
Kini pasukan Lugwin yang dikenal dengan sebutan pasukan Arcdux itu mulai tampak semakin membesar. Mereka bahkan sudah membuat sebuah garisun di kota Damsa, kota wilayah timur yang berbatasan langsung dengan wilayah selatan dan wilayah pusat.
Meski secara resmi markas mereka masih berada di desa Dyms, namun semua kegiatan kemiliteran dipindah ke kota Damsa.
Rantai komando pun sudah dibentuk. Kini pasukan Arcdux memiliki delapan Jendral yang berada langsung dibawah perintah Lugwin sendiri. Sedang Nicko hanya bertindak sebagai perpanjangan tangan Arcdux di medan tempur.
Delapan Jendral itu adalah :
Jendral Johan dari perserikatan petarung yang juga seorang baron, memimpin pasukan utama Cavalary Arcdux.
Jendral Hamnon yang juga seorang Dux dari kelurga Alonzia memimpin pasukan berkuda gerak cepat.
Jendral Elsya dari keluarga bangsawan Dominique memimpin pasukan pemanah berkuda.
Jendral Vederik yang juga seorang Dux dari keluarga Gustavo memimpin pasukan utama Infantry Arcdux.
Lalu ada Jendral George dari keluarga Edsel memimpin pasukan utama Archery Arcdux.
Kemudian Jendral Darius seorang Jarl keluarga Morency memimpin pasukan utama Wizardy Arcdux yang terdiri dari para penyihir dan penyembuh.
Sedang Jendral Barna, Dux dari keluarga bangsawa Kyne bertanggung jawab terhadap peralatan dan perbekalan.
Dan terakhir Jendral Hans sebagai pemimpin pasukan pelindung Arcdux.
Rata-rata setiap Jendral membawahi 1000 prajurit. Sedang untuk paskan berkuda rata-rata 800 prajurit. Pengecualian untuk penyihir dan prajurit yang bertanggung jawab akan peralatan dan perbekalan. Mereka hanya memiliki 25 penyihir dan 8 penyembuh. Serta 200 prajurit yang bertanggung jawab terhadap peralatan dan perbekalan.
Total jumlah seluruh prajurit yang dimiliki Lugwin saat ini sekitar 5000 prajurit.
-
"Pemuda bernama Nata itu benar-benar sangat mengerikan. Dia jelas tidak boleh kita jadikan lawan" ujar Matiu setelah selesai membaca gulungan terakhir Nata, yang pemuda itu berikan sebelum kemudian bersiap pergi meninggalkan wilayah Estrinx ini.
Rombongan putri Lucia memang berniat pergi meninggalkan wilayah Estrinx, karena disamping mereka sudah harus meninggalkan Dyms, juga karena bila mereka terlalu lama ditempat itu, dengan semakin bertambah banyaknya orang yang berada disekitar Lugwin, hal itu bisa membawa masalah di kemudian harinya.
__ADS_1
Lugwin paham akan hal tersebut, dan menghormati keputusan mereka. Ia tidak berusaha menahan mereka, ia hanya akan berterima kasih dengan menghentikan peperangan ini. Itulah janjinya pada mereka.
"Kenapa memangnya paman?" Tanya Lugwin kemudian. Kini mereka sudah berada di Damsa sejak sehari yang lalu.
"Dia itu tidak hanya cerdik dan ahli dalam strategi, tapi juga licik, dan sangat lihai membaca situasi. Mengerikan sekali. Dia bahkan menuliskan rencana cadangan dan pengantisipasiannya bila sesuatu
berjalan tidak mulus"
"Oh, benar. Strategi menjatuhkan kota Hamdl itu benar-benar diluar dugaanku. Dia bisa mengerti dan memanfaatkan situasi didalam kota tersebut dengan sangat baik. Seolah dia tahu apa yang akan terjadi" kali ini Nicko yang berada bersama mereka berdua berucap.
"Apa dia bisa melihat masa depan seperti sang Oracle?" Tanya Matiu yang lebih untuk dirinya sendiri.
"Atau jangan-jangan ia memang utusan sang Oracle untuk membantu kita?" Kali ini Lugwin yang berucap menduga.
"Untungnya dia ada dipihak kita sekarang"
"Lalu, apa rencana kita setelah ini paman?"
"Berarti mulai dari sini peperangan panjang kita akan dimulai?" Ujar Lugwin kemudian.
"Benar tuan putri. Kita akan mulai memasang kereta pelontar rancangan tuan Nata kemarin"
"Perlu berapa lama untuk menyiapkan kereta pelontar tersebut paman?"
