pollux yang sudah duduk nyaman di sofa panjang.
"Kau tahu, Lux? Seseorang bisa berubah dengan cepat dan dengan cara yang aneh," ucap Versica seraya membawa nampan yang di atasnya terdapat dua buah gelas, teko kecil. dan mangkuk kecil.
"Apa ini?" tanya Pollux setelah Versica meletakan nampan tadi di atas meja.
"Ini minuman yang pasti kau belum pernah merasakannya sebelumnya?" jawab Versica dengan sedikit berbangga hati.
"Apa ini semacam teh?" tanya Pollux setelah melihat Versica mu,ai menyedu sebuah racikan yang berbau harus yang berasal dari mangkuk kecil tadi.
"Semacam itu, tapi racikan ini terbuat dari Anggrek Bintang dan Gingseng Emas," sahut Versica kemudian, yang kali ini mulai terlihat sedikit sombong.
"Wah, berkelas sekali minumanmu. Apa kau ingin menyombongkan diri dengan minuman ini? Mana tadi yang katanya berubah?" balas Pollux dengan candaan.
"Sudah diam dan rasakan dulu," jawab Versica seraya menyodorkan gelas berisi cairan hangat tersebut kepada Pollux.
.
"Jadi apa tujuan sebenarnya kedatanganmu kemari, Lux? Apa ini tentang mengambil alih wilayah ini?" tanya Versica kemudian setelah mereka selesai berbincang basa-basi.
"Kau selalu saja bicara dengan teris terang seperti itu," jawab Pollux seraya tersenyum kecil. "Apa kau sudah mendapat kabar dari Nona Joan?" tanya pemuda itu kemudian seraya menyandarkan tubuhnya kebelakang. Mencari posisi yang nyaman untuk mulai berbicara dengan serius.
"Ya, aku mendapat banyak sekali pesan, kabar, maupun panggilan. Entah itu lewat seorang kurir, surat, bahkan teman lama seperti sekarang ini," ucap Versica menjawab.
Pollux merubah posisi duduknya setelah mendapati tanggapan dari Versica tersebut. "Dan apa yang menyebabkan kau tidak menjawabnya? Apa merasa takut dengan kekuatan mereka? atau kau sudah menyerah melakukan perjuangan?" ujarnya kemudian.
Versica terlihat menghembuskan nafas pelan. "Ini bukan tentang takut atau menyerah, Lux. Ini tentang pilihanku. Aku memilih tidak akan mengangkat senjata tanpa alasan yang jelas," ucap perempuan itu menjawab.
"Bukankah alasan kita sudah jelas. Kita akan mengembalikan kejayaan kerajaan kita. Apa kau sudah tidak memiliki kesetiaan terhadap tanahmu sendiri?" ucap Pollux yang ditutup dengan pertanyaan.
"Sekarang kau bicara tentang kesetiaan. Apa kau mengerti maksud dari kata-kata itu, Lux? Kesetiaanku hanya kepada tanahku, bukan kerajaan Urbar," jawab Versica. "Entah kau memperhatikannya atau tidak saat kau datang kemari, tapi kota Meso sekarang jauh lebih baik bila dibanding ketika masih berada di bawah kekuasaan Estat Feymarch. Dan bentuk kesetiaanku terhadap tanah kelahiranku ini adalah dengan menjaga wilayah beserta warganya, agar tetap damai dan selalu makmur. Setidaknya seperti saat ini," lanjutnya kemudian.
"Sekarang mereka disebut sebagai kerajaan Rhapsodia, bukan Tanah Mati lagi. Dan benar, aku percaya dengan mereka. Setidaknya sampai saat ini." Versica menjawab dengan tegas.
"Apa kau sudah dicuci otak oleh mereka?" tanya Pollux yang terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Versica.
"Tidak, Lux. Aku hanya melihat apa yang mereka perbuat kepada penduduk kota dan wilayah ini secara keseluruhan, sejak satu setengah bulan aku memutuskan bergabung dengan mereka," ujar Versica menjawab.
"Tapi, Sic...." Belum selesai Pollux berucap, terdengar Versica memotongnya.
"Apa kau lupa, Lux? Mereka mengunakan sihir peledak tingkat tinggi di tengah kota ini. Menewaskan puluhan penduduk yang tidak bersalah," ujar Versica. "Mereka, orang-orang diposisi atas itu tidak segan melakukan hal tersebut, demi kepentingan mereka sendiri," ucapnya lagi yang mulai terdengar getir.
"Itu semua demi kejayaan dan harga diri kerajaan kita, Sic. Pengorbanan diperlukan...." Sekali lagi ucapan Pollux dipotong ditengah jalan oleh Versica.
"Ya-ya, aku tahu kata-kata bijak itu. Omong kosong tentang pengorbanan itu," ucap Versica dengan wajah malasnya.
"Itu bukan omong kosong, Sic." Tampak Pollux merasa tersinggung dengan ucapan Versica tadi.
