
"Tak kusangka Tyrion itu selicik ini. Dia pasti sudah menyiapkan pasukan mengintai di pesisir timur. Dan segera menyerang begitu kita menolak permintaannya" ujar Cornelius yang terlihat sangat berang saat mereka berkumpul di kediaman Lucia setelah mengetahui kabar bahwa pesisir timur diserang oleh pasukan kerajaan Urbar.
"Dari awal dia memang berniat untuk menyerang kita" timpal Orland kemudian.
Hari sudah beranjak pagi saat kemudian Caspian datang untuk melapor.
"Bagaimana, Cas?" Tanya Lucia yang terlihat sangat kuatir.
"Untung ada para Yllgarian. Pasukan lawan berhasil dihadang, bahkan di habisi" jawab Caspian.
"Ada berapa banyak jumlah pasukan yang mereka kirim?" Kali ini Nata yang bertanya.
"Menurut laporan beberapa prajurit dan para Yllgarian mungkin sekitar delapan puluh sampai seratus orang" jawab Caspian.
"Seratus prajurit? Yang benar saja? Apa ia berniat menghabisi kita dalam satu malam saja?" Terdengar Madron meninggikan suaranya. Tampak sangat kesal.
"Sekarang Vossler dan Helen sedang mengurus jasad mereka. Juga para penduduk desa Sekai" lanjut Caspian kemudian.
"Ada berapa korban, tuan Caspian?" Tanya Nata lagi.
"Tiga puluh orang termasuk anak kecil dan wanita" jawab Caspian dengan nada getir.
Nata menunduk menyentuhkan tangannya ke kening. Ia tahu ini adalah kesalahannya. Kekalahannya bahkan sebelum peperangan ini dimulai.
Aksa terlihat menggeruskan kedua gigi gerahamnya. Hingga rahangnya terlihat bergerak-gerak. Ia tampak sangat jengkel.
Lucia terlihat sudah menumpahkan air matanya. Tampak Amithy berada disebelahnya menepuk punggungnya pelan.
Sedang sisa orang yang berada di tempat itu sekarang terlihat sangat marah dan juga sedih.
Kemudian tampak Aksa berjalan mendekati Nata.
"Aku tidak suka dengan hal ini, Nat. Mereka bahkan tidak mengecualikan wanita dan anak kecil" ucap Aksa cukup pelan hingga hanya dapat di dengar oleh orang dekatnya saja.
__ADS_1
"Aku pun juga. Tapi kita harus tetap bertahan untuk bisa memenangkan permainan busuk ini" jawab Nata dengan volume suara yang sama.
"Apa kau masih berpikir bahwa jumlah prajurit kita tidak bisa memenangkan peperangan ini? Kau tinggal memintanya, Nat. Aku akan segera membuatnya" balas Aksa lagi. Meski terdengar pelan, namun terasa emosi dalam suaranya.
"Tenanglah dulu, Aks. Aku juga sangat ingin menghancuran orang-orang itu. Tapi kita harus tetap berkepala dingin dan menganalisa semua ini terlebih dahulu" jawab Nata. "Kita tidak boleh kalah dari mereka. Maka dari itu kita harus pastikan bahwa kita mengendalikan arah peperangan ini" tambanya lagi.
"Aku sangat ingin meledakan sesuatu sekarang ini" geram Aksa pelan.
"Bila memang saatnya, aku pasti yang akan memaksamu membuatnya. Kau tidak perlu mengingatkanku. Jadi sekarang, tenangkan dulu dirimu" ucap Nata yang lalu menatap ke arah Rafa di belakang Aksa. "Nona Rafa, tolong antarkan Aksa untuk mencari segelas susu hangat" ucapnya kemudian.
Rafa hanya mengangguk kecil dan menarik lengan Aksa dan mengantarnya kedapur. Setelah Aksa dan Rafa keluar dari ruangan. Nata berjalan mendekati Lucia.
"Apa anda baik-baik saja, putri?" Tanya Nata kemudian.
Lucia hanya terdiam. Pandangannya nanar menembus meja dihadapannya. Dalam batinnya kini, ia sedang menyalahkan dirinya. Menyalahkan keputusannya menjawab perang ini. Ia merasa telah membahayakan banyak nyawa karena keputusan tidak matangnya.
"Sebagai seorang manusia, anda boleh merasa sedih, marah, kecewa, takut, atau menyalahkan diri sendiri. Tapi sebagai pemimpin anda tidak boleh. Anda harus tetap tegar dan terlihat kuat. Meski itu hanya berpura-pura" Nata berucap seraya duduk diatas keja disebelah Lucia.
"Karena semua ini sudah terjadi. Jadi tidak ada artinya untuk diratapi. Yang harus anda lakukan adalah melakukan yang terbaik untuk kedepannya. Perang sudah dimulai, dan orang-orang butuh kehadiran anda. Jadilah simbol dari harapan mereka" tambah Nata kemudian.
"Beri aku pilihan, Nat. Beri aku semua pilihan yang bisa kau pikirkan untuk menanggapi peperangan ini" ucap Lucia kemudian.
