
Mereka akhirnya tiba di kota Meso di wilayah Feymarch setelah menempuh waktu sehari semalam melewati jalur darat menggunakan kereta tempur.
Sesampainya di depan gerbang kota Meso, tampak Helen dan beberapa prajurit sudah bersiap menyambut.
Kota bernama Meso itu nyaris seperti kota Varun. Mulai dari bentuk bangunan dan cara orang-orang nya berpakaian.
Kota ini terlihat tidak terlalu ramai, tapi para penduduk sudah tampak beraktivitas seperti biasa. Sedang untuk para bangsawan masih dalam penahanan, baik di penjara kota maupun di kediaman mereka masing-masing.
Sudah hampir satu bulan kota ini dalam kekuasaan prajurit Pharos dibawah kepemimpinan Helen.
"Bagaimana perjalanan kalian?" Tanya Helen saat mereka sudah berada di dalam gedung pertemuan yang terletak tak jauh dari alun-alun kota.
"Kurang mengasikan" Aksa menjawab dengan wajah malas sambil menggerak-gerakan pundak dan lehernya.
"Bagaimana kabar anda, nona Helen?" Nata menyapa seraya duduk di depan meja panjang ditengah ruangan.
"Baik-baik saja, tuan Nata" jawab Helen seraya mengikuti Nata duduk di kursi di seberang meja.
Tampak Aksa duduk di sebelah kanan Nata. Di sampingnya duduk secara berurutan, Lily, Rafa, dan Val.
"Bagaimana kesiapannya, Len?" Caspian bertanya dari kursi di sebelah Helen.
"Keamanan sudah ditingkatkan. Baik di wilayah gedung maupun di sekitaran kota" Helen menjawab. "Kita hanya tinggal menunggu mereka datang" tambahnya kemudian.
"Baguslah" jawab Caspian kemudian.
"Bagaimana keadaan dikota ini, nona Helen?" Nata bertanya lagi saat seorang pelayan mulai membagikan segelas minuman untuk mereka semua yang ada di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Sampai sejauh ini, keadaan di dalam kota terbilang aman. Mungkin banyak dari warga yang ketakutan dan marah terhadap keberadaan kita sekarang, tapi tidak ada tanda-tanda akan adanya pemberontakan atau gerakan yang menggunakan kekerasan" Helen bercerita panjang lebar. "Para bangsawan disini juga terbilang mau bekerja sama, meski ucapan mereka sering membuat panas telinga" imbuhnya kemudian.
"Kurasa itu hal wajar. Tapi selama kita tidak memperlakukan rakyat dengan semena-mena, maka perlawanan tidak akan pernah terjadi" Nata menjawab setelah ia menyesap minuman dalam gelasnya.
"Saya juga berpikiran seperti itu, tuan Nata" Helen menyetujui ucapan Nata.
"Sedang untuk para bangsawan, kita akan tentukan setelah pertemuan ini. Apakah akan kita lepaskan atau kita minta mereka untuk meninggalakan kota ini" Nata menambahi.
"Baik, saya mengerti" Helen menjawab dengan tegas.
.
Tak lama kemudian, tampak rombongan kerajaan Urbar datang dari selatan dengan tiga puluh prajurit berkuda dan dua buah kereta kuda bangsawan.
Mereka berbaris memasuki kota dan langsung menuju ke gedung pertemuan. Nata, Aksa, Caspian, dan Helen, berdiri menyambut di depan pintu masuk gedung tersebut. Sementara Lily, Val, dan Rafa berdiri sedikit lebih jauh di belakang mereka.
Lalu di kereta kedua, turun dua ksatria Narva dengan baju besi yang permukaan plat pelindungnya dipenuhi goresan. Yang satu terlihat membawa sebuah tombak panjang yang digantung dipunggungnya, dan yang satu lagi mengenakan helm tertutup rapat dikepalanya. Yang dikenali Nata sebagai Percival.
Sedang prajurit yang mengiring mereka mengenakan seragam dengan plat besi pelindung bercorak biru muda dengan sebuah permata berwarna merah tepat di bagian dada kanannya. Menenteng sebuah pedang dipinggang, dengan permata merah di bagian gagangnya, yang tampak senada dengan permata yang ada di bagian dada. Juga terlihat membawa tameng besar yang digantungkan pada punggung.
