
"Dimana bibi dan yang lain, Yah? Tumben sekali rumah ini sepi?" tanya Fla begitu ia dan Livia memasuki ruang tamu rumah dimana ayahnya sudah menunggu.
"Dimitri dan Arian sedang mengirim barang ke tempat Fang di pesisir timur. Sekaligus hendak membeli ikan untuk acara kita besok malam," jawab Khan dari tempat duduknya di salah satu sofa di ruangan tersebut.
"Oh, sudah lama aku tidak berjumpa dengan paman Fang. Apa besok beliau akan datang kemari?" Fla dan Livia ikut duduk di sofa di depan Khan.
"Mungkin nanti malam dia beserta Dimitri dan Arian akan kemari," jawab Khan yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan, "Bagaimana perjalanan kalian?"
"Perjalanan kami kali ini jauh lebih baik, ayah. Mungkin karena Fla sudah mulai handal dalam mengendari kereta besi." Livia menjawab.
"Baguslah kalau begitu," Khan menjawab seraya membelai jenggotnya yang sudah mulai memutih.
"Aku hampir saja lupa sekarang paman Fang mengurus Desa pesisir timur itu. Sudah berapa lama aku tidak berbincang dengan beliau," ucap Fla terlihat mengenang sesuatu.
"Semenjak desa itu dibangun kembali. Kurang lebih sepuluh bulan?" Khan menjawab.
"Apa kabar beliau disana?"
"Fang akan baik-baik saja. Dia memiliki jiwa pemimpin dan tanggung jawab tinggi. Dia adalah pilihan paling tepat untuk memimpin pembangunan ulang wilayah pesisir tersebut. Disamping banyak pula Yllgarian dari hutan Sekai yang membantunya." Khan memberikan penjelasan.
"Syukurlah, aku tidak sabar untuk bertemu dan bercerita banyak hal dengan beliau." Fla membalas.
"Maaf menyela, tapi saya permisi dulu, ayah. Saya hendak ke rumah keluarga James untuk mengirimkan titipan barang sekaligus membahas untuk acara besok," sela Livia kemudian dengan sopan.
"Harusnya calon menantu tidak perlu direpotkan seperti ini," ucap Khan membalas.
"Saya yang sudah tidak punya siapapun ini akan jadi lebih sedih bila tidak melakukan apapun sama sekali, ayah." Livia menjawab sambil setengah tertawa.
"Baiklah, aku mengerti. Pergilah," ucap Khan menjawab. Tatapannya terlihat hangat ketika menatap Livia.
"Kalau begitu saya juga permisi, ayah. Saya akan menemani Livia," ucap Fla yang mengikuti Livia yang sudah bangkit berdiri dari tempatnya duduk.
"Sebentar Fla, aku ingin bicara denganmu," ucap Khan menahan Fla untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Tidak apa, Fla. Aku bisa pergi sendiri," jawab Livia saat Fla menatapnya seperti meminta persetujuan. "Saya permisi, ayah," ucapnya kemudian seraya melangkah meninggalkan ruang tamu tersebut.
"Apa yang hendak ayah bicarakan?" tanya Fla yang kini sudah kembali duduk.
"Tentang kalian berdua setelah ini," jawab Khan kemudian.
"Kenapa dengan kami?"
"Apa kalian tidak berniat untuk tinggal dan membantuku di desa ini?" Khan memulai topik pembicaraannya. "Sekarang tempat ini sudah bertambah besar. Kau pasti melihatnya saat datang kemari tadi. Bahwa batas Desa ini sudah meluas. Beberapa area di ujung utara sudah mulai dibangun rumah baik untuk sanak keluarga warga asli, maupun pendatang," jelasnya kemudian panjang lebar.
"Iya saya melihatnya, ayah." Fla mengerti kerisauan yang dimiliki oleh ayahnya.
"Belum lagi wilayah di pesisir timur yang dipimpin oleh Fang itu, juga adalah tanggung jawabku," tambah Khan kemudian.
"Saya mengerti kerisauan ayah," ucap Fla kemudian. "Tapi untuk saat ini tenaga kami berdua masih diperlukan di kota Tengah. Bahkan Livia sekarang tidak hanya mengurusi sekolah di kota Tengah dan wilayah Timur ini saja. Tapi juga ikut membantu sekolah yang baru saja di bangun di tanah selatan sana," lanjutnya lagi mencoba menjelaskan, sebelum menolak permintaan tak langsung dari Khan dengan sopan.
