Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
14.5. Yvvone Story : Pemberontakan Elbrasta


__ADS_3

Dua hari kemudian Yvvone dan Seigfried tiba ditempat yang mereka tuju. Kota Pharn. Di perbatasan antara wilayah barat dan wilayah selatan kerajaan Estrinx.


Dan setelah menyiapkan perkemahan di dalam hutan di tebing di sisi timur kota, mereka pun segera memasuki kota tersebut.


Kota itu tidak sebesar dan seramai kota Yahld sebelumnya. Ditambah posisinya yang berada di lereng perbukitan, membuat lebih sedikit lagi para pedagang dan orang luar yang datang untuk mengunjungi kota tersebut.


Jadi tak terlalu bermasalah juga membawa Yvvone masuk kedalam kota.


Tapi tampaknya Seigfried sudah mengenal kota itu. Hingga ia bisa langsung tahu kemana mereka harus menuju.


Tak lama kemudian, mereka berdua tiba di sebuah bar di ujung selatan kota. Tampak wilayah sekitar bar tersebut terlihat kumuh dan kotor.


"Kau yakin ini tempatnya?" Yvvone bertanya terlihat sangsi.


"Iya. Aku pernah tinggal dikota ini selama dua bulan saat aku kabur dari kelompok ku, dulu" jawab Seigfried kemudian


Di dalam bar tersebut hanya ada pria tua penjaga bar dibalik meja bartender, seorang pria Narva yang terlihat sedang mabuk di meja tengah ruangan, dan seorang pria Morra yang mengenakan bandana berwarna kayu menutup kepalanya. Sedang duduk di meja di ujung ruangan.


Seigfried mendekati pria berbandana itu. "Apa kau yang bernama Yan?" Tanyanya kemudian.


"Siapa kalian?" Pria berbandana tadi bertanya.


"Kami ingin kau menghubungkan kami dengan Delapan Penjaga" Seigfried berucap tanpa menjawab pertanyaan pria tersebut.


"Duduklah dulu" pria itu mempersilahkan Siegfried dan Yvvone untuk duduk, yang berarti membenarkan bahwa dirinya adalah Yan.


"Pertama-tama, sebutkan jenis tugas seperti apa yang ingin kalian minta untuk Delapan Pelindung lakukan?" Yan bertanya lagi saat Seigfried dan Yvvone sudah duduk dihadapannya.


"Mengambil surat perjanjian dagang dari salah satu bangsawan di wilayah kerajaan Augra" Siegfried menjawab dengan cepat dan lancar. Yang membuat Yvvone terlihat sedikit kagum padanya.


Yan terlihat sedang menilai ucapan Seigfried seraya menatap pria Morra dan gadis Elf yang ada dihadapannya itu secara bergantian.


"Dan siapa kalian berdua? Apa status kalian? Apa pekerjaan kalian?" Yan bertanya dengan tatapan curiga. "Karena Delapan penjaga hanya mau menerima tugas setelah mereka mengetahui siapa yang menyewa mereka" lanjutnya kemudian.


"Jangan kuatir kami memiliki cukup banyak uang untuk membayar mereka" Siegfried meletakan bungkusan kain berisi uang diatas meja dengan percaya diri.


Yvvone sekali lagi kagum melihat bagaimana Seigfried bertindak. Pria itu bisa berpikir cepat untuk membuat kebohongan dan gertakan yang meyakinkan.


Bahkan ia dengan angkuh meletakan bungkusan kain yang hanya berisi 4 koin perak dan 8 koin perunggu itu, seolah-olah adalah koin emas atau emas putih.


Tapi Yvvone tidak bereaksi secara berlebih. Ia tidak ingin merusak usaha Seigfried untuk mendapatkan kepeecayaan Yan.


"Delapan Penjaga tidak selalu meminta uang untuk bayarannya" pria berbandana itu menjawab dengan tatapan yang seperti sedang menilai uang didalam kantong kain tersebut.


"Baiklah kalau memang harus begitu" Seigfried berucap. "Namaku adalah Conie. Conie Redhead. Aku mengemban tugas dari tuan ku seorang Jarl dari kerajaan Joren. Dan aku tidak akan mengebutkan namanya pada mu disini. Bila mereka ingin tahu, aku akan membeditahukannya kepada mereka sendiri" ucapnya kemudian dengan kebohongan.


"Dan dia adalah penjagaku. Dia sudah membuang namanya karena rasa malu" Seigfried menambahi seraya menunjuk ke arah Yvvone yang duduk disebelahnya.


Terlihat Yvvone menatap sinis kearah Seigfried setelah mendengar ucapannya tadi. Tapi kemudian ia hanya mengangguk kecil kearah Yan.


Sedang Yan terlihat sedang menilai apakah Seigfried berkata jujur atau tidak.


"Baik kalau begitu. Datanglah kemari lima hari lagi" ucap Yan kemudian.