Terlihat Nata mulai tersenyum kecil. "Baik, tuan putri"
-
Siang harinya mereka mengadakan pemakaman untuk para korban. Baik penduduk desa, mau pun para prajurit yang gugur. Pemakaman tersebut berada di sebelah timur laut desa Timur. Yang dihadiri oleh hampir semua orang dan juga Yllgarian.
Untuk sementara gerbang utara juga ditutup untuk orang luar. Para pedagang luar yang berada di dalam kota boleh tetap tinggal bila mereka mau. Namun tidak akan dapat keluar untuk jangka waktu tertentu. Dan tampaknya mata-mata kerajaan Urbar itu sudah tidak lagi berada di kota Tengah sejak dari kemarin.
"Kami sangat berterima kasih terhadap segala bantuan dari para Yllgarian. Karena kalian, banyak warga yang berhasil diselamatkan" ujar Lucia seraya membungkuk kecil, saat ia bertemu denga lima Bijak Yllgarian di pemakaman tersebut.
"Anda tidak perlu berterima kasih. Malah, kami lah yang harusnya meminta maaf karena tidak bisa datang tepat waktu untuk menolong" jawab Vugr si burung hantu.
__ADS_1
"Karena meski bagaimanapun juga, tanah ini adalah tanah tempat kami tinggal. Jadi kami tidak akan tinggal diam bila memang ada yang hendak mengusiknya" imbuh Farel si macan kumbang yang ada disebelah Vurg.
"Jadi biarkan kami ambil bagian dalam perang ini juga. Setidaknya untuk melindungi tempat tinggal kami" kali ini Golus si banteng yang berucap.
Dan setelah melewati perbincangan yang cukup panjang, akhirnya diputuskan bahwa perlindungan pesisir timur diserahkan kepada para Yllgarian. Meski Lucia masih memimpin semua pergerakan dan Nata yang masih membuat rencana dan strategi untuk mereka.
-
Beberapa saat setelahnya, mereka sudah berada di ruang tengah kediaman Lucia dengan kepala pasukan dan para bangsawan.
"Apa kita akan membalas mereka?" Tanya Jean yang terlihat emosi, bahkan sebelum Nata sempat berbicara.
"Kita bisa saja menyerang mereka sekarang. Tapi kita tidak memiliki pengetahuan tentang mereka. Ingat mereka yang tetap menyerang tanpa mengetahui kekuatan lawan akan berakhir seperti seratus pasukan Urbar yang habis dalam waktu semalam saja itu" Nata menjawab.
"Ya, aku paham. Lalu apa rencana yang kau punya?" Tanya Jean terlihat tidak sabar.
"Kita akan memancing pihak Urbar dan melihat tanggapan mereka" Nata menjedah. "Memang rencana ini cukup berbahaya, karena kita tidak tahu apa yang akan dilakukan pihak Urbar bila kita membuat mereka marah. Namun dengan cara itu juga, kita bisa melihat seperti apa pola dan gerakan mereka. Jadi kita bisa mengantisipasinya, atau bahkan mengendalikan arah gerakan mereka" ucap Nata menjelaskan.
"Atau lebih gampangnya lagi, kita bisa menutup gerbang dan bertahan selamanya di dalam wilayah ini. Toh, kita sudah mampu untuk memenuhi kehidupan kita sendiri tanpa perlu bantuan kota lain" imbuh Nata lagi.
"Kurasa kau tidak akan memilih hal tersebut, bocah" saut Jean dengan cepat.
"Tuan putri yang menentukan. Kita bisa menyudahi peperangan ini dengan menutup diri. Saya berani jamin mereka tidak akan mampu menembus pertahanan yang akan kita buat. Itu adalah cara yang paling tidak banyak memakan korban" ujar Nata menjawab Jean.
"Tidak, Nat. Aku perlu menuntut keadilan untuk para rakyat dan prajuritku. Kita akan menjawab perang yang mereka kirim kepada kita" ucap Lucia tegas.
Semua orang yang ada ditempat itu terlihat cukup terkesan dengan ucapan Lucia tersebut. Tidak terkecuali Nata. Senyumnya tampak mengembang.
"Baiklah bila tuan putri sudah menentukan. Maka kita akan menjawab perang ini. Dan kita akan menjawabnya dengan arogan" ucap Nata kemudian yang kali ini wajah dan intonasi suaranya sudah kembali seperti dia yang biasanya. Penuh percaya diri yang lebih kearah sombong.
"Lalu bagaimana detail rencana anda, tuan Nata?" Tanya Caspian yang juga sama tidak sabarnya dengan Jean.
"Kita akan mulai mengirimi mereka surat tuntutan. Kita harus menunjukan bahwa gertakan mereka itu tidak membuahkan hasil. Dan kita akan balik menantang mereka secara terbuka" ucap Nata menjelaskan. "Kita akan buat mereka sadar, mereka mencari masalah dengan kota yang salah" imbuhnya kemudian.
__ADS_1
Dan hanya dengan mendengar ucapan Nata tersebut, membuat semua orang tampak optimis dan bersemangat lagi.
-