Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Prolog Arc Ketiga


__ADS_3

Dipinggiran kota Rebenes diwilayah utara kerajaan Estrinx.


Di dalam sebuah rumah lusuh dipinggir tebing dengan penerangan seadaanya itu, tampak seorang pria sedang makan seorang diri dalam sunyi. Wajah pria itu selalu terlihat waspada dan berhati-hati memandang kearah pintu dan jendela yang ia tutup dengan rapat. Saat tiba-tiba terdengar pintu diketuk.


"Siapa bertamu malam-malam begini?" Gumam pria itu seraya berjalan menuju pintu dengan waspada. Ia mengintip dari celah pintu. Mencari tahu siapa yang ada diluar.


Tampak pria itu terkejut setelah melihat siapa yang ada didepan pintu rumahnya. "Bagaimana Elf itu bisa menemukan ku disini" ucapnya dengan berbisik.


"Aku tahu kau di dalam. Cepat buka sebelum ku dobrak" suara seorang gadis dari balik pintu tersebut terdengar lantang.


"Benar-benar sial. Apa nasib buruk ku terkait dengan gadis Aeron itu akan terus berlanjut?" Ucap pria itu seraya menyandarkan berat tubuhnya kedaun pintu. Seolah dengan melakukan hal tersebut masalah yang ada dibaliknya akan segera hilang. Dan gadis Elf itu segera pergi meninggalkannya sendiri.


"Baiklah kalau begitu. Akan ku dobrak sekarang" ucap gadis Elf itu dari luar.


"Tidak perlu!" Saut pria itu cepat seraya membuka pintu. "Ada perlu apa lagi kau denganku?" Ucapnya kemudian.


Gadis Elf itu tersenyum melihat pintu dibuka. "Apa kau tidak punya sopan santun? Kau tidak mempersilahkan tamu mu untuk masuk?" Ucapnya kemudian dengan senyum iseng.


"Baik-baik. Masuklah"


-


"Apa lagi yang kau perlukan? Bukankah aku sudah mengatakan semuanya. Apa kau tidak percaya?" Tanya pria itu setelah mereka berdua sudah duduk diruang tamu di dalam rumah.


"Aku tau kau mengatakan yang sebenarnya. Aku sudah mendapatkan dua batu Arcane ku sekarang" jawab gadis Elf itu seraya menyandar ke sandaran kursi kayu yang terlihat dibuat sekenanya.


"Benarkan, aku tidak bohong. Lalu apa lagi yang kau perlukan dari ku? Dan lagi bagaimana kau bisa menemukan ku di pinggiran kota terpencil seperti ini?" Tanya pria itu, yang terlihat penasaran dan juga merasa terganggu.


"Aku memasang aliran Jiwa pada cincinmu itu sebagai penanda. Jadi selama kau masih mengenakannya, aku akan selalu bisa menemukanmu" jawab gadis Elf itu seraya menunjuk kearah cincin di jari manis sebelah kiri pria tersebut.


"Kau memasang penanda padaku? Sejak kapan kau memasangnya?" Pria itu segera melepas cincin yang terbuat dari campuran besi dan perunggu dengan sebuah ruby kecil ditatah diatasnya itu. Kemudian meletakannya diatas meja.


"Setelah kau pingsan kemarin. Lagi pula kenapa kau bisa ada sejauh ini dari tempat kemarin, dalam waktu dua hari ini? Kupikir kau akan bersama teman-temanmu di kota Hish. Aku kerepotan untuk menemukanmu."


"Bagaimana kau tau temanku ada di kota Hish? Kau juga memasang penanda pada mereka?" Tanya pria tersebut yang dijawab gadis Elf itu dengan anggukan.

__ADS_1


"Bukannya sudah jelas, aku sedang melarikan diri dari mereka karena gagal menjagamu" lanjut pria itu menjelaskan alasannya berada jauh diutara wilayah Estrinx tersebut.


"Kau menghindari hukuman?"


"Kelompok ku, orang-orang itu, pasti akan menjatuhkan hukuman berat untuk orang sepertiku. Kalau tidak membunuhku" jawab pria itu dengan tatapan sayu terlihat putus asa.


"Sepertimu? Seorang Pengadu?"


"Sudah-sudah. Jadi apa alasanmu mendatangi ku lagi kemari? Apa lagi yang kau butuhkan?"


