Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
--. Misi Pencarian Gelang Scion : Riam part 2


__ADS_3

"Coba katakan padaku Gest, apa tidak susah membawa tempurung itu melewati hutan seperti ini?" Pemuda bertudung itu bertanya pada pria bertameng seraya menggulung ujung jubahnya yang sedari tadi sering tersangkut ranting dan semak belukar.


"Jelas lebih mudah dari pada memakai gaun seperti itu" jawab pria bertameng yang dipanggil Gest itu kemudian. Yang langsung disusul oleh tawa Nikea.


Fig terlihat kesal tapi dia hanya diam saja tidak berkata-kata.


Tak berapa lama berjalan, akhirnya mereka berempat tiba disebuah gapura yang terbuat dari dahan pohon yang memiliki bentuk yang aneh dengan ukuran yang besar. Tidak memiliki daun pintu.


"Wah, apa ini desa Elf, Noel?" Tanya gadis bersyal merah itu dengan sangat antusias.


"Masih didepan sana" jawab Noel sambil menunjuk kesebuah jalan. Sebuah jalan setapak diseberang gapura tersebut.


Pinggiran jalan itu terdapat pohon-pohon kecil yang sengaja ditanam berbaris sebagai sebuah pagar disepanjang jalannya. Terdengar juga gemericik air dikejauhan. Seperti suara aliran sungai.


"Aku tidak sabar untuk melihatnya"


"Kita tidak sedang berlibur Nikea" saut Fig yang langsung diacuhkan oleh Nikea dengan membuang muka.


Kemudian mereka mulai memasuki gapura tersebut. Menyusuri jalan berpagar pohon itu hingga akhirnya menemukan sebuah sungai yang membelah jalan. Terdapat jembatan kayu untuk menyeberanginya.


"Yang itu baru desa Elf" ucap Noel seraya menunjuk kearah depan.


Diseberang sungai tersebut terlihat sebuah wilayah yang datarannya mencekung seperti sebuah lembah. Terdapat puluhan pohon besar dengan bangunan serupa rumah dari kayu terpasang mengelilingi batang pohonnya. Tampak pula jembatan gantung dari sulur dan tumbuhan rambat, terlihat menghubungkan rumah kayu tersebut dari satu pohon ke pohon yang lain.


Meski dalam rimbun nya tengah hutan, namun tempat itu masih cukup terang. Selain karena terang dari lampu-lampu berwarna kuning cerah yang berasal dari rumah-rumah kayu disekitar tempat itu, juga sinar matahari masih bisa menembus, menyorot dari sela-sela kanopi daun dan membentuk garis cahaya memenuhi desa tersebut.


"Wah..." Nikea menatapnya tanpa berkedip.


"Siapa kalian? Bagaimana kalian bisa masuk kemari?" Seorang pria Elf berkulit putih, dengan bola mata dan rambut berwarna kuning keemasan tampak terkejut mendapati ada empat orang berada di gerbang desanya.

__ADS_1


Tampak pria Elf yang satu lagi segera berlari menuju kedalam desa.


"Sepertinya pekerjaan kita dimulai" ucap Fig kemudian.


"Maafkan atas kelancangan kami, tapi kami kemari hendak mengambil salah satu dari gelang Scion" kali ini Noel yang berucap.


"Apa kau bilang?" Pria Elf tadi tampak terkejut mendengar ucapan Noel tersebut. "Tidak ada gelang itu ditempat ini" tambahnya tergagap.


Tak lama muncul dua puluh Elf dengan baju yang nyaris seragam dari arah desa menghadang mereka berempat. Tampak seorang Elf dengan baju yang memiliki aksen warna kuning yang berbeda dari yang lain, maju kedepan.


"Aku ketua penjaga desa ini, ada perlu apa kalian datang kemari?" Tanya Elf yang mengaku sebagai ketua penjaga itu kepada Noel dan rombongan.


Kemudian pria Elf yang tadi bertanya sebelumnya, membisikan sesuatu kepada ketua penjaga tersebut.


Terbersit rasa terkejut diwajah ketua penjaga itu yang coba untuk ia tutupi. "Tidak ada benda itu ditempat ini" jawabnya cepat.


"Kami tidak percaya" balas Nikea.


"Kami memilih untuk mencarinya sendiri" jawab Noel kemudian.