"Menurut perhitungan akan memakan waktu satu minggu putri'
"Baiklah kalau begitu, undang semua jendral. Kita akan menyiapkan pasukan" ujar Lugwin.
-
Selepas tengah hari Lugwin mengadakan pertemuan dengan kedelapan jendral nya di dalam tenda Lugwin yang terletak ditengah-tengah garisun kota Damsa. Tampak Lugwin yang terbiasa memakai gaun bangsawan, kini tampak begitu gagah dengan plat pelindung kesatria para bangsawan yang ia kenakan. Meski masih tetap terlihat cantik dan feminim. Hal itu mempesona para jendral yang berada ditempat itu.
"Jadi seperti yang anda semua tahu tuan-tuan, kita disini kali ini untuk membicarakan tentang penyerbuan kita ke kotaraja dan wilayah Dux Vincent." ucap Lugwin
__ADS_1
"Tapi apakah kita sudah cukup kekuatan Arcdux? Sedang masing-masing Dux itu memiliki kurang lebih sepuluh sampai dua puluh ribu pasukan" Jendral George terdengar mempertanyakan keputusan Lugwin.
"Bila perang ini kita ulur terlalu lama, rakyatlah yang akan menderita oleh karenanya"
"Tapi,"
"Apakah selama ini rencanaku pernah mengecewakan anda semua tuan-tuan?"
Segera semua terdiam mendengar ucapan Lugwin tersebut.
"Lalu apakah anda menyarankan kita menyerang pasukan Dux Vincent terlebih dahulu Arcdux?" Tanya seorang pria yang bertampang tegar dengan bekas luka terlihat memanjang di pipi kirinya.
"Benar tuan Barna. Kita akan menjatuhkan pasukan Dux Vincent terlebih dahulu" Lugwin menjawab dengan anggun namun terdapat kesan tegas dalam ucapannya.
"Maaf kan atas kelancangan saya Arcdux, tapi apakah tidak lebih baik kita bekerja sama menaklukan kotaraja terlebih dahulu, baru setelahnya kita berurusan dengan Dux Vincent?" Tampak pria dengan wajah pucat berambut kuning sepanjang bahu terlihat mencoba memberikan pandangannya.
"Saya paham dengan pandangan tuan Hamnon. Tapi bila kita bekerjasama untuk menembus benteng kotaraja, maka setelah kita bisa melewatinya, kita akan berurusan dengan dua kekuatan. Hal itu sangat tidak menguntungkan kita" jelas Lugwin. Delapan jendral yang ada ditempat itu terlihat sedang menilai penjelasan Lugwin.
"Kita memiliki kekuatan yang mampu mengimbangi bahkan lebih untuk mengalahkan Dux Vincent. Karena mereka tidak memiliki tembok benteng seperti kotaraja. Hal tersebut menguntungkan kita" jelasnya kemudian.
"Namun Dux Vincent punya pasukan penyihir yang menjaga kota Hish" timpal Jendral Johan kali ini.
"Sedang kita hanya memiliki beberapa penyihir dan penyembuh" tambahnya.
"Kita juga tidak akan berperang untuk menembus pertahanan kota Hish. Ingat Dux Vincent adalah orang yang mudah emosi dan tak mau kalah. Harga dirinya sangat tinggi" ujar Lugwin kepada kedelapan jendral. "Pancing dia ke tempat yang sudah kita rencanakan, buat dia emosi dan merusak strateginya sendiri" tutupnya kemudian. Semua jendral yang ada ditempat itu terdiam menimbang rencana Lugwin.
"Lalu bagaimana kita melawan kekuatan Dux Laurant yang berada dibalik tembok kotaraja dengan kekuatan kita yang sudah berkurang karena serangan ke pasukan Dux Vincent sebelumnya ini, Arcdux?" Jendral Hamnon kembali berucap dengan tampak masih tidak sependapat dengan penjelasan akan gagasan Lugwin.
"Percayalah tuan Hamnon, saya memiliki cara untuk mengatasi tembok kotaraja tersebut. Dan bila memang Dux Laurant menyerang kita dari belakang, yang ku rasa kecil kemungkinannya karena mereka tidak akan membuang waktu untuk berperang di luar benteng, maka kita akan meninggalkan lima ratus pasukan disini untuk berjaga" jawab Lugwin dengan nada dan tatapan yang terlihat tegas dan percaya diri yang membuat Jendral Hamnon mulai sedikit yakin.
"Sekarang yang perlu kita lakukan adalah bersiap dan fokus untuk mengalahkan pasukan Dux Vincent terlebih dahulu" ucap Lugwin kemudian yang langsung dijawab dengan ucapan 'siap' serempak oleh kedelapan jendral.
-
__ADS_1