Khan hanya diam mendengar kelanjutan ucapan Fla.
"Jadi mungkin akan susah untuk kami melakukan hal tersebut. Seperti tinggal dan ikut membantu mengurusi tempat ini. Di samping saat ini Nona Rafa sedang tidak dalam kondisi yang baik," lanjut Fla.
"Oh iya, aku juga mendengar tentang hal itu. Tentang hal yang sedang terjadi di wilayah Pusat sekarang ini. Tentang kerajaan Elbastra dan juga tentang Tuan Aksa dan Tuan Nata," Khan membalas pendek.
"Oleh karena hal itu juga kami berdua telah sepakat untuk menunda acara perayaan pernikahan kami sampai setidaknya Tuan Aksa dan Tuan Nata selesai dari apapun yang sedang mereka lakukan saat ini." Fla kembali btrucap.
"Hm... baiklah. Aku mengerti bila memang seperti itu keputasan kalian berdua." Khan menjawab setelah terdiam beberapa saat menatap ke arah putra satu-satunya itu.
"Ayah bisa bicarakan masalah kepengurusan wilayah ini kepada Tuan Orland bila ayah sudah merasa kualahan. Saya yakin beliau pasti akan membantu mencarikan solusinya," ucap Fla kemudian mencoba memberikan masukan tentang kegelisahan Khan.
"Kurasa aku hanya ingin kalian berada di desa ini saja. Bukannya aku sudah bebar-benar kualahan menangani wilayah ini," jawab Khan seraya menghembuskan nafas panjang.
"Maafkan saya, ayah," ucap Fla saraya mengarahkan pandangannya ke arah meja di hadapannya.
"Tidak perlu. Salahku meminta di saat seperti ini. Dan semoga hal ini tidak berlarut-larut," ucap Khan kemudian.
"Mari kita minta yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini kepada para Dewa," ucap Fla membalas.
-
Sementara itu Fang si Yllgarian Singa yang berada di pesisir timur tampak sedang berkeliling memantau pembangunan di pelabuhan pesisir timur, Pelabuhan Pantai Sekai, saat dua pasangan Morra datang menghampirinya. Pasangan Morra itu adalah Arian dan Dimitri. Adik perempuan dan adik ipar dari sahabatnya, Khan.
"Oh, kalian sudah datang? Apa kalian baru dari tempat ku?" tanya Fang saat kedua Morra itu sudah berada di dekatnya.
Penampilan Fang kini sedikit berubah dari biasanya. Kini singa tua itu tidak mengenakan pakaian khas pemburu lagi. Melainkan pakaian rapi dengan jas panjang seperti yang dikenakan oleh Khan. Yang sebenarnya adalah pakaian seorang kepala desa yang umum di wilayah Daratan Utara.
Surai di sekitar kepalanya dikepang dan ditarik kebelakang agar terlihat rapi dan mengurangi aura garang yang biasa tampak pada wajahnya.
__ADS_1
"Benar. Dan orang-orang disana bilang kau sedang berada di tempat ini," jawab Dimitri kemudian.
"Kalian bisa meminta mereka memanggilku dan bukan malah datang kemari di cuaca yang terik seperti saat ini," ucap Fang yang kemudian mengajak kedua orang itu berjalan menuju ke sebuah bangunan artistik tak jauh dari tempat mereka bertemu.
"Apa yang kau bicarakan? Seperti kami ini seorang bangsawan saja. Lagi pula Arian juga perlu membeli sesuatu di pasar ikan tepi pantai sana," balas Dimitri seraya menunjukan jinjingan di tangan kanannya kepada Fang. Berupa kotak yang terbuat dari anyaman bambu yang diikat dengan tali.
"Kami membawa beberapa hasil panen bulan lalu untuk kau bagikan kepada penduduk desa," ucap Arian menambahi. "Kami meminta orang-orang yang ada di tempat mu untuk menyimpannya," tambahnya kemudian.
"Oh, luar biasa. Terima kasih." Fang menjawab dengan suara beratnya.
