
Siang itu Anna tiba di pelabuhan kota Xin. Setelah wilayah kepemimpinan sementara dibuat, kini Anna sudah bisa meninggalkan kota Xa di wilayah Cleyra. Empat hari setelah ia berhasil menaklukan kota tersebut.
Wilayah Harbring, Cleyra, Solidor, Nalbina, dan Nabradia, atau disebut wilayah kepemimpinan sisi barat semua akan di pegang oleh Helen. Termasuk wilayah kota Xin pula.
Terlihat Nikolai datang menyambut saat kapal Anna mulai berlabuh.
"Bagaimana kabar mu, An?" Sapa Nikolai saat Anna sudah dekat dengannya.
"Lebih lega, Nik. Bagaimana dengan mu? Kulihat ada yang baru di pelabuhan ini?" Anna menatap puluhan kapal layar yang membuang sangkar di perairan dalam di sekitar dermaga kota Xin.
"Ya, seperti yang kau lihat. Armada kapal perang kerajaan dari pelabuhan wilayah Harbring dan Cleyra, dikirim semua kemari. Setelah wilayah kepemimpinan dibentuk" Nikolai menjelaskan.
"Mengumpulkan sisa armada agar lebih mudah untuk dipantau" Anna menanggapi. "Tapi bila sebanyak itu, cukup sulit juga untuk melakukan pemeliharaan" tambahnya.
"Kudengar kapal-kapal itu akan dikirim ke kota Barat untuk dibongkar bila semua ini sudah selesai" Nikolai kembali menjelaskan.
"Kurasa lebih baik begitu" jawab Anna cepat.
-
"Lalu bagaimana dengan kota ini?" Nata bertanya lagi saat mereka sedang makan siang di markas prajurit Pharos di kota Xin.
Markat tersebut adalah rumah kediaman bangsawan yang melarikan diri saat penyerangan pertama kota Xin beberapa waktu yang lalu.
"Seperti yang tadi kau lihat sendiri, kota ini sudah mulai berjalan sejak dua hari yang lalu. Pasokan pangan dan keperluan lainnya untuk wilayah keiemimpinan sisi barat ini dikirim dari Kota Barat melalui kota ini" Nikolai mulai bercerita seraya asik menyuapkan potongan kentang kedalam mulutnya.
"Meski para pedagang besar sudah keluar dari kota ini, tapi pedagang lokal masih tetap berdagang dan membuka kedai juga kios mereka di dalam kota. Dibantu dengan penyediaan pasokan barang yang diperlukan kota ini dari wilayah Pharos" Nikolai masih bercerita.
Anna terlihat mendengarkan cerita Nikolai dengan seksama. Yang juga dengan asik menyuapkan makanan dari piring di depan mejanya.
"Lalu bagaimana dengan bangsawan yang masih di kota ini?" Tanya Anna kemudian.
"Sebagian masih berada di tempat ini. Sebagian sudah dipindahkan ke kota Wang di selatan Nalbina. Kabarnya mereka akan diberi pengarah tentang peraturan baru di wilayah ini kelak" jelas Nikolai yang sudah mulai memberikan piring makannya.
"Tentang penghilangan status kebangsawanan itu?" Anna bertanya. Yang dijawab Nikolai dengan anggukan kecil.
__ADS_1
"Oh, iya. Kabarnya Galvin juga sudah tertangkap. Selama ini dia bersembunyi di kota Song di wilayah Solidor" ucap Nikolai yang baru teringat akan hal tersebut. "Sekarang dia juga sudah dipindahkan ke kota Wang bersama bangsawan lainnya" lanjutnya kemudian.
"Begitu ternyata" Anna menyuapkan kentang terakhirnya kedalam mulut. "Kalau tuan Sabil?" Tanyanya lagi.
"Beliau masih berada di kota ini. Beliau ikut membantu untuk menjalankan kota ini sehari setelah seluruh wilayah kerajaan Urbar jatuh" Nikolai menjawab setelah meneguk habis minuman dalam gelasnya.
"Baguslah kalau begitu" Anna berucap cepat. Kemudian mulai membereskan piring makannya.
"Kau akan menemuinya?" Tanya Nikolai kemudian.
"Kurasa" jawab Anna seraya bangkit berdiri.
-
Tak lama setelah maman siang, Anna seorang diri pergi menuju ke rumah kediaman Sabil tak jauh dari markas pasukan Pharos tadi.
Tampak Anna sudah berada di rumah kediaman keluarga Previa. Ia langsung masuk ke dalam rumah tersebut karena tidak ada satu orang pun di kediaman itu. Baik di pekarangannya, maupun di dalam rumahnya.