"Informasi lagi"


Pria itu memincingkan matanya dengan curiga. "Apa kau akan mengancam untuk membunuhku lagi kali ini?"


"Hm" terlihat gadis Elf itu diam berpikir. "Bagaimana kalau kali ini aku menawarkan pertolongan untuk menyelamatkan agar kau tidak mati?"


"Kau hanya merubah susunan kalimatnya saja. Artinya tetap sama. Kau sedang mengancamku"


"Bukan. Aku menawarkan pertolongan. Akan ku bawa kau ketempat yang aman jauh dari orang-orang yang ingin membunuhmu itu"


Gadis Elf itu hanya mengangguk cepat dengan senyuman. "Terlihat lebih mencurigakan" tambah pria itu lagi.


"Jadi siapa orang yang merencanakan penculik terhadapku?" Tanya gadis Elf itu kemudian.


Pria itu tampak diam menatap wajah gadis Efl itu dengan bimbang. "Apa benar kau akan membawaku jauh dari mereka?"


Gadis Elf itu mengangguk lagi dengan wajah serius.


"Ada seorang bangsawan kelas tinggi di kerajaan Elbrasta. Dia yang menyewa kelompok ku" pria itu mulai menjelaskan.


"Apa itu Grevier?" Tanya gadis Elf itu tiba-tiba.


Tampak terkejut nama itu disebut, pria itu segera membuat suara dengan menyentuhkan jari telunjuknya ke mulut, meminta gadis Elf itu untuk berbicara lebih pelan.


"Nama itu adalah nama putra dari raja Elbrasta yang barus saja dilantik. Kau harus hati-hati saat mengucapkannya" ucap pria itu kemudian.

__ADS_1


"Jadi benar dia orangnya? Dan apa tujuannya melakukan itu padaku? Aku tidak pernah ingat bertemu dengannya atau kerabat kerajaan Elbrasta, apa lagi membuat masalah terhadap mereka"


"Bukan seperti itu. Kami ditugaskan menangkap mu karena keberadaanmu yang sedang mencari dua batu Arcane itu bisa menimbulkan masalah dan merusak rencana mereka" jawab pria itu.


"Oh, jadi apa dia juga yang mencuri batu-batu itu dari Tiere?"


"Aku tidak tahu untuk masalah tersebut. Tugas ku hanya menangkapmu. Itu saja"


"Dan bagaimana kau bisa tahu keberadaanku, juga menggunakan cara melemahkanku dengan ramuan pelemah sihir itu? Karena jelas kau pasti tidak tau menau tentang ramuan itu. Bila kau tahu, kau pasti sudah kabur terlebih dahulu saat aku terkena sinar matahari kemarin"


"Benar kami tidak tahu apa-apa tentang ramuan itu. Kami hanya diperintahkan oleh seseorang gadis Narva. Kami tidak tahu namanya, tapi dari cara berpakaiannya, sepertinya ia penyihir. Dari kalangan bangsawan" jawab pria itu. "Wanita itu yang memberitahukan dimana kau berada dan bagaimana cara untuk menyergapmu" lanjutnya menjelaskan.


"Dan memang kenapa kalau kau terkena sinar matahari?" Tambah pria itu kemudian. Ia tampak penasaran dengan hal tersebut.


"Sinar matahari menawarkan dampak dari ramuan pelemah sihir" jawab gadis Elf itu yang dijawab oleh pria itu dengan anggukan kecil.


"Lalu kenapa mereka memerlukan batu Arcane itu? Apa hubungan bangsawan Elbrasta itu dengan penyerangan rombongan di lereng Karas, dan pemukiman Mugger di hutan utara Elbrasta?" Lanjut gadis Elf itu bertanya.


"Aku juga tidak begitu tahu. Tapi sepertinya mereka sedang mencari alasan untuk menyerang desa Yllgarian di dalam hutan tersebut"


"Kenapa? Bangsawan itu memiliki dendam terhadap ras Yllgarian?"


"Aku tidak tahu, bisa jadi seperti itu" jawab pria itu singkat.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih" ucap gadis Elf itu kali ini.


"Lalu bagaimana dengan janjimu tadi?"


"Benar. Aku akan membawa mu bersamaku meninggalkan wilayah ini. Jadi segeralah bersiap" perintah gadis Elf tersebut.


"Kita akan kemana?"


"Kita akan ke hutan utara Elbrasta. Desa Yllgarian"


"APA?!"

__ADS_1


-


__ADS_2