Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
07. Ikut Bergabung


__ADS_3

"Benarkah kita akan diberi tanah bila ikut bekerja untuk tanah ini?" Tanya Cedrik kepada Selene saat mereka sudah selesai dengan pembersihan.


Mereka kembali menuju ke Perkemahan Bawah, ketempat Nata. Tampak rombongan kelompok Bintang Api berjalan dibelakang rombongan Helen dan para ksatria nya.


"Benar. Maka dari itu kami sekeluargan datang kemari" Selene menjawab dari kereta yang berjalan disebelah, Cedrik yang sedang mengendarai kudanya.


"Oh, begitu ternyata" Cedrik terlihat seperti sedang berpikir. Pandangan menerawang.


"Meski saya tidak terlalu lama mengenal tuan Aksa dan tuan Nata, tapi kurasa mereka bukan seorang pembohong. Belum lagi tuan putri Lucia. Saya berhutang budi dua kali kepada mereka" Selene tampak bercerita.


"Kami juga berutang budi pada rombongan mereka" ujar Cedrik masih tampak sedang berpikir.


"Wah, aku juga ingin memiliki tanah untuk digarap. Dan lalu berkeluarga" ucap seorang pria dari dalam kereta disebelah kereta Selene.


"Aku juga ingin" ujar seorang perempuan disebelah Selene mengikuti.


"Apa kau tidak ingin Ketua?" Kemudian Margaret bertanya.


Cedrik menatap Margaret yang berkuda disampingnya itu masih dengan tatapan yang sedikit menerawang.


"Anda bekerja sebagai apa di tanah ini, tuan Selene?" Tiba-tiba Shyam bertanya dari dalam kereta dibelakang Selene.


"Saya bekerja masih di tempat yang saya suka, dan yang saya mahir dibidang tersebut. Yaitu mengurusi permasalahan binatang untuk tanah ini. Baik yang ternak atau yang buas" jawab Selene yang tampak sedikit membanggakan diri.


"Wah, posisi anda penting sekali" balas Shyam.


"Ya, tapi itu bukan karena saya cakap atau ahli. Itu karena memang ini adalah lahan baru. Jadi belum ada orang yang menempati posisi tersebut" jelas Selene yang kali ini mencoba merendah.


"Oh, benar juga" Shyam menepuk lututnya.


"Itu berarti mereka juga belum memiliki orang yang bertugas sebagai pengawas dan pemelihara area" saut pria disebelah Shyam yang tampak sibuk dengan peralatannya.


"Benar. Nona Helen pasti akan diberi tanggung jawab untuk mengurusi perlindungan kota dan militer" kali ini Margaret yang berucap.


"Oh, benar-benar. Berarti ada kemungkinan untuk menjadi pekerja tetap yang mendapat penghasilan bulanan" perempuan disamping Selene ikut menambahi.


"Enaknya, bisa mendapat penghasilan tetap dan tanah untuk ditinggali" perempuan dalam kereta kuda sebelah berucap lagi.


"Kalian ini" Cedrik menatap para anggotanya dengan tatapan sinis.


Selene tampak berusaha menahan tawa melihat kekompakan anggota Bintang Api tersebut menggoda ketua mereka. Meski Selene hanya melihat sekilas saja, tapi sudah dapat disimpulkan bahwa mereka adalah kelompok yang akrab dan solid.


"Baik-baik. Sekarang coba katakan padaku siapa yang setuju dengan ide itu?" Ucap Cedrik kemudian.

__ADS_1


"Margaret setuju" ucap Margaret paling pertama.


"Shyam juga setuju" Shyam berucap dari dalam kereta kuda yang ditumpangi Selene.


"Shuri juga setuju" saut gadis Morra disebelah Selene yang tampak mencangklong tabung anak panah di punggungnya itu.


"Diana juga setuju" saut perempuan Morra yang membawa tongkat seorang penyembuh dari kereta kuda disebelah.


"Thomas juga setuju" saut pria Morra yang tampak juga seorang penyembuh yang duduk disebelah Diana.


"Sigurd setuju" seorang pria Morra yang berkuda disebelah Cedrik berucap seraya menyondongkan tubuhnya kearah Cedrik sambil menahan tameng dipunggungnya agar tidak jatuh.


"Kau ini" Cedrik mendorong kebelakang wajah Sigurd dengan tangannya.


"Leon juga setuju" ucap pria Morra yang mengendarai kereta kuda sebelah yang sama seperti Shuri, mencangklong tabung anak panah di punggungnya.


"Billy juga setuju" saut pria Morra dengan pakaian seperti Cedrik yang duduk disebelah Leon.


"Saul juga setuju" saut pria Morra yang sedang mengasah pisaunya didalam kereta disebelah Shyam.


"Axel juga setuju" saut Axel dari atas kudanya dibelakang kedua kereta tersebut.


"Kau setuju Ax?" Tampak Cedrik terkejut melihat jawaban Axel. Karena ia tahu temannya yang satu itu tidak perduli dengan bayaran atau kemapanan. Cedrik paham benar bahwa tujuan awal Axel menjadi petarung bayaran adalah karena pria itu ingin mencari petualangan dan tantangan.


"Kurasa bekerja dengan kedua orang itu akan terasa lebih seru dan menantang dari pada hanya menjadi petarung lepas biasa" jawab Axel kemudian.


"Ende juga setuju" ucap Ende tepat sebelum Cedrik ingin bertanya padanya.


