Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
16. Para Juara III


__ADS_3

Parpera yang sudah merasakan adanya pergerakan aliran Jiwa, segera memasang pelindung sihir. Untuk dirinya dan Lucia. Meskipun pada akhirnya mereka berdua tetap terlempar dari atas dinding tebing tersebut. Dan terjatuh disekitar ruang generator listrik dibawah. Namun tidak ada luka berarti yang diterima Parpera dan Lucia.


Dan tidak hanya sebatas diatas dinding tebing saja, namun pergerakan tanah yang ganjil itu juga terjadi dibawah. Tepatnya di bagian dimana ada banyak prajurit Pharos sedang berkumpul. Entah itu tanah yang mencuat keatas dan melemparkan para prajurit keatas, atau bagian dinding tebing vertikal yang menonjol ke depan dan menghantam semua hal yang ada dihadapannya.


Tampaknya tanpa disadari, perempuan penyihir yang ada dalam jaring listrik tadi sudah siuman dan mengamati situasi sekitar secara diam-diam. Ia mencari kesempatan untuk melakukan serangan.


Pria yang memiliki tombak trisula, yang tadinya juga terjerat jaring listrik itu, kini juga sudah siuman dan sudah dalam kuda-kuda siap menyerang.


"Kanya, Agoros, mundur!" Tiba-tiba Urgu, pria bersarung tangan cakar tadi, berteriak kepada perempuan penyihir yang dipanggil Kanya, dan pria bertombak yang dipanggil Agoros itu.


Mendengar perintah tersebut membuat perempuan bernama Kanya itu, segera mengeluarkan sihirnya. Dan tanpa rapalan yang panjang, tampak tanah dibawah Versica si perempuan berpedang cambuk, lalu pemuda yang menjadi lawan Jean, dan tempat Urgu berdiri, mencuat keatas dengan cepat hingga melemparkan mereka bertiga ke udara.


Namun dengan cepat Helen melompat kearah pilar tanah yang baru saja terbentuk itu, dan berhasil meraih kaki perempuan yang pundaknya terlihat penuh darah itu tadi. Mencegahnya untuk melarikan diri.


Sementara pemuda yang menjadi lawan Jean tadi, masih terlihat pingsan saat kemudian ia terlempar ke udara.


Urgu mengeluarkan sihir angin apinya untuk mengendalikan arah lompatannya saat berada di udara. Pria itu berusaha untuk meraih tubuh si pemuda yang pingsan tadi, saat sebuah petir tiba-tiba saja menyambar tepat diantara posisinya dengan pemuda yang hendak ditolongnya.


Tampak Parpera kembali merapal sihirnya dari bawah, yang kali ini ditujukan kearah Urgu yang masih melayang di udara.


Melihat Parpera membuat Urgu segera mengeluarkan sihir angin apinya lagi untuk coba menghindar. Yang mau tidak mau harus meninggalkan si pemuda tadi terjatuh lagi kebawah, tanpa bisa menolongnya.

__ADS_1


Sementara itu, Agoros, pria bertombak trisula tadi, sudah bersiap melancarkan serangannya kearah Parpera untuk mencegahnya menyerang Urgu.


Dan kemudian tampak sebuah tombak air meluncur kearah bawah tepat di depan Parpera dan Lucia berdiri. Dan begitu menghantam tanah, tombak tersebut pecah, dan airnya mendorong semua orang yang ada disekitar tempat itu dengan liar, ke segala arah.


"Oh, sial. Generatornya...." ujar Nata yang berada di dalam ruangan generator listrik tak jauh dari tombak air itu terpecah, seraya buru-buru mematikan generatornya sebelum terkena air.


Dan begitu generator itu mati. semua barang yang tadinya menempel ke pilar besi gerbang selatan, segera berjatuhan. Termasuk pria bertameng yang menjadi lawan Vossler tadi.


Sedang dengan adanya kekacauan kecil dibawah, kesempatan tersebut segera digunakan oleh Urgu, Kanya, dan Agoros untuk melompat keluar dinding tebing yang sudah tampak tidak beraturan lagi itu. Dan kemudian melarikan diri, menjauh dari gerbang selatan tersebut.


Tidak ada lagi senjata untuk menyerang mereka dari dinding tebing tersebut.


"Mereka bertiga berhasil melarikan diri" teriak seorang prajurit dari atas dinding tebing.