"Kami tak akan membiarkan kalian memasuki desa"


"Kalau begitu kami akan memaksa masuk"


"Entah bagaimana cara kalian bisa memasuki hutan ini sebelumnya, tapi jangan merasa sombong hanya karena bisa melakukan hal tersebut" ucap Elf ketua. "Kalian manusia lemah ingin menantang kami hanya dengan empat orang saja? Entah kalian terlalu percaya diri atau kumpulan orang-orang bodoh" tambahnya kemudian.


"Hm, memang kami para manusia tidak akan menang melawan para Elf" ucap Noel yang kemudian di saut oleh Nikea,


"Bila tidak menggunakan senjata buatan bangsa kalian sendiri" ucap gadis Getjza itu seraya melempar kedua kapak nya ke udara tanpa peringatan.

__ADS_1


Kapak itu berputar cepat saat setelah lepas dari tangan Nikea, dan kemudian bilahnya mulai bersinar oranye.


Terlihat para Elf penjaga itu mulai memasang kuda-kuda waspada akan serangan dari dua kapak tersebut.


Namun bukan para penjaga itu sasaran Nikea. Dan begitu gadis itu menggerakan tangannya kebawah, arah kapak itu tiba-tiba berubah. Kapak itu melaju menukik kesalah satu bangunan didalam desa yang cukup jauh dari para Elf penjaga.


Seketika itu juga terjadi ledakan dasyat dengan suara yang keras saat kapak-kapak itu menembus dan mengoyak bangunan tersebut. Dan belum selesai, dari tempat kedua kapak itu menancap muncul api yang membakar segala hal disekitarnya dengan sangat cepat.


"Senjata Mistik? Ghorean cepat ringkus manusia-manusia itu!" Teriak ketua penjaga itu seraya mengeluarkan pedangnya.


Mendengar perintah dari pemimpinnya, puluhan Elf tadi mulai juga mengeluarkan pedang mereka kemudian berlari menyerbu empat manusia penyusup itu.


Menjawab hal tersebut, Gest menarik tameng dari belakang punggungnya. Kemudian memasang didepan tubuhnya. Dengan posisi kuda-kuda bertahan.


Tameng yang nyaris menutupi tubuhnya itu berwarna biru tua senada dengan baju yang dikenakannya. Tampak dibagian depannya terpasang delapan buah batu kristal dengan delapan warna yang berbeda. Tersusun rapi berpola segi delapan. Ukurannya nyaris sama dengan batu kristal ungu yang digunakan Noel sebelumnya.


Sementara Noel juga tampak memasang kuda-kuda dari belakang pria bertameng itu. Namun buka kuda-kuda bertahan atau akan menyerang. Tapi kuda-kuda untuk melakukan rapalan sihir tingkat tinggi.


Sedang Fig juga tampak sedang merapal sesuatu seraya memasang ancang-ancang untuk berlari. Dan begitu rapalannya selesai, pemuda itu langsung berlari maju menghadang dua puluh prajurit Elf seolah tidak memiliki rasa takut.


Jubahnya berkelebat-kelebat liar akibat kecepatannya berlari. Zirah pelindungnya kini terlihat jelas berderak nyaring. Usang penuh dengan bekas sabetan.


Fig berlari maju tanpa membawa senjata apapun. Namun tak lama kemudian zirah pelindungnya mulai bersinar kemerahan. Dari bagian punggung kedua tangannya, mulai nampak muncul seperti logam memanjang. Seolah zirahnya didorong keluar dari dalam dan membentuk sebuah bilah pedang yang panjang dan tajam.


Lalu pemuda itu melompat dan menerjang prajurit Elf yang ada dihadapannya dengan dua bilah pedang tersebut. Senyuman yang nyaris seperti sebuah seringai terlihat diwajah Fig.


Sedang Nikea tampak melakukan gerakan tangan yang kemudian kedua kapaknya tadi melompat dari tempatnya tertancap dan berputar kembali kearah gadis Getzja tersebut. Seolah ada tali tak kasat mata yang ditarik.


Sementara keadaan didalam desa Elf terlihat semakin kacau. Beberapa Elf tampak sedang berusaha mematikan api yang mengebar dengan cepat.

__ADS_1


-


__ADS_2