"Kau juga setuju Ende?" Terdengar Cedrik juga tak percaya. Ia juga tahu gadis itu menjadi pertarung bayaran juga bukan karena uang dan kemapanan.


"Jelas. Karena aku bisa terus berada didekat nona Lily" jelas Ende kemudian.


"Oh..."


-


Helen dan dua ksatrianya, bersama Selene dan kelompok Bintang Api, bertemu dengan Nata untuk melaporkan hasil dari pembersihan yang telah mereka lakukan.


"Lapor tuan Nata, pembersihan hari ini berhasil dengan sukses" ucap Helen memberikan laporan.


"Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan Antelope Cinder nya?" Tanya Nata kemudian.


"Mereka ada dua belas ekor. Dan tuan Selene berhasil menjinakan kedua belas nya" jelas Helen.

__ADS_1


"Benarkah? Hebat sekali tuan Selene. Lalu bagaimana mereka sekarang? Apakah mereka tidak akan mengganggu pekerjaan kita?" Nata melanjutkan dengan pertanyaan kepada Selene kali ini.


"Mereka sudah tidak akan mengganggu pekerjaan kita atau mendadak menyerang saat melihat manusia, tuan Nata" jawab Selene yang terlihat masih ingin mengatakan sesuatu.


"Apakah ada masalah lain tuan Selene?"


"Masalahnya adalah keselamatan mereka. Bagaimana kalau mereka diserang atau diburu nantinya. Karena kita tidak bisa memelihara mereka dalam kandang seperti hewan ternak untuk melindungi mereka. Itu akan berpengaruh pada tanduk-tanduk mereka yang jadi tidak dapat tumbuh dengan sehat. Mereka harus hidup di alam liar" jelas Selene panjang lebar.


"Berarti kita cuma butuh kandang yang bentuk dan luasnya hampir sama dengan habitat liarnya kan?" Tanya Nata memastikan.


"Apa anda ingin membangun habitat buatan? Seberapa besar?" Tanya Selene dengan wajah tidak percaya namun terlihat menggebu-gebu.


"Sebesar yang kita bisa. Atau mungkin kita bisa membuat suaka alam untuk hewan-hewan lain selain Antelope Cinder di wilayah barat tersebut. Nanti coba aku tanya Aksa posisi mana yang tepat untuk membangunnya" ucap Nata yang tampak seperti untuk dirinya sendiri.


"Apa anda berniat membuat sebuah habitat lengkap dengan rantai makanan mereka?" Tanya Selene yang terdengar lebih seperti sebuah harapan.


"Seperti itu kira-kira" jawab Nata dengan tersenyum.


-


Rombongan Bintang Api masih tetap tinggal dalam tenda Nata untuk membicarakan perihal perjanjian jasa yang akan mereka lakukan. Sementara Helen dan ksatrianya, bersama Selene meninggalkan tempat itu setelah mereka selesai memberikan laporan.


"Jadi tadi saya sudah membicarakan dengan anggota yang lain, tadinya kami akan menerima perjanjian jasa dengan tanah Pharos, tapi..." Cedrik tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Kenapa tuan Cedrik? Apa ada hal yang tidak berkenan dalam isi perjanjiannya? Atau ada masalah dalam tugas pertama hari ini?" Tanya Nata dengan sedikit kuatir.


"Bukan begitu, Tadi saya mendengarnya dari tuan Selene tentang ikut bekerja di tempat ini. Maka dari itu setelah dipikir-pikir, tawaran perjanjian jasa itu jadi berasa kurang menguntungkan bila dibanding dengan ikut bekerja membangun tanah ini. Jadi, kami semua sepakat ingin bergabung dengan tanah Pharos ini. Apakah anda masih memerlukan serikat petarung untuk tanah ini, tuan Nata?"


"Wah, senang sekali mendengarnya. Kami disini sangat membutuhkan tenaga dari para petarung seperti kalian. Dan memang benar kami memberi tanah untuk mereka yang ingin ikut membangun tanah ini dan ingin menjadi penduduk kota yang akan mulai dibangun"


"Syukurlah kalau begitu. Saya lega tuan Nata menerima kami"


"Oh, tapi saya harus ingatkan hal ini diawal. Bahwa di tanah ini kalian akan dianggap sama, kita tidak akan membedakan perajurit dan pekerja, petarung dan petani, rakyat dan bangsawa, penyihir dan pengguna sihir" ucap Nata kemudian sambil menatap Ende saat menyebutkan kalimat terakhirnya. Sedang Ende hanya memasang wajah cemberut sebagai tanggapannya.


"Wah, itu malah lebih baik lagi. Kami bisa hidup dengan lebih tenang" saut Cedrik.


"Juga, kemungkinan besar kita akan melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, tapi jangan kuatir. Pekerjaan itu akan dibayar dengan sesuai. Dan akan diusahakan agar tidak jauh dari kemampuan kita masing-masing" jelas Nata kemudian.


"Siapa yang akan mengeluh bila imbalannya adalah tanah" Shyam menyahut dari belakang Cedrik.


"Ya, tapi itu tanah gersang. Banyak orang yang bahkan menolak saat diberi secara cuma-cuma" timpal Nata.


"Aku tidak akan percaya tanah itu akan gersang terlalu lama bila ada anda dan tuan Aksa disini" balas Margaret cepat.

__ADS_1


"Benar" sela beberapa orang menyetujui ucapan Margaret setelah mereka melihat apa yang terjadi di perkemahan utara ini.


-


__ADS_2