"Apa kau tahu, Lux? Hal yang kau sebut dengan pengorbanan itu sekarang ada di lantai dua rumah ini," ucap Versica dengan tiba-tiba. "Ibu ku sekarang hanya bisa terbaring di atas tempat tidur, tanpa bisa melakukan sesuatu. Karena ia ada disana saat ledakan itu terjadi. Lalu apa yang kita dapat dari pengorbanannya? Apa kita masih perlu ibu-ibu, ayah-ayah, atau saudara-saudara dari yang lainnya, untuk akhirnya bisa mendapatkan, apa? Harga diri kerajaan?" Versica melanjutkan ucapannya masih dengan tenang dan nada yang biasa saja.
"Oh... Maafkan, aku tidak tahu tentang hal tersebut." Pollux menjawab lirih.
"Dan kau tahu siapa yang menyelamatkan ibuku dari kematian. Lux? Orang-orang yang selama ini ku sebut sebagai penjahat. Lalu menurutmu kepada siapa aku harus percaya sekarang?" Versica berucap dengan penuh penekanan nada.
Pollux sendiri sudah tidak mampu lagi menjawab perkataan dari Versica. Ia hanya terdiam menatap miniman di dalam gelas yang masih tersisa setengah di atas meja.
"Dan agar kau tahu, Lux. Aku tidak akan membiarkan kota dan wilayah ini jatuh lagi ke tangan para bangsawan kepala Estat itu," ucap Versica lagi dengan tegas. "Dan kau boleh meninggalkan tempat ini setelah kau habiskan minumanmu itu," tambahnya kemudian.
-
Sore harinya, Versica melakukan perjalanan menuju ke kota Diro. Dua jam dari kota Meso dengan menggunakan kereta besi yang kini menjadi sarana umum utama untuk berpergian antar kota di seluruh wilayah kekuasaan kerajaan Rhapsodia.
Tujuan utama Versica adalah markas cabang dari kelompok Bintang Api untuk wilayah Provinsi Timur. Tempat dimana Margaret berada untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Oh. Kau, Ve? Ada keperluan apa sampai kau datang kemari malam-malam begini?" Margaret muncul tak lama setelah Versica mengetuk pintu depan gedung yang terletak tak jauh dari alun-alun kota tersebut.
"Ada hal yang ingin ku bicarakan," jawab Versica cepat.
"Masuklah." Margaret mempersilahkan Versica masuk.
"Oh, kau sedang kedatangan tamu ternyata. Maaf mengganggumu. Aku bisa kembali setelah ini," ujar Versica setelah mendapati seorang gadis Narva dengan potongan rambut pendek yang menarik perhatian, sedang duduk di ruang tamu gedung tersebut.
"Tidak apa-apa. Jangan kuatir," ucap Margaret menjawab cepat. "Perkenalkan, dia Maeve. Dia adalah pegawai Pemerintahan Wilayah Provinsi Timur di bawah Tuan Mateus," tambahnya kemudian mengenalkan Maeve kepada Versica.
"Perkenalkan saya Maeve Geordo, Wakil Pelaksana Bidang Pembangunan, yang mengurusi wilayah Provinsi Timur secara keseluruhan," ucap Maeve seraya memberikan tangannya ke arah Versica untuk dijabat.
"Oh, Geordo," ujar Versica yang tampaknya mengenali nama keluarga Maeve.
"Anda mengenali keluarga saya?" tanya Maeve yang terlihat terkejut bahwa Versica mengenali nama keluarganya yang bahkan berstatus di bawah seorang Baron.
"Ya, aku mengenal keluarga Geordo. Keluarga cabang Feymarch. Karena aku juga berasal dari kota Meso. Perkenalkan namaku Versica Quency," ucap Versica memperkenalkan diri seraya menjabat tangan Maeve.
"Oh, Anda adalah salah satu dari dua belas Juara dari kerajaan Urbar? Tidak disangka saya akan bertemu dengan orang hebat," ujar Maeve yang terlihat kagum menatap Versica.
"Julukan dan status itu sudah tidak berarti sekarang," balas Versica cepat.
"Cukup dengan acara perkenalannya. Jadi apa yang ingin kau bicarakan, Ve?" Margaret memotong acara basa-basi Versica dan Maeve.
Versica terlihat ragu menatap ke arah Maeve fan Margaret secara bergantian.
"Oh, jangan kuatir. Maeve bukan orang luar. Kau bisa menceritakannya sekarang," ucap Margaret kemudian mencoba meyakinkan Versica.
"Baiklah kalau begitu." Versica mulai bercerita. "Jadi siang tadi mereka mendatangiku lagi. Akhir-akhir ini mereka lebih sering melakukan hal tersebut. Baik dengan ku, atau dengan yang lain. Dan menurut kabar dari rekan ku di kota Gala, sepertinya mereka sedang menyiapkan sebuah rencana untuk melakukan serangan besar-besaran," jelasnya kemudian.