Seragam tersebut belum pernah terlihat dikenakan oleh prajurit kerajaan Urbar sebelumnya. Yang membuat Nata menebak, mungkin prajurit tersebut adalah prajurit khusus atau prajurit elit.
Kemudian setelah Caspian memberi tanda, mereka semua mulai memasuki gedung pertemuan tersebut. Dari pihak kerajaan Urbar yang memasuki gedung pertemuan tersebut adalah pria berbaju biru putih, dua ajudannya, Percival, dan ksatria bertombak. Tidak ketinggalan lima belas prajurit juga ikut masuk untuk berjaga di dalam. Sedang lima belas sisanya berjaga diluar gedung.
Kemudian dari pihak Pharos ada Aksa, Nata, Caspian, Rafa, dan sepuluh prajurit yang ikut masuk kedalam gedung tersebut. Sementara Val dan Helen berjaga diluar bersama dengan dua puluh pasukan lainnya.
Tampak dua kereta tempur dengan pengemudi yang sudah bersiap di dalamnya, berjaga di sisi timur dan barat gedung pertemuan tersebut.
__ADS_1
.
Setibanya di dalam, pria berbaju biru putih itu mengambil posisi duduk menghadap kearah pintu masuk. Ditengah-tengah diantara kedua ajudannya. Sementara Percival dan ksatria bertombak tadi berdiri dibelakang mereka. Kemudian lima belas prajurit berdiri di belakang Percival dan ksatria bertombak tersebut.
Dan tepat disisi meja dihadapan utusan kerajaan Urbar itu, duduk Nata dan Aksa. Sementara Caspian, Rafa, dan Lily berdiri dibelakang Nata dan Aksa. Dan sepuluh prajurit Pharos berdiri dibelakang Caspian, Rafa, dan Lily.
Dan setelah melihat Nata dan Aksa yang duduk didepan meja sebagai perwakilan untuk berunding, membuat kedua ajudan tadi terdengar mulai berkasak-kusus.
Sedang pria berbaju biru putih itu tampak terkejut, tapi juga tampak tertarik dengan utusan dari wilayah Pharos tersebut.
"Perkenalkan nama saya Nata. Saya yang ditugaskan untuk mewakili pertemuan ini oleh wilayah Pharos" Nata hanya memperkenalkan dirinya sendiri.
"Mereka mengirim anak kecil dalam pertemuan ini, benar-benar sebuah penghinaan" ujar salah satu ajudan yang duduk di sebelah kiri. Yang kemudian ditahan oleh pria berbaju biru putih tadi sebelum mulai berbicara lebih banyak lagi.
"Maafkan ketidak sopanan bawahan saya. Perkenalkan nama saya Chris. Saya adalah penasehat kerajaan Urbar" pria setengah baya dengan pakaian biru putih itu memperkenalkan diri. "Saya yang menggantikan Tyrion setelah dia melarikan diri dari kerajaan" lanjutnya kemudian.
"Wah, senang bisa bertemu dengan anda, tuan Chris" Nata berucap. "Saya pernah mendengar tentang anda dari beberapa teman dan kenalan saya"
"Saya juga merasa senang bisa bertemu dengan anda, tuan Nata" Chris menjawab basa-basi Nata. "Seperti yang pernah saya dengar, bahwa di wilayah Pharos tinggal beragam suku dan kaum. Tampaknya kabar tersebut benar adanya" tambahnya kemudian setelah melihat ada Narva, Seithr, dan Yllgarian yang datang bersama Nata.
"Bagaimana kabar anda, tuan Percival? Lama kita tidak bertemu" ucap Nata kemudian menyapa Pacival.
"Saya baik-baik saja, tuan Nata" suara Percival terdengar jauh dari balik helmnya.
"Oh, anda sudah mengenal Percival?" Chris tampak sedikit terkejut.
"Beliau, pernah datang ke gerbang selatan wilayah kami, sebelum pertikaian diantara kita terjadi" Nata menjawab dengan sopan.
__ADS_1
-