Dan setelah itu Siegfried dan Yvvone pun meninggalkan bar tersebut.


-

__ADS_1


"Itu tadi apa-apaan?" Yvvone terdengar tidak terima kepada Siegfried saat mereka sedang dalam perjalanan menuju tebing ke tempat perkemahan mereka dibuat.


"Apa memangnya? Kau tidak pernah lihat orang berbohong sebelumnya?" Seigfried menjawab dengan santai.


"Bukan itu. Tapi yang membuang namanya karena rasa malu, itu" Yvvone terdengar sewot.


"Aku tidak tahu nama Elf itu seperti apa. Aku tidak mengenal Elf kecuali tuan Val" Seigfried memberikan pembelan dirinya. "Jadi tak mungkin kan, aku menggunakan nama laki-laki untuk menyamarkan mu?" Lanjutnya kemudian.


Yvvone terlihat masih menatap sinis kearah Seigfried, setelah mendengar jawaban tersebut. Tapi ia tidak mencoba untuk melakukan perlawanan.


"Lalu selama kita menunggu lima hari ini, aku akan kembali ke kota Yahld" Seigfried kembali berucap.


"Mau apa kau kembali ke kota itu?"


"Sudah lama aku tidak berjudi. Kurasa aku ingin berjudi disana selagi bisa. Di kota itu ada tempat perjudian gelap" Seigfried menjawab dengan santai.


"Bisa-bisanya kau berjudi di saat-saat seperti ini?"


"Karena kurasa kita akan memerlukan banyak uang untuk menyuap si Yan itu, maka aku akan mencari uang untuk itu" jawab Seigfried yang terkesan mengada-ada.


"Bila kau ingin mengumpulkan uang, ya bekerja jangan malah berjudi" saut Yvvone kemudian.


Seigfried tidak membalas ucapan Yvvone. Ia terlihat mengutuk tanpa suara dibelakang.


-


Lima hari kemudian mereka berdua kembali menuju ke bar di kota Pharn. Setelah selama empat hari di kota Yahld, Seigfried berhasil memenangkan puluhan keping emas dari berjudi.


Sekarang ia sudah benar-benar memiliki banyak uang untuk di sombongkan kepada Yan.


"Benarkah? Kerajaan Joren baik-baik saja. Bagian mana dari wilayah selatan yang bermasalah?" Seigfried bertanya dengan tatapan curiga kearah Yan.


"Aku tidak sedang berbohong. Aku memang tidak bisa menghubungi mereka" Yan menjawab karena merasa dituduh sebagai seorang pembohong.


"Lalu apa yang harus kami lakukan? Kami benar-benar memerlukan tenaga mereka" Seigfried mula seolah-olah terlihat panik.


"Susah" Yan berucap dengan berat hati.


"Kami akan kembayar mu. Bila kau memberikan kami jalan keluar untuk menemui Delapan Pelindung tersebut" Seigfried meletakan lima keping uang emas diatas meja.


Terlihat meski coba untuk disembunyikan, bahwa Yan sangat tertarik dengan keping uang emas diatas meja tersebut.


"Baiklah kalau begitu. Datang lah ke kota Garya di wilayah Elbrasta. Cari orang bernama Vargas. Bilang aku yang menyuru kalian" ucap Yan kemudian. "Lalu tanyakan tentang Delapan Penjaga kepadanya" tambahnya lagi.


"Sebentar. Tadi katamu, kau tidak bisa menghubungi Delapan Penjaga karena wilayah selatan sedang kacau. Sekarang kau bilang orang bernama Vargas itu bisa menghubungi mereka? Kau ingin menipu ku?" Tampak Seigfried mengambil kembali keping emss diatas meja.


"Bukan begitu. Ada beberapa anggota Delapan Penjaga di tempat itu. Hanya saja terlalu beresiko menghubungi mereka melewati surat di wilayah Elbrasta" Yan terlihat sedikit panik, dan mulai mencoba menjelaskan maksudnya. "Nanti Vargas akan mengantar kalian langsung ke salah satu dari Delapan Penjaga tersebut. Kalian bisa meminta bantuan mereka secara langsung" jelasnya kemudian.


Siegfried berlagak sedang menimbang apakah ucapan Yan bisa ia percaya atau tidak.


"Baiklah kalau begitu. Jelaskan lebih rinci bagaimana dan dimana orang bernama Vargas itu bisa kita temui" Seigfried berucap seraya meletakan kembali lima keping emas tadi diatas meja. Yang membuat wajah Yan teesenyum kembali.


-


"Untung kita punya cukup uang untuk menyuap orang itu" Yvvone berucap saat mereka sudah bersiap untuk melakukan perjalanan ke barat. Menuju kota Garya di wilayah Elbrasta.


"Berterima kasihlah padaku. Dan jangan lagi-lagi meragukan keputusan ku melakukan sesuatu" ucap Seigfried terdengar berbangga diri.