"Kulihat wilayah ini berkembang dengan pesat dari terakhir aku kemari tiga minggu yang lalu. Jajaran menara jaga yang juga generator listrik itu, kulihat sudah selesai dibangun sepanjang jalan mulai dari Hutan Sekai hingga tepian pantai. Pemisah jalan untuk kereta tambang juga sudah selesai dibangun. Fasilitas di Desa Sekai juga tampak jauh lebih baik. Pantas saja kau terlihat sibuk," ucap Dimitri panjang lebar saat mereka sudah berada dalam bangunan artistik yang ternyata adalah sebuah kedai minum.
Tampak kedai itu hanya berupa bangunan sederhana dari kayu yang beratapkan anyaman daun kelapa kering. Tampak tiga meja kecil yang dikelilingi empat tempat duduk berada di depan meja panjang bartender.
Fang, Dimitri, dan Arian mengisi meja paling ujung. Dan karena bangunan tersebut tidak memiliki sekat di bagian depannya, membuat mereka masih dapat melihat dan dilihat pejalan kaki yang sedang berlalu lalang di jalanan di depan kedai tersebut.
"Kesibukan ini dikarenakan kami baru saja memulai pembangunan awal dermaga untuk Pantai Sekai. Yang masih butuh pengawasan lebih," ucap Fang menjelaskan. "Tapi syukurnya semua rencana berjalan tanpa adanya halangan yang berarti," lanjutnya seraya menatap kesibukan jalanan yang bukan hanya diisi oleh manusia saja, tapi juga oleh Yllgarian.
"Pemandangan yang mungkin hanya bisa di lihat ditempat ini, dari seluruh dunia." Arian berucap seraya mengikuti Fang menatap kesibukan jalanan. "Yllgarian yang menjalani kehidupan mereka di luar hutan," lanjutnya kemudian.
"Wilayah ini memang lebih banyak ditinggali oleh para Yllgarian dibanding wilayah lainnya. Meski para Yllgarian sudah bebas menentukan untuk tinggal di luar hutan, namun sebagian besar dari mereka masih memiliki insting untuk tetap tinggal di sekitaran hutan. Itulah sebabnya," jawab Fang mencoba menjelaskan. "Walau tidak sedikit juga yang memilih untuk tinggal di Kota Tengah, Desa Waduk, dan wilayah selatan yang jauh dari hutan," ucapnya lagi menambahkan.
"Tidak salah memang memilihmu untuk memimpin wilayah ini," ucap Dimitri memuji.
"Ini semua karena kerja keras para warga. Baik itu manusia atau Yllgarian," jawab Fang merendah.
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya." Tiba-tiba terdengar seseorang menyapa mereka bertiga dari arah jalan.
"Oh, Tuan Shyam? Selamat siang," balas Dimitri begitu ia tahu bahwa Shyam lah yang baru saja menyapa mereka. "Anda berada ditempat ini juga? Ada keperluan apa?" lanjutnya dengan pertanyaan.
"Benar, Tuan Dimitri. Sudah sejak sebulan ini saya berada ditempat ini. Saya mendapat tugas untuk menangani markas cabang di wilayah ini bersama Saul," jawab Shyam kemudian. Tampak ia baru saja membeli sesuatu di pasar ikan tepi pantai. Karena terlihat ia juga menjinjing kotak anyakan bambu yang sama seperti milik Dimitri.
"Wah, selamat untuk Anda, Tuan Shyam." Arian memberi selamat karena beranggapan bahwa Shyam mendapat kenaikan posisi.
"Anda mengucapkan selamat seperti pekerjaan ini adalah pekerjaan istimewa saja, Nyonya Arian. Ini adalah pekerjaan wajib untuk semua anggota," jawab Shyam mencoba meluruskan kesalah pahaman. "Karena dengan berdirinya kerajaan Rhapsodia ini, dan perlunya kami membentuk anak kelompok, membuat kami harus membangun cabang di semua tempat. Baik di timur, barat, utara, selatan, dan bahkan di dua Provinsi baru di daratan selatan. Jadi jelas ini adalah tugas semua orang," jelasnya kemudian dengan nada kecewa yang dibuat-buat.
"Setidaknya Anda adalah seorang senior dan pembimbing untuk anggota baru, sekarang." Arian menjawab.
"Benar. Dan hanya hal itu yang sekarang bisa saya bangga-banggakan, Nyonya Arian," balas Shyam lagi masih dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat.
Semua orang tertawa menanggapi ucapan Shyam.
