
"Ini sangat konyol! Tidak masuk akal sama sekali!" Teriak Tyrion yang tampak sudah tidak dapat menahan emosinya. "Bagaimana bisa seratus prajurit habis hanya dalam semalam saja!" Wajahnya tampak merah padam.
Joan sudah kembali lagi di kediaman Estat Raygod. Namun kali ini ia berada diruang tengah. Menghadiri pertemuan dengan Tyrion, Xiggaz dan beberapa orang jendral membahas kegagalan rencana mereka menyerang tanah Pharos.
Joan keluar dari tanah tersebut sejak seminggu yang lalu, dengan membuat orang suruhan untuk tetap membuka tokonya. Agar rencana penyerangan tersebut tidak dicurigai oleh pihak Pharos.
"Menurut cerita dari prajurit yang berhasil selamat, lawan yang mereka hadapi adalah Yllgarian. Dan sepertinya lebih dari seratus" ujar Xiggaz yang terdengar ragu.
"Dan kenapa aku tidak diberi tahu adanya Yllgarian ditanah itu?!" Suara Tyrion semakin meninggi. "Joan?!" Teriaknya kemudian kepada Joan di ujung ruangan disebelah pria Narva dengan jenggot tebal menutupi dagunya,
Jantung Joan seperti akan berhenti begitu mendengar namanya di sebut oleh Tyrion yang sedang emosi itu. "Sa-saya juga tidak tahu ada Yllgarian di hutan di wilayah tersebut, tuan Tyrion" jawab Joan tergagap, karena rasa panik.
"Apa saja yang kau lakukan ditempat itu, sampai kau tidak tahu ada ratusan Yllgarian tinggal ditempat tersebut?!" Tyrion semakin menjadi-jadi.
Sedang Joan yang tahu kesalahannya, tidak menjawab pertanyaan dari Tyrion tersebut. Ia hanya menunduk diam.
Hal yang juga dilakukan oleh semua orang yang ada ditempat itu saat ini.
"Dan mereka dengan beraninya mengirimiku surat tuntutan ganti rugi? Setelah melempar kepala-kepala dari para prajurit itu?" Tyrion terdengar sangat geram, hingga ia sudah lupa akan gaya elegan yang selalu ia gunakan. "Mereka sudah menghina kerajaan ini!" Lanjutnya yang masih terlihat marah-marah.
Semua orang hanya terdiam menunggu emosi Tyrion mereda. Para bawahannya tahu, sifat tuan mereka memang seperti itu.
"Joan! Ceritakan ulang tentang wilayah itu. Semuanya! Tanpa terkecuali!" Teriak Tyrion kemudian.
Dan dengan cepat Joan mulai menceritakan segala yang ia tahu dari kota tersebut. Segala hal yang kecil dan sepele sampai hal yang tidak masuk akal yang ia tahu dari tanah tersebut.
"Kumpulan tikus-tikus gurun itu pasti memiliki kekuatan yang dirahasiakan" Tyrion masih terlihat geram, meski kali ini sudah sedikit mereda. "Kita lihat, apa mereka masih bisa merasa sombong setelah menghadapi gempuran yang terus menerus" imbuhnya dengan penuh rasa dengki.
"Joan, besok kau pergi menuju perbatasan selatan. Bantu para panglima yang ada disana!" Perintah Tyrion kemudian kepada Joan.
Dengan cepat gadis Narva itu menjawab. "Baik, tuan Tyrion"
-
Dua hari kemudian Joan tiba di perkemahan pasukan pengepung gerbang tanah Pharos. Kedatangannya ke perkemahan tersebut mengatas namakan Tyrion, hingga ia disambut dan dijamu dengan baik ditempat itu.
__ADS_1
"Nona Joan" tampak seorang pria Narva setengah baya, dengan jambang panjang disisi wajahnya, menyapa ketika Joan memasuki tenda pertemuan.
Dalam tenda tersebut terdapat tiga pria Narva termasuk dengan yang tadi menyapa Joan.
"Tuan Bedivere, tuan Tristan, tuan Gawain" Joan menyapa balik dengan sopan santun para bangsawan.
Pria berjambang panjang tadi yang disebut Bedivere oleh Joan. Sedang Tristan adalah yang terlihat paling muda diantara ketiga orang tadi. Perawakannya gagah, dengan rambut belah samping yang tampak sangat rapi.
Sedang yang disapa Joan dengan sebutan Gawain adalah, seorang pria setengah baya dengan bentuk alis yang tebal dan tegas. Yang membuatnya selalu terlihat sedang marah.
Mereka bertiga adalah tiga dari dua belas panglima perang kerajaan Urbar dibawah Tyrion.
"Ngomong-ngomong, bukankah perkemahan ini terlalu jauh dari pintu gerbang mereka, tuan Bedivere?" Hal yang pertama Joan tanyakan. Itu karena yang ia tahu, jarak perkemahan pada umumnya adalah dua sampai tiga kali jarak tembak busur panah.
