Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
--. Perang Tiga Fraksi Estrinx : Seruan Peperangan


__ADS_3

"Jadi Lug, eh maksudku Arcdux, apa benar kita sudah siap untuk melakukan peperangan ini" ucap Piere ketika ia menemui Lugwin setelah pertemuan dengan para jendral selesai.


"Berhentilah memanggilku Arcdux, Piere. Aku masih tetap Lugwin yang dulu" jawab Lugwin dengan sedikit jengkel dari tempat duduk dihadapan Piere.


"Bukan, sekarang kau adalah seorang Arcdux dan aku harus mulai berlatih memanggilmu seperti itu bila nanti saat perang berakhir kaulah yang akan menduduki tahta Estrinx" balas Piere.


Tampak Lugwin sedikit kaget mendengar ucapan Piere yang menyebut tentang menduduki tahta. Yang berarti ia akan menjadi seorang ratu Estrinx. Ia belum sempat memikirkan hal tersebut.


"Kau harus memanggilnya Yang Mulia, Piere. Bukan Kau" tiba-tiba Hans masuk kedalam tenda Lugwin tanpa peringatan yang mengejutkan Lugwin dan membuyarkan lamunan nya.


"Hans?" Ucap Lugwin.


"Oh benar, maaf Yang Mulia Arcdux?" Ucap Piere meralat ucapannya sebelumnya.


"Berhentilah menggodaku kalian berdua" terlihat Lugwin memasang wajah jengkel seraya melipat tangannya.


Hal tersebut di tanggapi dengan tawa oleh kedua pemuda teman kecil Lugwin itu. Yang kemudian membuat Lugwin juga ikut tertawa.


"Nah, harusnya kau selalu berwajah seperti itu Lug" ucap Piere tiba-tiba saat melihat Lugwin tertawa.


"Benar, jangan menanggung beban kerajaan ini sendirian. Masih ada kami, masih ada para bangsawan yang peduli" kali ini Hans yang berucap seraya duduk di salah satu meja diujung kemah itu.


"Benar. Bagikan saja, toh ini bukan kerajaanmu sendiri" Piere menimpali.


"Kalian,"


Lugwin merasa terharu mendengar teman-temanya menghawatirkannya. Ia bersyukur masih memiliki mereka berdua di dekatnya.


-


"Paman, apakah setelah perang ini selesai aku akan tetap terjebak dalam hal ini?" Tanya Lugwin saat ia dan Matiu kembali membicarakan tentang persiapan penyerbuan, malam harinya.


Matiu tampak terkejut mendengar ucapan Lugwin, kemudian ia merasa sedih sambil menjawab, "putri,"


"Ya, aku tahu paman. Itu tadi hanya pertanyaan bodoh ku saja"


"Bila kepemimpian kerajaan ini tidak anda pegang, perebutan tahta akan terjadi lagi seperti saat ini"


"Iya saya paham itu paman. Maafkan saya yang memiliki pemikiran egois ini"

__ADS_1


"Anda berhak untuk menjadi egois tuan putri, anda sudah mengalahkan segala keinginan yang anda miliki untuk kerajaan ini. Tapi untuk hal itu,"


"Saya mengerti paman. Dan terima kasih sudah menghibur saya, saya beruntung memiliki anda paman"


Matiu hanya tersenyum menatap Lugwin. "Kerajaan inilah yang beruntung memiliki anda Arcdux Lugwin" ucapnya kemudian.


-


Dua minggu kemudian pasukan Lugwin berbaris menuju dataran tinggi Damsa. Mereka beriringan lima ribu prajurit dengan delapan jendral dan ratusan kereta kuda yang berisi perbekalan. Lalu setelah itu membuat perkemahan di dataran tinggi itersebut.


Dua hari kemudian semua jendral sudah siap dengan pasukan mereka masing-masing untuk menuju kota Hish. Saat ini mereka menggerakan empat ribu lima ratus pasukan untuk menghadapi lima belas ribu pasukan Dux Vincent, dan meninggalkan lima ratus orang untuk menjaga perkemahan dan melanjutkan menyiapkan kereta pelontar.


Kota Hish dikelilingi oleh sabana yang datar dan luas. Yang membuat pertempuran langsung adalah strategi yang paling masuk akal. Namun karena mereka akan melakukan taktik membagi pasukan lawan agar lebih mudah dikalahkan, maka setiap jendral akan membawa pasukan dalam jumlah kecil supaya dapat bergerak dengan cepat dan saling membantu.


-


"Apakah alat itu sudah siap paman?" Tanya Lugwin dalam tendanya tak jauh dari kota Hish. Memantau informasi jalannya peperangan sebagai panglima tertinggi.


Mereka sudah melakukan peperangan ini selama tiga hari. Dan seperti yang di perkirakan oleh jendral yang lain, pertahanan kota Hish belum juga goyah.


"Semua sudah siap Arcdux" jawab Matiu kemudian.


"Baguslah. Dan kondisi keadaan sekarang?" Tanya Lugwin kemudian seraya mencoba memincingkan matanya menatap keluar dari sisi tenda yang tidak tertutup.


"Bagaimana kondisi pasukan mereka?" Tanya Lugwin kemudian.


"Mereka masih tetap bertahan. Pasukan utama Infantry Jendral Vederik masih terus menekan pasukan sisi timur, sedang pasukan berkuda Jendral Elsya menghadapi pasukan di sisi barat" jelas Matiu.


"Kemudian sekarang ini pasukan perserikatan petarung yang dipimpin Jendral Johan sedang melakukan penyerangan langsung ke kota Hish. Dan sesuai rencana, beliau akan berpura-pura kalah dan mundur untuk menarik pasukan Dux Vincent keluar dari kota" tambah Matiu kemudian.