"Besok lusa kami akan mengadakan acara secara adat di Desa Timur. Bila ada waktu, silahkan datang bersama anggota Bintang Api yang lain, Tuan Shyam," undang Arian. "Meski bukan acara perayaan, tapi jangan kuatir. Tetap akan ada jamuan makanan," tambahnya kemudian.
"Wah, menggoda sekali. Tapi sayangnya beberapa anggota baru di wilayah ini masih belum bisa ditinggal begitu saja tanpa pengawasan." Shyam menolak undangan Arian dengan sopan. "Tapi, kami pasti datang saat acara perayaannya di gelar," tambahnya menjanjikan.
"Kami akan tunggu kedatangan Anda sekalian," balas Arian yang terlihat benar-benar berharap.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dahulu. Saul sudah menunggu," ujar Shyam kemudian berpamitan.
"Silahkan, Tuan Shyam," jawab Dimitri kemudian. Dan Shyam pun kembali berjalan menjauhi kedai tersebut.
"Semua orang berkembang bersama dengan wilayah ini." Terdengar Dimitri bicara sendiri.
"Benar. Syukurlah kita berada di bawah kepemimpinan Ratu Lucia," sahut Fang menimpali.
"Benar." Arian dan Dimitri menjawab nysris bersamaan, dengan nada lega dan rasa syukur.
-
Sementara itu di markas cabang dari kelompok Bintang Api yang berdiri di sisi barat Desa Sekai, tampak Saul yang sedang menunggu kedatangan Shyam sedang asik berbincang dengan trio pemburu yang mampir karena undangan Shyam, beberapa hari sebelumnya.
"Jadi kapan kalian bertiga kembali ke wilayah ini? Ku dengar kalian sedang membantu Nona Elaine di selatan," tanya Saul, pria Morra dengan potongan rambut aneh. Yang panjang hanya dibagian tengahnya saja, dan cepak nyaris botak di bagian sisi kiri dan kanan kepalanya.
"Benar kami dari pegunungan Trava di barat Estat Saronia. Atau lebih tepatnya bekas Estat Saronia," Loujze menjawab dari tempat duduknya di sebelah Deuxter, di hadapan meja panjang di ruang tengah markas tersebut. "Dan kami baru saja kembali tiga hari yang lalu, sehari sebelum Shyam mengundak kami kemari," lanjutnya kemudian.
"Bagaimana situasi di sana?" tanya Saul yang duduk di sebelah Huebert di seberang Loijze dan Deuxter.
"Jujur, karena kami hanya berada di area pegunungan sepanjang waktu, dan hanya menjelajah tebing dan gua untuk pertambangan, jadi kami tidak banyak tahu tentang hal tersebut." Loujze menjawab dengan sedikit muram.
"Lalu berapa lama kalian di sana? Apakah wilayah pegunungan Trava itu serupa dengan gunung Sekai?" Saul bertanya lagi, terlihat cukup penasaran.
"Kami kesana setelah acara penobatan Sang Ratu. Yang berarti kurang lebih tiga mingguan," jawab Loujze kemudian.
"Pegunungan disana memiliki iklim yang kering. Berbeda dengan tempat ini, Gunung Sekai, yang memiliki iklim sangat basah," sahut Deuxter menambahi.
"Dan juga tidak ada hutan di kaki gunungnya." Loujze menimpali.
"Ya, membuatku rindu berburu di hutan Sekai." Kali ini Huebert yang berucap.
__ADS_1
"Jadi, apakah semua sudah berjalan lancar di sana? Hingga kalian beriga sudah kembali lagi kemari?" Saul kembali melanjutkan pertanyaannya.
"Sebaliknya, sangat kacau di wilayah tersebut," ucap Loujze dengan nada yang sedikit meninggi. "Para pemberontak dari mantan kepala Estat terus melakukan serangan dan mengganggu pekerjaan pembangunan. Pembangunan apapun. Tidak terkecuali rencana pembangunan area tambang tersebut," tambahnya kemudian.
"Dan tepat seminggu yang lalu, Tuan Orland memutuskan untuk menarik dan menghentikan beberapa rencana pekerjaan di bidang tertentu, yang dirasa tidak terlalu perlu untuk dilakukan Kerajaan. Termasuk bidang pertambangan." Deuxter menyambung jawaban dari Loujze.
"Berarti Nona Elaine juga kembali ke wilayah Pusat ini?" tanya Saul lagi.