"Ya, seperti yang ku kuatirkan. Memang sangat beresiko mempekerjakan beberapa orang yang sebelumnya memiliki kedudukan di wilayah lama ini," ucap Margaret menimpali. "Oh. Bukan maksudku untuk menyinggungmu, Ve," susulnya kemudian mencoba menjelaskan ucapannya yang mungkin mengundang kesalahpahaman.
"Tidak apa-apa. Tapi memang seperti itu kenyataannya." Versica menjawab dengan tenang.
"Lalu apa kau tahu sesuatu tentang rencana mereka, Ve?" tanya Margaret kemudian.
"Aku tidak tahu." Versica mengeleng pelan. "Mereka tidak cukup bodoh untuk membocorkannya kepada orang-orang yang belum benar-benar mau membantu," ucapnya menambahkan.
"Apa Anda tahu siapa saja orang-orang yang telah mereka hubungi, Nona Versica?" Kali ini Maeve yang bertanya. "Mungkin kami bisa mulai mengawasi orang-orang tersebut," ucapnya kemudian.
"Kurasa mereka menghubungi semua kenalan mereka yang bekerja di wilayah ini," jawab Versica cepat.
"Susah juga bila seperti itu. Kita tidak mungkin bisa mengawasi setiap orang yang bekerja di wilayah ini." Maeve terlihat menyerah dan putus asa.
"Lagi pula yang menjadi pertanyaannya adalah; kenapa kalian memperkerjakan orang-orang dari pihal lawan untuk memegang beberapa posisi penting dalam pemerintahan kalian?" Versica terlihat benar-benar penasaran dengan keputusan tak lazim tersebut.
"Ya, kalau itu karena sifat dari pemimpin kami yang boleh dibilang cukup naif," jawab Margaret dengan senyum tanggung.
"Ya, aku juga sudah sadar akan hal tersebut. Tapi bukankah seharusnya ada orang yang mencoba untuk mengingatkan Sang Ratu tentang pengambilan keputusan yang baik untuk wilayahnya?" tanya Versica masih dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Menurut rencana awal memang kami akan memperkerjakan sembarang orang habya untuk pembangunan di awal saja," ucap Margaret menjawab. "Dan akan dilakukan seleksi setelah kami sudah mulai bisa untuk berdiri sendiri. Tapi sepertinya pihak lawan sadar akan hal tersebut dan segera melakukan gerakan untuk memanfaatkan keadaan," jelasnya kemudian.
"Apa keputusan tersebut tidak dipikirkan masak-masak? Apa tidak ada rencana cadangan bila hal seperti sekarang ini terjadi?" tanya Versica yang sekarang terlihat sudah nyaman di atas tempat duduknya, menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"Kurasa semua keputusan yang sekarang dijalankan telah mendapat persetujuan dari penasehat kami. Dan seharusnya dia sudah membaca arah keadaan dan menyiapkan solusinya," ujar Margaret memberi jawaban.
"Apakah yang kau maksud, pemuda bernama Nata? Yang ada di gerbang selatan saat para Juara melakukan serangan langsung ke dalam pintu gerbang waktu itu?" Versica menebak.
"Benar. Yang ku maksud adalah Tuan Nata," ucap Margaret kemudian.
"Ada apa sebebarnya dengan pemuda itu? Kalian dan seluruh wilayah ini seperti memuji-muji kehebatannya," Versica bertanya tidak paham.
"Ya, karena Tuan Nata memang sehebat itu. Wilayah ini terus berkembang sampai seperti sekarang, karena sembilan dari sepuluh penyembabnya adalah oleh karena rencananya," ucap Margaret menjelaskan.
"Tapi sudah lama aku tidak pernah melihatnya lagi. Terakhir aku melihat pemuda itu dan temannya, saat berada di acara penobatan Sang Ratu," sahut Versica kemudian.
"Mereka berdua itu memang pemuda yang aneh. Maksudku Tuan Nata dan yang kau bilang temannya itu, Tuan Aksa. Tidak ada yang tahu apa yang sedang mereka berdua pikirkan," ucap Margaret mencoba menjelaskan sekilas tentang Nata dan Aksa kepada Versica. "Sekarang ini sepertinya mereka berdua tengah mempersiapkan sesuatu di gua di dasar jurang Ceruk Bintang," ucapanya lagi menambahi.
"Yah, apapun itu. Kembali ke topik pembicaraan kita sebelumnya, kurasa kau harus segera mengabarkan hal ini kepada orang-orang pusat mu dan segera bersiap-siaplah akan apapun yang akan terjadi setelah ini," ujar Versica lagi memberi masukan.
"Ya, akan segera ku kabarkan kepada mereka. Terima kasih, Ve," ucap Margaret yang kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke ujung ruangan. "Ngomong-ngomong, kemarin aku baru saja mendapat kiriman dari Shuri. Dan sepertinya ada minuman jenis baru lagi yang dijual di Wilayah Pusat. Apa kalian ingin mencobanya?" Tampak Margaret mengangkat sebuah botol minum yang terbuat dari kaca berwarna coklat buram.
__ADS_1
Dan kemudian terlihat Versica dan Maeve tersenyum melihat botol yang ada dalam genggaman Margaret.
-