
Sedah hampir tiga bulan setelah terakhir Joan berada diruangan Xiggaz dan kembali duduk di kursi mewah tersebut. Banyak hal telah terjadi. Dan banyak hal yang harus ia laporkan pada sahabatnya itu.
Tampak Xiggaz terlihat tidak tenang saat melihat Joan yang juga terlihat tidak tenang.
"Jadi bagaimana dampak yang diterima oleh tanah tersebut setelah penutupan jalur?" Tanya Xiggaz membuka perbincangan.
"Sebelumnya aku ingin bertanya lebih dulu, Xig. Apa dampak yang diterima kerajaan dengan ditutupnya jalur menuju wilayah Pharos tersebut?" Joan bukannya menjawab, malah balik bertanya.
"Jelas tidak berjalan dengan baik. Karena selama ini rakyat sudah mulai terbiasa dengan harga murah dari barang-barang dari wilayah tersebut. Dan sekarang mereka harus menerima harga lama yang mungkin jadi semakin mahal karena dampak banyaknya pemilik kapal yang mulai gulung tikar" jawab Xiggaz dengan wajah tidak ramah.
"Hal itulah yang kutakutkan" ucap Joan terdengar semakin resah. "Menutup jalur jelas tidak berdampak apapun bagi wilayah tersebut. Mereka sudah memiliki jaringan perdagangan yang kokoh dengan wilayah utara. Dan juga mereka mampu membuat barang-barang yang dibutuhkan wilayah utara dari daratan selatan ini" jelasnya kemudian.
"Benarkah? Barang-barang dari selatan? Termasuk buah dan sayuran?" Terdengar Xiggaz tidak percaya.
"Mereka memiliki cara untuk menanam yang sangat mengagumkan. Tapi bukan itu masalahnya. Mereka juga mampu membeli barang-barang dari daratan utara yang paling banyak dibutuhkan di daratan selatan" jawab Joan lagi.
"Itu berarti mereka memiliki banyak uang?" Xiggaz melipat lengannya kedepan dada.
"Benar, mereka memiliki banyak keuntungan dari barang-barang yang mereka jual pada para bangsawan. Dan sepertinya mereka tidak menerapkan pajak untuk bangsawan. Mereka menggunakan penghasilan mereka tersebut untuk membuat barang yang lebih bernilai tinggi" Joan kembali menjelaskan.
"Benarkah? Tidak dapat dipercaya aturan seperti itu bisa diterapkan. Apa para bangsawan disana tidak menentang?" Xiggaz masih berusaha mencerna bagaimana cara kerja wilayah Pharos tersebut.
"Entahlah, tapi hanya ada beberapa bangsawan diwilayah tersebut. Dan tampaknya mereka tidak cukup berpengaruh. Malah mungkin tidak ada bangsawan berpengaruh ditempat tersebut" Joan melanjutkan.
"Dan tanpa bangsawan berpengaruh, bagaimana mereka membiayai pembangunan pertama wilayah tersebut?"
"Mungkin dari penguasa tanah tersebut. Karena yang ku tahu, penguasa wilayah itu adalah putri mahkota kerajaan Elbrasta yang dibuang" Joan menjawab.
"Benarkah? Putri mahkota? Berarti garis keturunan raja sebelumnya?" Xiggaz terdengar memastikan. Sementara Joan hanya mengangguk.
"Lalu kenapa ia dibuang?" Xiggaz tampak mulai tertarik.
"Entah karena hal apa. Tapi itulah yang kudengar dari para pedagang dari utara" jawab Joan apa adanya.
"Aneh sekali" Xiggaz terlihat menyentuh dagunya seraya terlihat sedang berpikir.
__ADS_1
"Bukan hal yang aneh lagi, bila kita bicara tentang air terjun diatas bukit kan?" Saut Joan kemudian.
"Benar juga. Dan apa lagi yang kau temukan ditempat itu?" Xiggaz tampak kembali menyandarkan tubuhnya kebelakang seraya melipat lengan.
"Jadi ku temukan bahwa semua cara dan alat yang mereka punya adalah dari dua pemuda Morra berumur sekitar delapan belas tahun. Dari merekalah semua rencana dan rancangan dari alat-alat aneh dan cara-cara yang efektif itu berasal" Joan kembali bercerita.
"Seorang pemuda delapan belas tahun? Bagaimana latar belakangnya?" Xiggaz memotong.
"Benar mereka tampak berusia sekitaran itu. Dan aku tidak bisa menemukan apa-apa tentang masa lalu dan latar belakang mereka" jawab Joan.
"Baiklah, lanjutkan"
"Mereka juga sudah mulai memasang senjata di atas gerbang selatan. Seperti sebuah busur bila dilihat dari bentuknya. Namun berukuran besar dengan sebuah harpun yang menjadi pengganti anak panahnya" Joan menjedah. "Kemudian, mereka juga membangun sebuah dermaga di laut barat. Dengan sebuah menara tinggi diatas sebuah tebing" lanjutnya.
"Apa mereka juga akan mengambil alih penyeberangan laut?" Potong Xiggaz lagi.
"Kurasa tidak. Saat ini wilayah tersebut hanya digunakan untuk tambak dan mencari ikan. Tapi siapa tahu mereka juga ingin mengambil alih jalur penyeberangan laut?" Jawab Joan.
Xiggaz tampak berpikir sebentar. "Aku akan laporkan hal ini kepada tuan Tyrion terlebih dahulu. Kau disini sampai berapa lama?" Ujarnya kemudian.