"Benar, nona Joan. Kita harus menjauhkan jarak perkemahan ini karena mereka memiliki senjata dengan kekuatan yang dasyat serta jangkauan yang sangat luas" Bedivere menjawab.
"Dan mereka sangat meremehkan kita. Mereka sengaja memberi tahukan bahwa perkemahan kita ada dalam jangkauan senjata mereka selama ini. Namun tidak berniat menyerang kami disaat itu" Tristan menambahi.
"Tapi sebenarnya itu juga sebuah keberuntungan bagi kita" kali ini Gawain yang berucap.
"Apa penyerangan malam hari juga tidak berhasil?" Joan bertanya memotong perdebatan Gawain dengan Tristan.
"Juga sia-sia. Mereka memiliki semacam sihir yang dapat membuat tiang obor mengeluarkan sinar yang sangat terang. Yang dapat diarahkan kemanapun dengan sesuka hati" Bedivere menjawab.
"Oleh karena hal itulah, melakukan penyerangan dimalam hari akan jadi lebih merugikan pasukan kita. Mereka kan mudah membidik kita. Sementara pasukan kita tidak tahu dari mana arah serangan akan datang, karena dibutakan oleh cahaya tersebut" Tristan menambahi lagi.
"Mendengar peralatan aneh yang mereka gunakan, sudah tidak lagi membuat saya terkejut" ucap Joan menanggapi.
"Sepertinya anda cukup mengenal tentang mereka, nona Joan. Bisakah anda menceritakannya kepada kami?" Kali ini tampak Gawain yang berucap.
Dan kemudian Joan mulai menceritakan apa yang ia tahu kepada tiga ksatria bangsawan itu.
-
"Jadi karena itu, strategi yang akan kita lakukan kali ini adalah menggunakan alat pelontar batu untuk menghancurkan senjata tersebut, tanpa harus mendekat" ucap Tristan keesokan harinya, saat ia sedang mengantar Joan untuk melihat para prajurit merakit alat pelontar batu yang baru tampak setengah jadi.
__ADS_1
Joan hanya mengamati, ia tidak mencoba untuk berkomentar.
-
Dua hari kemudian, enam alat pelontar batu yang terbuat dari kayu yang tampak tinggi dan kokoh itu selesai dirakit.
Bersama dengan seratus prajurit, pasukan yang kali ini dipimpin oleh Tristan itu bergerak menuju ke gerbang selatan. Mereka juga tampak membawa kereta Ram.
Joan mengikuti arak-arakan pasukan tersebut hanya sebagai pengamat, dan penasehat bila diperlukan. Ia akan selalu berada di barisan belakang. Ia tidak akan turun tangan membantu bila pasukan tersebut membutuhkan bantuan, juga ia tidak perlu untuk dilindungi. Joan masih mampu untuk menjaga dirinya sendiri bila memang dibutuhkan.
Mereka masih mendorong alat pelontar batu tersebut sampai pada jarak jangkau lemparannya, saat tiba-tiba sebuah tonggak besi melesat membelah salah satu dari alat tersebut menjadi dua.
Hal tersebut segera menimbulkan kepanikan terhadap semua prajurit. Baik yang sedang mendorong alat tersebut ataupun yang sedang berbaris didepannya.
Dan mau tidak mau, mereka kembali menarik mundur sisa dari alat pelontar batu tadi sebelum serangan tonggak besi yang lain menghancurkannya.
"Dari jarak sejauh ini?" Joan tampak menganalisa. "Ini lebih dari empat kali jarak tembak busur panah. Bahkan diluar jarak pelontar batu" tampak ia memincingkan matanya seraya mengangkat tangannya kedepan pelipis untuk melindungi dari silau matahari. Ia mencoba memandang kearah gerbang tanah Pharos yang masih jauh terlihat.
-
"Anda lihat sendiri bukan? Yang terjadi tadi? Itulah mengapa kami memindahkan perkemahan ini jauh dari gerbang tersebut" Tristan terdengar sangat kesal. Karena pasukannya bahkan belum sampai setengah jalan menuju gerbang tersebut.
"Lalu apa yang akan anda lakukan setelah ini?" Tanya Joan kemudian.
"Besok pagi para penyihir dari wilayah Wan akan tiba ditempat ini. Kita akan melakukan penyerangan bersama para penyihir tersebut" jawab Tristan kemudian.
-
Sehari kemudian tampak 20 penyihir yang disebut Tristan dari wilayah Wan itu, tiba.
Joan mengenali para penyihir itu dengan julukan 'Benteng Berjalan'. Mereka mengukir prestasi dengan keberasilan mereka menembus benteng timur kerajaan Augra.
Keunikan penyihir-penyihir tersebut adalah, mereka mampu saling berbagi dan menyalurkan aliran Jiwa, hingga dapat menciptakan sebuah dinding sihir yang sangat kokoh dan lebar.
-
__ADS_1