"Seluruh penambang. Kini mereka dan Bibi Go sudah berada di wilayak pertambangan di dasar Ceruk Bintang," jawab Duexter menjelaskan.
"Memang yang kudengar dari Ketua, kerajaan kita sedang kekurangan prajurit untuk menjaga bekas wilayah kerajaan Urbar dan memerangi para pemberontak tersebut." Saul memberikan informasi yang ia dengar.
"Benar. Dan aku merasa itu aneh," sahut Huebert menanggapi ucapan Saul. "Karena tidak ada rencana gila atau peralatan tidak masuk akal yang muncul sebagai solusi untuk mengalahkan para pemberontak itu. Dan baru beberapa hari lalu aku mendengar bahwa dua pemuda itu tidak dapat dihubungi," lanjutnya kemudian.
"Benar. Tepat beberapa hari setelah pelantikan Yang Mulia Ratu, mungkin tepat setelah kalian menuju ke wilayah selatan, Tuan Aksa dan Tuan Nata tiba-tiba mengunci diri dalam gua peninggalan Pharos yang ada di dasar Ceruk Bintang itu," ujar Saul menjawab.
"Hal itu benar-benar sangat mencurigakan. Meski aku tahu benar kelakuan Tuan Aksa yang kadang tidak masuk akal, tapi selalu ada penjelasan darinya tentang apa yang sedang ia lakukan." Deuxter berucap. "Meski kadang hanya omong kosong yang tidak kita mengerti, tapi setidaknya ia memberi tahukannya pada kita."
"Benar, mereka memang aneh, tapi bukan orang yang suka menyembunyikan sesuatu." Loujze menimpali.
"Makan telah datang!" tiba-tiba Shyam membuka pintu sambil berteriak. Mengejutkan yang lain.
"Bisakah kau berhenti bersifat kekanak-kanakan seperti itu, Shyam!" teriak Saul jengkel pada Shyam yang telah membuatnya terkejut.
"Apa itu Tuna Laut Dalam? Sudah lama sekali sejak terakhir aku memakannya." Loujze segera berucap saat melihat kotak ayaman bambu yang ada di tangan Shyam, serta aroma yang hanya indra Getjza saja yang cukup tajam untuk mampu menyiumnya.
"Hidung Getzja memang tidak bisa dibohongi," ucap Shyam sambil mengangkat kotak ayaman bambu yang ada di tangannya. "Tapi Tuna ini masih perlu dipanggang dulu sebentar." Shyam berjalan menuju dapur di ruang sebelah, yang kemudian di susul oleh Loujze yang ingin membantu.
"Lalu bagaimana dengan kalian? Kudengar sekarang anggota asli Bintang Api telah menjadi orang-orang penting yang membawahi beberapa anggota baru," ucap Deuxter kemudian melanjutkan perbincangan sambil meninggu Shyam selesai memanggang Tuna Laut Dalam tersebut.
"Apa kalian sudah menjadi pemimpin kelompok sekarang ini?" tanya Loujze dengan sedikit berteriak dari arah dapur.
"Tidak semewah dan semanis kedengarannya." Saul menjawab dengan nada malas. "Itu karena kami harus membuat markas cabang di tiap wilayah di kerajaan ini. Jadilah kami, anggota asli, diberi masing-masing wilayah untuk diurus," ucapnya menjelaskan.
"Maaf koreksi! Dipaksa untuk mengurusi. Bukan diberi!" Terdengar teriakan Shyam dari arah dapur.
"Memang ada berapa markas yang kalian bangun?" Huebert bertanya mengacuhkan teriakan Shyam.
"Delapan. Dan kami hanya berdua belas," jawab Saul singkat.
"Oh, banyak juga. Dan apa itu berarti kalian membuat tujuh anak kelompok sekaligus?" Kali ini Duexter yang bertanya.
"Ya, sebenarnya tidak benar-benar sekaligus, sih. Tapi karena jedahnya sangat pendek, jadi terasa seperti sekaligus." Saul menjelaskan dengan sedikit enggan.
"Dan dimana saja kalian membuat markas tersebut?" Huebert bertanya lagi.