"Dux Vincent pasti percaya kita sedang kualahan menghadapi pasukannya selama tiga hari ini. Dan akan terburu nafsu untuk mengejar bila kita menarik pasukan" ucap Lugwin, "Lalu bagaimana dengan pasukan yang bertugas memotong bantuan dari selatan?" Tambanya kemudian.


"Pasukan Jendral Darius dan Jendral George masih dalam perjalanan memutar ke sisi selatan, sementara Jendral Hamnon masih bersembunyi di belakang pasukan kita untuk mengecoh lawan" jawab Matiu.


"Baiklah paman, mulai posisikan pasukan berkuda gerak cepat Jendral Hamnon. Kita akan mengepung pasukan Dux Vincent begitu mereka keluar dari kota" perintah Lugwin yang kemudian menatap kearah Hans yang berdiri di sisi kirinya, dan berkata "Jendral Hans, kita berangkat ke medan perang"


-


Lugwin dan pasukannya kini tiba di garis depan. Dan kemudian Jendral Johan menarik pasukannya, yang tak lama berselang terlihat pasukan berkuda meninggalkan kota Hish untuk mengejarnya. Rencana Lugwin berhasil. Dux Vincent tampak ikut serta bersamanya.

__ADS_1


"Tampaknya pasukan Dux Vincent sudah meninggalkan kota, Arcdux" lapor Matiu dari atas kudanya disamping kanan Lugwin.


"Kirim pasukan pemanah berkuda Jendral Elsya membantu Jendral Vederik. Kemudian ambil alih kota tersebut" Perintah Lugwin. "Jendral Hans, bantu Jendral Hamnon menghadang pasukan yang sedang mengejar Jendral Johan sekarang" imbuhnya.


"Siap Arcdux"


-


Pasukan gerak cepat Jendral Hamnon dan pasukan utama Arcdux Jendral Hans bergerak serempak menghadang pasukan Dux Vincent yang sedang mengejar Jendral Johan dari sisi kiri dan kanan.


Tampak terkejut dan sadar bila ini adalah sebuah penyergapan, Dux Vincent memerintah pasukannya untuk kembali.


Melihat hal tersebut Matiu yang sudah membaca semua tulisan Nata mengenai rencana pencegahan tau apa yang harus ia lakukan. Dengan cepat dia memerintah pasukan Jendral Barna yang bertanggung jawab dengan peralatan untuk meluncurkan alat yang secara diam-diam mereka bawa dalam perang ini.


Tampak tak jauh dari perkemahan Lugwin tadi, berdiri dua buah alat yang masing-masing terdapat seperti sepasang kerangka atap rumah namun dengan bentuk segitiga yang tidak simetris.


Di tengah-tengah masing-masing alat tersebut terdapat kayu yang lebih tipis ditarik melengkung dan di kaitkan pada sebuah pasak yang menancap ditanah.


Diatas kedua buah kayu yang melengkung itu terdapat masing-masing tonggak kayu seperti tiang altar Leafcla yang di ikat oleh sebuah kain yang sangat lebar. Dua tiang kayu itu di ikat disisi kiri dan kanan kain tersebut.


Terlihat kain itu memiliki banyak lubang dan basah kuyup oleh minyak. Baunya sangat menyengat mengganggu prajurit disekitaran tempat itu.


Dan saat Jendral Barna menerima pesan perintah dari Matiu, dengan segera ia memerintahkan anak buahnya melepas pasak penyangganya. Dan kemudian bersamaan dengan tekanan dari kayu yang kembali lurus, dua tiang kayu yang disatukan oleh ikatan kain basah tadi meluncur bersamaan ke angkasa.


Kain itu membentang lebar di angkasa. Berbentuk kotak melayang menuju kearah medan perang.


Semua orang yang ada dimedan perang dikejutkan oleh hal tersebut. Terutama Dux Vincent dan pasukannya yang sedang dalam perjalanan kembali ke arah kota Hish.


Kain itu melewati mereka dengan meninggalkan bayangan yang menutupi sinar matahari.


Lajur arah kain dan tiang kayu itu kini mulai melengkung turun. Dan akhirnya jatuh tepat di depan gerbang kota Hish. Dengan dua tiang tadi yang menancap dalam ke tanah, kain lebarnya membentang menutupi seluruh pintu gerbang kota Hish dari pandangan dan menghalangi prajurit Dux Vincent untuk masuk.


Dan begitu anak panah berapi yang Jendral Johan lepaskan menyentuh kain berminyak itu, segera api membumbung menutup pintu gerbang kota. Yang menyebabkan kekacauan formasi dari pasukan Dux Vincent tersebut.


Peperangan itu berlangsung hingga matahari akhirnya terbenam diujung barat. Dan berakhir begitu Dux Vincent berhasil dibunuh oleh Jendral Hamnon dalam peperangannya melawan tiga pasukan gabungan saat matahari benar-benar sudah tidak nampak lagi dilangit.


Pasukan bantuan dari kota-kota di selatan berhasil dihadang oleh kekuatan pasukan Jenderal Darius dan Jenderal George, hingga kota Hish berhasil sepenuhnya dikuasai oleh pasukan Jenderal Elsya dan Jenderal Vederik. Sedang sisa pasukan Dux Vincent yang lain berhasil melarikan diri.


-

__ADS_1


Pasukan Arcdux Lugwin berhasil mengalahkan pasukan Dux Vincent dalam pertempuran di kota Hish selama tiga hari. Setelah hari itu muncul rumor bahwa Arcdux Lugwin diberkati oleh Oracle dengan sihir api tingkat tinggi. Yang dapat membakar sebuah gerbang kota dalam satu kali serangan.


-


__ADS_2