
"Tenang-tenang, aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya ingin mengambil batu milikku itu" ucap gadis Elf itu sambil mengangkat tangannya melihat reaksi tiga ksatria disekeliling nya itu. Daun telinganya yang lancip itu bergerak-gerak kecil.
"Kristal Arcane ini milik mu?" Tanya Caspian yang kali ini benar-benar menarik pedangnya dari sarung.
"Hei, tenang-tenang benda itu dicuri dari ku" tambah gadis itu segera, karena ia sadar kata-katanya tadi menimbulkan kesalah pahaman.
"Dari mana kami tahu kalau kau tidak berkata bohong?" Jean bertanya, yang juga sudah menarik pedangnya dari sarung.
"Ya, aku akan berkata seperti itu juga sih kalau jadi kau" ucap gadis Elf itu seraya menghembuskan nafas pasrah. Kemudian menurunkan tangannya."Namaku Yvvone. Aku Aeron. Aku yang membuat batu tersebut. Batu itu dicuri dari kampung halamanku Tiere, daratan seberang daratan ini" ucapnya kemudian memperkenalkan diri.
Caspian dan yang lain masih belum menurunkan pedang mereka. Mereka masih menilai apakah gadis Elf yang mengaku bernama Yvvone ini bisa dipercaya atau tidak.
"Dan untuk menjadi perhatian kalian, bahwa masih ada satu lagi batu yang dicuri, dan sepertinya akan digunkan untuk hal buruk lagi. Jadi aku harus cepat-cepat mengambilnya" tambah Yvvone kemudian.
"Apa masih ada orang lain lagi yang hendak membunuh sang putri?" Tanya Jean kemudian.
"Mana ku tahu?" Jawab Yvvone ringan yang tampak mulai serius memperhatikan pria berjubah yang ada didekat Helen.
"Apa maksudmu sebenarnya?" Tanya Caspian yang merasa dipermainkan oleh gadis Elf itu.
"Panjang ceritanya. Tapi sebaiknya kau jangan berdiri didekat situ" ujar Yvvone seraya menunjuk kearah Helen.
"Kenapa?" Tanya Helen yang semakin waspada kemasang kuda-kudanya.
__ADS_1
"Percayalah padaku, kau tidak akan mau terkena dampak saat batu itu selesai digunakan" ucap Yvvone yang kemudian disela oleh kejadian tiba-tiba batu di dada pria berjubah tersebut bersinar oranye terang.
Menyadari hal tersebut Helen melompat menjauh. Dan kemudian tubuh pria tadi mulai meleleh. Mengeluarkan hawa panas seperti lava yang membakar pohon tempatnya bersandar dengan seketika.
Semua orang terkejut melihat hal tersebut. Dan setelahnya tubuh pria itu lenyap. Hanya menyisakan tanah yang mencekung berbentuk tubuh pria itu dan batu oranye yang tadi ada di dadanya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Lucia yang perlahan berjalan mendekati Jean.
Nata, Aksa, dan Lily juga berjalan waspada menyusul Lucia.
"Mahluk malang" Kemudian Yvvone berjalan menuju batu tersebut kemudian mengambilnya.
"Apa kau mengenal orang ini? Apa alasannya sampai ia rela mengorbankan diri seperti itu? Kenapa ia sangat ingin membunuhku sampai seperti itu?" Tiba-tiba Lucia bertanya dari belakang Jean.
"Benarkah? Kejam sekali" Tampak Lucia tidak menduga akan menerima jawaban seperti itu.
"Kau tau siapa yang mengancamnya?" Tanya Caspian kali ini yang sudah mulai menerima bahwa gadis Elf itu tidak bermaksud menyerang atau melukai mereka.
"Entahlah, mereka hanya kumpulan orang-orang Morra biasa. Bahkan bukan seorang penyihir" jawab Yvvone seraya memasukan batu oranye tadi dalam tas kecil yang terikat pada pinggangnya. "Oh, aku mendengar mereka menyebut nama Grevier" tambahnya kemudian setelah ia terdiam sebentar seperti sedang mengingat sesuatu.
"Apa kau bilang?" Tanya Caspian tak percaya.
"Tuan Grevier?" Ucap Helen dan Jean nyaris bersamaan.
__ADS_1
"Kakak?" Ucap Lucia yang belum bisa memproses maksud dari ucapan Yvvone baru saja.
"Baiklah, aku sudah menceritakan segalanya pada kalian. Sekarang sudah impas kan?" Ucap Yvvone kemudian seraya berjalan menjauh. "Baiklah kalau begitu aku pergi dari sini" tambahnya kemudian.
"Tunggu sebentar hendak kemana kau pergi? Apakah kau akan menuju ke tempat orang yang memiliki batu Arcan lain seperti yang kau sebutkan tadi?" Caspian menahan.
"Benar, aku akan menuju ke desa para Mugger di dekat hutan utara Elbrasta" jawab Yvvone yang tampak sedang bersiap-siap akan melakukan sesuatu.
"Kalau begitu biarkan aku ikut" ucap Caspian yang merasa ia juga harus menemukan orang tersebut untuk mengorek informasi lebih banyak lagi.
"Silahkan saja bila kau mau kesana, itu hak mu. Tapi jelas kau tak akan mampu mengikutiku" jawabnya dengan tersenyum manis. Rambutnya kini mulai terlihat berkilauan terkena sinar matahari.
"Aku akan sedikit terlambat untuk sampai ditempat tersebut, tapi tolong selamatkan orang yang satu itu. Aku perlu informasi darinya" ucap Caspian yang sadar akan kemampuannya dibanding Aeron dihadapannya itu.
"Aku memang berencana untuk menyelamatkannya. Baiklah, sampai jumpa semua" setelah berkata demikian, Yvvone segera melesat ke angkasa dengan cepat.
Orang-orang yang ada ditempat itu melindungi wajah mereka dari debu yang berterbangan karena angin yang dihasilkan saat gadis Elf itu bertolak dari tanah.
"Oh, sekarang jelas sudah bagaimana Elf itu bisa sampai disini" ujar Nata setelahnya.
"Padahal aku ingin foto bersama dengan Loli Elf itu" celetuk Aksa kemudian.
-
__ADS_1