"Aku tidak bisa berlama-lama disini. Karena butuh seminggu perjalanan dari sini ke wilayah tanah mati itu, semenjak jalur selatan ditutup. Jadi aku harus segera kembali bila tidak ingin tertinggal kabar penting dari kota tersebut" ujar Joan menjawab.
"Baiklah bila begitu"
-
Dua hari kemudian Joan kembali dipanggil oleh Xiggaz ke tempat kerjanya. Dan kali ini tampak Xiggaz tidak sendiri. Ia ditemani oleh Tyrion. Tuan mereka berdua.
"Aku hanya ingin memastikan langsung padamu, Joan. Apakah betul semua hal yang kau tulis dalam laporan mu ini?" Tanya Tyrion dengan wajah serius sesaat setelah Joan memasuki ruangan tersebut.
"Benar, tuan Tyrion" jawab Joan dengan tegas dan singkat.
"Jadi mereka tidak mengalami kerugian sebesar yang kita terima dengan penutupan jalur tersebut?" Tyrion mulai bertanya memastikan.
"Benar tuan. Malah mereka mendapat keuntungan dari mahalnya harga barang yang kita jual di wilayah utara" jawab Joan kemudian.
__ADS_1
"Dan apa benar mereka membeli barang yang dibutuhkan daratan selatan dari para pedagang utara?" Wajah Tyrion tidak makin bertambah cerah. Lipatan diantara kedua alisnya sudah mulai terbentuk.
"Benar seperti yang anda dengar, tuan Tyrion" jawab Joan membenarkan.
"Jadi kota yang ada ditanah mati itu adalah kota yang makmur?" Wajah resah Tyrion mulai terlihat, meski ia berusaha untuk menyembunyikannya dengan sikapnya sok elegan.
"Bila saya boleh jujur, tuan Tyrion. Setelah lama berada dikota tersebut. Saya sempat merasa berada di wilayah pinggiran saat berada di kota Guam ini" ucap Joan jujur yang tidak hanya membuat Tyrion terkejut, tapi juga Xiggaz.
"Jadi menurutmu kota ditengah tanah mati itu jauh lebih maju dibanding kota pusat pemerintahan kerajaan Urbar ini?" Suara Tyrion tergengar bergetar.
"Maafkan saya, tuan Tyrion. Bukan bermaksud tidak sopan. Tapi saya hanya mencoba memberikan gambaran apa yang saya lihat di kota tersebut" jawab Joan seraya menundukan kepala disepanjang ucapannya.
"Itu benar-benar menjengkelkan dan mengecewakan ku" Tyrion terlihat jengkel, namun mencoba untuk menahan diri dan tetap berlaku elegan. "Tapi yang makin membuatku marah adalah mereka sengaja melindungi si bajak laut hina itu" lanjutnya dengan amarah yang terpendam.
Joan dan Xiggaz hanya terdiam melihat majikan mereka mulai mengatur nafas, untuk menjaga agar ia tidak merasa semakin marah.
"Tapi mereka tidak memiliki prajurit yang cukup, kan? Dan juga, persenjataan yang mereka punya hanya senjata biasa saja, kan? Bukan senjata sihir atau senjata mistik, kan?" Tyrion bertanya untuk memastikan.
"Benar mereka tidak memiliki banyak prajurit. Namun untuk senjata, bisa saja mereka menyembunyikannya pada kita" jawab Joan kemudian. Yang membuat Tyrion memasang senyum culasnya.
"Lalu setelah ini apa rencana anda, tuan Tyrion?" Kali ini Xiggaz yang bertanya.
"Mungkin dalam seminggu ini paduka raja akan disahkan menjadi pemimpin kerajaan suci Urbar. Mungkin setelah itu kita bisa urus tanah mati tersebut" ujar Tyrion yang terlihat semakin bahagia membayangkan rencana yang akan ia lakukan kepada tanah Pharos nantinya.
"Tapi bagaimana kalau pihak Elbrasta ikut campur, tuan? Bukankah penguasa wilayah tersebut adalah mantan putri mahkota kerajaan tersebut" Xiggaz bertanya dengan kuatir.
"Tidak mungkin. Aku mendapat kabar dari kerabatku seorang bangsawan kerajaan Elbrasta. Bahwa putri itu sendiri yang melepaskan tahtanya dan meminta tanah mati itu menjadi tanah lepas. Dan buka lagi bagian dari kerajaan Elbrasta" jelas Tyrion dengan penuh keyakinan, bahwa ucapanya itu benar.
"Mengapa dia melakukan hal tersebut?" Xiggaz bertanya lebih kepada diri sendiri.
"Siapa yang perduli" saut Tyrion dengan. Ada meremehkan. "Dan lalu yang kedua adalah, sekarang ini sedang terjadi pergolakan dalam tubuh kerajaan itu. Sepertinya raja yang baru tidak akan bertahan lama di tahta tersebut" tambahnya lagi seraya membenarkan posisi rambutnya dengan tangan.
"Jadi kita akan tunggu seminggu lagi?" Tanya Joan kepada Xiggaz.
"Kau bisa kembali kesana besok, Joan. Dan kembalilah saat kami sudah memutuskan untuk melakukan penyerbuan ke tanah tersebut" Tyrion memberi perintah pada Joan.
__ADS_1
"Baik, tuan Tyrion" jawab Joan cepat.
-