__ADS_1


"Tapi tak kusangka kau sangat pandai berjudi. Hingga bisa mendapatkan sebegitu banyak uang" Yvvone berucap tidak memperdulikan ucapan Siegfried sebelumnya.


"Aku banyak belajar dari tuan Aksa tentang membaca kesempatan dan membaca seseorang dalam berjudi, ditiap kali ia mampir ke bar" Siegfried menjawab dengan santai. "Ya meski aku harus selalu direpotkan untuk membeli susu di restaurant sebelah setiap tuan Aksa datang" ujarnya kemudian yang kali ini terdengar pasrah.


"Bocah itu yang mengajarkanmu berjudi? Apa yang di pikirkannya, ssmpai mengajari orang lain untuk menang dalam berjudi" Yvvone berucap yang tidak dihiraukan oleh Siegfried.


-


Seminggu kemudian, mereka tiba juga di kota Garya. Kota dagang di garis perbatasan antara wilayah kerajaan Elbrasta dan kerajaan Estrinx.


Seperti yang sudah di jelaskan oleh Yan sebelumnya, mereka segera menuju tempat dimana mereka bisa menemukan orang bernama Vargas tersebut.


"Kalian datang tidak tepat waktu. Sekarang tengah terjadi pemberontakan di wilayah kerajaan Elbrasta ini" pria Morra dengan perawakan kurus jangkung yang dikenal dengan nama Vargas tersebut menjawab saat Siegfried menanyakan perihal Delapan Penjaga.


"Benarkah?" Yvvone dan Seigfried benar-benar terkejut mendengar ucapan Vargas tadi.


"Wilayah ini terlihat baik-baik saja" Seigfried berucap. Karena dia memang tidak melihat ada kepanikan atau kegeliasahan di kota tersebut.


"Itu karena kota ini ada diperbatasan wilayah kerajaan. Sedang para pemberontak langsung menyerang kotaraja" Vargas menjelaskan.


"Lalu apa hubungannya dengan Delapan Penjaga?" Seigfried bertanya lagi.


"Yang ku tahu anggota Delapan Penjaga sedang menerima tugas untuk menjaga istana" Vargas menjawab cepat.


"Lalu apa yang harus kami lakukan untuk bisa bertemu dengan mereka?" Kali ini Yvvone yang bertanya.


"Mereka akan berada di kotaraja sampai pemberontakan tersebut selesai" Vargas menjawab.


"Lagi pula siapa yang melakukan pemberontakan di kerajaan yang terlihat damai dan makmur ini?" Tanya Seigfried kemudian.


"Mereka adalah bangsawan berpengaruh di wilayah ini. Sebenarnya wilayah ini tidak sedamai kelihatannya. Semenjak raja Albert wafat enam tahun yang lalu, kerajaan ini memang sudah mulai jatuh" Vargas terlihat meluapkan isi hatinya.


"Apa bila kami ke kotaraja, maka kami akan bisa bertemu dengan Delapan Penjaga tersebut?" Yvvone bertanya lagi.


Terlihat Seigfired segera menatap Yvvone dengan sinis. Ia bisa menebak apa yang sekarang sedang dipikirkan oleh gadis Elf tersebut.


"Tentu saja. Tapi sekarang gerbang kotaraja sudah ditutup. Mustahil untuk memasukinya" Vargas menjawab.


"Baiklah bila begitu. Sayang sekali. Ini memang nasib sial kami" ucap Yvvone yang mencoba berpura-pura, tapi terlalu dipaksakan. Membuatnya terlihat konyol.


-


"Tidak. Kita tidak akan menuju ke kotaraja" Seigfried berucap saat mereka sudah berada diluar kota Garya. "Kalau kau mau kesana, silahkan berangkat sendiri sana. Aku akan pulang ke kota Tengah" tambahnya kemudian.


"Kita hanya akan menyusup dan mencari informasi saja. Tidak ada hal berbahaya yang akan terjadi" Yvvone mencoba merayu Seigfried supaya mau ikut dengan nya menuju ke kotaraja kerajaan Elbrasta.


"Kalau hanya mencari informasi saja, kau sudah tidak memerlukan ku, kan?" Seigfried berucap dengan tidak perduli.


"Kau tahu, informasi kerajaan Elbrasta itu sangat penting dan berguna untuk wilayah kalian" ucap Yvvone.


"Bukan urusanku" jawab Seigfried cepat.


"Setidaknya dengan mtmberikan informasi yang berguna tentang kerajaan ini, kau bisa membantu Lucia dan tanah Pharos seperti yang kau impikan selama ini, kan?" Yvvone kembali berucap panjang lebar untuk membujuk Siegfried.


Mendengar ucapan Yvvone tersebut membuat Siegfried berpikir. "Elf memang mahluk yang paling licik di dunia ini" ucapnya kemudian dengan wajah kesal.


-

__ADS_1


__ADS_2