Ruang tamunya tampak lengang dan gelap. Tidak ada satu jendela pun yang terbuka. Tampak seperti rumah yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.
Anna kemudian naik ke lantai dua, saat ia melihat ada cayaha di salah satu ruangannya.
Terlihat dua lampu minyak terletak diatas meja di depan pria baya tadi, dan di atas lemari tak jauh dari pintu masuk.
"Selamat siang, tuan Sabil" Anna menyapa masih dari koridor di luar ruangan.
Pria baya itu terlihat terkejut mendengar sapaan Anna. Kemudian mencoba memincingkan matanya menatap ke celah pintu yang terlihat gelap.
"Siapa?" Pria baya itu bertanya.
"Kurasa anda masih baik-baik saja ditengah perubahan yang tengah terjadi sekarang ini, tuan Sabil" Anna keluar dari bayang-bayang dan melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Oh, kau sudah kembali, An?" Wajah Sabil terlihat antara terkejut dan juga lega.
"Apa yang sedang anda kerjakan, tuan Sabil? Ini sudah lewat jam makan siang, dan rumah anda masih terlihat gelap" Anna berjalan menuju ke salah satu kursi yang ada diruangan tersebut, dan mengenyakan diri diatasnya. "Kemana orang-orang?"
__ADS_1
"Mereka ada di rumah kami yang di luar kota. Yang lebih jauh dari pusat keramaian" Sabil menjawab seraya meletakan pena nya diatas meja.
"Lalu apa yang anda lakukan sendirian ditempat ini, tuan Sabil?" Anna bertanya lagi.
"Hanya membantu yang aku bisa ku lakukan untuk kota ini" Sabil menjawab sambil menautkan jari dikedua tangannya diatas meja. Menatap kearah Anna.
"Sampai kapan anda akan melakukan hal seperti ini, tuan Sabil? Sudah, pulanglah ke tempat keluarga anda. Tinggalkan kota dan kegilaan ini" Anna berucap. "Apa anda tidak merasa capek?" Tanyanya kemudian.
"Bila memungkinkan aku ingin terus berada dan bekerja di kota ini" Sabil menjawab pertanyaan Anba.
"Meski anda akan kehilangan status kebangsawanan anda?"
"Dua hari yang lalu aku bertemu dengan Mateus. Ia datang kemari bersama kakak iparnya Amithy" Sabil menyandarkan tubuhnya kebelakang. Menggerak-gerakan kedua tulang pundaknya.
"Oh, nyonya Amithy dan tuan Mateus. Ada perlu apa mereka kemari?" Anna menanggapi.
"Mereka menjelaskan tentang perubahan yang akan kalian lakukan pada bekas wilayah kerajaan Urbar ini. Dan mereka membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membuatnya berhasil" jawab Sabil menjelaskan.
"Dan bagaimana menurut anda?"
"Apa? Perubahan yang akan kalian lakukan?" Tanya Sabil yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Anna. "Itu terlalu muluk dan terkesan tidak realistis untuk dilakukan" jawabnya kemudian.
"Lalu?" Anna bertanya karena tahu ucapan Sabil belum selesai.
"Tapi aku sudah memutuskan untuk tidak hanya diam kali ini. Aku akan ikut serta dalam usaha membangun kota ini. Aku tidak ingin menjadi pengecut lagi" Sabil menjawab. "Meski aku juga tidak yakin apakah usaha yang kulakukan akan berhasil atau sia-sia" imbuhnya lagi.
Anna terdiam menatap pria baya dihadapannya itu. Kemudian tampak bangkit berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah kalau begitu, berjuanglah untuk kota ini, tuan Sabil. Saya tidak akan menggangu pekerjaan anda lagi. Jadi saya permisi dahulu" ucapnya kemudian seraya berjalan menuju pintu keluar.
"Kau sendiri? Apa kau masih memiliki urusan yang belum terselesaikan, An?" Sabil mengikuti gerakan tubuh Anna dengan pandangan.
Anna menahan langkahnya, kemudian berbalik menatap Sabil. "Banyak, tuan Sabil. Banyak urusan yang belum saya selesaikan" jawabnya kemudian.
"Tapi balas dendam tidak termasuk" Anna menambahkan seraya berbalik dan berjalan keluar. "Jangan lupa makan siang, tuan Sabil"
"Apa kau akan tetap di kota ini setelah semuanya selesai?" Tanya Sabil lagi saat Anna sudah tidak terlihat dari pandangannya.
__ADS_1
"Kota ini bukan kota saya lagi, tuan Sabil. Saya akan pulang ke kota saya setelah semua ini berakhir" suara Anna terdengar menggaung di koridor diluar ruang kerja Sabil.
-