"Jangan. Sudah, tidak perlu dikejar" ujar Lucia kemudian. "Panggil penyembuh untuk mulai menyembuhkan para prajurit yang terluka. Juga dia" tambah Lucia seraya menunjuk kearah Versica yang pundak kirinya tampak banyak mengeluarkan darah.


Mendengar perintah tersebut membuat Caspian menghentikan langkahnya. Kemudian memandang sekelilingnya. Dataran wilayah selatan disekitaran gerbang selatan itu tampak sangat kacau dan tidak beraturan. Pilar-pilar tanah muncul diberbagai tempat. Bahkan dinding tebing kini sudah tidak seperti sebelumnya. Mereka akan membutuhkan kerja keras dari para penyihir tanah untuk meratakannya kembali.


Terlihat banyak pula prajurit yang terluka karena serangan sihir tanah perempuan bernama Kanya tadi.


"Sedasyat ini kekuatan senjata mistik itu" ujar Caspian kepada dirinya sendiri. "Untunglah, mereka terlalu meremehkan kita. Bila tidak apa jadinya wilayah ini" tambahnya kemudian.

__ADS_1


.


"Ah, sial. Generatornya terbakar karena arus pendek" Tampak Nata menyumpah, karena tidak berhasil tepat waktu mematikan generator tersebut. Tampak asap terlihat mengepul dari dalam alat berbentuk kubus yang terbuat dari campuran keramik dan logam itu.


"Jadi kau sudah merencanakan akan menggunakan magnet ini untuk melawan para Juara tadi?" Tanya Lily seraya berjalan mengikuti Nata keluar dari ruangan tersebut.


"Tadinya aku berencana untuk menggunakannya kepada para pasukan lawan yang berada di luar gerbang. Ya, karena itulah kenapa aku bersikeras untuk mereka menggunakan pakaian pelindung ini" ujar Nata saat ia sedang mengamati para prajurit membereskan benda yang tadi menempel pada pilar besi gerbang selatan.


"Tapi bukankah benda itu memiliki tenunan logam Dracz di dalamnya?" Lily bertanya. Dari semua yang ada ditempat tersebut, hanya Lily yang tidak menggunakan pelindung tersebut. Tapi memang tidak ada logam dari pakaian yang biasa Lily kenakan. Jadi Nata tidak memaksanya untuk memakai pelindung tersebut.


"Benar, pelindung ini memiliki tenunan tipis logam Dracz. Tapi entah kenapa saat dilapisi dengan resin dan silika, logam tersebut kehilangan sifat kemag... maksudku tidak lagi tertarik oleh magnet" Nata mencoba menjelaskan. "Tidak ada logam seperti ini di duniaku, jadi aku juga tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Tapi itu merupakan sebuah keberuntungan buat kita" tambahnya kemudian.


Lily terlihat mengangguk, meski ia tidak sepenuhnya paham dengan apa yang dijelaskan oleh Nata.


Nata kemudian memandang berkeliling area gerbang selatan itu. "Senjata mistik itu benar-benar seperti yang aku bayangkan. Bila digunakan dengan memaksimalkan kekuatannya, bisa untuk menghancurakan sebuah kerajaan" ujar Nata kemudian.


"Senjata yang kau buat itu juga sama dasyatnya dengan senjata mistik. Kukira bila kau mau membuatnya secara maksimal, pasti juga bisa menghancurkan sebuah kerajaan" Lily menanggapi ucapan Nata dengan menilai dari apa yang sudah ia lihat. "Oh iya, kenapa kau tidak gunakan senjata peledak untuk melawan para Juara itu tadi, Nat?" Lily menambahi dengan pertanyaan.


"Karena lima puluh peluru Mortar untuk membakar dan meledakan para pasukan tadi adalah sisa mesiu yang kita punya. Disamping beberapa yang di atelir tuan Haldin. Jadi sederhananya kita sudah tidak memiliki bahan lagi untuk membuatnya. Itulah mengapa kita selalu menggunakan senapan bertekanan udara yang tidak praktis dibawa-bawa" jawab Nata mencoba menjelaskan kepada Lily. "Tidak seperti aliran Jiwa yang tanpa batas" tambahnya kemudian.


Lily tidak bereaksi terhadap ucapan Nata tersebut. Ia tampak sedang berpikir, saat kemudian terdengar suara Lucia memanggil mereka berdua dari kejauhan.

__ADS_1


-


__ADS_2