"Jelas di wilayah Pusat ini kami mendirikan lima markas. Disini, ada aku dan Shyam. Lalu di Kota Utara, ada Billy dan Leon. Dan di Kota Selatan ada Thomas dan Diana." Saul menjelaskan panjang lebar. "Sedang di Kota Pelabuhan pesisir barat masih dalam pembangunan. Rencananya akan diberikan kepada Ende dan Sigurd, tapi sepertinya Ende sama seperti Axel yang tidak suka melakukan pekerjaan seperti mengurusi surat-surat dan pencatatan. Entahlah, bagaimana nanti kedepannya. Kita tidak bisa memaksa orang untuk melakukan hal yang tidak ia suka juga, kan?" lanjutnya kemudian.
"Tapi Axel tetap di paksa untuk mengurusi wilayah Kota Tengah bersama Shuri," sahut Shyam dari arah dapur.
"Tapi kota Tengah itu hanya lelucon saja, Shyam. Bahkan tidak ada anggota baru di markas cabang tempat itu." Saul membalas ucapan Shyam.
"Lalu Tuan Cedrik dan Nona Margaret?" tanya Deuxter yang terlihat penasaran.
"Ketua dan wakil ketua memegang wilayah baru di selatan. Ketua mengurusi Provinsi Barat, dan wakil ketua mengurusi Provinsi Timur." Saul kembali menjawab.
"Dan apa di tiap cabang, kalian sudah memiliki anggota baru?" tanya Deuxter lagi yang kali ini penasaran setelah Saul menyinggung tentang anggota baru di Kota Tengah sebelumnya.
"Sayangnya sudah," sahut Saul seraya menghembuskan nafas. "Dan kami juga harus mengurus mereka," tambahnya yang terdengar seperti sedang tersiksa.
"Benarkah? Luar biasa sekali. Jadi kelompok Bintang Api sekarang sudah menjadi serikat petarung yang besar? Berapa jumlah anggota baru kalian saat ini?" Terdengar Deuxter sangat tertarik dan penasaran mendengarnya.
"Tidak banyak sih. Dan juga tidak sama di tiap wilayahnya," sahut Saul cepat. "Tempat ini hanya memiliki tiga anggota baru, yang mana hanya ada lima orang bila mengikutkan kami berdua. Tapi kurasa lima sudah cukup untuk menjaga wilayah ini, yang juga dijaga oleh para Yllgarian," jelasnya kemudian.
"Yang paling banyak ada di wilayah selatan. Ketua membawahi dua belas anggota baru. Sedang wakil ketua membawahi sepuluh anggota baru." Saul melanjutkan penjelasannya. "Kemudian di bawah itu ada Kota Utara yang memiliki sembilan anggota baru, dan kemudian Kota Selatan yang memiliki lima anggota baru.
"Sedang kota Tengah seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, sekarang ini hanya ada anggota lama saja. Shuri dan Axel. Ende dan Sigurd juga masih berada di sana sebelum markas di Kota Pelabuhan sisi barat selesai dibangun," jelasnya panjang lebar.
"Kelompok Bintang Api akan tertulis dalam sejarah sebagai satu-satunya serikat petarung bayaran yang berkembang pesat hanya dalam kurun waktu dua tahun saja," ucap Huebert kemudian.
"Yah, kuharap hal itu bisa membuat ku terkenal dan punya banyak uang saat tua nanti," celetuk Shyam yang muncul dari dapur dengan nampan dan beberapa piring di atasnya. "Lalu setelah ini apa yang akan kalian bertiga lakukan? Apa kalian tidak berminat menjadi anggota kelompok kami?" tanyanya kemudian seraya mulai menghidangkan piring-piring berisi potongan Tuna bakar yang aromanya menggugah selera itu, diatas meja. Dibantu oleh Loujze.
"Terima kasih atas tawarannya, Shyam. Tapi untuk saat ini kami akan kembali menjadi pemburu untuk sementara waktu. Kembali berburu dalam hutan Sekai." Deuxter menjawab.
"Juga mencari tahu tentang mengapa Tuan Aksa dan Tuan Nata tiba-tiba mengunci diri dalam gua tersebut," celetuk Heubert menambahi.
"Ya, kurasa memang ada yang tidak beres dengan Tuan Aksa dan Tuan Nata. Tapi semoga aku salah. Semoga mereka hanya melakukan hal aneh yang selalu mereka berdua lakukan," balas Shyam setelah ia sudah duduk di depan meja bergabung dengan yang lain.
"Ya semoga saja."
__ADS_1
-